Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - Kecurigaan Muncul
Sejak malam itu, sesuatu dalam diri Daren berubah secara perlahan tanpa ia sadari sepenuhnya. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda karena ia tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa, menghadiri rapat, membuat keputusan, dan menjaga sikapnya tetap tenang di hadapan keluarga.
Namun di balik semua itu, pikirannya tidak lagi setenang sebelumnya, seolah ada bagian yang terus bergerak tanpa henti mencari jawaban. Ia tidak bisa sepenuhnya fokus seperti dulu, karena bayangan tertentu terus muncul tanpa diminta.
Wajah Alyssa di gudang kembali terlintas berulang kali, bukan hanya sekilas tetapi cukup lama untuk mengganggu konsentrasinya. Tatapan itu, yang tidak lagi berusaha meyakinkan siapa pun, terasa berbeda dari yang ia kenal selama ini.
Dan satu kalimat sederhana terus berulang di kepalanya, muncul di saat-saat yang tidak ia harapkan, seolah menolak untuk dilupakan begitu saja.
Saya tidak bisa mengaku untuk sesuatu yang tidak saya lakukan.
Daren berdiri di ruang kerjanya dengan pandangan tertuju pada meja yang sebelumnya menjadi pusat masalah, tempat semua kejadian itu bermula. Ruangan itu tetap sama seperti sebelumnya, rapi dan teratur, tetapi cara ia melihatnya sudah tidak lagi sama.
Dokumen yang sempat menghilang kini sudah kembali ke tempatnya, tersusun rapi di dalam laci seolah tidak pernah berpindah tangan. Namun kenyataan itu justru membuatnya semakin sulit menerima semuanya begitu saja.
Ia menarik kursi dan duduk dengan perlahan, lalu membuka kembali laci tempat dokumen itu disimpan tanpa terburu-buru. Tangannya berhenti sejenak di atas kunci, seolah berharap menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat.
Laci itu tidak menunjukkan tanda kerusakan, dan kunci masih berfungsi seperti biasa tanpa goresan atau bekas paksa. Semuanya terlihat normal, terlalu normal untuk sebuah kejadian yang seharusnya meninggalkan jejak.
Daren mengerutkan kening sambil memperhatikan setiap detail kecil, mencoba menemukan sesuatu yang tidak sesuai. Jika memang ada yang mengambil dokumen itu dan memindahkannya ke kamar Alyssa, seharusnya ada kesalahan sekecil apa pun.
Jejak yang tertinggal.
Kesalahan kecil yang luput diperbaiki.
Namun tidak ada.
Semuanya tampak bersih dan rapi, seolah dilakukan dengan perhitungan yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Ia menutup laci itu perlahan, lalu berdiri dengan langkah yang lebih tegas dari sebelumnya. Keputusan mulai terbentuk di dalam pikirannya, meski belum sepenuhnya jelas.
Langkahnya menuju pintu, dan begitu keluar ia langsung memanggil seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Ari.”
Salah satu staf rumah yang bertanggung jawab atas keamanan segera mendekat dengan sikap sigap, meski wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan.
“Iya, Tuan.”
“Kemarin sore, siapa saja yang masuk ke ruang kerja selain Alyssa?”
Ari tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, seolah berusaha mengingat dengan tepat.
“Seingat saya hanya Nona Alyssa, Tuan.”
“Seingatmu?” ulang Daren dengan nada yang sedikit menekan.
Ari menelan ludah sebelum menambahkan, “Dan Nona Cassandra sempat masuk sebentar.”
Langkah Daren terhenti seketika, dan tatapannya langsung beralih ke arah Ari dengan fokus yang lebih tajam.
“Untuk apa?”
“Beliau bilang ingin mengambil dokumen yang tertinggal dari pertemuan sebelumnya,” jawab Ari dengan suara yang lebih hati-hati.
“Kenapa itu tidak disebutkan kemarin?”
Ari terlihat semakin gugup, tangannya sedikit bergerak gelisah di samping tubuhnya.
“Saya pikir tidak penting, Tuan, karena beliau keluar tanpa membawa apa pun.”
Daren tidak langsung menjawab, hanya terdiam beberapa detik sambil memproses informasi itu. Ada sesuatu yang mulai terasa tidak cocok, meski belum sepenuhnya jelas.
“Periksa ulang rekaman kamera.”
Ari mengangguk cepat.
“Baik, Tuan.”
Daren tidak menunggu lebih lama dan langsung berjalan menuju ruang monitoring dengan langkah yang lebih cepat. Ruangan itu dipenuhi layar yang menampilkan berbagai sudut rumah, semuanya berjalan secara real time dan tersimpan dengan rapi.
Ari mulai memutar ulang rekaman pada waktu yang dimaksud, dan gambar mulai bergerak di layar. Lorong terlihat kosong pada awalnya, lalu beberapa pelayan melintas tanpa hal mencurigakan.
Kemudian Alyssa muncul.
Ia masuk ke ruang kerja dengan membawa map lain, lalu keluar beberapa menit kemudian dengan gerakan yang terlihat biasa. Tidak ada yang aneh dari caranya berjalan atau ekspresinya.
“Percepat sedikit,” kata Daren.
Rekaman dipercepat, memperlihatkan waktu yang berjalan lebih cepat dari biasanya. Dan beberapa menit sebelum Alyssa muncul, sosok lain terlihat di layar.
Cassandra.
Ia berjalan menuju ruang kerja dengan langkah yang tenang, lalu masuk tanpa ragu. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan ekspresi yang tetap sama seperti saat masuk.
“Berhenti,” kata Daren.
Rekaman dihentikan tepat saat Cassandra keluar dari ruangan.
“Putar ulang saat dia keluar.”
Ari mengikuti perintah tanpa bertanya, memutar ulang bagian tersebut dengan lebih perlahan. Daren memperhatikan dengan lebih teliti, matanya tidak melewatkan detail sekecil apa pun.
Cassandra terlihat keluar dengan tangan kosong.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
“Perbesar bagian itu.”
Gambar diperbesar meski kualitasnya tidak sempurna, tetapi cukup untuk memperlihatkan detail yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Di sisi gaun Cassandra, ada sedikit tonjolan yang tidak terlihat saat ia masuk.
Hal kecil yang mudah diabaikan.
Namun cukup untuk membuat pikiran Daren bergerak lebih jauh.
“Apakah ada kamera di dalam ruang kerja?” tanyanya.
“Tidak, Tuan.”
Daren mengangguk pelan, karena ia memang sudah tahu jawabannya.
Dan itu berarti, apa pun yang terjadi di dalam ruangan itu tidak pernah terekam oleh kamera.
Ia bersandar sedikit ke kursi, membiarkan pikirannya menyusun kemungkinan yang ada satu per satu. Jika Cassandra masuk lebih dulu dan mengambil dokumen itu, lalu menyembunyikannya dengan cara tertentu, maka semua yang terjadi setelahnya bisa masuk akal.
Terlebih jika dokumen itu kemudian dipindahkan ke kamar Alyssa dengan waktu yang sudah diperhitungkan.
Skenario itu terasa lebih masuk akal daripada sebelumnya.
Namun tetap ada masalah yang tidak bisa diabaikan.
Tidak ada bukti langsung.
Hanya potongan-potongan kecil yang belum cukup untuk memastikan.
“Periksa juga kejadian kalung waktu itu,” katanya.
Ari tampak sedikit ragu, tetapi tetap mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Daren berdiri, tetapi pandangannya masih tertuju pada layar seolah belum selesai dengan apa yang ia lihat. Ada sesuatu yang mulai terhubung di dalam pikirannya, perlahan namun semakin jelas.
Di sisi lain rumah, Cassandra duduk di kamarnya dengan ponsel di tangan, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus pada apa yang ada di layar. Sejak pagi, ia merasakan perubahan kecil yang sulit dijelaskan.
Cara Daren bersikap terasa sedikit berbeda, tidak terlalu mencolok tetapi cukup untuk membuatnya menyadari. Ada momen ketika pria itu terlihat lebih diam dari biasanya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia bagikan.
Dan yang paling mengganggu adalah cara ia melihat ke arah Alyssa, yang tidak lagi sepenuhnya sama seperti sebelumnya.
Cassandra menutup ponselnya dan menarik napas pelan, mencoba menenangkan pikirannya.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Namun perasaan itu tidak hilang begitu saja.
Ia berdiri dan berjalan menuju cermin, menatap dirinya sendiri dengan lebih lama dari biasanya. Wajah yang selalu ia jaga tetap terlihat sempurna, ekspresi yang selama ini ia kontrol masih ada di sana.
Namun di balik itu, ada sedikit ketegangan yang mulai muncul dan sulit disembunyikan sepenuhnya.
Ia mengingat kembali setiap langkah yang sudah ia ambil, memastikan bahwa tidak ada celah yang tertinggal. Semua sudah direncanakan dengan rapi, setiap detail sudah dipikirkan dengan matang.
Seharusnya tidak ada kesalahan.
Namun kenapa sekarang ia merasa seperti sedang diawasi tanpa terlihat.
Di waktu yang sama, Alyssa duduk di taman belakang dengan pandangan tertuju pada kolam yang tenang. Udara sore terasa lebih ringan dibandingkan suasana di dalam rumah, tetapi ketenangan itu tidak benar-benar masuk ke dalam dirinya.
Tangannya berada di pangkuan, dan pandangannya tidak benar-benar fokus pada apa yang ia lihat. Sejak kejadian terakhir, ia tidak lagi berusaha menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Ia hanya melakukan apa yang diminta tanpa banyak bicara, bukan karena menerima semuanya, tetapi karena memilih untuk tidak menghabiskan tenaga pada hal yang tidak akan mengubah keadaan.
Langkah kaki terdengar dari belakang, tetapi Alyssa tidak menoleh karena ia sudah tahu siapa yang datang. Ia tetap duduk dengan posisi yang sama, tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Daren berhenti beberapa langkah di belakangnya dan tidak langsung berbicara, hanya memperhatikan dengan diam. Ia melihat bahwa kondisi Alyssa sudah sedikit lebih baik, meski belum sepenuhnya pulih.
Namun ada jarak yang terasa lebih jelas dari sebelumnya.
“Alyssa,” panggilnya akhirnya.
Wanita itu menoleh dengan gerakan yang tidak tergesa.
“Iya?”
Tidak ada nada hangat dalam suaranya, hanya jawaban yang diberikan karena memang perlu dijawab.
Daren menahan diri sejenak sebelum melanjutkan, seolah sedang memilih kata yang tepat.
“Aku ingin bertanya sesuatu.”
Alyssa mengangguk kecil.
“Silakan.”
“Waktu kamu masuk ke ruang kerja, apakah kamu melihat orang lain sebelumnya?”
Alyssa diam beberapa detik, mengingat kembali kejadian itu tanpa terburu-buru.
“Saya tidak memperhatikan.”
“Tidak sama sekali?”
Alyssa menggeleng pelan.
“Saya hanya fokus pada apa yang diminta.”
Daren menatapnya, mencoba menemukan sesuatu yang tersembunyi di balik jawaban itu. Namun tidak ada yang terlihat, tidak ada tanda kebohongan atau emosi yang berlebihan.
Hanya jawaban sederhana yang disampaikan tanpa tambahan apa pun.
“Kenapa kamu tidak pernah menyebut nama siapa pun?” tanya Daren lagi.
Alyssa menatapnya lebih lama kali ini, seolah memastikan bahwa pertanyaan itu benar-benar ingin ia ajukan.
“Karena saya tidak punya bukti,” jawabnya.
Jawaban itu terdengar sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini terasa lebih dalam dan lebih berat.
Daren menarik napas pelan, merasakan ketidaknyamanan yang semakin jelas setiap kali percakapan seperti ini terjadi. Ada sesuatu yang mulai ia sadari, sesuatu yang selama ini ia abaikan tanpa benar-benar memeriksanya.
“Alyssa,” katanya pelan.
Wanita itu menunggu tanpa terburu-buru.
“Kalau memang kamu tidak bersalah…”
Kalimat itu menggantung, tidak langsung dilanjutkan, seolah Daren sendiri belum yakin dengan apa yang ingin ia katakan.
Alyssa tidak memaksanya.
Ia hanya menatap dengan tenang, tidak berharap banyak dari kelanjutan kalimat itu.
Daren akhirnya mengalihkan pandangan ke arah kolam, melihat permukaan air yang tenang dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Pikirannya kembali ke rekaman yang ia lihat, ke detail kecil yang sebelumnya tidak ia anggap penting.
Semua mulai tersusun dengan cara yang berbeda.
Dan semakin ia memikirkannya, semakin besar kemungkinan bahwa keputusannya sebelumnya tidak sepenuhnya tepat.
“Mungkin…” gumamnya pelan.
Alyssa tidak mendengar dengan jelas, tetapi ia melihat perubahan kecil di wajah Daren yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Keraguan itu tipis.
Namun cukup nyata.
Dan di dalam pikirannya, satu kesadaran mulai terbentuk dengan lebih jelas dari sebelumnya.
Mungkin aku salah.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔