Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Keinginan Baru Raditya
Setelah Ratih mentransfer uang sejumlah tiga ratus juta, dia langsung kembali ke apartemen milik Raditya.
Karena banyak sekali panggilan yang tak terjawab dari suaminya itu, ya mau gimana lagi namanya orang sedang ketiduran.
Disepanjang perjalanan Ratih terus menggerutu karena jalanan sedang macet sedang ada kecelakaan disana.
"Hmm alamat lama ini sampainya" gumamnya dan mengetuk setir kemudi dengan jari-jarinya.
Disamping mobil Ratih ada laki-laki yang menggunakan mobil Mercedes-Benz class confertible.
Dengan atapnya yang terbuka memperlihatkan betapa ganteng dan kerennya laki-laki itu, dengan kaca mata hitam yang bertengger diatas hidungnya menambah kesan keren baginya.
Ratih buru-buru membuka kaca mobilnya, dia mengklakson agar pemuda sebelahnya menoleh kearahnya.
Tin Tin...
Dan benar saja laki-laki itu menoleh dan membuka sedikit kacamatanya.
Dengan segera Ratih mengedipkan sebelah matanya dan memberikan kode seperti orang telepon dengan tangan yang ditempelkan di telinga.
Tapi harapan Ratih sia-sia karena lelaki itu tak menggubrisnya dan memakai kembali kacamatanya, hingga kerumunan macet mulai bergerak meskipun agak lambat.
"Ih dasar jual mahal..! Lihat saja aku akan ingat-ingat kamu tampan" Gumam Ratih dan mengendarai mobilnya ke arah apartemen milik Raditya.
Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Ratih sudah masuk diarea apartemen milik Raditya, Ratih segera naik ke lantai dimana hunian milik Raditya berada.
Ratih segera memencet kode masuk dipintu karena dia sudah diberitahu akses masuknya oleh Raditya.
"Maassss...." Panggilnya.
"Apa sih teriak-teriak..!" Jawab Raditya yang sedang ada didapur.
"Kamu lagi ngapain?" Tanyanya.
"Ini lagi buat pasta, kamu mau?" Tawarnya.
"Kamu seharian belum makan?" Tanya Ratih dengan mengerutkan dahinya.
"Udahlah, tadi aku pesan nasi goreng. Kamu mau gak? Kalau mau sekalian ini aku buatnya" Ucap Raditya.
"Mau deh mas, aku tinggal bersih-bersih dulu" Ucap Ratih dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Raditya melanjutkan kegiatannya memasak pasta untuk makan malamnya bersama dengan Ratih.
Dengan lihai Raditya mengolah pasta tersebut bahkan platengnya mirip seperti direstoran berbintang.
Dulu dia memang selalu menyempatkan waktu memasak untuk Renata dan juga Rindiani.
Raditya saat duduk dibangku SMK dulu memang mengambil jurusan tataboga jadi paham tentang urusan masak memasak.
"Hmm harum banget mas" Ucap Ratih saat keluar dari kamar dan langsung ke kitchen bar disana.
"Ayo langsung kita makan saja" Ajak Raditya.
"Iya mas, kamu pintar banget masaknya. Bisa secantik ini platengnya dan harumnya menggugah selera banget" Ucap Ratih.
"Jelas aku dulu kan sewaktu sekolah mengambil jurusan tataboga tapi kuliahnya malah mengambil jurusan bisnis haha" Jawabnya dengan tertawa.
"Terus selanjutnya apa rencana kamu mas?" Tanya Ratih sambil menyuapkan pasta kemulutnya.
"Aku mau membuka restoran" Jawab Raditya dengan singkat.
"Kamu ada modal kan?"
"Ada tapi masih kurang, kamu sebagai istri yang baik harus mau membantuku memulai usaha ini" Ucap Raditya.
"Aku lagi...??" Tanya Ratih dan menaruh garpunya diatas piring.
"La terus siapa? Apa aku minta orang lain saja yang membantu, nanti hasilnya aku bagi sama dia dan kamu gak aku bagiin sama sekali" Jawab Raditya.
"Emang tabungan kamu ada berapa sih? Kok mau buka restoran. Buat bayar hutang saja minta bantuan sama aku dan ibu kamu" Ucap Ratih dan melanjutkan makannya.
"Uang tabungan untuk membuka usaha ada, dan sengaja gak aku pakai buat membayar hutang. Kalau buat bayar hutang mau usaha bagaimana?" Jawab Raditya dan menatap ke arah Ratih.
"Hmm benar juga sih, yaudah aku bantuin kamu. Kita berjuang dari nol, tapi kamu janji bakal balikin uangku" Ucap Ratih.
"Iya bawel" Jawab Raditya.
*********
"Kamu yakin Raditya bakalan mengembalikan sisa uang perusahaan? Kan dia sudah tidak bekerja kembali" Ucap bu Rosa saat mereka tengah ngobrol diruang tengah.
Sengaja sore tadi orangtua Renata mampir kerumah sang anak untuk menemaninya dan kemungkinan akan menginap disana.
"Aku sih yakin ma, mas Raditya itu sebenarnya orang yang ulet dalam bekerja pasti dia masih punya tabungan" Jawab Renata.
"Bagus deh, kalau tidak kan dia kita laporkan polisi dan kasihan Rindiani melihat papanya di balik jeruji besi" Ucap mama.
"Iya ma, andaikan saja mas Raditya tidak tergoda ulat gatal pasti kami saat ini masih berbahagia dan bercanda disini" Ucap Renata dengan setengah menerawang jauh.
"Apa kamu masih mencintai dia?" Kini papa Ronald bertanya dengan menatap dirinya.
"Sekarang ini bukan masalah cinta atau tidak pa. Renata hanya memikirkan Rindiani saja, tapi mas Raditya sudah memilih jalannya sendiri ya mau gimana lagi" Jawab Renata dengan menghendikkan bahunya.
"Laki-laki seperti Raditya tidak pantas untuk dikejar kembali nak, sekali berselingkuh dia akan mengulangi hal yang sama di kemudian hari"
"Iya pa, Renata tahu mangkanya aku memilih mundur. Terimakasih papa dan mama selalu ada buat Renata dan Rindiani" Ucap Renata.
"Kami akan selalu ada buat kamu, apa kamu gak sebaiknya tinggal sama kami saja?" Tawar mama.
"Nanti lah ma, Renata pikirkan kembali. Sayang banget rumah ini kalau dikosongkan" Jawab Renata.
"Yaudah kalau gitu, kamu harus tetap semangat menjalani hari meskipun tanpa Raditya disampingmu. Ingat ada Rindiani dan kami yang selalu ada bersama kamu" Ucap mama.
"Iya ma, oh ya tadi siang ibu meneleponku" Ucap Renata.
"Bu Ratna?? Ngapain?" Tanya sang mama dengan dahi sedikit mengkerut.
"Minta uang arisan, katanya ayah belum gajian. Kak Romi juga susah dihubungi, terus mau minta mas Raditya kan udah dipecat" Jawab Renata.
"Terus kamu kasih??"
"Ya enggak dong ma, ngapain juga. Eh malah aku kena semprot sama ibu" Jawab Renata dengan tertawa saat dia ingat caci maki ibu Raditya tadi siang.
"Kenapa kamu ketawa gitu?" Tanya bu Rosa sedikit heran dengan Renata.
Flashback on...
[Assalamualaikum bu] Ucap Renata dari balik telepon.
[Waalaikumsalam Ren, ibu mau minta tolong dong]
[Minta tolong apa ya bu?]
[Hari ini ibu waktunya arisan, kamu kirimin uang ibu dong dua juta saja. Tadi Raditya kesini katanya dipecat, mau minta Romi juga dia susah dihubungi. Ayah kamu juga belum gajian] Jawab bu Ratna.
[Maaf bu, Renata tidak bisa mentransfer ibu uang] Jawab Renata dengan singkat.
[Kenapa?]
[Mending ibu minta sama menantu baru ibu saja]
[Dasar kamu ya mentang-mentang sudah berpisah dengan Raditya jadi melupakan ibu. Ibu ini juga orang tua kamu..! Sudah sepatutnya kamu memberi uang pada ibu] Ucapnya dengan setengah membentak.
[Atas dasar apa ya bu? Maaf bu dulu memang Renata selalu memberikan apa yang ibu mau, tapi saat ini maaf sekali Renata tidak bisa]
[Gak tahu diri kamu ya...! Pantas saja Raditya mencari pelampiasan pada wanita lain, selain kamu sudah tidak menarik juga pelit..!!] umpat ibu dan langsung mematikan panggilan telponnya.
Renata hanya mengusap dadanya dengan perlahan, sungguh ibu mertuanya itu benar-benar keterlaluan.
Bisa-bisanya mengatai saat tidak diberikan apa yang dia mau.