Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Semangat Shita!
Author mengemis kembali.
Hai readers, Author sangat berharap cap jempol dari kalian semua, Author gak berani minta yang lainya lagi, Author sangat bahagia jika kalian bersedia meninggalkan cap jempol di setiap epesode.
Bagi yang sudah ninggalin jempolnya terimakasih banyak😍.
Mohon maaf agak slow up dan sedikit up nya, kesibukan kehidupan Author menyita banyak waktu, jadi mohon maaf ya.
Mohon maaf juga jika story ini tidak sesuai keinginan Readers.
Kalimat yang aku peroleh dari group chat Author kesayangan aku.
Menulislah apa yang ingin kamu tulis.
Bukan menulis seperti apa yang ingin orang baca.
Jadi, Karya ini akan berjalan sesuai ke inginan Author. Semoga Syuka🤭
Happy reading,
Awas muntah pelangi, karena karyanya tidak asyik 😄😄😄😄😄✌
******
Akhirnya pesta yang sangat menguras tenaga semua pelayan Club malam itu selesai juga, beberapa pelayan sudah mulai meninggalkan Club malam tersebut. Kini hanya ada Shita dan ibu Mandha yang ada di bagian ruangan para pelayan berkumpul. Mandha memandangi Shita lekat, entah kenapa dia menyukai gadis itu, menurutnya ada sesuatu yang istimewa pada gadis tersebut.
"Shita, itu nama kamu kan?" Tanya Mandha.
"Iya bu," jawab Shita sambil mengukir senyuman manis di wajahnya.
"Kata pak Bo'im, kamu malam ini menginap dulu di sini, pasti rumah kamu belum siap bukan? Pak Bo'im katanya sempat nengok papa kamu," ucapMandha.
Shita tersenyum sambil menggaruk daun telinganya yang tidak gatal. "Iya sih bu, aku sama mama menghabiskan waktu di rumah sakit selama ini, jadi … rumah baru kami belum kami urus benar-benar."
"Ya sudah, kamu sana istirahat dulu, ini sudah malam, rumah sakit nggak akan bukain pintu buat kamu masuk, jangan lupa, besok bersihkan rumah kamu," seru Mandha.
"Iya bu."
"Silahkan istirahat, itu kamar kamu," seru Mandha seraya menunjuk ke arah ruangan yang dekat dengan Shita.
"Makasih bu," ucap Shita lembut.
"Selamat malam, aku juga mau rehat ini," seru Mandha.
"Selamat malam juga bu."
Mandha berjalan kamarnya, sedang Shita berjalan menuju lockernya untuk mengambil Ransel dan ponselnya. Setelah mengambil barangnya, Shita segera menuju kamar yang akan dia tempati. Shita memandangi rungan kecil yang menjadi tempat peristirahatannya malam ini, kasur kecil, kipas angin juga salah satu ruangan kecil di sudut kamar yang sempit itu. Shita berjalan mendekati pintu kecil itu, senyuman lagi-lagi mengambang di wajahnya, ternyata itu adalah kamar mandi. Shita segera mengambil ranselnya, dia mengambil bajunya dan segera masuk kekamar mandi untuk membilas tubuhnya yang lengket karena keringat.
Merasa lebih segar, Shita segera berbaring di tempat tidur kecil itu. "Semangat Shita! Ini baru dimulai, tidak mengapa tidak punya apa-apa, asalkan masih ada orang yang sayang padamu, mama, papa. Astaga! Aku lupa menelpon mama," seru Shita berbicara sendiri.
"Tidak mungkin menelpon mama selarut ini, Hemm aku kirim pesan saja," seru Shita sambil mengetikan pesan pada ponselnya. Selesai mengirim pesan, Shita memejamkan kedua matanya.
Ana yang berada di rumah sakit merasa lega setelah membaca pesan dari Shita. "Anak ini selalu terlihat bahagia, mama tahu sayang kamu sedih karena mimpi kamu kandas karena keadaan, apalagi melihat keadaan papa," ringis hati Ana yang memandang ke arah Sammy yang masih betah menutup kedua matanya.
Ana berjalan mendekat keranjang tempat Samy berbaring. Dia duduk di kursi yang ada dekat ranjang itu, Ana duduk sambil memegang tangan Sammy. "Papa, kapan papa sadar? Kami semua tidak sedih karena kita tidak punya apa-apa, tapi kami semua sedih karena papa tidak sadar juga," ringis Ana yang memegang tangan suaminya erat.
"Selamat malam papa, ini sudah larut malam, mama juga ngantuk," Ana berdiri dan segera berbaring di lantai, ber alaskan selimut yang dia lipat.
Satu keluarga memulai semuanya dari nol, sedang keluarga Ara mendapat banyak kesenangan, bisnis Pram yang semakin berkembang karena bantuan Mark, tanpa mereka ketahui bagaimana nasib Ara.
***
Matahari mulai menampakkan cahaya kemerahan di ufuk timur, Shita segera bangun dan mencuci mukanya. Dengan semangat gadis itu menjalankan kegiatannya. Shita berjalan ke arah kamar Mandha, dia ingin pamit pergi.
"Bu Mandha," ucap Shita sambil mengetuk kamar Mandha.
Pintu kamar terbuka. "Shita?" Sapa Mandha.
"Bu, aku izin pulang ya, makasih sudah di izinkan menginap tadi malam."
"Oh iya, hati-hati di jalan," seru Mandha.
Shita segera meningalkan tempat itu, dengan wajah yang nampak ceria, orang yang melihat dia, seolah gadis itu tanpa beban. Dia berjalan menuju Halte, menanti bus yang akan dia tumpangi.
Setelah menaiki bus dan menempuh perjalanan dengan bus yang dia naiki, akhirnya Shita sampai di halte yang dekat dengan tempat tujuannya. Shita segera turun dari bus dan mulai mencari alamat rumah yang dia pegang itu.
Shita memasuki jalanan yang agak kecil, berjalan sambil melihat-lihat nomer rumah yang dia lalui. Senyum Shita mengambang, akhirnya dia menemukan istana kecil yang akan menjadi tempat bernaung dia dan keluarga. Dengan semangat Shita segera berlari ke arah rumah itu. "Hemm untung pegang kunci aku, jadi nggak perlu balik kerumah sakit," gerutu Shita sambil membuka pintu rumah itu.
Senyum yang terlihat ceria berubah begitu saja menjadi senyuman yang masam saat melihat keadaan bagian dalam rumah itu. "Selamat bekerja keras Shita," ucapnya menyemangati dirinya sendiri saat melihat tumpukan kardus yang tersusun dalam rumah itu. Shita melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, dia mengitari bok yang bersusun sambil membaca tulisan yang ada di bok itu. Shita memulai untuk merapikan istana baru yang kecil itu.
***
Hotel Mark.
Mark baru keluar dari kamar mandi. Dia melihat Ara masih berbaring di ranjang itu. Mark tersenyum, entah mengapa gadis kecil yang patah hati bisa membuatnya begitu senang. Mark mendekati Ara lalu duduk di samping tempat tidur itu.
"Sudah memilih fakultas mana yang ingin kamu masuki?" Tanya Mark sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Ara, hingga pemandangan indah tersuguh kembali. Tangannya menggerayang kemana-mana.
"Sudah," jawab Ara sambil menyebutkan nama Universitas pilihannya.
Baiklah, kamu akan kuliah di sana, ingat sepulang kuliah kamu adalah milikku, kita akan tinggal di apartemen nanti, kurasa semua sudah siap." Seru Mark.
Ara merebut selimut yang di pegang Mark. "Terserah anda! Saya tidak punya kendali atas hidup saya," ucap Ara kembali menyelimuti dirinya.
"Kau wanita yang tangguh Ara, biasanya aku perlu tiga wanita untuk menghabiskan malam, tapi denganmu aku merasa sangat puas, cukup dengan kamu seorang," Mark kembali merebut selimut Ara dan menyerang lagi Ara yang masih polos.
"Rasakan Ara! Sekarang kamu jadi robot s*ks manusia ini," gerutu Ara menyumpahi dirinya sendiri.
***
Di rumah sakit.
Ana baru kembali, sebelumnya dia pergi mencari sarapan. Hampir saja sarapan yang ada di tangannya terlepas, melihat sosok yang berbaring di ranjang itu membuka matanya.
"Papaaa!" Ana langsung berlari mendekati Sammy.
Sammy berusaha tersenyum, namun sulit.
Ana mengehentikan langkahnya, dia merubah arah langkahnya, dia meraih telepon yang ada di sampingnya, untuk menghubungi para perawat, mengabarkan perkembangan suami. Setelah memberitahu perawat, Ana segera mendekati Sammy.
"Papaaa." Ucap Ana bergetar. Air mata kebahagiaannya tumpah melihat suaminya sadar. Ana berulang kali mencium tangan Sammy, betapa lega dan bahagianya dirinya, karena Sammy sadar.
"Mana Shita?" Tanya Sammy.
"Shita tengah beres-beres di rumah baru kita."
"Gara-gara---"
"Papa …." Ana ucapnya lembut, memotong ucapan Sammy sambil menaruh telunjuk tangannya di depan bibir Sammy.
"Papa merasa sangat bersalah pada Shita."
"Papa, Shita anak yang kuat dan tegar, papa tahu? Anak itu seakan tidak punya masalah, padahal hatinya tentu sangat sedih karena papanya sakit," ucap Ana sambil membelai wajah suaminya.
Percakapan mereka terhenti karena tim dokter sudah datang. Ana segera menjauh dari posisi semula, karena tim dokter akan memeriksa suaminya.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark