Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Disinilah aku kini, duduk di dalam mobil bersama Reynand. Sedari berangkat hingga hampir sampai tiada percakapan antara kami.
Tibalah kami di Boutique yang telah direkomendasikan Tante Tiara. Setelah menanyakan resepsionis, kami berdua langsung diantar menuju ruang fitting.
Dan wow! Mataku langsung melebar melihat koleksi-koleksi di Boutique yang bener-bener recomended ini. Karya-karya desainer disini menakjubkan dan aku jadi bingung memilihnya.
Namun situasi berubah menyebalkan, saat aku sudah berganti model baju sebanyak belasan kali untuk kebaya acara resepsi, Reynand mulai buka suara mengatakan tidak cocoklah, terlalu terbukalah dan yang paling parah dia bilang ganti lagi, lagi dan lagi dengan model lain.
Entah apa maunya. Apa dia mau mengerjaiku, gerutuku dalam hati.
Aku yang sudah bosan dan capek dengan apa maunya, akhirnya memilih duduk bersidekap dengan wajah cemberut. Hingga akhirnya dia yang turun tangan untuk memilih sendiri. Dia menyodorkan kepada seorang asisten boutique yang khusus ditunjuk untuk membantuku.
Apa boleh buat, Aku kini mengenakan model gaun kebaya modern dengan bordir diatas tule transparan. Kebaya yang tidak terlalu mengekspos kulit. Potongan lehernya berbentuk hati yang menutupi sebagian tulang selangka. Setelah Reynand melihatnya, dia hanya mengganggukkan kepala, setuju.
Keluar dari Boutique Sekitar pukul setengah tujuh, di perjalanan kami juga tetap diam dengan pikiran masing-masing. Reynand tentu saja dengan kegiatannya menyetir sedangkan aku memainkan ponsel sesekali memandang lalu lintas dari jendela kaca mobil.
"Kata Tante kamu sakit?" pertanyaan Reynand mulai memecah kesunyian.
"Gak." jawabku singkat plus datar.
Sempat hening sesaat, tiba-tiba ada suara muncul. Bukan Reynand maupun aku, tapi perutku.
kruyuk ~ 'ini perut kenapa gak tau tempat?' batinku. Sambil kunaikkan tangan kananku mengelus keningku untuk menghalau sedikit rasa malu yang muncul pada diriku.
Aku ingat dari pagi hingga kini cuma makan sekali. Itu saja sarapan pagi tadi, siang gak nafsu makan cuma minum teh buatan Mama. Dan mulai kurasakan Reynand membelokkan arah mobilnya, yakni keluar jalur.
"Rey inikan bukan jalan pulang?" kataku cepat-cepat.
Sekitar lima belas menit Reynand menghentikan mobilnya. Ternyata yang dituju adalah pasar malam. Karena dari sini sudah terlihat biang lala dan kawan-kawan seperti komedi putar dan lain sebagainya. Dia memarkirkan mobilnya lalu bergegas turun. Akupun mulai ikut turun.
"Mau makan apa?" tanyanya padaku.
Aku paling suka sebenarnya diajak ketempat beginian dan Reynandpun tentu tahu, tapi situasinya kan lagi gak mendukung.
Kata hatiku berbisik, inget Ra kamu itu lagi ngambek sama Reynand.
Tiba-tiba kini aku mengingat sesuatu. Aku baru sadar bahwa aku gak bawa tas dari tadi, cuma bawa hp doang. Itu artinya aku juga gak bawa uang. Akupun mulai sedikit panik.
Apa-apaan, sudah sampai sini gak bawa duit. Kalau bayar pake M-banking kan kagak mungkin, batinku.
Tadi pas mau berangkat diuber-uber sama Mama, suruh cepet-cepet. Jadi cuma pakai celana jeans sama kaos saja. Trus juga cuma nyaut ponsel yang tergeletak diatas kasur. Alhasil atribut lain gak kebawa.
"Ayo! " ajak Reynand, kini dia berjalan terlebih dahulu.
Apa boleh buat, perut udah keroncongan dan akkhirnya aku mengekor dibelakangnya. Mau nunjuk kok ya gengsi. Mau bilang, rasanya juga ogah. Karena aku tak kunjung menjawab tawarannya, akhirnya dia berinisiatif beli bakso bakar serta bakso goreng.
Kami memilih duduk pada pembatas tempat pasar malam yang terbuat dari corcoran semen setinggi kira-kira 50cm, dibawah pohon petai diterangi lampu jalanan dan lampu para pedagang sambil menikmati bakso goreng dan bakso bakar yang dibeli oleh Reynand tadi. Suasana lumayan ramai dengan para pengunjung serta suara kendaraan bermotor maupun mobil yang lalulalang.
Kalau ditanya mbak gak ilfil apa jajan jajanan dipinggir jalan atau tempat umum seperti itu. Jawabku gak, Karena jajanan yang sering kita sebut street food cita rasanya gak kalah dari makanan yang dijual ditempat berkelas. Kita juga membantu meningkatkan perekonomian para pedagang-pedagang kecil. Kalau bukan kita siapa lagi.
Jajanan yang dijual disini bervariatif seperti kerak telor, roti bakar, martabak, siomay, batagor, bakso, nasi goreng kebuli, cap cay, seblak, sate, gorengan beserta aneka minuman yang bervariatif. Tinggal tunjuk, pilih dan jangan lupa bayar!
Tiba-tiba saja aku merasa risih dan agak gak nyaman dibagian bawah tempat dudukku. Rada-rada waswas juga. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengatakannya pada orang disampingku.
"Rey?" panggilku.
"Hmmm" Reynand bergumam disertai menoleh ke arahku.
"Kayaknya aku bocor deh!" ucapku lirih, lalu kini kami saling bersitatap.
"Coba berdiri!" perintahnya padaku.
Akupun berdiri maju dua langkah membelakangi Reynand. Lalu aku bertanya, "Gimana?"
Reynand tampak mengangguk, lalu dia berkata singkat, "Balik!''
Duh rasanya kok kecewa. Kecewanya udah jauh-jauh sampai sini, dan baru makan dua tusuk bakso bakar udah balik. Padahal langka banget bisa ke tempat kayak gini. Apalagi keluar malem, Papa juga gak ngebolehin kalau gak ada urusan penting.
Tiba-tiba aku merasa ada dua lengan menyentuh lalu melingkar pada pinggangku, dan menyimpulkannya tepat di depan. Setelah kulihat ternyata jaket milik Reynand sudah bertengger dipinggangku.
"Duduk sini, aku pergi sebentar." Perintahnya disertai menuntunku kembali duduk ke tempat semula.
Ternyata Rey tadi ngomong 'balik' itu balik badan, bukan balik pulang, gumamku dalam hati
Kulihat punggung Reynand sudah hilang dari kerumunan. Sekitar lima belas menit dia kembali membawa dua buah kantong plastik satu hitam satu putih, yang warna putih aku ketahui karena ada logo tempat dia membeli.
"Ganti ke minimarket saja, disana toilet nya bersih," ucapnya.
Aku lalu berdiri. Kulihat Reynand membersihkan tempat dudukku tadi seraya mengucurnya dengan sebotol air mineral.
Tibalah di mini market, Reynand memilih menunggu di luar. Dia duduk di kursi yang tersedia, sedangkan aku bergegas menuju ke toilet.
Setelah aku berada didalam toilet dan membuka dua kantong plastik, ternyata berisi atribut wanita serta dia membelikan celana, ya celana panjang kolor yang lumayan adem dipakai beserta dalamannya.
Gak heran sih, Rey sampai melakukan ini. Lha wong pada masa aku remaja dia turut andil membantuku saat aku di masa-masa seperti ini. Mulai dari meminjamkan jaket, meminjamkan celana training atau biasa disebut celana olahraga maupun bertukar tas. Yakni memakai tas selempangnya untuk menutupi noda di rok bagian belakangku.
Begitupun saat ada yang membuli. Dia tak segan untuk ambil tindakan. Dan mengatakan "Ingat Ibumu yang dirumah juga wanita." Seketika kicep gak ada yang berani membuly.
Saat aku keluar dari Minimarket kulihat Reynand sedang menelfon dan setelah ku curi dengar percakapannya, dia ternyata sedang menelfon Papaku, mengatakan bahwa kami pulang terlambat karena makan diluar.
"Udah?" tanya Reynand setelah menutup telpon.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan, dan dia mengambil plastik yang ada ditanganku, lalu berjalan ke arah mobilnya dan memasukkannya ke dalam mobil yang ternyata diparkir di area yang disediakan di minimarket ini.
"Jaketmu," ucap ku seraya aku mengulurkan kembali jaketnya.
"Kamu pakai saja, aku gerah. Ayo lanjut lagi!" Ajak Reynand padaku.
"Aku gak bawa duit," cicitku.
Kulihat Reynad melengkungkan sedikit bibirnya lalu berkata, "Kamu yang tunjuk, aku yang Traktir, Gimana?"
"Ok." jawabku singkat.
Kini Kami melanjutkan lagi jajan yang tertunda.
To Be Continue