Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Tempat Untuk Pulang, Bukan Sekedar Bertahan
Malam ini terasa lebih tenang dari hari-hari biasanya, tidak ada suara perdebatan dengan nada yang cukup tinggi, tidak ada air mata yang ditahan namun akhirnya jatuh diam-diam.
Kini hanya ada dua orang yang sedang duduk berdampingan dengan suasana hati yang lebih tenang, pikiran yang cukup dingin, dan sedang mencoba memahami situasi satu sama lain dengan cara komunikasi yang lebih jujur.
Lampu mulai redup namun suasana masih terasa begitu hangat, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, Nayara dan juga Adrian kini jiwanya hadir benar-benar utuh.
Adrian menyandarkan punggungnya tenang, nafas yang teratur dan juga tatapan yang lembut. Nayara duduk disampingnya dengan memeluk lututnya sendiri, tidak ada yang memulai obrolan sejak tadi. Namun diamnya Nayara dan Adrian tidak terasa seperti sebuah luka.
Mungkin selama ini aku terlalu takut kehilangan, sampai lupa jika Adrian juga manusia biasa yang memiliki rasa lelah, bahkan bisa juga berbuat salah.
Adrian sesekali melirik wajah Nayara sekilas tanpa adanya pergerakan.
Sekama ini gue terlalu sibuk mengejar masa depan, tanpa menjelaskan terlebih dahulu sama Nayara. Padahal persiapan pernikahan itu urusan berdua, dia butuh kehadiran gue disetiap harinya, tapi gue enggak bisa mikir sampe sana.
" Sayang..." Adrian akhirnya mengakhiri keheningan malam ini.
" Hmm... Iya Mas?" Jawab Nayara lirih.
" Mari kita akhiri ketegangan ini, kita obrolin semuanya jujur tanpa emosi, Mau?" tanya Adrian.
" Iya, Mas" Nayara menganggukkan kepalanya pelan.
" Maaf ternyata Mas masih harus belajar dalam hal komunikasi diantara kita, Mas mau jadi tempat kamu pulang tapi ternyata Mas masih keliru dengan cara yang Mas lakukan...." Adrian menarik nafas panjang.
" Tapi... Mas takut malah menjadi tempat yang bikin kamu merasa capek" Lanjut Adrian.
" Enggak, Mas..." Nayara menggelengkan kepalanya cepat.
" Mas serius, Sayang. Mas tidak mau kamu merasa harus kuat didepan Mas... Dan Maaf beberapa hari terakhir kamu harus melewati waktu seorang diri dan menyelesaikan semuanya sendirian" Adrian menatap teduh dan lembut kedua bola mata Nayara.
Kalimat yang keluar dari mulut Adrian membuka Nayara terdiam, perlahan kaki Nayara mulai turun dan mengubah posisi menjadi berhadapan dengan Adrian.
" Aku juga mau ngomong sesuatu, Mas" Ucap Nayara.
" Silahkan, Sayang. Mas dengerin" Adrian menganggukkan kepalanya.
" Aku cuma mau jadi tempat dimana aku enggak harus pura-pura baik-baik aja... Maaf Mas tapi jujur aku tipe orang yNg mudah khawatir..."
Nayara menatap wajah Adrian dengan mata yang sudah mulai berembun, dan Adrian menelan ludahnya pelan.
" Aku juga mudah panik dan cemburu... Maaf jika kamu harus menanggung beban atas kejadian aku dimasa lalu" Nayara menarik nafasnya.
" Aku tahu, Sayang" Adrian tersen kecil dengan tangan yang mulai bergerak mengelus punggung tangan Nayara.
" Aku memiliki sisi buruk, sering overthinking bahkan pada hal-hal kecil" Nayara ikut tersenyum tipis.
Adrian menepati janjinya untuk mendengarkan apapun yang Nayara ungkapkan tanpa memotong, dan itu sudah cukup berarti.
" Aku hanya... Aku hanya ingin berada ditempat dimana semua itu tidak dianggap berlebihan" suara Nayara kini terdengar mulai melembut.
" Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Adrian.
" Aku ingin rasa khawatirku dihargai, bukan dianggap ribet. Rasa cemburuku diterima bukan malah dijauhi, dan overthinkingku di maklumi bukan disuruh diam...." Nayara kini menggenggam tangannya sendiri.
" Dan rasa sayang serta peduliku dibalas..." Mata Nayara semakin basah.
Keheningan kini mulai menyapa dengan penuh makna.
Ya Tuhan...
Ternyata Nayara perempuan yang banyak takutnya, padahal keinginannya sangat sederhana tapi bodohnya gue hampir melupakan hak kecil itu.
" Sayang..." Adrian perlahan meraih tangan Nayara.
" Mas memang tidak sempurna, tapi Mas akan usahakan akan terus belajar untuk hubungan kita menjadi lebih baik dan mari kita sama-sama saling belajar untuk mengerti satu sama lain" Ucap Adrian pelan.
Air mata Nayara akhirnya jatuh, namun kali ini bukan karena rasa sedih melainkan ada rasa lega dalam hatinya.
" Apapun yang kamu rasakan, tolong jangan sungkan untuk kasih tau Mas" Adrian menguasap air mata itu dengan lembut.
" Kalau kamu khawatir, bilang. Kalaupun kamu cemburu... Mas akan tetap disini, bukan pergi. Dan kalau kamu overthinking, Mas akan menjelaskan sampai kamu lega" Adrian sedikit mendekat.
" Dan satu lagi... Mas juga mau hal yang sama " lanjut Adrian pelan.
" Maksudnya gimana, Mas?" tanya Nayara.
" Mas juga mau punya tempat... Di kamu"
" Ada, Mas" Nayara langsung menjawab.
" Mas juga mau kalau lagi capek, Kamu bisa memahami dan mengerti..." ucap Adrian.
" Iya, Mas"
" Kalau Mas lagi diam, bukan berarti menjauh... Mas tetap disitu hanya saja Mas butuh udara untuk lebih banyak menghirup oksigen lebih banyak. Bisa dipahami, Sayang?" Adrian tersenyum.
Nayara membalas genggaman tangan Adrian lebih erat, Dan tanpa sadar kini Adrian menarik tubuh Nayara kedalam pelukannya... Pelukan yang bukan hanya sekedar menenangkan tapi juga menguatkan.
Cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang menemukan seseorang yang mau belajar memahami satu sama lain.
Carilah tempat dimana kamu tidak harus menyembunyikan rasa, dimana rasa khawatirmu dihargai, dan rasa cemburuku dipahami... Dan cintaku tidak pernah merasa sendirian ❣️.