"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUS
Aku menatap tajam pada Tristan, jadi ini yang membuat dia lepas kendali hingga melewati batas hubungan denganku. Gila aja, dia habis lihat Pak Dar dan Evelyn langsung terpengaruh, apa dia juga membayangkan mencium Evelyn saat bersamaku tadi. Sungguh sesak rasanya, fisik melampiaskan ke aku, tapi bagaimana dengan otaknya, aku yakin Evelyn yang jadi objek imajinasinya.
Arik dan Tristan sangat dekat, tak mungkin sekali Arik menyembunyikan keahlian Evelyn di ranjang pada Tristan, bahkan video me*um itu dikirim Arik pada Tristan, jelas sengaja. Aku bukan cewek polos yang gak tahu arah pikiran cowok, pasti kadar me*um mereka ada. Aku sadar diri, aku tak pernah melakukan hal intim dengan Tristan selama kita pacaran dan mungkin Tristan bosan dengan gaya pacaranku.
"Heh..jadi video ini yang membuat kamu hilang kendali gini?" aku berusaha santai bicara dengan Tristan meski ketus.
Dia diam tak berkutik, sudah menebak mungkin kalau aku gak suka dengan sikapnya, "Kalau kamu mau sama Evelyn juga, bilang, aku lebih baik mundur,"
"Yang aku--"
"Bahkan meski hanya sekedar niat, jangan-jangan ciuman tadi kamu membayangkan Evelyn," terkaku sewot.
"Enggak, aku gak ada niatan sama sekali dekat atau lebih dengan dia, buat apa?"
Aku tersenyum sinis, buat apa katanya? Bulshitt tau gak, jelas-jelas kamu menikmati suguhan video itu hingga lepas kendali. Jengah rasanya mendengar dia menolak pesona Evelyn, sangat berbeda dengan kenyataan dia menikmati video yang dibintangi Evelyn.
"Aku kecewa sama kamu, Pak. Aku benar-benar gak suka kamu sudah melihat video itu, bahkan kamu tidak ada niatan untuk menghapus, dan aku yakin kamu lebih dari sekali melihatnya, iya kan?"
Tristan diam, oke diamnya aku anggap memang dia menikmati. "Aku sadar kok, aku gak punya pengalaman seperti Evelyn yang bisa memuaskan laki-laki, mungkin itu juga yang membuat kamu jenuh dengan hubungan ini."
"Sayang kamu ngomong apa sih, udah aku bilang berapa kali, aku gak tertarik dengan dia. Aku laki-laki normal yang jelas penasaran dengan video itu, sumpah aku lihat dua kali doang, dan bentar lagi juga aku hapus."
Aku tertawa sumbang, setelah aku ketus begini baru berniat menghapus, entahlah masalah dengan Evelyn membuatku muak. "Aku males ngomong sama kamu, dan kaya' nya pernikahan kita batal aja deh, aku gak pantas jadi pendamping kamu."
"Aku tuh gak ngerti sama pikiran kamu, aku gak selingkuh, aku cuma nonton video itu, dan dalam video itu hanya Darmawan yang kulihat, tubuh perempuan itu tidak terlihat sama sskali."
"Suaranya yang membuat kamu bisa berimajinasi liar."
Telak.
Ucapanku bisa membungkam Tristan seketika, "Aku tahu kamu normal, aku tahu meski kamu gak cerita kamu pasti pernah melihat video seperti itu bahkan lebih vulgar lagi, tapi aku gak marah karena apa, karena kamu gak kenal sama pemainnya, tapi suara Evelyn, dia pegawai di sini, bahkan dia berani ke ruanganmu, yakin ketika kamu berhadapan dengan dia tak membayangkan desahannya, gue jijik tahu gak."
Entah aku yang lebay atau Tristan yang menganggap hal biasa, tetap aku gak mau meneruskan hubungan ini. Aku khawatir saja ******* **** Evelyn dalam video itu terekam dalam alam bawah sadar Tristan.
"Kita sendiri dulu aja ya," pintaku kemudian.
"Gak," jawabnya ketus. "Sampai kapanpun aku gak mau putus sama kamu, jangan sampai masalah sepele begini bikin kita putus, gak masuk akal."
"Terserah," jawabku muak. Aku pun beranjak dari sofa namun ditahan.
"Jangan tinggalin aku dalam keadaan marah dan salah paham seperti ini, aku hanya nonton dan tak melakukan hal buruk di belakang kamu, apalagi berhubungan sama dia."
"Kita lihat saja nantinya, Pak. Apakah kamu juga akan terjebak padanya," aku menepis cekalan tangan Tristan, aku putuskan sepihak saja, setuju atau tidak yang jelas aku sangat kecewa dengan tindakannya. Aku tak yakin bila bertemu Evelyn, pikiran Tristan bisa bersih dan profesional, daripada aku terlalu overthinking lebih baik aku menjauhi Tristan lebih dulu.
"Kalau kita berjodoh, kita bakal bersatu kok," lanjutku kemudian.
Dia hanya menghela nafas berat, "Terserah kamu deh, sekali kamu melepaskan aku, aku tidak akan pernah mau memohon untuk kembali."
"Baik," jawabku tegas. Inilah sifat burukku, aku selalu punya kesimpulan sendiri yang menurutku benar. Belum lagi kalau aku sudah kecewa, apapun penjelasan akan aku abaikan.
Aku memutuskan pulang sendiri, Tristan juga gak bakal mengejarku, aku paham betul gengsinya setinggi apa. Biar, aku sedang ingin sendiri. Teriakan Arik kuabaikan, aku ingin segera pulang dan tidak mau berurusan lagi dengan Evelyn dan antek-anteknya.
Chat masuk bertubi-tubi kuabaikan saja, kepalaku pusing, putus cinta kok gini amat, aku juga merutuki kecerobohanku karena tak mendengar pembelaan Tristan, tapi ya sudahlah emosiku serta gengsi Tristan biar bisa dikendalikan ketika kita tak berhubungan lagi. Arghhh.....
Ketika menjelang tidur aku masih melirik ponsel, siapa tahu Tristan mengirim chat. Ya elah, aku tahulah kekasihku tak akan mau tarik ulur seperti ini, aku juga yang melepas kenapa aku juga yang mengharap dia kembali. Ah..mulai detik ini aku sudah siap kalau Tristan memilih cewek lain menjadi penggantiku.
Aku bisa.
Kalau Tristan jodohku, mau ujian apapun kita bakal bersatu.
Aku sayang kamu, Mas Tristan.
Mata kupaksa untuk pejam, pikiran juga kualihkan dengan hal lain dengan melihat drakor, dan tak sampai 15 menit mataku sudah mulai berat, biarkan laptop yang melihatku ngorok.
######
Kandasnya hubunganku tak ada yang tahu, karena kondisi putus cinta didukung dengan keberangkatan Tristan keluar kota, perjalanan bisnis kata Lula sih selama 10 hari. Alhamdulillah, selama waktu itu aku akan beradaptasi tanpa kehadirannya.
Aku bekerja dengan semangat, serasa menebus rasa bersalahku karena beberapa kali tidak profesional dalam bekerja. Ah...soal Evelyn, aku sudah tutup buku, aku sudah mengatakan kepada Mbak Tiwi aku tidak bisa melanjutkan misi memberikan efek jera pada Evelyn. Aku beralasan Tristan tidak mengizinkanku mencampuri urusan orang lain, dan mereka pun tak bisa memaksa. Aku kerja dengan tenang, karena menghindari pembahasan Evelyn di semua kesempatan.
Rutinitasku seminggu ini sangat teratur, berangkat pagi ke kantor, pulang, ke kamar nonton drakor tidur, begitu seterusnya. Sudah tak mengharap chat ataupun perhatian Tristan lagi, meski menjelang tidur selalu kulirik ponselku, masih berharap ada chat atau panggilan video, namun nihil.
"Ta, lo ada masalah sama bos?" tanya Lita tiba-tiba, aku masih menempeli sticky notes di papan tagihan kerjaku deadline apa saja yang menjadi tugasku.
"Enggak, kenapa?" tanyaku tanpa menatap ekspresi Lita. Tak lama ia menyodorkan ponselnya yang berisi sebuah foto di mana ada Tristan dan Evelyn, duduk berdekatan bahkan tangan Evelyn sengaja menempel di paha Tristan, dalam sekali lihat aku tau mereka sedang di private room sebuah restoran.
"Status Evelyn yang di screen shoot Mila," lanjut Lita khawatir.
Aku tersenyum pada Lita, "Kenapa lo ngelihatin kayak gitu sih? wajarkan bos sama tim marketing handal duduk berdekatan gitu."
"Ta, jujur sama gue, gak biasanya lo sesantai ini kalau berurusan dengan Evelyn apalagi dia dekat banget dengan Pak Ian."
"Lit, gue pernah bilang kan? meski gue pacaran sama bos, tapi gue gak bakal mengemis cinta kalau dia sudah gak mau sama gue,"
"Jadi pak bos termasuk penikmat Evelyn juga?"
"Maybe," jawabku sambil mengedikkan bahu.
"Ta...."
"Gue udah putus kok, Lit, pak bos boleh sama siapa aja,"
Kulihat rekan kerjaku melongo, "Se..se...sejak kapan?" aku ingin tertawa sekaget itu responnya.
"Udah ah, gak penting hubungan gue. Ouh ya kita jadikan ke Surabaya lusa? kok belum dikirimi tiket ya?" Yah saat aku berangkat dinas ke Surabaya, kemungkinan Tristan sudah balik, bersyukur karena tidak berinteraksi dengan dia, apalagi status WA Evelyn menunjukkan kedekatan mereka.
"Yakin lo mau keluar kota, gak dimarahi pacar lo?"
"Gak ada yang melarang tenang aja," ucapku santai. Begitulah aku, meski cinta tapi aku tetap realistis tak akan mau mengemis cinta. Apalagi Tristan juga fine-fine aja tanpa aku.
yg jelas ditunggu kelanjutannya