Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Pesawat
Setengah tujuh pagi aku sudah siap untuk penerbangan ke Negeri Tirai Bambu, aku memutuskan kesana karena beberapa faktor salah satunya buku kuning dari bunda saat itu. Disaat seperti ini aku hanya bisa diam serta meratapi apa yang akan terjadi kedepannya.
“What do you want sir?”. Tanya pramugari dari pesawat maskapai Spencer ini, aku hanya menggeleng seraya tersenyum. Alasanku memilih untuk naik pesawat dari maskapai selain Pradipta karena aku tidak mau menjadi sorotan nantinya, tidak sedikit orang yang menginginkan aku terjatuh, sejatuh-jatuhnya. Ingin bermain ponsel, tapi sekarang masih berada di pesawat, aku memilih mengambil buku seadanya untuk mengisi kegabutanku, akupun membaca judul buku tersebut.
Zhang Tingxi “Pembangkit Perekonomian”
Zhang Tingxi, nama yang asing bagiku, tidak heran juga karena aku minim pengetahuan tentang rotasi kehidupan di China. Dua puluh lembar buku itu sudah kubaca, ternyata aku semakin tertarik dengan buku itu karena isi buku yang tidak hanya menjelaskan soal perjalanan hidup Zhang Tingxi, tapi juga membeberkan trik yang dipakai sosok Penggerak Perekonomian.
Bukunya cukup berbobot untuk kursi kelas business. Kalau bicara soal mindset business itu bukan soal menghasilkan uang melainkan soal menekan lawan, yang mengejutkan ternyata tokoh Zhang Tingxi ini masih hidup meski diumur lenih dari setengah abad.
“Aku akan mendatanginya, Zhang Tingxi, Beijing”. Gumamkuk, memang benar membaca buku adalah solusi untuk rasa kantukku, akhirnya aku memejamkan mataku, aku ingin menenangkan pikiranku, sejenak saja pun tak apa.
***
Rasa guncangan yang terasa hebat, mataku masih terpejam, aku masih tidsk paham pada keadaan saat ini. Suara-suara bersahutan, bukankah aku berada di pesawat, mengapa sebising ini?.
“Sir, get up please”. Spontan aku terbangun dan kelopak mataku terbuka sempurna. Kedua alisku menyatu, semua penumpang terlihat sangat panik.
“Sialan”. Umpatku dalam hati. Apalagi ini, salah satu pramugari mengatakan kepadaku untuk mempersiapkan alat terjun payungnya.
“We don’t know, can to escape from accident that or we as die”. Celoteh orang disampingku.
“Ada masalah dengan pesawat ini?”. Tanyaku untuk memastikan keadaan, karena aku tidak bisa percaya pada orang lain saat ini.
“Plane hijacking ”. Singkat orang lain di depanku. Otakku terus berputar, kuingat dengan jelas memori-memori sebelum berangkat ke China. Namun usai kuputar memori itu di otakku, aku tidak menemukan kejanggalan, kurogoh saku celana setidaknya dengan kartu namaku ini, jika terjadi sesuatu padaku, ada yang mau menolongku.
Kaisar Pradipta Bumantara
The Mover is Like a Dark Horse
Call me : +6x
Nomor yang tertera di kartu itu adalah nomor ponsel Kadek, perjalanan kali ini aku tidak yakin akan baik-baik saja. Tak butuh waktu lama aku mulai memahami keadaan, pesawat yang kutumpangi ini akan mendarat paksa di laut lepas, keringat dingin bercucuran , aku mengumpat tidak ada habis-habisnya, terjun payung tadi tidak akan digunakan, karena kami duberi rompi pelampung.
Suara tangisan terdengar di seluruh penjuru pesawat ini, terdengar jelas dari kelas ekonomi banyak yang menangis, berbeda halnya pada bagian kelas business, mereka sibuk pada ponselnya yang jelas itu menyalahi aturan di pesawat untuk menghidupkan jaringan internet, mereka semua penumpang kelas business sibuk mengirim pesan kepada keluarga ataupun anak buah mereka. Hal yang berada diluar ekspektasiku ketika salah satu dari mereka membuat wasiat dadakan, sedangkan diriku, tidak ada yang ku khawatirkan kecuali bundaku tercinta, sebab aku tidak rela bunda tersakiti tanpa ada perlindungan dariku. Pramugara dan pramugari berlalu-lalang bahkan co-pilot juga sama.
“Hei anak muda”. Panggil seorang pria tua didepanku, aku tersenyum menanggapinya.
“Apa kamu tidak menyesal karena mati muda?”. Pertanyaan yang sedikit kurang ajar.
“Tentunya tidak menyesal karena sebelumnya aku sudah pernah mengobrol dengan babi”. Jawabku yang mengandung kiasan, pria tua tadi malah tertawa terbahak-bahak.
“Leluconmu sangat kaku”. Sahut pria tua itu. Bodoh, sungguh pria tua yang bodoh, maksudku berbicara dengan babi adalah dirinya. Aku mengabaikan dia yang terus berceloteh kesana kemari, dasar dia tak paham keadaan.
‘BYURR’
Pesawat dengan muat dua ratus penumpang ini sudah mendarat paksa di laut lepas, aku yakin pasti akan ada bantuan, jelas sekali pesawat ini sudah terdeteksi oleh radar. Semua penumpang sudah di evakuasi termasuk aku, mataku mengerling dilaut itu, dari kejauhan tampak yacht, aku sedikit sumringah, namun tanpa kusadari pesawat ini akan meledak.
‘BOOM’
Belum sempat menjauh, aku terlempar entah kemana, pelampung ini juga hampir lepas, tidak ada kesempatan bagiku untuk relaksasi sebentar, dihadapanku batu karang besar sudah menunggu, tubuhku rasanya remuk dihantam batu karang itu, penglihatamku kian memburam. Banyak yang belum terselesaikan, banyak yang pada akhirnya kusesali.
Apa aku akan berakhir tragis disni?, di laut lepas tanpa seorang pun penghuni.