Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Niat Hati Asep
Asep menoleh ke arah belakanganya, di mana di pantulan cermin terlihat Melati berdiri di sana.
Tapi...
Kosong.
Asep bergidik, andai ia tak mendengar Bani memanggil di luar kamar karena mie rebusnya sudah matang, pasti Asep sudah melompat keluar kamar meskipun bela-belain nabrak pintu.
Asep pun dengan gaya se cool mungkin keluar dari kamar setelah berganti pakaian dan menyisir rambutnya agar lebih kelimis.
"Makan dulu kita Sep, biar pas tidur tidak mimpi kelaparan."
Kata Bani.
Sobir yang muncul dari dapur membawa mie rebus bagiannya dan juga segelas kopi instan miliknya sendiri juga terlihat bersiul-siul macam Burung Kutilang kau karena tak pakai helm.
"Aku nggak sekalian dibikinin kopi Sob?"
Tanya Asep melihat Sobir yang membawa kopi instan miliknya itu lalu diletakkan di atas meja makan dengan bahagia.
"Tenang brother Sep, aku buatkan khusus untukmu wahai boss kami tercinta, tenang, tenang."
Kata Sobir.
"Punyaku juga sekalian ya Bir, dibawakan."
Kata Bani yang sudah duduk di kursi makan juga dan mulai mengaduk mie instan miliknya di dalam mangkuk.
"Iya, santai, aku ambilkan."
Ujar Sobir yang sedang baik hati karena merasa tak ikut andil menghitung uang muka dari Tuan Anonymous yang disampaikan oleh Krisna tapi nantinya akan segera ikut menikmati.
Sobir berjalan ke dapur lagi untuk mengambil dua gelas kopi milik Asep dan Bani.
Dua gelas kopi yang mengepul panas, dan mengeluarkan aroma khas kopi instan.
Melati berdiri di pojokan, menatap Sobir yang kini tengah mengambil dua gelas kopi untuk ia bawa ke ruang makan.
Melati tak berani menampakkan diri, karena Nenek juga berdiri di pintu mengawasinya.
Nenek sudah bolak balik menyuruh Melati pergi, tapi Melati tak mau karena ia ingin berteman dengan Asep lagi.
"Kamu itu hantu."
Kata Nenek.
"Nenek juga hantu."
Melati lagi-lagi bersikeras.
"Aku hanya akan mendampingi Asep sampai dia jadi orang, biar Emaknya tidak curhat lagi di kuburan bikin aku banyak pikiran saja."
Kata Nenek.
Melati menangis merasa ditolak Nenek.
"Kamu cari cowok hantu saja, yang sesama hantu, yang akan memberimu banyak kemenyan."
Kata Nenek.
Melati akhirnya ngeloyor keluar rumah menembus dinding dengan hati hancur bagaikan daging giling.
Sobir sampai di ruang makan dan menyerahkan kopi milik Asep dan Bani, baru setelah itu ia duduk di depan mangkuk mie rebusnya dan siap membantai seluruhnya.
"Tadi kamu sudah hubungi ke tempat bahan-bahan yang kita butuhkan kan Sob?"
Tanya Asep.
"Sudah dong, kaca dan semuanya sudah aku hubungi, pokoknya beres, besok langsung dikirim di sini dan pembayaran bisa langsung."
Kata Sobir.
"Mantap."
Asep mantuk-mantuk.
Tak salah dia menunjuk Sobir sebagai tangan kanannya.
"Pokoknya kita jangan sampai kecewain pelanggan."
Kata Asep.
"Iya dong, pasti dong."
Kata Sobir dan Bani bersamaan.
"Ah iya, punya Bu Selasih besok kamu coba tanyakan model dan ukuran pastinya dia mau yang seperti apa."
Kata Asep lagi pada Sobir.
"Siap."
Sahut Sobir yang setiap kali akan menyuapkan mie rebus ke mulutnya selalu gagal karena harus menjawab Asep.
"Oke, jadi semuanya sudah amanlah ya."
Kata Asep.
"Aman Sep, aman."
Bani dan Sobir kompak.
"Oke deh kalau begitu."
Asep tersenyum senang.
Ternyata begini rasanya jadi boss. Batin Asep.
Mereka pun lantas menikmati pesta mie instan rebus dengan semangat, sambil seruput kopi instan yang nikmat tiada tara.
"Eh Sep."
Panggil Sobir ketika mie rebus telah habis tak tersisa di mangkuk mereka.
Asep yang sudah mulai menyesap rokoknya menoleh pada Sobir.
"Kamu nggak pengin punya pacar? kamu kan sekarang bakal jadi bujang tajir nih, pasti bakal banyak yang mau Sep sama kamu."
Kata Sobir.
Asep nyengir kuda.
"Temen adik Sobir aja itu cantik tadi, siapa namanya?"
Bani nimbrung.
Nenek yang sebetulnya juga ikut duduk bersama mereka mantuk-mantuk setuju.
"Depy?"
Sobir menyebutkan nama Depy, si anak mantan lurah Desa Rukun Jengkol.
"Nah iya itu tadi, yang sempat ada adegan nyomot sayap ayam sama kamu Sep."
Ujar Bani.
Asep tergelak mengingat moment itu.
Moment di mana harusnya ia ingin sekali memiliki sayap goreng yang kelihatannya kemriuk itu, tapi karena Depy juga menginginkannya walhasil sebagai cowok Asep terpaksa merelakannya.
"Iya dia cantik, baik dan juga gadis rumahan Sep. Dia ramah banget sama semua orang, tapi dia tidak pernah dekat dengan cowok manapun."
Kata Sobir.
"Cocok tuh Sep."
Ujar Bani.
Asep menghela nafas, lalu...
"Kita lihat nanti saja."
Ujar Asep sok cool, padahal dia jelas tidak menolak.
Nenek mantuk-mantuk senang, ini pertanda dia bisa kembali tidur dengan tenang tanpa harus bangun lagi karena Emaknya Asep nangis-nangis.
"Oh iya, kamu bukannya mau nikahin Nia Ban?"
Asep akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya Sep, cuma dananya belum ada."
Kata Bani.
"Butuh berapa memangnya?"
Tanya Asep.
"Sebetulnya cuma lima juta saja, karena cuma akad doang sama bagi-bagi nasi berkat. Kalau pakai resepsi dan macam-macam butuh puluhan juta, aku tidak sanggup."
Kata Bani.
"Udah nikah aja, nanti kalau proyek 100 etalase kita sukses, aku biayain sampe resepsi."
Kata Asep.
Bani mendengarnya jelas saja langsung melebarkan kedua matanya.
"Serius Sep?"
Tanya Sobir.
Asep mantuk-mantuk.
"Serius lah."
Kata Asep.
"Waah, makasih banget Sep, kalau begitu, aku akan mengabdikan diri sepenuhnya padamu Sep."
Kata Bani.
Asep Mantuk-mantuk lagi.
"Dan kamu Sob, beli motor baru, beli cash, aku yang bayar."
Kata Asep lagi.
Sobir jelas saja tersenyum lebar karena bahagia jaya.
"Makasih Sep, semoga kali ini usaha Bapakmu bakal sukses besar di tanganmu Sep, bila perlu akan berkembang jadi pabrik Sep."
Kata Sobir.
Asep mengangguk mantap.
Mereka pun akhirnya tertawa-tawa sepanjang malam itu, rasanya masa depan yang semula terlihat abu-abu kini tiba-tiba menjadi cerah dan ngejreng.
Asep bahkan sudah berencana setelah setoran Kliwon nanti, ia akan pulang ke kampung Raja Pete untuk memberikan uang Emak biar syukuran sekaligus ajak Emak ke toko perhiasan.
Asep juga akan ganti semua mesin-mesin di tempat usaha Emak dengan mesin yang lebih canggih.
Jangankan yang bisa jahit rapi, bila perlu yang bisa jahit sendiri, bahkan yang bisa nemuin tamu sekalian kalau ada, supaya Emak tidak terlalu capek.
Nanti Asep juga akan buatkan ruangan tambahan di halaman untuk usaha jahitan Emak, biar mirip butik di kota.
Yah, kapan lagi Asep bisa bahagiakan Emak, mobil, renovasi rumah bahkan ajak Emak keliling Indonesia bila perlu.
Biar Emak bisa ngerasain berjemur di pantai Kuta Bali, atau naik Gunung Rinjani, atau selfi di emasnya Monas, pokoknya bereslah buat Asep.
Huaaaahm...
Bani menguap pertama, ia matanya sudah mulai mengantuk.
Jam dinding di ruang makan memang sudah mendekati jam dua dini hari.
"Tidur yuk, ngantuk nih, besok kita sudah harus gaspol."
Ujar Bani sambil berdiri.
"Betul itu."
Kata Nenek nimbrung.
Asep dan Sobir pun akhirnya ikut berdiri dari duduknya, dan bersiap menuju kamar untuk menuju sesi tidur dengan tenang dan damai.
**------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus