NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Suasana kafe di seberang rumah sakit itu terasa dingin dan hambar, meski aroma biji kopi yang baru digiling menyeruak ke seluruh ruangan. Jeremy duduk di pojok, menatap cangkir espresso-nya yang sudah mendingin tanpa sedikit pun berniat meminumnya. Pikirannya masih tertinggal di kamar 402, pada gurat pucat wajah Malik dan deretan kalimat di layar ponsel tadi.

"Tuh cowok beneran ngaco," desis Jeremy pelan, ia menyugar rambutnya dengan kasar hingga berantakan. "Ya, gue mau-mau aja jaga Sheila. Siapa yang nggak mau jagain cewek yang dia sayang? Tapi kalau caranya dia nyerah kayak gitu, buat apa?"

Jeremy menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, matanya menatap kosong ke arah jalanan ambulans yang lalu lalang. "Masa gue harus jagain Sheila sambil lihat dia nangis tiap hari gara-gara nungguin Malik? Gue bukan pahlawan kesiangan yang mau jadi pelampiasan. Gue maunya dia milih gue karena dia emang mau, bukan karena dititipin. Jangan sampai, amit-amit. Nggak, nggak."

Ia merasa harga dirinya sebagai seorang Nasution terusik. Baginya, cinta adalah penaklukan, bukan pemberian atas dasar belas kasihan. Namun, bayangan wajah Sheila yang tertidur di samping ranjang Malik tadi kembali melintas, membuat dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa cemburu dan iba yang memuakkan.

Tepat saat ia hendak beranjak, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama "PAPA" terpampang di layar, berkedip seolah-olah sedang memberikan peringatan bahaya. Jeremy menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.

"Iya, halo, Pa?" ucap Jeremy, suaranya terdengar sangat lelah.

"Kamu di mana, Jeremy?!" Suara bariton Tuan Nasution meledak di ujung telepon, begitu keras hingga Jeremy harus menjauhkan ponselnya dari telinga. "Ada rapat dewan komisaris jam sepuluh tadi, dan asisten kamu bilang CEO-nya nggak ada di tempat? Jangan gila kamu, Jeremy! Ini proyek triliunan, bukan mainan anak TK!"

Jeremy memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Maaf, Pa. Tadi ada urusan urgent yang nggak bisa ditinggal."

"Urgent apa?! Jangan bilang ini ada hubungannya sama asisten kelas teri kamu itu lagi?!" Papa Jeremy mendengus sinis, suaranya penuh penghinaan. "Papa sudah bilang dari awal, asisten itu cuma pengalih perhatian. Kamu sampai nekat bolos rapat penting dan pergi ke rumah sakit antah-berantah cuma buat urusan pacar asisten kamu? Kamu sudah kehilangan akal sehat, hah?!"

"Papa nggak ngerti situasinya—"

"Papa nggak perlu ngerti urusan asmara picisan kamu, Jeremy!" potong sang Papa telak. "Dengarkan Papa baik-baik. Balik ke Jakarta sekarang juga, atau Papa sendiri yang akan tanda tangan surat pemecatan kamu dari kantor ini. Kamu akan kehilangan posisi CEO, kehilangan fasilitas, dan Papa pastikan kamu nggak akan punya kekuatan apa pun buat bantu siapa pun lagi, termasuk asisten kamu itu!"

Klik.

Sambungan diputus secara sepihak. Jeremy menatap layar ponselnya yang kini menghitam. Ia tahu Papanya tidak pernah main-main dengan ancaman. Di dunia Nasution, kegagalan profesional adalah dosa yang tak terampuni, apalagi jika alasannya adalah "perasaan".

Jeremy terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah gedung rumah sakit di seberang jalan. Jika ia pergi sekarang, ia meninggalkan Sheila sendirian menghadapi duka dan kecemasan. Tapi jika ia bertahan dan dipecat, ia tidak akan punya akses lagi untuk membiayai pengobatan Malik yang mahal atau menjamin kenyamanan Sheila.

Ia mengepalkan tangannya di atas meja. Dilema ini lebih menyakitkan daripada denda kontrak mana pun.

Tiba-tiba, ia melihat sosok Sheila keluar dari pintu lobi rumah sakit dengan wajah yang tampak kalut, matanya menyisir jalanan seolah mencari seseorang. Jeremy segera berdiri, meninggalkan uang seratus ribu di atas meja tanpa menunggu kembalian, dan berlari menyeberang jalan.

"Sheila! Ada apa?!" tanya Jeremy begitu sampai di depan gadis itu.

Sheila menatap Jeremy dengan mata yang kembali banjir air mata. "Jer... Malik... kondisinya turun lagi. Dokter bilang ada pendarahan internal yang nggak terdeteksi tadi. Mereka butuh persetujuan buat operasi besar sekarang, tapi keluarganya belum sampai dan aku... aku bukan siapa-siapanya secara hukum!"

Jeremy terpaku. Ancaman pemecatan dari Papanya masih terngiang di telinga, tapi melihat tangan Sheila yang gemetar hebat memegang ujung kemejanya, Jeremy tahu ia tidak bisa pergi.

"Tenang, Sheila. Aku yang akan urus," ucap Jeremy mantap. Ia merangkul bahu Sheila, membimbingnya kembali masuk ke dalam. "Aku yang akan menjamin secara hukum dan finansial. Kamu jangan takut."

Sambil berjalan di koridor rumah sakit, Jeremy diam-diam mengetik pesan singkat untuk sekretarisnya di Jakarta:

"Kosongkan jadwal saya seminggu ke depan. Bilang ke Papa, silakan pecat saya kalau itu memang maunya. Saya tetap di sini."

Jeremy melirik Sheila yang kini menyandarkan kepala di lengannya saat mereka menunggu di depan ruang operasi. Ia tahu, pilihannya ini mungkin akan menghancurkan masa depannya di perusahaan keluarga, tapi melihat Sheila sedikit lebih tenang karena kehadirannya, Jeremy merasa ini adalah keputusan paling "CEO" yang pernah ia buat: mengambil risiko terbesar demi aset yang paling berharga dalam hidupnya.

***

Suasana koridor rumah sakit yang tadinya hening mendadak pecah oleh derap langkah sepatu pantofel mahal yang bergema di atas lantai porselen. Tuan Nasution datang dengan kemarahan yang meluap-luap, diikuti oleh dua orang pengawal berbadan tegap di belakangnya. Wajahnya merah padam, menunjukkan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.

"Jeremy Nasution?!" suara bariton sang Papa menggelegar, membuat beberapa perawat menoleh dengan tatapan ngeri.

Jeremy yang sedang duduk di samping Sheila langsung berdiri tegak. Ia merapikan kemejanya yang sudah kusut, mencoba memasang wajah setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang.

"Pa. Ngapain ke sini?" tanya Jeremy datar.

"Kamu bener-bener anak durhaka ya! Papa tadi ditelepon bilang apa sama kamu! Kamu lebih milih nungguin orang asing di sini daripada masa depan perusahaan?!" Tuan Nasution menunjuk wajah putranya dengan jari gemetar karena emosi. Tatapannya kemudian beralih ke arah Sheila yang sedang terduduk lemas dengan mata sembab. "Ini juga asisten nggak tahu diri! Bukannya kerja, bosnya malah diajak ke rumah sakit buat nungguin pacarnya! Kamu tahu nggak berapa kerugian kantor gara-gara drama picisan kamu ini?!"

Sheila tersentak, ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, air matanya kembali luruh. Rasa bersalah menghimpit dadanya. "Maaf, Pak... saya..."

"Jangan bentak dia, Pa! Ini keputusan aku!" Jeremy melangkah maju, menghalangi pandangan Papanya dari Sheila. "Dia nggak salah apa-apa. Aku yang mau di sini."

"Pulang sekarang, Jeremy! Atau Papa bakal melakukan hal yang nggak kamu sangka! Papa bisa hancurkan karier asisten ini dalam sekejap, dan Papa pastikan pacarnya nggak akan dapat penanganan medis lagi di sini!" ancam Tuan Nasution, suaranya merendah namun penuh bisa.

Jeremy terdiam sejenak. Ia menatap Sheila yang gemetar, lalu menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu itu masih menyala, menandakan perjuangan Malik belum usai.

"Oke. Jeremy bakal pulang," ucap Jeremy dengan nada final. Sheila mendongak, menatap punggung Jeremy dengan rasa tidak percaya. Namun Jeremy melanjutkan, "Tapi... setelah operasinya selesai atau sampai Malik sadar. Please, Pa. Kali ini saja aku mau mastiin kalau Malik selamat. Setelah itu, Papa mau pecat aku, mau hukum aku, terserah. Aku bakal ikut Papa pulang tanpa bantahan."

Tuan Nasution mendengus sinis, melihat kesungguhan di mata putranya yang keras kepala. "Dua jam. Papa tunggu di mobil. Kalau dalam dua jam kamu nggak keluar, jangan harap kamu masih punya nama Nasution di belakang namamu."

Sang Papa berbalik dan pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Jeremy kembali duduk di samping Sheila, ia menggenggam tangan Sheila yang dingin. "Jangan dengerin kata Papa tadi. Aku nggak akan biarkan dia apa-apain kamu atau Malik."

Satu jam kemudian, lampu di atas ruang operasi padam. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun ada gurat kelegaan. "Operasi berjalan lancar. Pendarahan internal sudah diatasi. Pasien sudah melewati masa kritisnya."

Sheila hampir jatuh pingsan karena lega jika Jeremy tidak menahannya. Malik kemudian dipindahkan ke ruang pemulihan. Tak lama setelah ia membuka mata dalam kondisi setengah sadar, Malik memberikan isyarat lemah pada dokter. Ia membisikkan sesuatu yang membuat dokter itu keluar mencari Jeremy.

"Pak Jeremy? Pasien sudah sadar dan meminta Anda masuk. Hanya Anda," ucap dokter itu.

Sheila mengernyit bingung. "Saya nggak boleh masuk, Dok?"

"Pasien bersikeras hanya ingin bicara dengan Pak Jeremy sebentar," jawab dokter.

Jeremy menatap Sheila seolah meminta izin. "Bentar ya, Shei. Aku cuma mau lihat dia."

Jeremy masuk ke dalam ruangan yang berbau antiseptik tajam itu. Malik terbaring dengan berbagai selang, tapi matanya sudah fokus. Ia melihat Jeremy mendekat. Dengan sisa tenaganya, Malik meraih tangan Jeremy, meremasnya dengan genggaman yang sangat lemah namun penuh penekanan.

Malik menarik napas panjang di balik masker oksigennya, suaranya hanya berupa bisikan yang sangat tipis. "Gue... gue tahu bokap lo ada di depan. Gue denger keributannya tadi."

Jeremy terdiam, tidak menyangka Malik dalam kondisi kritis masih bisa mendengar sekitarnya.

"Jeremy... jangan hilangin jabatan lo demi gue atau Sheila," bisik Malik. "Sheila butuh perlindungan yang cuma bisa dikasih sama orang seberkuasa lo. Kalau lo jatuh, bokap lo bakal hancurin Sheila. Gue nggak bisa jagain dia sekarang... tangan gue lumpuh sementara."

Malik menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. "Pergi... ikut bokap lo. Jaga posisi lo sebagai CEO. Dengan begitu, lo bisa pastiin denda kontrak Sheila hilang, dan lo bisa pastiin nggak ada yang berani nyentuh dia selama gue nggak ada. Ini... ini permintaan terakhir gue sebagai rival lo."

Jeremy mengepalkan tangannya. Ia merasa terhina sekaligus terharu. Pria di depannya ini sedang menyerahkan "kemenangan" padanya demi keselamatan wanita yang mereka berdua cintai.

"Lo beneran gila, Malik," desis Jeremy, suaranya serak. "Lo nyuruh gue pergi biar gue bisa tetep jadi bos yang posesif buat cewek lo?"

"Gue percaya... lo nggak akan jahatin dia," Malik tersenyum tipis di balik maskernya, lalu perlahan memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa.

Jeremy berdiri tegak. Ia merapikan jasnya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia keluar dari ruangan dengan langkah mantap. Di depan pintu, ia melihat Sheila yang menatapnya penuh tanya.

"Dia sudah stabil. Dia butuh istirahat total," ucap Jeremy cepat. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan kartu kredit hitam miliknya dan memberikannya pada Sheila. "Pegang ini. Pakai buat semua keperluan Malik. Aku harus pergi sekarang sama Papa."

"Hah? Sekarang?" Sheila bingung melihat perubahan sikap Jeremy yang mendadak formal.

"Iya. Aku harus amankan posisi aku di Jakarta supaya Papa nggak ganggu kamu lagi. Jangan banyak tanya, kerjakan saja apa yang aku bilang. Aku bakal kirim orang buat jagain kamu di sini 24 jam," Jeremy menatap mata Sheila dalam-dalam, lalu tanpa permisi, ia mengecup kening Sheila dengan cepat namun penuh perasaan. "Tunggu aku balik, Sheila Maharani. Dan pastikan pas aku balik, kamu masih asisten pribadiku."

Jeremy berjalan pergi tanpa menoleh lagi, menuju mobil mewah Papanya yang sudah menunggu di lobi. Ia masuk ke dalam mobil dengan aura dingin yang baru. Ia siap menghadapi amarah Papanya, siap melakukan negosiasi berdarah, demi satu tujuan: melindungi Sheila dengan kekuasaan yang ia miliki.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!