Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindari Overthinking
"Selamat pagi, Pak Bagas, Pak Reza..." sapa dan tunduk yang lain ketika mereka masuk bersamaan.
Papi masih dengan segala wibawanya yang selalu tegas dan dikagumi para pegawainya. Dan Reza, fokusnya terbagi ketika mencari Olin yang tak ikut menyambutnya.
"Tatapan fokus ke depan. Hormati mereka yang telah menghormati kita. Karena...."
"Kita bukan apa-apa, tanpa mereka. Ya, aku hafal semuanya."
"Kau....." Papi mengarahkan telapak tangannya, dan Reza pun menghindar.
"Pi, inget, Mami lagi hamil. Jangan terlalu arogan." Reza menahan dengan telunjuknya.
"Haisssh, menyebalkan." balas Papi, melonggarkan kerah di lehernya.
Reza pun berjalan dengan cepat menuju ruangannya. Tak nampak juga Olin, meski ruangannya tampak sangat rapi.
"Olin datang telat. Izin denganku tadi." Ali datang padanya.
"Lalu, ruangan ini?"
"Ku suruh Rena membersihkan nya. Dan dia dengan semangat melakukan itu. Tak ada yang hilang?" tanya Ali.
"Sepertinya tidak." Reza masuk ruangan, dan langsung mengambil Hp di sakunya.
"Olin dimana?"
"Maaf, Olin serahin tugas ke kampus dulu, sebentar. Ngga lama lagi sampai."
"Baiklah, hati-hati." Reza mematikan Hpnya.
Lagi-lagi menghela nafas panjang. Lagi-lagi harus melibas segala overthinking yang menggelanyut di fikirannya. Meyakinkan, jika semua akan baik-baik saja selama mereka saling percaya.
"Baiklah, semangat bekerja meski tanpa dia. Toh, biasanya juga begitu." gumam Reza.
Ia mulai membuka laptopnya, dan ternyata Olin sudah mengirim beberapa laporan yang harus Ia periksa. Setelah itu, akan segera di print dan di tandatangani oleh Reza dan Papi.
" Kau, pasti lelah mengerjakan semua sendirian. Hebat," puji Reza pada sang kekasih.
*
"Ali, mana laporan hari ini?"
"Ini, Pak. Semua sudah lengkap dan sudah saya periksa," Ali memberikan beberapa dokumen pada Bosnya.
Papi mulai memeriksa. Tapi, konsentrasinya hilang ketika hidungnya terganggu oleh aroma parfum yang menyengat.
"Ali, kau pakai parfum apa?" tanya Papi, mengendus-enduskan hidungnya pada sang sekretaris.
"Maaf, kenapa, Pak? Ini parfum biasa, bukankah, Bapak suka baunya?"
Hueeeeekk!! Eeeuuughhh...!
"Ali, ember saya mana, Ali. Embeeerrrr!"
Dengan sigap Ali mengambil ember itu, dan meletakkan nya di sebelah Papi. Papi pun mulai lagi dengan morning sicknesnya. Lemas, terkulai tak bertenaga.
"Pak, saya harus ganti parfum apa?" Ali tampak faham, dengan kejadian yang baru Ia alami.
"Maaf, aku tak bermaksud....."
"Ya, tanpa diucap, saya sudah mengerti." Dengan berat hati, Ali kemudian pergi. Ia menuju tempat penyimpanan barang, dan mengganti pakaian yang telah beraroma parfum itu. Lalu, Ia mengoles parfum yang pastinya lebih segar bagi Bosnya.
"Sudah, Pak." lapor Ali, kembali ke ruangan Papi.
Papi menghirup nafas panjang. Menikmati aroma segar yang ada saat ini. Benar-benar melegakan dan membuatnya nyaman. Dan mual pun hilang karenanya.
"Parfum apa, harum sekali?" puji Papi padanya.
"Ya, pastinya segar. Karena ini minyak telon adik saya. Saya tak sengaja membawanya tadi." lapor Ali, dengan wajah yang tertekan. Karena tampaknya, Ia akan memakai aroma itu dalam waktu yang lama.
Papi hanya tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk mendengar keterangan sang sekretaris. Ia bangga, karena Ali, masih benar-benar tulus padanya hingga saat ini.
***
"Selamat pagi, menjelang siang, Bapak. Maaf, saya telat." Olin tampak terengah-engah, masuk ke ruangan Reza dalam keadaan berantakan. Apalagi rambutnya yang acak-acakan karena naik ojek menuju kantor..
"Hey, sayang... Berantakan sekali? Tidak, tak boleh begini. Carolina ku, harus tampil cantik dan rapi."
Reza menghampirinya, menyisiri dan merapikan rambut Olin. Tak lupa, mengelap kerigat di dahi kekasihnya itu dengan tisu basah yang Ia bawa.
"Masss, bedak Olin ilang!" protesnya.
Reza menatap tisue nya. Dan benar saja, semua bedak dan lipstik Olin menempel disana.
"Ooooops, Sory, Baby..."
Olin hanya mengecap kesal, karena Ia harus mengulang make up tipisnya itu.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian