Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Harapan Itu Masih Ada
Khiya beranjak meninggalkan Kurza, Rin, dan Kel. Kurza membiarkan tubuhnya merosot, terduduk lesu dengan kepala tertunduk dalam. Di tengah kesunyian itu, benteng pertahanan pikirannya runtuh, membiarkan banjir kenangan menyerbu masuk.
Bayangan itu datang tanpa diundang, begitu tajam hingga Kurza bisa merasakan kembali udara dingin yang kontras dengan panas di wajahnya kala itu. Dalam ingatannya, Ratu Iris berdiri di hadapannya dengan keanggunan yang menghancurkan. Saat ia menawarkan darahnya sebuah anugerah sekaligus ikatan terlarang.
Iris tidak hanya sekadar menyampingkan rambut peraknya dari lekuk leher. Dengan gerakan perlahan yang penuh maksud, ia membiarkan gaun sutranya merosot jatuh ke lantai, meninggalkan setiap helai benang yang menghalangi. Kurza teringat bagaimana napasnya tertahan saat melihat kulit putih sang Ratu yang bersinar di bawah cahaya remang palita. Keintiman itu bukan lagi soal rasa haus akan darah, melainkan penyerahan diri yang total.
Iris berdiri tanpa sekat di depannya, menantang sekaligus memikat, mengundang Kurza untuk menyesap bukan hanya kehidupannya, tetapi juga seluruh keberadaannya. Keheningan di ruangan itu terasa begitu berat, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk menyaksikan momen yang akan mengubah takdir mereka selamanya.
Di balik keindahan yang terpampang, ada beban pengorbanan yang sangat besar dalam tawaran tersebut. Kenangan itu meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam jiwa Kurza, sebuah pengingat akan kesetiaan yang melampaui logika. Setiap detail dari malam itu cahaya yang redup, aroma mawar di udara, dan tatapan mata Iris yang tak gentar kini menjadi bagian dari diri Kurza yang paling dalam.
Dalam remang cahaya lilin yang menari di dinding kamar, suasana terasa begitu pekat dengan ketegangan yang tak terucapkan. Kurza melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa, menatap Iris dengan tatapan yang penuh kesetiaan dan pengertian yang mendalam. Di antara mereka, kata-kata tidak lagi diperlukan untuk menjelaskan ikatan yang telah terjalin lama. Iris menyambut kehadiran Kurza dengan senyuman tipis yang menyimpan ribuan cerita.
Kurza mulai mengisap darah Iris, tangannya melingkar di punggung Iris, setiap hisapan yang dilakukan Kurza; Iris mendesah pelan, ia tidak hanya diam jemarinya mulai menggapai baju kurza dan mulai melecuti baju Kurza. Kurza tidak merespon gerakan Iris, seolah - oleh iya mengijinkan Iris melecuti bajunya.
Mereka berdiri dalam keheningan, membiarkan waktu seolah berhenti sejenak dari hiruk pikuk tanggung jawab yang mereka emban. Keintiman di antara mereka bukan tentang sentuhan fisik yang gegabah, melainkan tentang kehadiran satu sama lain yang menjadi tempat berlindung dari dunia luar yang keras.Tangan mereka sempat bersentuhan, sebuah kontak singkat yang menyalurkan kekuatan dan ketenangan.
Di kamar itu, untuk sejenak, beban sebagai seorang Ratu dan tugas sebagai seorang penjaga kerajaan terasa luruh. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling memahami, saling menguatkan dalam diam, dan berbagi kepercayaan yang tidak tergoyahkan.Setiap napas yang teratur dan setiap pandangan yang terpaku menjadi bukti bahwa hubungan mereka melampaui sekadar kewajiban. Ini adalah momen kejujuran murni, di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa topeng jabatan.
Suara Kel memanggil - manggil namanya menarik Kurza kembali ke kenyataan yang dingin. Bayangan kulit putih Iris dan kehangatan darah yang mengalir di tenggorokannya lenyap seketika, digantikan oleh pemandangan kamar yang remang dan sepi.
Napasnya memburu, terasa berat di dadanya yang masih bergemuruh. Ia menyentuh bibirnya sendiri, hampir berharap menemukan sisa rasa manis atau jejak kehangatan di sana, namun yang ada hanyalah kulitnya yang dingin. Sisa-sisa gairah dan cinta dari masa lalu itu masih berdenyut di bawah permukaan kulitnya, membuatnya merasa asing di tubuhnya sendiri.
Kurza mengerang rendah, menyapu rambutnya dengan kasar seolah ingin mengusir sisa-sisa aroma Iris yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Kenangan itu terlalu nyata, terlalu berbahaya untuk disimpan di tengah situasi yang menuntut kewaspadaan penuh. Ia berdiri, mencoba mengembalikan ketegasan pada postur tubuhnya yang sempat lunglai. Namun, matanya tak sengaja tertuju pada pintu tempat Khiya baru saja pergi.
"Tuan Kurza... Tuan,," panggil kel sembari berdiri tegak, tangannya mengepal di dada. "Saya akan ikut sebagai pelindung Tuan Putri. Meski Pangeran Bjorn telah tiada, wajah hamba masih dikenali oleh beberapa tetua Viking. Itu mungkin bisa membantu meredakan ketegangan saat kita tiba di sana secara tiba-tiba." Seru Kel dengan harapan Kurza mengijinkannya ikut.
Malam itu, suasana di persembunyian dipenuhi dengan persiapan yang mendesak. Khiya mencoba memejamkan mata, memegang erat kalung ayahnya, membayangkan sosok kakek yang belum pernah ia temui seorang raja tua yang kini pasti sedang berduka atas kematian putranya. "Istirahatlah, Khiya!" bisik Kurza yang sudah ada di samping Khiya. sebelum ia menanggapi permintaan dari Kel.
"Kel,,, aku butuh sosokmu di sini. Keberadaanmu di sini jauh lebih krusial untuk menjaga sisa-sisa api perlawanan di Alabas," ujar Kurza dengan nada otoriter yang tak terbantah. Kurza meletakkan tangannya di bahu Jenderal Kel. "Selagi kami pergi ke Utara, tugasmu adalah menyusup kembali ke barak - barak militer. Temukan mereka yang masih memiliki sumpah setia kepada Raja Zion. Ujar Kurza dengan tanganya yang mencengkram bahu Kel.
"Kumpulkan sebanyak - banyaknya pasukan yang masih mau bertarung untuk kerajaan Alabas. Bawa mereka kesini!" perintah Kurza. Kurza melempar sebuah kantong yang berisi koin dan sedikit barang berharga seperti cangkir emas dan sebagainya. "Bawa ini untuk membeli stok makanan dan senjata!" seru Kurza. "Tunggu aku disini, dan berhati - hatilah." Kel mengangguk dan menerima pemberian dari Kurza.
Wajah Kel mengeras karena tanggung jawab besar tersebut. "Says mengerti, Tuan Kurza. Saya akan bergerak di bawah radar, mengumpulkan mereka yang masih setia kepara Raja Zion. Saat sang Putri kembali, Alabas akan siap untuk meledak!" Seru Kel. Dengan satu penghormatan terakhir kepada Putri Khiya, Kel berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lorong bawah tanah.
Kini, hanya tersisa Kurza, Khiya, dan Rin di dalam bawah tanah kuil tua. "Rin... Kasih tau aku jika waktunya pergi ke utara!" perintah Kurza sambil melangkah ke arah Khiya. Kurza memeluk Khiya dengan erat dari arah belakang. Khiya yang belum tertidur tau siapa sosok yang memeluknya dari belakang. Khiya meraih tangan Kurza dan menggenggam erat.
Khiya sadar sosok Kurza yang biasa terlihat kuat, tenang kini terlihat rapuh dengan situasi yang sedang di hadapi oleh kerajaan Alabas. Disituasi ini gadis itu menjadi sosok yang lebih dewasa, Khiya membalikan badanya; menempatkan badanya berhadapan dengan Kurza. Jemarinya menyentuh lembut pipi Kurza, dab berbisik "Tuan, kita pasti bisa melewati ini semua." mendengar ucapan dari sosok gadis yang masih remaja itu Kurza tersenyum tipis.
Mereka pun terlelap dari tidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Sementara itu Rin masih tetap berjaga di sekitaran kuil tua sambil menunggu waktu keberangkatan menuju Utara. Rin melangkah maju mendekati Kurza dan Khiya yang masih dengan posisinya saling berpelukan.
"Waktunya tiba, Tuan." Ucap Rin sambil berlutut. Kurza yang pertama bangun, ia melepas pelukan Khiya. "Rin.. Apa energimu cukup untuk membawa kita ke utara dengan Black Shadows?" tanya Kurza memastikan. "Darah tuan semalam bukan sekedar cukup, darah manusia hamba hampir hilang sepenuhnya oleh darah vampir" jelas Rin sambil mengulurkan kedua tangan. Memperlihatkan jika sekarang kekuatan Rin sangatlah besar.
*** "Rin adalah gadis yang dijadikan anggota ke 2 oleh Kurza, ia adalah ninja yang bertugas menjadi mata sekaligus pengumpul informasi handal bagi Kurza, ia tidak memiliki kekuatan untuk bertarung. Berbeda dengan Miyuki yang menjadi vampir sepenuhnya. Rin adalah manusia setengah vampir. Meski ia tidak abadi, namun dengan adanya darah vampir yang mengalir di tubuhnya, penuaan Rin melambat." ***
Rin mengeluarka kekuatanya Black Shadows. Kurza menggenggam tangan Khiya dan menuntun Khiya melangkah memasuki Black Shadows. Dalam sekejap mereka masuk ke dalam dimensi Black Shadows menuju Utara Negara Viking.
Bersambung. . .