NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15

Malam setelah pertemuan keluarga itu, Zavier duduk di tepian ranjang asramanya dengan napas yang jauh lebih teratur. Keputusan telah diketuk. Abi Luqman dan Pak Narendra sepakat bahwa pernikahan akan dilaksanakan tepat satu bulan dari sekarang. Waktu tiga puluh hari terasa seperti anugerah sekaligus masa ujian yang paling mendebarkan bagi Zavier.

Zavier menyandarkan kepalanya ke dinding kayu, menatap langit-langit kamar yang temaram. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya—sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Satu bulan lagi, ia tidak perlu lagi menyelinap di kegelapan malam. Satu bulan lagi, ia bisa menggandeng tangan Zaheera di depan umum tanpa rasa takut akan murka Tuhan yang membayangi setiap sentuhannya.

"Satu bulan lagi, Zee... kau akan benar-benar menjadi makmumku," bisiknya pelan.

Ia meraih ponsel rahasianya, jemarinya menari lincah di atas layar.

Zavi: Tidurlah dengan nyenyak, Calon Istriku. Satu bulan bukan waktu yang lama. Aku akan menyiapkan diri untuk menjadi imam yang pantas untukmu. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

Zavier memejamkan mata, membayangkan wajah Zaheera dalam balutan jilbab marunnya tadi sore. Cantik, anggun, namun masih menyisakan rapan luka yang harus ia obati. Ia berjanji, dalam sisa waktu tiga puluh hari ini, ia akan lebih banyak menghabiskan waktu di atas sajadah daripada di balik kemudi mobil mewah. Ia ingin "membayar" mahar pernikahannya dengan taubat yang sungguh-sungguh.

Keesokan harinya, suasana kampus Universitas Al-Iman tampak cerah. Sinar matahari pagi menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola cahaya yang cantik di selasar gedung Ekonomi. Zaheera berjalan dengan langkah yang sedikit lebih ringan, meski jilbabnya masih terasa kaku di lehernya.

Fatimah sudah menunggu di bangku beton favorit mereka, sedang sibuk membaca sebuah kitab saku. Melihat kedatangan Zaheera, Fatimah segera menutup kitabnya dan tersenyum lebar.

"Assalamualaikum, Zaheera. Kamu tampak... berbeda hari ini. Lebih cerah," puji Fatimah tulus.

Zaheera duduk di samping Fatimah, menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah dan bunga kamboja yang gugur di dekat mereka. Ia menoleh ke arah Fatimah, matanya berbinar dengan cara yang sulit disembunyikan.

"Fatimah... aku punya rahasia. Tapi tolong, jangan beritahu siapa-siapa dulu ya? Karena keluarga ingin ini tetap tertutup sampai hari-H," bisik Zaheera, suaranya mengandung nada bahagia yang meluap.

Fatimah memiringkan kepalanya, penasaran. "Rahasia apa, Zee? Apa kamu baru saja mendapatkan beasiswa?"

Zaheera menggeleng kecil, senyum miringnya muncul. "Bukan. Aku... aku akan menikah satu bulan lagi."

Deg. Fatimah tertegun. Matanya membelalak tak percaya. "Menikah? Secepat itu? Kamu baru saja pindah ke sini, Zaheera. Masya Allah, selamat! Siapa pria beruntung itu? Apa dia pria dari Kota A yang mengikutimu ke sini?"

Zaheera terdiam sejenak. Ia teringat pesan Zavier untuk menjaga kerahasiaan identitas mereka agar tidak menimbulkan kegaduhan di kalangan santri dan mahasiswa sebelum waktunya. Apalagi, Zavier adalah seorang "Gus" yang sangat dipuja di sini. Mengumumkan pernikahan dengan mahasiswi baru yang belum lama berhijab bisa memicu badai gosip yang tak terkendali.

"Aku belum bisa memberitahumu siapa dia, Fatimah," jawab Zaheera pelan, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Dia... dia pria yang luar biasa. Dia bersedia menerimaku apa adanya, bahkan saat aku merasa menjadi wanita paling tidak pantas di dunia ini."

Fatimah memegang tangan Zaheera, menatapnya dengan penuh rasa haru. "Siapa pun dia, jika dia bisa membuatmu sebahagia ini dan membawamu menuju jalan yang lebih baik, maka dia adalah jawaban dari doa-doamu, Zee. Aku sangat ikut bahagia untukmu."

"Dia bukan pria biasa, Fatimah," lanjut Zaheera, matanya menerawang ke arah gedung Syariah di seberang lapangan. "Dia pelindungku, dan mungkin satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin melihat matahari setiap pagi."

Fatimah mengangguk paham, meski otaknya mulai menebak-nebak. Apakah pria itu salah satu dosen muda? Atau mungkin putra dari relasi bisnis Pak Narendra di kota? Fatimah sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang dimaksud adalah Gus Zavier, pria yang selama ini dipuja-puji sebagai mutiara pesantren yang murni.

Di seberang lapangan, dari balkon perpustakaan, Zavier melihat dua gadis itu sedang asyik mengobrol. Ia melihat Zaheera tertawa kecil, sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa hangat. Ia tahu Zaheera sedang berbagi kebahagiaannya dengan Fatimah, satu-satunya teman yang tulus menerima kehadirannya di sini.

Zavier tersenyum tipis. Ia merasa rencananya berjalan dengan baik. Namun, ketenangannya terusik saat ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

"Kamu tampak sangat bahagia melihat Zaheera, Zavier," suara Gus Azlan terdengar dingin di belakangnya.

Zavier memutar badan, mencoba menguasai ekspresi wajahnya. "Dia adalah putri Pak Narendra, Mas. Calon Istriku."

Azlan melangkah maju, berdiri di samping Zavier, ikut menatap ke arah lapangan. "Satu bulan adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah persiapan. Aku harap kamu benar-benar mempersiapkan batinmu, bukan hanya nafsumu. Karena memimpin wanita seperti dia... butuh kesabaran yang jauh melampaui kesabaran biasa."

"Aku tahu, Mas. Aku siap," jawab Zavier tegas.

Azlan menoleh, menatap adiknya dengan tajam. "Jangan sampai ada rahasia yang terungkap setelah akad, Zavier. Karena jika itu terjadi, bukan hanya kamu yang hancur, tapi martabat Abi juga akan ikut terkubur."

Zavier hanya terdiam, membiarkan angin sore menerbangkan kata-kata kakaknya. Ia tahu Azlan mencium sesuatu yang tidak beres, tapi Zavier sudah membulatkan tekad. Satu bulan lagi, semua kepura-puraan ini akan berakhir di atas meja akad nikah.

Zaheera di bawah sana kembali tertawa bersama Fatimah, sementara Zavier di atas balkon terus menjaga dengan tatapan penuh lindungan. Rahasia ini masih tersimpan rapat, terkunci di balik debar jantung dua insan yang sedang merajut taubat dalam balutan rindu yang terlarang.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!