Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi yang Membuncah.
Beberapa jam setelah festival P5 berakhir. Aula mulai perlahan kosong. Stand-stand yang tadi ramai kini satu per satu dibongkar. Suara tawa dan obrolan masih terdengar, tapi tidak lagi seramai sebelumnya.
Di salah satu sudut aula, Hana berdiri diam. Matanya mencari seseorang. Dan begitu ia menemukannya—
“Nisa.”
Suara itu tidak keras, tapi cukup membuat orang yang dipanggilnya berhenti. Nisa menoleh, ekspresinya terlihat sedikit terkejut.
“Hana…?”
Beberapa siswa di sekitar mulai melirik. Hana melangkah mendekat. Kenzo berdiri tidak jauh di belakangnya.
“Aku mau ngomong,” kata Hana pelan.
Nisa terlihat ragu.
“Eliza…” bisiknya.
Eliza langsung mendekat. Berdiri di sampingnya.
“Iya. Aku di sini.”
Nisa menarik napas kecil. Lalu mengangguk.
“Iya… ngomong aja.”
Hana menatapnya beberapa detik. Langsung.
“Kenapa kamu lakuin itu?”
Suasana di sekitar mereka langsung berubah.
Beberapa siswa yang tadinya mau pergi… berhenti.
Nisa membeku seketika. “Apa?” suaranya pelan.
“Kamu tahu maksudku,” lanjut Hana.
Nisa menggeleng. “Aku nggak ngerti—”
“Kamu yang mecahin lilin itu, kan?” Ujar Hana kepada Nisa
Hening sejenak. Beberapa siswa saling pandang.
“Lilin?”
“Apaan?”
“Ada apa sih?”
Mereka jelas tidak tahu konteksnya, tetapi mereka bisa menerka-nerka dari situasinya.
Nisa mundur setengah langkah. Wajahnya pucat.“Aku nggak—” Suaranya goyah. “Aku nggak sengaja…” katanya cepat.
Hana tetap menatapnya. “Nggak sengaja…?” ulangnya pelan.
Nisa menunduk. “Iya…”
Hana belum menjawab. Dan kemudian—
Eliza yang maju satu langkah. “Dia nggak sengaja.” Ujarnya sembari menepuk punggung Nisa, seolah sedang menenangkannya.
Semua mata langsung beralih ke Eliza. Nada suaranya tegas.
“Udah jelas dia bilang gitu.” Sambungnya lagi tegas.
Hana menatap Eliza. “Ini aku lagi ngomong sama Nisa.”
“Eliza cuma bantu jelasin,” balas Eliza cepat.
Nisa langsung menarik sedikit lengan Eliza.
“Eliz… nggak apa—”
“Aku nggak suka cara kamu nuduh,” potong Eliza, tetap menatap Hana.
Suasana mulai memanas. Salah satu siswa berbisik,
“Ini kenapa sih…?”
Kenzo maju satu langkah. “Kita nggak asal nuduh.”
Beberapa siswa langsung memperhatikan. Kenzo melanjutkan, “Tadi pagi kita udah lihat CCTV.”
“CCTV?”
“Serius?”
“Apaan emang?”
Mereka mulai penasaran. Nisa langsung menegang.
Eliza menoleh cepat ke Kenzo.
“Itu juga belum tentu jelas.”
“Cukup jelas,” balas Kenzo. “Itu bukan kecelakaan.” Sambungnya lagi
Suasana makin tegang. Gio mendengus kecil. “Dan lo langsung yakin itu Nisa?”
Kenzo menatapnya. “Iya.”
“Elah,” Gio tertawa sinis.
“Cepet banget nyimpulin.” Salah satu siswa tiba-tiba nyeletuk— “Atau jangan-jangan kakak cuma mau bela pacar?"
Suasana langsung berubah. Beberapa orang langsung ribut kecil.
“Eh—”
“Beneran jadian?"
“Oh…”
Hana langsung menoleh ke Kenzo. Kenzo terlihat kesal. “Gue nggak punya hubungan apa-apa sama Hana.” Suaranya tegas. Semua langsung diam. “Gue cuma ngobrol sama dia. Itu aja.”
“Dan gue juga udah jelasin itu ke dia, emang salah?" Sambungnya lagi
Hana sedikit terkejut. Tapi tidak menyangkal.
Kenzo menatap sekeliling. “Jadi jangan bawa hal pribadi buat ngejatuhin omongan orang.”
Sunyi. Tidak ada yang berani menyela.
Namun, di antara kerumunan itu, ada seseorang yang mengepalkan tangan dalam diam. Menahan amarah. Tatapannya tajam.
Sementara itu, Nisa terlihat semakin panik. Napasnya tidak teratur.
“Aku… aku beneran nggak sengaja…” suaranya pelan.
Eliza langsung menggenggam tangannya.
“Udah. Nggak usah jelasin ke semua orang.”
Lalu ia menatap Hana lagi. "Dan kamu juga—jangan maksa.”
Hana mengernyit. “Aku cuma nanya kenapa.”
“Kenapa?” ulang Eliza. Nada suaranya naik. “Karena kamu pikir dia sengaja, kan?”
Hana diam. Eliza melanjutkan— “Kamu tahu kan rasanya dituduh kayak gitu?"
Suasana makin sunyi. Eliza menggigit bibirnya sebentar. Lalu berkata— “Karna SMP juga kamu pernah gitu."
Semua langsung menoleh. Eliza menatap Hana.
“Dan orang langsung percaya… tanpa denger penjelasan kamu."
Hana sedikit terdiam mendengar hal itu.
"Kamu sendiri tau apa?" Balasnya sedikit emosi, matanya memerah menahan amarah.
"Ini bukan cuma soal masa lalu, tapi masa sekarang. Proyek kita hampir gagal, nilai terancam karena hanya karena kata nggak sengaja?" Ujarnya emosi "Sewaktu kami kelimpungan juga kamu keluyuran ke mana? Seolah kamu nggak peduli sama kelompokmu sendiri" Sambungnya lagi panjang lebar, matanya mulai berair
Nisa menatap Eliza. Eliza terdiam, tak mampu membalas kata-kata Hana.
Arga akhirnya melangkah maju. "Udah cukup"
Suaranya tenang. Tapi cukup kuat untuk memotong semua. Ia berdiri di tengah.
“Ini nggak akan selesai kalau dibahas di sini.”
Gio menghela napas. "Terus?”
Arga menoleh ke Hana. “Kalau emang ada bukti, kita bahas baik-baik.”
Lalu ia menoleh ke Nisa. “Tapi kalau emang nggak sengaja… bilang yang jelas.”
Nisa menunduk.
Eliza langsung menyela— “Dia udah bilang.”
Nada suaranya tetap keras kepala. Arga menatap Eliza sebentar. Lalu menghela napas. Ia melihat ke sekeliling.
“Yang ga peduli sama kelompok sendiri ga usah ikut campur."
Beberapa siswa mulai mundur. Suasana sedikit mereda. Tapi ketegangan— masih menggantung. Arga menatap mereka satu per satu.
"Besok kita selesaiin"
Tidak ada yang membantah. Namun, dalam diam itu— tersimpan sesuatu. Kecurigaan. Pembelaan. Dan emosi yang belum reda.
Serta satu hal lagi— seseorang… yang sejak tadi diam-diam tidak terima.