Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adira Diculik
DOR! DOR! DOR!
CKIIIKKKK!!!!
Ban depan meledak seketika. Mobil yang dikendarai Zo oleng secara ekstrem, menghantam aspal dengan gesekan logam yang memekakkan telinga. Namun, ekspresi Zo tetap datar. Tak ada keterkejutan, apalagi ketakutan. Dengan gerakan yang terukur dan efisien, ia melakukan pengereman darurat hingga mobilnya berhenti dalam posisi melintang.
"Sial," gumamnya rendah, hampir menyerupai desis. Ia menarik senjata api dari balik jok dengan kecepatan kilat.
Zo membalas serangan tanpa membuang waktu. Satu tembakan presisi dari tangannya menghantam ban mobil pengejar terdepan. Kendaraan musuh itu terpelanting, menghantam pembatas jalan hingga ringsek dan meledak kecil.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Rentetan peluru dari dua mobil lainnya menghancurkan kaca jendela Zo, namun ia tetap bergeming di balik pintu mobil yang dijadikannya tameng. Saat menyadari magasin senjatanya telah kosong, Zo tidak panik. Ia membuang senjatanya yang tak berguna itu dan keluar dari balik perlindungan dengan tangan kosong.
Para penjahat berjas itu segera mengepungnya begitu menyadari Zo sudah kehabisan amunisi.
"Bagaimana? Kau takut sekarang?" tanya pemimpin kelompok itu dengan tawa meremehkan.
Zo hanya menatapnya dengan pandangan kosong yang mengerikan. "Hanya bisa menang karena jumlah?" sahutnya dingin. Tak ada getaran dalam suaranya.
Penjahat itu menodongkan moncong pistol tepat ke kening Zo. "Sombong sekali kau! Kami dibayar mahal untuk menghabisimu karena kau terlalu sering mencampuri urusan 'si cacat' itu! Kau akan mati di sini!"
Zo justru melangkah maju, membiarkan moncong pistol itu menempel lebih dalam di kulit dahinya. Tatapannya tetap sedingin es. "Jadi kalian hanya anjing bayaran? Lain kali, suruh bosmu yang datang. Tidak perlu mengirim kecoak selokan seperti kalian."
"Bedebah! Serang dia!" teriak sang ketua yang murka karena provokasi Zo.
Seketika, anak buahnya merangsek maju. Pertarungan fisik pecah. Meski dikepung dari segala arah oleh pria-pria bersenjata tajam, Zo bergerak seperti mesin pembunuh yang terprogram. Ia meliuk gesit, menghindari setiap tebasan pisau dan belati dengan perhitungan yang sangat akurat.
Hanya dalam hitungan menit, jalanan itu dipenuhi tubuh-tubuh yang terkapar. Zo berdiri tegak di tengah mereka tanpa luka berarti. Ia melangkah menuju salah satu musuh yang merintih, lalu merampas senjata dari tangan pria itu dengan gerakan kasar.
Ketua dari kelompok itu memegang perutnya yang kesakitan karena mendapat tendangan maut dari Zo. Sial, ternyata dia kuat sekali! Batin ketua kelompok itu.
"Percuma datang berbondong-bondong jika kalian tidak tahu cara bertarung," ucap Zo tanpa emosi. Ia berbalik, berniat pergi seolah-olah pertarungan barusan hanyalah gangguan kecil.
"Berani sekali kau... Kau akan menanggung akibatnya!" teriak sang ketua dengan sisa tenaganya. Tiba-tiba pria itu tertawa penuh arti. "Dan asal kau tahu, kami telah menangkap Nyonya Adira!"
Langkah Zo terhenti. Ia menoleh perlahan, tatapannya tetap tajam tanpa menunjukkan kepanikan. "Jangan coba-coba membohongiku. Dia berada dalam perlindungan suaminya."
Penjahat itu tertawa mengejek dari atas aspal. "Kau yakin dia aman? Kami sudah mengawasinya sejak ia keluar dari rumah sakit."
Senyum miring yang mematikan muncul di wajah Zo. Ia mendekat, lalu tanpa ampun menginjak tangan pria itu dengan sepatu pantofelnya yang keras. Terdengar bunyi tulang yang retak, diikuti jeritan histeris yang membelah keheningan. Zo terus menekan, wajahnya tetap datar seolah-olah ia hanya sedang menginjak serangga.
"Katakan! Di mana dia?!" geram Zo.
"Bu-bukan aku! Bosku yang melakukannya!" sahut pria itu terbata-bata menahan sakit yang luar biasa.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang