NovelToon NovelToon
Ya Mungkin Besok

Ya Mungkin Besok

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Drama
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: Budiarto Consultant

“Aku capek nunggu kamu, Rak.”

Itu kalimat terakhir Lala… sebelum dia benar-benar pergi.

Raka selalu percaya satu hal: semua bisa ditunda.
Pekerjaan bisa nanti. Mimpi bisa nanti. Bahkan cinta… bisa nanti.

Tapi kali ini, satu kata “nanti” membuatnya kehilangan orang yang paling ia cintai.

Saat Raka akhirnya ingin memperbaiki semuanya, masa lalu justru datang menghancurkan kesempatan terakhirnya.

Kini, Raka harus memilih tetap menjadi pria yang selalu menunda…
atau berjuang sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Karena dalam cinta, tidak semua orang akan menunggu.

Dan tidak semua “besok”… masih memberi kesempatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek yang Terlalu Jeli

Pagi hari setelah makan malam keluarga besar itu terasa sedikit lebih tenang.

Setidaknya bagi orang lain.

Tidak bagi Raka.

Ia duduk di meja kerja di kantor sambil menatap layar laptop yang sudah menyala sejak satu jam lalu. Tapi tidak ada satu pun pekerjaan yang ia kerjakan.

Yang ada di pikirannya hanya satu gambar.

Nadia menggenggam tangan Bayu.

Raka menghela napas panjang.

"Kenapa aku masih memikirkan itu…"

Di sebelahnya, Doni yang sedang memakan gorengan menoleh.

"Kau kelihatan seperti orang yang baru putus cinta."

Raka langsung menatapnya.

"Aku tidak putus cinta."

Doni mengangguk santai.

"Oh. Jadi cintanya saja yang tidak pernah dimulai."

Raka langsung diam.

Beberapa detik.

Doni mengangkat alis.

"Oke. Itu kena ya."

Raka mengambil gorengan dari tangan Doni.

"Kau terlalu pintar."

Di sisi lain kota, Bayu sedang berada di hotel tempat orang tuanya menginap.

Ia duduk di sofa kamar hotel bersama ayah dan ibunya.

Ibunya terlihat sangat bahagia.

"Nadia itu gadis yang baik."

Bayu tersenyum kaku.

"Iya Bu."

Ayahnya mengangguk.

"Kami suka dia."

Bayu menghela napas lega.

Namun saat itu pintu kamar terbuka.

Masuk nenek Bayu dengan tongkatnya.

Bayu langsung menegakkan badan.

"Nek."

Nenek duduk di kursi.

Ia memandang Bayu dengan tatapan yang sangat tenang.

Tapi justru itu yang membuat Bayu semakin gugup.

Nenek berkata pelan,

"Bayu."

"Iya Nek."

"Kamu bohong."

Bayu hampir jatuh dari sofa.

"Apa?!"

Ayah dan ibu Bayu menoleh bingung.

Ibunya bertanya,

"Bohong apa?"

Nenek menatap Bayu tajam.

"Pacarnya."

Bayu tertawa gugup.

"Nek bercanda."

Nenek tidak tersenyum.

"Sudah tujuh puluh tahun aku hidup."

Suasana kamar tiba-tiba sunyi.

Nenek melanjutkan,

"Aku bisa membedakan pasangan sungguhan dan pasangan pura-pura."

Bayu menelan ludah.

Ayahnya menyipitkan mata.

"Maksud Ibu?"

Nenek menunjuk Bayu.

"Anak ini terlalu gugup."

Lalu menunjuk Nadia yang tidak ada di sana seolah-olah sedang membayangkannya.

"Gadis itu terlalu tenang."

Bayu mulai berkeringat.

Ibunya Bayu berkata,

"Bu, mungkin Bayu hanya gugup."

Nenek menggeleng.

"Tidak."

Ia menatap Bayu lagi.

"Jadi aku ingin memastikan."

Bayu hampir pingsan.

"Memastikan apa?"

Nenek tersenyum kecil.

"Kita akan makan siang bersama mereka lagi."

Bayu memegang kepalanya.

"Aku mati."

Sementara itu di kantor…

Nadia datang ke meja Raka.

"Raka."

Raka menoleh.

"Oh. Hai."

Nadia memperhatikan wajahnya.

"Kau kelihatan lelah."

Raka mengangkat bahu.

"Tidak tidur cukup."

Nadia duduk di kursi depan mejanya.

"Masih memikirkan makan malam kemarin?"

Raka tertawa kecil.

"Siapa yang tidak?"

Nadia menatapnya beberapa detik.

"Kau berbeda."

Raka mengernyit.

"Berbeda bagaimana?"

Nadia berkata pelan,

"Biasanya kau lebih banyak bercanda."

Raka terdiam sebentar.

Lalu berkata,

"Mungkin aku mulai bosan dengan drama."

Nadia menyilangkan tangan.

"Drama yang kau bantu buat."

Raka tersenyum tipis.

"Iya."

Beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Nadia berkata,

"Aku tidak memaksamu ikut lagi."

Raka langsung menatapnya.

"Maksudmu?"

Nadia menjawab tenang,

"Kalau kau tidak nyaman… aku bisa membantu Bayu sendiri."

Kalimat itu anehnya membuat dada Raka terasa semakin tidak enak.

Ia langsung menjawab cepat,

"Aku tidak bilang aku berhenti."

Nadia mengangkat alis.

"Yakin?"

Raka bersandar di kursi.

"Aku sudah masuk terlalu dalam dalam cerita ini."

Nadia tersenyum kecil.

"Baik."

Tiba-tiba ponsel Bayu berdering.

Ia menelepon Nadia.

Nadia mengangkat.

"Halo?"

Dari speaker terdengar suara Bayu yang sangat panik.

"KITA DALAM MASALAH BESAR."

Raka langsung menoleh.

Nadia bertanya,

"Ada apa?"

Bayu hampir berteriak.

"NENEKKU CURIGA!"

Raka langsung berdiri dari kursinya.

"Apa?!"

Bayu melanjutkan,

"Dan dia ingin makan siang bersama kita lagi hari ini!"

Raka memegang kepalanya.

"Kenapa nenekmu seperti detektif?"

Bayu menjawab putus asa,

"Karena dia memang mantan guru!"

Nadia terlihat berpikir beberapa detik.

Lalu berkata dengan tenang,

"Baik."

Bayu terdiam.

"...baik?"

"Kita makan siang saja."

Bayu hampir menangis.

"Kau tidak takut?"

Nadia tersenyum tipis.

"Kalau kita panik… kita pasti ketahuan."

Raka menatap Nadia.

Entah kenapa ketenangannya itu justru membuat situasi terasa lebih serius.

Bayu berkata pelan,

"Kalau kita ketahuan… aku tamat."

Raka menghela napas panjang.

"Lalu aku ikut tamat karena membantu."

Nadia berdiri.

"Kalau begitu kita harus bermain lebih baik."

Raka menatapnya.

"Lebih baik?"

Nadia mengangguk.

"Iya."

Lalu ia berkata sesuatu yang membuat Raka langsung terdiam.

"Kali ini… kita harus terlihat seperti pasangan sungguhan."

Raka dan Bayu saling menatap.

Bayu berbisik,

"Apa maksudnya?"

Nadia tersenyum kecil.

"Nanti kalian tahu."

Raka tiba-tiba punya firasat buruk.

Firasat yang sangat buruk.

Karena jika sandiwara ini semakin meyakinkan…

Bisa jadi…

perasaan yang sebenarnya juga ikut muncul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!