Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
''Dia menyukaimu, bodoh!'' Aldo duduk di samping Luna dan memberikan satu cup kopi hangat. "Minumlah, kamu pasti kedinginan.''
''Terima kasih,'' Luna memikirkan apa yang baru saja Aldo katakan dan hanyut ke dalam pikirannya.
''Dari mana kamu tau aku ada di sini, Aldo?'' tanya Luna, gadis itu menatap serius ke arah Aldo yang terlihat menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Aldo tersenyum kikuk, lalu berpura-pura sedang menghubungi seseorang yang berada di balik ponsel.
"Aldo, berhenti!'' Luna menarik lengan Aldo dan menariknya untuk duduk kembali dan menjelaskan semuanya. Hanya Devan yang tau dirinya sedang bersama siapa dan dimana saat ini.
Tidak mungkin kan, Devan menyuruh Aldo untuk menguntit mereka berdua?
'Dasar menyebalkan. Sudah jauh masih juga merepotkan' Gerutu Luna kesal dalam hati.
"Kamu tidak bisa membohongiku, jadi katakan sebelum aku memutuskan persahabatan kita.'' ancam Luna.
Aldo terdiam. Ia benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Di satu sisi dia tidak mau kehilangan Luna. Di sisi lain, ada Devan yanng siap memberikan bogeman mentah padanya saat dia pulang.
''Maafkan aku, Luna. Sebenarnya--''
''Kita pulang, sekarang!" potong Lucas, yang sejak tadi mencari keberadaan Luna dan akhirnya pria itu menemukannya.
''Aku yang akan mengantarnya pulang.'' sela Aldo karena Devan meminta dirinya untuk tidak membiarkan Luna bersama dengan Lucas.
Luna merasa jika akan terjadi sesuatu lagi diantara mereka, jadi gadis itu lebih memilih pulang bersama Lucas daripada Aldo. Meski keduanya harus adu pendapat dulu.
.
.
.
Dua puluh menit melakukan perjalanan, mobil mereka sekarang sudah berada di depan halaman rumah Luna.
Gadis itu melepas seat belt nya. ''Terima kasih, Kak. Untuk hari ini. Maaf karena Aldo sudah membuat wajahmu jadi babak belur begini.'' ucap Luna menyentuh pipi Lucas sekilas.
"Kenapa kamu yang meminta maaf, bukankah berandalan kecil itu yang seharusnya melakukanya?" kesal Lucas karena Luna terlihat lebih membela Aldo ketimbang dirinya.
''Karena dia--" belum selesai Luna bicara, Lucas sudah menarik tubuh Luna dan memeluknya erat.
''Selamat ulangtahun, Luna.'' bisik nya Lirih di telinga.
Luna meremang seketika mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba oleh Lucas. Karena merasa sudah melampaui batas, Luna mendorong Lucas agar menjauh.
''Kakak sudah mengucapkannya waktu itu. Jadi hari ini tidak perlu lagi bukan.'' ujar Luna sedikit gugup. Dan Lucas bisa melihat itu.
Lucas meraih tangan Luna dan memakaikan sebuah cincin yang sudah di belinya jauh-jauh hari sebelum kembali dari Luar negeri.
''Apa yang kamu lakukan, Kak!'' sentak Luna.
''Aku menyukaimu.''
Deg!
Jantung Luna berdetak dengan kencang, sejak kapan pria yang sudah dianggapnya sebagai seseorang yang berarti baginya ini memiliki perasaan padanya?
''Aku sudah menikah. Kamu tahu bukan? Jadi berhentilah untuk membuatku goyah. Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bersama." Luna melepas cincin yang tersemat di jari tangannya dan mengembalikan nya pada Lucas, lalu keluar dari sana tanpa mempedulikan pria itu lagi.
''Shitt! Dia menolak ku? Menggelikan sekali.'' umpat Lucas. ''Padahal banyak yang menyukai dan menyatakan cinta padaku, tapi kenapa aku malah tertarik pada adikku sendiri." gumamnya kesal lalu pergi dari sana.
Sedangkan di tempat lain yang jauh di sana dan dengan waktu yang berbeda, seorang pria sedang berdiri di balkon. Sesekali pria itu tersenyum melihat layar ponselnya.
''Haruskan aku pulang sekarang. Tapi aku sudah berjanji padanya tidak akan kembali jika tidak ada sesuatu yang penting.''
Ponsel Devan bergetar, tertera sebuah nama di sana. "Ibu....''
"Sayang, bagaimana kabarmu?'
"Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu dan juga Ayah."
Wanita itu terdiam tanpa menjawab pertanyaan Devan.
"Hei, bicaralah. Kenapa Ibu malah menangis,'' Devan terlihat khawatir mendengar isak tangis Ibunya.
''Ayahmu sakit, bisakah kamu pulang sekarang?" pintanya dengan nada memohon.
"Apa? Sakit? Kenapa baru mengatakannya sekarang, aku tidak bisa pulang sekarang.''
''Kenapa? Apa kamu mau melihat Ayahmu mati baru berniat pulang? Dasar anak durhaka!" umpatnya dari sana.
"Ada Aldo dan juga Leon, minta dia menemani ayah.''
Mereka berdua berdebat seakan tidak ada yang mau mengalah, dengan terpaksa Devan menuruti keinginan Ibunya untuk pulang, karena memang itu juga yang dia inginkan.
Hanya saja, ia tidak mau di cap sebagai pria yang tidak menepati janji pada gadis kecilnya. "Ya, baiklah aku akan pulang. Jadi berhentilah mengucapkan kata-kata menyebalkan itu." Devan mematikan ponselnya. ''Sepertinya aku harus berjalan-jalan di luar untuk menenangkan pikiran."
Disinilah pria itu berada, Dam Square. Bangunan tua yang berada di kota Amsterdam. Dimana dia bisa mendinginkan pikirannya sejenak sebelum kembali ke negara asalnya.
"Excuse me, Devan Alexander?" ucap seorang wanita berjalan menghampirinya.
...----------------...
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu