( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Weight of a Soul
Penyihir
Penyihir adalah sebuah entitas yang berdiri di atas hierarki yang jauh berbeda dari manusia pengguna sihir biasa. Menyepelekan eksistensi mereka, atau sekadar bermain-main dengan sebutan "penyihir", akan mendatangkan konsekuensi yang jauh lebih masif dari apa yang mampu ditampung oleh akal sehat.
11 Februari, sore.
Leoric memaku pandangannya pada hamparan kosong di hadapannya. Ditengah keputusasaan yang mencekik, dia menyaksikan kenyataan pahit bahwa kerajaan milik tunangan tercintanya telah rata dengan tanah—hanya menyisakan puing-puing mati yang terbengkalai.
Di depan Leoric, sesosok entitas berdiri membisu. Makhluk itu menatap balik ke arah Leoric, tanpa sedikit pun membuka mulutnya.
Tubuh Leoric seketika kehilangan daya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, dia menyeret kedua kakinya, memaksa tubuhnya untuk terus melangkah maju. Selangkah demi selangkah, dia mendekati sosok aneh tersebut.
Basten yang kondisinya saat itu paling bugar di antara Anastasya dan Leonard melangkah siaga di belakang Leoric. Dia mengawal sang putra mahkota yang berjalan luntang-lantung hingga akhirnya mereka tiba tepat di hadapan entitas misterius itu.
Pertahanan Leoric runtuh. Dia membungkukkan badannya dalam-dalam, tak kuasa lagi menahan bendungan air mata yang kini jatuh membasahi tanah. Dengan suara tersedu-sedu, dia mulai mempertanyakan kondisi orang-orang yang mendiami kerajaan ini.
Mendengar keputusasaan itu, sang entitas akhirnya menunjukkan sedikit gerak-gerik kemanusiaan. Dia menggerakkan mulutnya, meloloskan sebuah suara yang seketika menyiksa indra pendengaran manusia.
Suara itu teramat sulit untuk dijelaskan; sebuah frekuensi yang abstrak, bising, dan jauh lebih buruk daripada distorsi radio rusak kuno. Namun entah mengapa, setiap jengkal perkataan yang keluar dari mulutnya tetap dapat dipahami secara ajaib oleh isi kepala mereka.
Basten yang berdiri di belakang Leoric refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat. Dia berusaha sekuat tenaga agar gelombang suara mengerikan itu tidak menembus gendang telinganya. Namun, segala upayanya sia-sia.
Satu-satunya opsi yang paling logis bagi Basten saat ini adalah mundur. Dia melangkah mundur perlahan, mencoba menjauh hingga frekuensi yang merusak otaknya itu tidak lagi terasa.
Sebagai anggota Elite Guard, Basten sadar betul bahwa tindakannya saat ini teramat hina karena egois dan meninggalkan sang putra mahkota sendirian bersama entitas yang mengancam nyawa. Akan tetapi, Leoric tidak menggeser posisinya barang satu inci pun. Seolah-olah, sang entitas memang sengaja memberikan otoritas khusus bagi Leoric untuk mendengarkan suaranya, sementara frekuensi destruktif itu sengaja dilepaskan untuk mengusir Basten dari pandangannya.
Begitu Basten dirasa sudah berada di jarak yang cukup jauh, sang entitas kembali membuka mulutnya, merapalkan sebuah salam perkenalan kepada Leoric.
"Saaalaaammm keeeennaaaallll, Leeooriiiccc Nniiigghtvvaaleeee..."
Jantung Leoric mencelos. Benaknya dipenuhi tanda tanya besar tentang bagaimana bisa sosok asing ini mengetahui identitasnya.
Tanpa membuang waktu, entitas itu memperkenalkan dirinya sebagai "Penyihir Dimensi"—sebuah eksistensi yang memegang otoritas penuh untuk memanipulasi ruang dan dimensi dalam skala kecil.
"Di mana... di mana seluruh penduduk kerajaan ini?!" Leoric mendesak dengan suara bergetar. "Apakah kau yang telah membuat tempat ini rata dengan tanah?!"
"Tenangkan kepalamu," perintah sang Penyihir dengan nada tegas yang mutlak.
Penyihir itu kemudian mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jarinya ke udara. Seketika, sebuah proyeksi magis menyerupai cermin kecil bermanifestasi di depan telapak tangannya.
Sebuah visual yang membawa secercah harapan besar bagi Leoric.
Cermin itu memproyeksikan figur Clarissa yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di atas sebuah ranjang yang tampak empuk dan nyaman.
Melihat hal itu, Leoric seketika melupakan harga dirinya sebagai keluarga kerajaan. Dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, lalu bersujud di hadapan sang Penyihir. Air mata kelegaan tumpah ruah; hatinya membubung tinggi penuh rasa syukur karena bisa melihat wajah cantik nan manis tunangannya berada dalam kondisi aman di dunia yang sudah hancur lebur ini.
Sang Penyihir kemudian menutup proyeksi visual tersebut, lalu memerintahkan Leoric untuk menegakkan kembali kepalanya.
"Jika kau bersedia menjadi perantara antara 'Dimensi' dan 'Realitas', aku akan menyerahkan Clarissa beserta teman-temannya kepadamu sekarang juga," tutur sang Penyihir dengan dingin. "Namun, jika kau menolak, aku akan mencari manusia lain, dan memindahkan 'Ruang' tempat Clarissa berada saat ini ke dalam kawah gunung berapi aktif di daerah yang teramat jauh."
Tanpa berpikir dua kali, Leoric langsung menyambar tawaran tersebut. "Aku terima! Aku bersedia melakukan tugas apa pun yang kau berikan, asalkan nyawa Clarissa terjamin!"
Sang Penyihir terdiam, wajah abstraknya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Keheningan mencekam sempat merayap selama dua menit penuh setelah Leoric mengutarakan keputusannya, sebelum akhirnya sang Penyihir kembali membuka suara untuk menjabarkan tugasnya.
Leoric diperintahkan untuk "menjaga" Penyihir Kejayaan yang saat ini tengah terjebak dalam kondisi koma permanen. Jika menginginkan Clarissa selamat, Leoric harus mutlak berdiri di pihak sang Penyihir.
Maksud dari menjadi perantara antara "Dimensi" dan "Realitas" adalah sang Penyihir akan menginfusikan sebagian kecil otoritas dimensinya ke dalam tubuh Leoric. Otoritas itulah yang nantinya wajib digunakan Leoric untuk memindahkan "Ruang" ke titik mana pun yang diinginkan oleh sang Penyihir.
Tepat setelah jajaran tugas itu selesai dijabarkan, bayangan di bawah kaki Leoric mendadak melebar secara berkala, membengkak secara ganjil, hingga akhirnya sosok Sarioth bermanifestasi keluar dari kegelapan tersebut.
"Tugas tersebut teramat berbahaya, Tuan," bisik Sarioth, suaranya mengalun rendah. "Tetapi, jika itu sudah menjadi keputusan Anda, maka saya akan terus mengikuti ke mana pun Anda melangkah."
Melihat interupsi itu, sang Penyihir mendadak mengangkat lengannya. Dalam hitungan milidetik, sosok Sarioth yang berdiri di samping Leoric langsung lenyap tak berbekas.
Tanpa suara. Tanpa jeda waktu.
Sarioth menghilang begitu saja dari realitas tanpa meninggalkan jejak tunggal, seakan-akan sejak awal memang tidak pernah ada siapa pun yang berdiri di sana.
Leoric terperanjat hebat, namun sang Penyihir langsung memotong jalannya kepanikan dengan penjelasan dingin, "Aku hanya memindahkannya ke tempat lain. Aku tidak menyukai keberadaannya di sini."
Leoric menahan napas, lalu kembali mengangguk patuh. Dia bersedia mengikat kontrak dan menyetujui seluruh tugas dari sang Penyihir.
Melihat kepatuhan itu, sang Penyihir menjentikkan jarinya sekali lagi. Secara ajaib, sebuah celah dimensi berbentuk gerbang mistis menganga di udara. Penyihir itu kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah Basten yang berada di kejauhan.
Sebuah isyarat bisu yang memerintahkan Basten untuk segera memindahkan tubuh Clarissa, Edward, dan Deon dari dalam gerbang menuju ke atas kereta kuda di belakang mereka.
Basten bergerak dengan kecepatan penuh. Dia sadar betul bahwa di hadapan entitas ini, perintah sang Penyihir adalah hukum yang mutlak dan tidak bisa ditawar—setidaknya untuk saat ini.
Melihat Basten bekerja sendirian, Leonard dan Anastasya berinisiatif melangkah maju untuk membantu. Namun, sang Penyihir langsung memaku pandangannya ke arah mereka berdua dengan tatapan yang teramat abstrak dan mengintimidasi—sebuah peringatan tak kasat mata yang memaksa keduanya untuk tetap diam di tempat jika masih menyayangi nyawa mereka.
Sembari menunggu proses evakuasi selesai, sang Penyihir mulai menjabarkan sebuah rahasia besar. Dia menjelaskan bahwa asal-usul terbukanya "Gerbang" antara dimensi kutukan Nethermist dan dunia manusia adalah akibat ulah dari seorang dewa yang teramat disegani sekaligus ditakuti:
Dewa Osylux sang kehancuran.
Awalnya, Osylux telah tertidur lelap selama kurang lebih 3.000 tahun akibat jerat "segel" yang ditanamkan oleh pahlawan masa lalu dari dunia manusia.
"Hah?!" Leoric mengernyitkan dahi, dilingkupi kebingungan yang pekat.
Sang Penyihir terus melanjutkan penjelasannya mengenai Nethermist—sebuah dimensi terkutuk yang dipenuhi kabut berbahaya yang mampu mengacaukan jiwa serta mengikis memori siapa pun yang memasukinya.
Osylux berhasil menjebol dinding pembatas dan membuka gerbang mistis tersebut murni dengan memanfaatkan kekuatan serta otoritas "Kehancuran" yang dimilikinya. Namun, perihal apa tujuan sejati di balik dibukanya gerbang terkutuk ini, sang Penyihir memilih untuk merahasiakannya dan tidak memberikan jawaban pasti.
Di sudut lain, Basten akhirnya berhasil seorang diri memindahkan tubuh Clarissa, Edward, dan Deon ke atas kereta kuda yang mereka bawa.
Tepat setelah proses itu usai, sang Penyihir membalikkan tubuhnya menghadap jurang dalam yang menganga di belakang mereka. Dia menjentikkan jarinya untuk yang kedua kali. Seketika itu juga, kereta kuda milik Leoric—yang di dalamnya berisi tubuh Clarissa dan yang lainnya—mendadak berpindah tempat ke area kosong di atas jurang. Kereta itu melayang diam di udara tanpa bergerak sedikit pun, seolah-olah ada sebuah "Ruang" tak kasat mata yang menahan kereta tersebut dari hukum gravitasi.
Leoric terbelalak. Rasa terkejutnya seketika bergolak menjadi kemarahan yang membakar dada. Dia spontan membentak sang Penyihir dengan suara lantang.
"HEI!! APA MAKSUDMU MELAKUKAN INI?! AKU SUDAH MENYETUJUI SEMUA PERSYARATANMU!"
Mengabaikan bentakan itu, sang Penyihir menjentikkan jarinya untuk yang ketiga kali.
Secara instan, Sarioth dipindahkan ke atas jurang, melayang tepat di samping kereta kuda. Tubuh makhluk bayangan itu tampak terkunci total; dia hanya bisa diam tertahan di udara dalam kepasrahan.
Kemudian, sang Penyihir menjentikkan jarinya untuk yang keempat kali. Sebilah pedang besar (greatsword) berwarna perak bermanifestasi secara ajaib di udara, memancarkan aura magis berwarna merah gelap dan hitam yang pekat.
Sang Penyihir memutar tubuhnya, kembali menghadap ke arah Leoric. Tanpa ekspresi, tanpa gerakan tambahan, dia mulai membuka mulutnya. Seiring dengan lolosnya suara rusak sang Penyihir, bunga-bunga liar yang sebelumnya masih bertahan hidup di sela-sela puing mendadak layu dan mati seketika.
Namun, ada yang berbeda kali ini. Jika sebelumnya artikulasi katanya terdengar terbata-bata, kini untaian kalimat sang Penyihir mengalir dengan amat lancar—meski frekuensi suaranya masih terdengar jauh lebih mengerikan daripada distorsi radio rusak.
Penyihir itu memberikan sebuah pilihan mutlak, "Pilihlah... antara tengkorak busuk ini, atau kereta kuda yang berisi wanita yang kau cintai."
Leoric membeku, otaknya mendadak lumpuh menghadapi dilema mematikan yang tersaji di depan matanya.
"Hah?!"
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.