Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Manajemen benar-benar sudah gila! Ini pabrik manufaktur, bukan tempat penitipan anak atau PAUD sialan!" Ethel Lavinski, perawat senior di klinik pabrik milik Mark Barrington, mendelik tajam ke arah Katie Wilson.
Katie menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan diri. "Aku akan berusaha keras untuk tidak menghalangi pekerjaanmu, Ethel."
"Jangan harap! Aku tidak akan membiarkanmu mengacau di sini," dengus Ethel galak. "Kamu mungkin karyawan baru yang dititipkan langsung oleh Mark, tapi di klinik ini, akulah yang berkuasa dan memegang kendali!"
Katie mengamati gurat kecemasan di wajah wanita tua itu. Apa dia takut posisinya terancam? pikirnya. Katie segera melangkah maju untuk menenangkannya.
"Sebenarnya aku bukan karyawan baru yang digaji, Ethel. Aku di sini sebagai sukarelawan."
Mulut Ethel seketika menganga lebar. Ia menatap Katie dengan tatapan syok yang tidak ditutup-tutupi. "Kamu... kamu serius mau mengatakan kalau kamu bekerja di tempat bising ini tanpa dibayar sepeser pun?"
"Iya, begitulah." Katie tersenyum tipis. "Jadi kita bisa bekerja sama dengan baik, kan?"
"Tunggu dulu," potong Ethel, matanya menyipit penuh selidik selagi ia merapikan beberapa peralatan medis digital di meja klinik. "Lalu apa maumu sebenarnya di sini? Dan apa hubungannya semua ini dengan bos besar, Mark Barrington?"
"Itulah yang baru saja ingin aku jelaskan kepadamu."
"Tapi kenapa?" Ethel mengernyitkan dahi, benar-benar bingung. Sesaat kemudian, ekspresi wajahnya mengeras penuh selidik. "Kecuali... apa kamu melakukan ini semua hanya untuk pamer dan menunjukkan kemampuanmu kepada manajemen?"
"Sama sekali tidak. Aku melakukannya murni karena aku baru saja kembali dari luar negeri. Aku punya banyak waktu luang sekarang, dan kebetulan program kesehatan di klinik pabrik ini memang perlu diselesaikan."
Ethel menggeleng-gelengkan kepalanya, jelas tidak habis pikir ada orang di zaman sekarang yang mau bekerja gratis tanpa dibayar. "Ya sudah, lebih baik kamu daripada aku. Membayangkan anak-anak pekerja yang rewel, muntah di mana-mana, atau yang lebih parah dari itu..." tambah Ethel dengan raut masam.
"Benar juga," sahut Katie ceria. "Tapi coba pikirkan sisi baiknya, aku pasti akan mendapatkan banyak pelukan hangat dan ucapan terima kasih dari mereka nanti."
Ethel cemberut. "Aku juga sering mendapatkannya, tapi biasanya dari para pekerja yang sudah menikah. Tidak pernah sekalipun dari orang yang benar-benar kamu harapkan kehadirannya. Seperti bos besar kita, misalnya."
"Oh ya?" pancing Katie dengan nada menyemangati. Ia mendadak penasaran bagaimana sudut pandang para karyawan di sini dalam melihat sosok Mark Barrington.
"Ya, begitulah nasib buruk kami. Mark tidak pernah main-main atau bersikap santai kalau sudah di lingkungan kerja. Lagipula, dia tidak perlu melakukan itu,"Ethel memutar bola matanya.
"Suatu sore di musim panas lalu, aku sempat melihat sekilas wanita yang sedang dia kencani saat datang menjemputnya ke kantor. Wanita itu tinggi, berambut pirang, sangat langsing, dan mengenakan pakaian bermerek yang modis sekali. Tipe-tipe wanita yang akan langsung membuatmu merasa minder dan benci saat pertama kali melihatnya."
Mungkin bukan cuma orang yang punya masalah berat badan saja yang punya trauma tentang bagaimana cara orang lain menilai mereka, batin Katie dalam hati.
"Nah, karena kamu sudah terlanjur di sini, kamu bisa memakai meja itu," ujar Ethel sambil menunjuk ke arah sebuah meja kerja berbahan logam abu-abu yang diletakkan di sudut ruangannya. "Apalagi yang kamu butuhkan?"
"Aku butuh satu ruang pemeriksaan khusus dan sebuah ruangan yang cukup besar untuk mengadakan kelas edukasi kesehatan," jawab Katie sigap.
Ethel tampak berpikir sejenak. "Di klinik ini ada tiga ruang pemeriksaan dan aku cuma bisa memakai satu ruangan dalam satu waktu, jadi itu tidak akan jadi masalah. Tapi kalau untuk ruang pertemuan... ada satu gudang kosong di ujung lorong yang bisa kamu pakai. Ayo ikut aku, biar aku tunjukkan tempatnya."
Katie segera melangkah mengikuti Ethel berjalan menyusuri lorong pendek tersebut.
Katie Wilson melongok melewati pintu yang dibuka lebar oleh Ethel dengan tatapan menilai. Ruangan itu sebenarnya cukup luas, tetapi dinding abu-abu khas perkantoran tua di dalamnya terasa sangat suram dan tidak menyenangkan.
"Cat," gumam Katie. "Butuh cat yang terang dan banyak poster edukasi."
"Aku tidak tahu soal itu," ujar Ethel ragu. "Bagian maintenance pabrik biasanya cuma mau mengecat dengan warna-warna netral."
"Persetan dengan bagian maintenance! Lingkungan sekitar itu sangat penting untuk kesehatan mental pasien."
Ethel menatap Katie dengan pasrah. "Aku tidak habis pikir kenapa aku selalu ketiban orang-orang idealis yang bermata naif. Sekali-kali, aku ingin dapat rekan kerja yang sinis. Maksudku, kamu kan bukan anak manja yang baru lulus sekolah keperawatan. Kamu sudah cukup dewasa untuk tahu realitas lapangan."
Katie tertawa. "Mungkin aku cuma mengalami sindrom telat tumbuh dewasa."
"Ini bukan lelucon," desak Ethel sungguhan. "Ingat ya, aku tidak mau terlibat dalam proyek perbaikanmu. Aku cuma melakukan pekerjaanku, menerima gaji, dan selesai."
"Aku akan mengingatnya," janji Katie, sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat Ethel bersikap senegatif ini. Usia wanita itu sepertinya belum lewat empat puluh tahun dan penampilannya tampak sangat sehat. Apakah dia baru saja patah hati karena asmara yang kandas?
"Ya sudah, kamu putuskan saja mau warna apa. Nanti aku yang akan meminta orang maintenance menyediakannya untukmu. Walaupun aku ragu mereka mau cepat-cepat meluluskannya."
"Terima kasih, Ethel. Aku sangat menghargai bantuanmu berkeliling klinik ini," kata Katie.
"Aku melakukannya hanya karena bagian personalia menyuruhku untuk bekerja sama denganmu," sahut Ethel datar tanpa basa-basi.
"Apa pun alasannya, aku tetap menghargainya. Sampai jumpa."
Katie mendorong pintu yang menuju ke bagian depan gedung pabrik untuk keluar dari klinik. Ia sempat berhenti sejenak ketika tiba di koridor utama yang mengarah langsung ke ruang kerja Mark Barrington, lalu mengecek jam tangan digitalnya. Saat itu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Ia masih punya waktu untuk mampir sebentar dan menyapa pria itu.
Setitik rasa berdebar yang menyenangkan mendadak menjalar di dada Katie. Saking kuatnya getaran itu, alarm peringatan di dalam benaknya langsung berbunyi keras mengingatkannya untuk tetap waspada.
Mungkin memang bukan ide yang bagus bagi Katie untuk menuruti dorongan hati agar selalu berada di dekat Mark Barrington. Hanya untuk sekadar berbicara dengannya, atau menatapnya. Katie bergidik saat bayangan tentang ciumannya tadi kembali melintas, lengkap dengan sensasi rasa dan tekstur bibirnya yang masih terasa jelas.
Mungkin reaksi intens ini terjadi hanya karena Mark adalah pria pertama yang benar-benar ia cium, pikirnya berusaha menenangkan diri. Mungkin hormonnya hanya bereaksi terhadap pria yang sangat menarik. Apakah ia akan bereaksi sama jika pria menarik lainnya yang menciumnya?.
Katie menarik napas dalam-dalam. Masih banyak hal lain yang harus ia cemaskan malam ini, seperti pesta keluarga Wheelings nanti. Perutnya terasa mual membayangkannya. Meski Mark benar bahwa pesta itu adalah kesempatan bagus untuk melihat kompetisi, ia tetap punya firasat buruk tentang acara itu.
Mark akan bersamaku, bisik Katie untuk menenangkan ketakutannya sendiri. Dan Katie punya gaun baru yang sangat cantik untuk dipakai.
Dengan tekad bulat, ia menolak dorongan untuk mampir ke ruang kerja Mark dan memilih langsung berjalan menuju tempat parkir. Tepat saat ia keluar dari gedung, sebuah suara pria menyapa.
"Selamat siang."
Katie menoleh ke arah sumber suara, menyipitkan mata karena silau oleh sinar matahari yang sangat terik.
"David Edwards?" tanya Katie saat mengenali wajahnya. Instingnya langsung bekerja, mencari kemiripan fitur wajahnya dengan Mark, namun ia sama sekali tidak menemukannya.
"Aku David Edwards, Nona Wilson," ujarnya dengan nada yang seolah-olah sudah mengenal Katie.
Bersambung ...