Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah merasakan nuansa kamar yang benar-benar menyesakkan, Laura memutuskan beranjak keuar dari rumahnya, ia memilih duduk di bangku kecil halaman belakang. Laura hanya ingin dirinya melupakan berbagai hal mengerikan yang sebelumnya muncul, dan menghapus bisikan-bisikan abstrak yang tadi menggerayangnya, juga berusaha meminggirkan pemikirannya tentang Roni, Ariana, Doni dan tiga gadis impiannya. Di bawah nyala lampu putih, udara dingin menyusup lewat jaket hoodie yang ia kenakan, namun itu tidak seberapa dibanding dinginnya ketakutan yang ternyata masih saja merayap di hatinya. Di pangkuannya tergeletak sebuah buku catatan usang, penuh coretan dan sketsa yang tidak bermakna bagi orang lain, namun menjadi peta bagi labirin pikirannya sendiri.
Kejadian buruk itu. Lagi dan lagi. Sudah dua atau tiga kali sejak ia pertama kali mendengar keinginan Doni tentang tiga gadis kembar, dan kali ini, satu lagi, bayangan kabur tiga gadis bergaun merah menari-nari di pelupuk matanya. Awalnya, ia mengabaikannya, mengganti posisi duduknya, menganggapnya sebagai efek samping dari terlalu banyak memikirkan secara berlebihan dan dramatis. Namun, ketika penampakan apokalips yang terlalu jujur untuk ditolak terus menyeruak, visualisasi itu mulai terasa seperti sebuah bisikan yang mengerikan.
Tiga gadis dengan senyum semanis madu, keberadaan mereka adalah di masa lalu, adapun kini hanyalah memori tentang mereka yang layu. Yang tersisa dan paling jelas baginya adalah ingatan dari album foto tua yang ditinggalkan di atas sebuah meja tua, di dalam sebuah rumah tua.
Laura menelusuri setiap halaman buku catatannya, mencoba menghubungkan titik-titik yang kabur. Dalam mimpinya, termasuk ketika ia mengalami mimpi di luar ketidaksadarannya, momen tiga bayi kecil yang keluar dari perut Doni, juga waktu saat ia melihat tiga gaun tergeletak di rumah tua, dan tiga gaun merah yang mengambang di udara.
Mimpi dan penampakan yang pernah Laura saksikan mulai memberinya detail baru. Suara bisikan-bisikan kuno yang asing, seperti bahasa yang sudah lama terlupakan. Bau aneh, seperti bunga melati yang terlalu banyak. Dan yang paling mengganggu, adalah perasaan ditarik, seolah-olah ada tangan di dalam dirinya sendiri yang menariknya ke dalam air.
Laura menghela napas, ia merasa seperti sehelai daun yang terbawa arus sungai yang deras, tanpa tahu ke mana ia akan pergi. Setiap menit, dan malam ini, ia berjuang melawan kantuk, takut akan apa yang akan ditunjukkan oleh mimpinya selanjutnya. Ia mulai berpikir menghindari tidur, tetapi tubuhnya yang lelah selalu menyerah.
Ia mencengkeram buku catatannya erat-erat. Tidak ada psikolog yang ingin ia datangi. Tidak ada polisi yang percaya pada firasat mimpi. Tidak ada yang akan menganggap serius coretan-coretan acaknya. Tapi ia tidak boleh menyerah. Laura merasa hari demi harinya semakin berbeda, dan kini ia merasa memiliki tanggung jawab yang aneh, sebuah ikatan tak kasat. Sesuatu yang tidak ia pahami itu seolah berbicara kepadanya dari balik tabir kematian, meminta agar kebenaran diungkapkan.
Laura menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Di antara gemintang yang tak terhingga, ia berharap menemukan jawaban. Jawaban atas pertanyaan bagaimana atau apa yang sebenarnya sedang menyelimuti dirinya?
Dan jawaban atas mengapa ia, dari semua orang, yang harus menanggung beban dari alam kematian yang menakutkan ini? Ia tahu, ia harus mencari tahu, bukan mengelak berpura-pura tidak tahu. Dan inisiasi ini bukan hanya untuk menjawab, tetapi juga untuk memahat bentuk dirinya sendiri, agar ia bisa menemukan citra kedamaian yang hilang, agar ia bisa tidur tanpa dihantui bayangan maut bergaun merah yang menari dalam kegelapan, atau yang terkadang menangis di atas sungai darah.
Dinginnya malam semakin menghujam, namun Laura tetap terpaku di bangku taman. Buku catatannya tergeletak terbuka di pangkuannya, halaman-halaman yang penuh tulisan tangan dan sketsa kini terasa lebih dari sekadar catatan acak; mereka adalah jembatan menuju dunia yang membingungkan dan menakutkan.
Keinginan untuk tidur dan melupakan segalanya bertabrakan dengan dorongan kuat untuk memahami. Apakah ia gila? Atau mungkinkah ada langkah yang salah? Kepalanya berdenyut, Laura tiba-tiba merasakan mual dan lubang telinganya terasa sakit seperti ditusuk-tusuk.
Di tengah pusing yang melanda dirinya. Pemahaman yang buruk itu naik berevolusi. Tidak lagi hanya terbatas pada bayangan gadis-gadis bergaun merah, mereka kini menjadi sebuah kanvas surealis yang melukiskan berbagai kejadian aneh dan bentuk penampakan yang tak bisa dijelaskan. Buku catatan kecilnya terjatuh ke tanah, dalam pandangan matanya yang terpejam rapat ia melihat sebuah bayangan bangunan tua yang roboh, diselimuti lumut tebal, dengan jendela-jendela kosong yang seperti mata buta. Dari dalam lapisan yang tampak seperti asap, terdengar suara gesekan logam yang merobek telinga, berulang-ulang, seolah ada sesuatu yang sedang diasah. Dan kemudian, muncullah entitas.
Keringat membasahi dahi dan lehernya. Bukan sosok dalam wujud manusia, atau monster klasik seperti yang biasa ia bayangkan. Ini adalah sesuatu yang lain. Bentuknya samar, seperti gumpalan bayangan pekat yang bergerak dengan fluiditas yang menakutkan, namun memiliki semacam inti yang bersinar redup di tengahnya. Tidak ada mata, tidak ada mulut, namun ia merasakan tatapan intens yang menguliti jiwanya. Entitas itu tidak mengeluarkan suara, tetapi Laura merasa seperti ada ribuan bisikan yang memenuhi kepalanya, kata-kata asing dari bumi paling bawah berputar-putar, menciptakan kekacauan yang memekakkan. Ketika entitas itu mendekat dalam visual apokalips di balik kelopak matanya yang masih terpejam, ia merasakan hawa dingin yang berbeda dari hawa yang berada di bawah kolong langit, seolah udara di sekitarnya datang dari hembusan napas terakhir seluruh orang-orang sekarat yang menemui kematian. Laura mencoba berteriak, namun suaranya disergap oleh sinar kecil yang menyelinap. Suara melodi dengan instrumen tunggal yang mengganda hingga dua puluh empat kali lipat membaur membawa riuh. Tangan-tangan tak terlihat mencengkeram pergelangan tangannya, dan ia tahu, persis di tempat itu, sebuah tanda lili air akan muncul jika ia tidak segera membangunkan diri.
Akhirnya, Laura perlahan membuka matanya, berusaha menghapus bayangan itu dari benaknya, namun sia-sia. Kejadian aneh tadi terlalu besar untuk dihapus. Beberapa saat setelah keheningan, Laura memutuskan beranjak, buku catatan yang tergeletak ia ambil sebelum melangkah masuk ke rumahnya melalui pintu dapur.
Di kamarnya, Laura kembali duduk dengan raut wajah yang sangat pucat, ia masih dirundung kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi, bahkan terjadi beruntun di linier yang nyaris tanpa jeda. Semua ini, membuat tangannya bergetar mendesak untuk sebuah catatan. Di satu halaman, Laura mulai menggambar sketsa kasar bangunan tua yang roboh itu, dengan simbol aneh yang ia ingat samar-samar terukir di salah satu pilarnya. Di halaman lain, ia mencoba meniru bentuk entitas bayangan itu, sekeras apa pun usahanya, ia tahu gambarnya tidak akan bisa menangkap kengerian aslinya. Laura juga mencatat tanggal kejadian sewaktu ia kehilangan pendengaran sesaat, kehilangan penglihatan sesaat, dan bahkan mencoba menuliskan melodi yang tadi menghantuinya dalam not balok yang tidak beraturan.
Laura mengusap wajahnya yang lelah. Apakah ini semua adalah serangkaian kebetulan yang sangat mengerikan? Atau apakah ia sedang ditarik ke dalam sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui? Tata cara kematian yang berjalan tetap, terasa seperti bagian dari teka-teki yang jauh lebih luas, sebuah pembukaan menuju sebuah pintu yang tidak seharusnya dibuka, tetapi apakah ia memang telah dipilih?
Kepalanya berdengung dengan pertanyaan yang tak terjawab. Apakah dan bagaimanakah? Dan mengapa ia yang dipilih untuk bertanya sekaligus menjawab semua ini? Mengapa ia yang terus dihantui oleh mimpi-mimpi dan penampakan aneh ini?
Mungkin, pikirnya, itu karena ia adalah satu-satunya yang mau memperhatikan. Yang lain mungkin terlalu sibuk dengan kehidupan, atau terlalu takut untuk mengakui apa yang akan terjadi, dan benar-benar pasti terjadi. Tapi Laura tidak bisa lagi berpura-pura. Ia merasa seperti dituntun, dipaksa menjadi sedikit dari manusia yang diposisikan sebagai saksi dari sebuah jalan di lembah para arwah.
Ia harus mencari tahu lebih banyak. Ia harus memahami apa yang terjadi. Bukan lagi hanya karena rasa penasaran, tapi karena tuntutan napasnya sendiri. Ia merasa, jika ia tidak melakukannya, jika ia berpaling dan mengabaikan semua ini, maka ia akan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Nuraninya berteriak meminta agar ia jangan meletakkan dirinya di jalur yang akan dilalui oleh maut, sebab di suatu hari, ia akan datang membawa semarak dari berbagai kengerian yang menakjubkan.
Maka, di bawah sorot bulan yang pucat, Laura membuat keputusan. Ia tidak bisa lagi hanya merenung dan menulis. Ia harus bertindak. Ia harus menemukan sumber dari semua keanehan ini, menemukan hubungan antara mimpi-mimpinya, kematian orang-orang di sekitarnya, dan penampakan entitas bayangan di balik kelopak matanya. Ia harus membuka pintu itu, meski ia tidak tahu apa yang menanti di baliknya.