cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
.
.
Sinar matahari Lembang yang masuk lewat celah gorden villa mewah itu terasa jauh lebih hangat pagi ini. Jelita Anna Tasya perlahan membuka matanya, merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Begitu dia menoleh, wajah tampan Langit yang masih terlelap tepat di depan matanya. Rambut Langit berantakan, nafasnya teratur, dan ada senyum tipis yang tertinggal di bibirnya—senyum sisa "pelajaran berat" semalam yang sukses membuat Jelita memerah padam hingga ke ujung telinga.
Jelita mencoba bergerak sedikit, tapi pelukan Langit justru semakin erat.
"Mau kemana, Tembok Beton?" suara serak khas bangun tidur Langit terdengar berat di telinga Jelita.
"Lang... udah pagi. Gue mau mandi," bisik Jelita, mencoba menutupi wajahnya dengan bantal karena malu mengingat kejadian semalam.
Langit membuka matanya satu, lalu menyeringai nakal—sifat sengkleknya resmi reboot pagi ini. "Mandi bareng? Biar hemat air, Jee. Tutor lo ini sangat peduli lingkungan, tau nggak?"
"LANGIT! Mesumnya jangan kumat pagi-pagi!" pekik Jelita sambil memukul dada bidang Langit.
Langit tertawa terbahak-bahak, lalu menarik Jelita ke dalam dekapannya lagi, menghujani wajah gadis itu dengan ciuman-ciuman kecil. "Gila ya, semalam lo bener-bener lulus dengan predikat cum laude, Sayang. Gue nggak nyangka murid gue ini ternyata punya bakat terpendam buat bikin tutornya hampir mati jantungan."
"Diem nggak! Gue malu tau!" Jelita menyembunyikan wajahnya di dada Langit. "Lo janji kan jangan bahas-bahas lagi?"
"Iya, iya... gue nggak bahas. Gue cuma mau ngerasain lagi aja," goda Langit sambil menaik-turunkan alisnya dengan gaya paling menyebalkan sedunia.
SERBUAN MENDADAK: WINDI & HAIKEL
Baru saja Jelita hendak bangkit menuju kamar mandi dengan dibungkus selimut tebal, tiba-tiba terdengar suara raungan mesin mobil yang sangat tidak asing di depan villa. Disusul oleh suara gedoran pintu yang brutal dan teriakan yang sanggup merubuhkan gunung Tangkuban Perahu.
"WOY! LANGIT! JELITA! KELUAR LO BERDUA! JANGAN ENAK-ENAKAN SEMEDI DI DALEM!" teriakan Windi menggema hingga ke lantai dua.
"BUKA PINTUNYA! GUE TAU LO LAGI 'BELAJAR' DI DALEM! BAGI-BAGI ILMU DONG!" Haikel ikut-ikutan berteriak sambil memencet bel berkali-kali tanpa henti.
Jelita membeku. Jantungnya nyaris copot. "Lang... itu... itu Windi sama Haikel?"
Langit mengumpat pelan, wajahnya yang tadi penuh cinta kini berubah jadi penuh emosi. "Sialan! Ngapain dua curut itu nyampe sini?! Gue udah sewa villa yang paling tersembunyi biar nggak diganggu setan!"
Langit menyambar kaosnya dan celana pendek, lalu berjalan ke arah balkon bawah. "WOY! BERISIK NYET! BALIK LO KE JAKARTA!" teriak Langit dari jendela lantai atas.
Windi mendongak, memakai kacamata hitam dengan gaya bos besar. "Nggak mau! Enak aja lo ya, anniversary setaun kabur ke Bandung nggak bilang-bilang! Gue sama Haikel udah nyariin lo ke seluruh penjuru Lembang!"
"Bener, Lang! Teganya lo ninggalin sohib sejati lo ini demi memadu kasih sendirian! Mana makan-makan gratisnya?!" Haikel menimpali sambil mencoba memanjat pagar kayu villa.
Langit akhirnya menyerah. Dia membukakan pintu dengan wajah masam, sementara Jelita sudah lari tunggang langgang ke kamar mandi untuk bersiap-siap secepat kilat.
Begitu pintu terbuka, Windi langsung nyelonong masuk dan duduk di sofa ruang tengah yang masih berantakan sisa makan malam romantis semalam. Matanya yang tajam langsung menangkap botol wine yang kosong dan kelopak bunga mawar di lantai.
"Wah, wah... Haikel, liat nih. Kayaknya kita telat dateng nih. Sesi 'tutor sesat'-nya udah beres kayaknya," sindir Windi sambil menaikkan satu alisnya ke arah Langit.
Langit duduk di hadapan mereka dengan gaya sombongnya yang sudah kembali. "Apaan sih lo? Ganggu orang lagi liburan aja! Mau apa ke sini?!"
Haikel nyengir, menunjukkan barisan giginya. "Kita kangen, Lang. Masa lo nggak kangen sama kita? Lagian, Windi ngamuk-ngamuk pas tau lo di Bandung dari postingan close friend lo yang lupa lo hapus."
Jelita turun dari tangga dengan wajah yang sudah "dempul" rapi, mencoba terlihat seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang terjadi. "Eh, Windi... Haikel... kok tau kita di sini?"
Windi langsung berdiri dan memeluk Jelita, tapi sambil membisikkan sesuatu yang bikin Jelita mau pingsan. "Muka lo cerah banget pagi ini, Jee. Tutornya manjur ya semalem?"
"WINDI!!!" Jelita menjerit kecil, wajahnya kembali merah padam.
"Udah, udah! Karena kalian udah ngerusak pagi gue yang indah, kalian harus bayar!" Langit berdiri, merangkul Jelita posesif. "Sekarang kalian temenin kita sarapan, tapi lo yang bayar ya, Kel!"
"Lho, kok gue?! Kan lo yang anniversary!" protes Haikel.
"Bodo amat! Siapa suruh dateng tanpa diundang!" balas Langit sambil tertawa sengklek.
Mereka akhirnya pergi ke sebuah tempat sarapan bubur ayam legendaris di pusat Lembang. Suasananya sangat ramai, tapi meja mereka adalah yang paling berisik. Windi nggak henti-hentinya menginterogasi Jelita tentang "perkembangan" hubungannya, sementara Haikel sibuk berdebat sama Langit soal modifikasi mobil.
"Jee, serius deh. Si Langit nggak macem-macem kan di sini? Kalau dia kurang ajar, bilang gue. Biar gue sunat lagi," ucap Windi sambil menyuap buburnya.
Jelita melirik Langit yang lagi asyik ngeledek Haikel. "Enggak kok, Win. Dia... dia baik."
"Baik apa baik banget?" goda Windi lagi.
"WINDI STOP!" Jelita menutup mulut Windi dengan kerupuk, membuat Haikel dan Langit tertawa serempak.
Di sela-sela tawa itu, Langit tiba-tiba diam sebentar. Dia teringat rumah Mamanya. "Eh, gimana si jomblo karatan di rumah? Dia tau nggak lo berdua ke sini?" tanya Langit pada Haikel.
Haikel menggeleng. "Nggak tau. Dia lagi sibuk banget sama Arka dan sirkel tekniknya. Kayaknya dia beneran mau tobat jadi hantu galau dan mulai fokus kuliah. Tadi pagi gue liat dia berangkat pagi banget, katanya mau ke perpus pusat."
Langit mendengus. "Bagus deh. Biar dia tau kalau hidup itu buat dijalani, bukan buat ditangisi. Kayak gue nih, tiap hari dapet asupan vitamin cinta dari Jelita." Langit mencium pelipis Jelita dengan suara cup yang keras, membuat satu kedai bubur menoleh.
"Najis, Lang! Tempat umum ini!" Haikel melempar tisu ke wajah Langit.
Jelita hanya bisa menunduk, tapi hatinya merasa sangat ringan. Meskipun ada gangguan dari duo rusuh ini, kehadiran mereka justru membuat suasana anniversary ini terasa lebih lengkap. Dia bersyukur memiliki Langit yang bisa berubah dari pria serius yang sangat mencintainya semalam, menjadi pria sengklek yang sangat menyebalkan tapi selalu melindunginya hari ini.
Setelah sarapan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke kebun teh. Saat sedang asyik berfoto, ponsel Jelita yang ada di dalam tas bergetar berkali-kali. Karena Jelita sedang sibuk difoto oleh Langit, Windi yang memegang tasnya melihat layar ponsel itu.
Ada sebuah nomor tidak dikenal yang mengirim pesan lewat SMS (cara lama yang sangat familiar).
"Jee,. Maaf kalau gue lancang, tapi gue cuma mau bilang... selamat ulang tahun buat kenangan kita. -Y"
di seberang sana yayan memberanikan diri mengirim pesan pada nomor telepon yang udah lama disimpannya, meski no itu sudah gak aktif. mungkin? rasanya ingin sekali jelita tau dia masih mengingat jelita sampai detik ini
Windi tertegun. Dia tahu siapa "Y" itu. Tapi sebelum dia sempat bicara, Jelita sudah menghampirinya. "Siapa yang telepon, Win?"
"Eh... nggak ada. Cuma operator nawarin paket internet," bohong Windi sambil diam-diam menghapus pesan itu. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Jelita sekarang. Biarlah "hantu" itu tetap menjadi hantu, setidaknya untuk hari ini.
Jelita kembali ke pelukan Langit, tertawa saat Langit mencoba menggendongnya di tengah kebun teh. Langit tertawa lepas, suaranya memenuhi udara dingin Lembang. Dia merasa sangat menang. Dia memiliki Jelita, dia memiliki sahabat yang gila, dan dia memiliki masa depan yang cerah.
Tanpa mereka sadari, di Jakarta, Yayan sedang duduk di perpus pusat dengan ponsel di tangannya, menatap pesan yang baru saja ia kirim. Dia tahu Jelita tidak akan membalas. atau mungkin nomor nya sudah tidak aktif. Dia tahu dia hanya bicara pada ruang hampa. Tapi baginya, setidaknya dia sudah mencoba bersuara.
Matahari Lembang mulai meninggi, menutup pagi yang penuh tawa dan rahasia itu. Langit dan Jelita bersiap kembali ke Jakarta, tanpa tahu bahwa di kota itu, sebuah badai besar sedang menunggu untuk menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣