Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grebeg
"Papi sama Tebi Ara mau pergi jauh jadi Uci nggak boleh ikut yah, nanti pulangnya papi bawain jajan deh. Uci mau jajan apa?" sudah rapi tapi Ziano berakhir menggendong Lusi karena gadis kecil itu merengek ingin ikut juga.
"Sini, Uci sama Abah aja. Nanti kita jalan-jalan naik kereta lagi, mau kan?" bujuk Abah Dikun.
"Uci mau Abah..." gadis di gendpngan Ziano langsung minta turun dan beralih memegang lengan kakeknya.
Ziano merapikan kaosnya yang sedikit berantakan setelah menggendong Lusi, lantas berjongkok di depan gadis itu. "nanti papi beliin sosis bakar."
"Uci mau krayon..."
"Iya, sama krayon juga. Tapi uangnya minta ke Aki.." jawabnya seraya sedikit mendongak pada aki DIkun.
Aki membalasnya dengan tatapan mengejek, "kamu ini so banget mau jajanin Lusi tapi uangnya minta ke Aki."
"Lah kan aku nggak ada uang, Ki. Sama Ara cuma dikasih tiga puluh ribu, itu juga udah abis buat jajan cilok Lusi kemaren-kemaren."
"Tapi dibeliin HP baru sama Neng Ara kan?"
"Katanya kredit ini, Ki. Nggak tau deh sampe kapan lunasnya." kelakar Ziano.
"Apaan orang aku ikhlas kok." seru Ara yang baru datang, "aku udah siap nih, uang yang buat beli komputernya mana?" Ara menadahkan tangan.
"Berapa?"
"Berapa, A?" Ara malah melirik Ziano.
"Lima juta aja cukup kayaknya."
Abah Dikun masuk ke warung dan kembali sambil menyerahkan keresek hitam pada Ziano, "Pilih yang bagus sama awet yah. Udah Aki tambahin juga buat jajan kalian."
Ziano membuka kresek hitamnya, "harus banget ini pake kresek kayak gini?"
Ara merebut kresek hitam itu dari tangan Ziano, "biar aman, A."
"Kalo kayak gini nggak akan ada yang ngira kita bawa uang banyak." lanjutnya seraya memasukan kresek hitam itu ke dalam tas gendongnya.
"Under sepuluh juta aja dianggap banyak." Batin Ziano, tapi ia tak banyak komentar. Ikut menyalami Aki dan mencubit gemas Lusi sebelum pergi.
Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di toko kumputer yang lumayan lengkap. Rasanya Ziano ingin muntah naik motor terlalu lama, maklum sebelumnya terbiasa niak mobil.
"Kita ke warung dulu deh." usul Ara begitu motornya sudah terparkir di depan toko komputer. Beruntung tak jauh dari sana aja warung madura yang buka sepanjang waktu kecuali kiamat.
"Minum dulu." Ara memberikan satu gelas teh tawar hangat yang sudah dicampur obat masuk angin.
"Payah banget dah A Ano, ntar pulangnya aku yang bawa deh. A Ano di belakang aja." lanjutnya seraya memijit kepala Ziano.
"Aman aja, nggak apa-apa. Yuk pilih komputernya sekarang, supaya nggak terlalu siang pulangnya, ntar makin panas."
"Anti banget sama panas heran." gerutu Ara.
Keduanya masuk ke toko komputer. Ziano langsung menghampiri karyawan dan menyakan spesifikasi komputer yang ia butuhkan, Ara mengekor seperti anak ayam kesana kemari.
"Yang standar aja kak. Butuh buat kasir aja."
"Nggak, kita mau yang rakitan aja."
"Processor Intel i3 / Ryzen 3, RAM 8 GB, SSD 256 GB, Monitor 19–22 inch cukup."
"Tambah printer struk sama barcode scanner. Yang standar aja." jelasnya panjang lebar sambil memeriksa rekomendasi dari karyawan.
"Kenapa nggak laptop aja sih, A? banyak tuh bagus-bagus." bisik Ara sambil menunjuk jajaran laptop.
"Lebih murah PC, kalo laptop uangnya nggak cukup, lagian kita cuma butuh buat ngasir. Yang dipake juga cuma excel yang simple, jadi nggak butuh spek tinggi. PC cukup tiga juta, laptop nggak dapet segitu."
"Ya udah deh terserah Aa aja, aku nggak paham juga."
"Percaya sama gue aja." Ziano menepuk punggung Ara sekilas kemudian beranjak ke meja kasir memeriksa pesanannya. Setelah dirasa aman dan lengkap, mereka langsung membayar dan pergi.
"Aku aja yang bawa, Aa di belakang."
Ziano merebut kunci motor Ara, "harga diri gue dimana? masa dibonceng cewek?"
Mereka sampai rumah lumayan sore gara-gara harus singgah ke beberapa toko lain karena barcode scanner yang kosong dimana-mana, beruntung mereka nemu di toko terakhir. Padahal Ara sudah menyarankan beli online saja kalo susah.
Ziano langsung memasang komputer itu di warung Aki. Ara,Yudi, Aki, Ambu hingga Lusi begitu antusias melihat apa yang dilakukan Ziano.
"Aku di sekolah belajar komputer tapi nggak dari masang kayak gitu." ucap Ara.
"Aku malah bisanya cuma nyalain sama alt+f4 aja." imbuh Yudi yang merupakan anak otomotif.
"Abah malah nggak tau apa-apa."
"Nanti aku ajarin, Aki tenang aja." ucap Ziano.
"Neng Ara jeung Yudi wen, Aki mah hoream lah. Lieur." jawab Aki. (Neng Ara sama Yudi aja, AKi malas ah, Pusing)
"Sok dialajar, Aki bade siap-siap balanja ka Kebumen." lanjutnya. (silahkan pada belajar, Aki mau siap-siapbelanja ke Kebumen)
"Yud, ke wengi ngendong di Aki wen bari di ajar, supaya Neng Ara teu ngan duaan di imah jeung Ano." pungkasnya seraya menepuk pundah Yudi sebelum pergi. (Yud, nanti malam nginep di rumah Aki aja sekalian belajar, supaya Neng Ara nggak cuma berduaan sama Ano di rumah)
"Siap, Aki."
Ziano, Ara dan Yudi sibuk di warung hingga malam. Disela-sela melayani pelanggan, Ara dan Yudi mulai menempelkan barcode yang sudah dibuat Ziano. Belum semua barang diberi barcode, baru beberapa untuk latihan.
"Pindah ke rumah aja yuk, A. Udah jam sembilan ini, waktunya tutup." ucap Ara.
"Iya." Terlalu fokus mengatur excel supaya siap pakai, Ziano sampai lupa waktu. Program yang ia gunakan sebenarnya mudah saja, tapi berhubung barang di warung Aki sangat banyak maka ia juga perlu membuat kode yang berbeda untuk masing-masing produk.
Warung sudah di tutup, komputer sudah diboyong ke rumah, kini ketiganya lanjut memperhatikan arahan dari Ziano.
"Aki tiap malam ngitung satu-satu karena nggak tahu barang keluar berapa. Kalau pakai sistem ini, Aki tinggal lihat layar."
"Ini kayak aplikasi komputer akuntasi yang kemaren di pake praktek" ucap Ara.
"Betul, cuma bedanya kalo yang dipake praktek itu hanya pembukuannya saja, kalo ini udah aku atur sama cetak nota juga." jelas Ziano.
"Masih belum selesai sih, tapi lumayan buat belajar kalian." lanjutnya.
"Intinya kita tinggal scan aja kan, A? nanti harga muncul sendiri. kalo belinya dua berati di scan dua kali?" tanya Yudi.
Ziano menoleh ka arah Yudi, "betul. Tapi masalahnya di warung Aki nggak semua kita kasih barcode. Contok kayak cabe, bawang, tomat kan nggak kita kasih barcode karena biasanya pelanggan milihin dulu baru ditimbang. Nah untuk kasus itu kita ketik manual beratnya, nggak bisa di scan." jelas Ziano.
"Ara dulu deh yang diajarin A, soal yang ketik manual. Adek aku sakit ini, ibu nyuruh pulang. Katanya mau ke puskesmas." Yudi menunjukan chat dari ibunya.
"Eleuhh... Iya atuh sana pulang. Biar aku yang belajar duluan, besok A Yudi aku yang ngajarin." Jawab Ara.
Jarum jam sudah menunjukan jam dua belas malam, Ara masih semangat belajar. Ia bahkan mulai paham cara menambah stok dan mengedit trus apabila ada belanjaan yang dicancel.
"A, yang ini udah aku ketik kok tetep nggak muncul sih? padahal tadi udah aku tambahin stoknya loh." tanya Ara tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar.
"A..."
"A Ano..." karena tak juga mendapat jawaban, Ara menoleh, Ziano sedang memijit pelipisnya.
"A Ano kenapa? pusing?" meninggalkan komputer, Ara kini duduk sejajar di samping Ziano.
"Dikit. Pengen muntah juga gue."
"Kayaknya masuk angin nih, abis motoran jauh. Bentar deh." Ara pergi ke dapur, kembali dengan teh hangat.
"Pasti lo campur obat masuk angin lagi?" tebak Ziano saat Ara menyodorkan teh itu.
Ara mengganguk, "diminum A"
"Ogah, nggak enak. Makin mual gue jadinya." tolaknya.
"Terus Aa maunya gimana?" tanya Ara, "apa mau ke puskesmas aja? biar barengan sama adeknya A Yudi." ledeknya.
"Tengah malem gini. Yang bener aja."
"Ya terus gimana? minum obat kagak mau, ke puskesmas nggak mau. Rewel nih." Ara bertolak pinggang sambil menatap Ziano yang malah balik menatapnya dengan melas.
"Kalo gitu aku kerok aja gimana? biar anginnya keluar. Aku juga kalo masuk angin suka dikerok sama ambu soalnya nggak bisa minum obat."
"Ya deh dari pada ke puskesmas jam segini." jawab Ziano pasrah.
Ara pergi ke ambu untuk mengambil minyak telon milik Lusi, sementara di luar sudah mulai terdengar suara orang memanggil.
"Ada yang manggil itu, Ra." ucap Ziano begitu Ara datang.
"Abaiin aja, A. Kata Abah kalo ada yang manggil malem-malem nggak usah ditanggapi. Bisi jurig hih serem." balas Ara. (takut hantu, ih serem)
Makin lama suara di luar makin ramai.
"Biarin aja." Ara masa bodoh, "Aa hadap belakang, buka bajunya biar gampang ngeroknya." lanjutnya.
BRAAK! Pintu rumah terbuka lebar.
"Ternyata bener yah!"
"Ya ampun Neng Ara!"
Belum juga mulai ngerok, Ziano baru selesai buka baju tiba-tiba ruang tamunya dipenuhi warga, bahkan pak RT dan pak Hansip juga ada disana, menatap mereka dengan jijik.
"Neng Ara, bapak nggak nyangka kamu seperti ini. Tadi siang ada aduan warga bapak malah belain kamu ternyata apa yang diaduin bener." Pak RT geleng-geleng kepala tak percaya.
"Kalo abah kamu sampe tau kelakuan anaknya pas ditinggal kayak gini bisa langsung kena serangam jantung, neng!"
"Betul itu! kalo kita nggak datang mereka pasti sudah berbuat maksiat. cuih!" bahkan salah satu warga meludah dengan kasar di hadapannya.
Ara membeku. Tangannya masih menggenggam botol minyak telon. Sementara Ziano refleks menarik kaos yang tadi baru saja dilepasnya. Belum sempat dipakai. Belum sempat dikerok. Belum sempat menjelaskan apa pun.
Wajah Ara perlahan memucat. "A... Aa..." Suara itu bahkan nyaris tidak keluar.
Sementara itu dari barisan belakang, seseorang tersenyum tipis sambil menyembunyikan diri di balik kerumunan.
Marcel menggenggam erat kunci motornya. "Akhirnya, kamu pasti langsung diusir dari sini." gumamnya pelan.
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣