NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keriuhan kantin SMA Nusa Bangsa siang itu terasa kontras dengan ketegangan yang baru saja terjadi di ruang guru. Aroma bakso, soto ayam, dan gorengan bercampur dengan suara bising ratusan siswa yang berebut jatah makan siang. Bagi kebanyakan siswa, ini hanyalah jam istirahat biasa. Tapi bagi Keyra dan Raka, ini adalah babak istirahat setelah pertempuran mental yang melelahkan.

Mereka mendapatkan meja di sudut, jauh dari kerumunan utama tapi cukup strategis untuk melihat siapa saja yang masuk. Raka meletakkan dua gelas es teh manis dengan bunyi *klontang* yang cukup keras di atas meja kayu yang permukaannya sudah penuh goresan tip-x.

"Minum," perintah Raka, lalu dia sendiri menenggak setengah gelas minumannya dalam sekali teguk. Jakunnya bergerak naik turun dengan cepat. "Gila, akting jadi orang jenius itu haus juga."

Keyra tidak langsung minum. Dia masih menatap Raka dengan tatapan menyelidik, seolah sedang mencoba membedah isi otak cowok di depannya itu. "Lo nggak akting, Ka. Gue liat cara lo ngerjain soal itu. Itu bukan hafalan. Lo beneran ngerti konsepnya. Bahkan Pak Bambang aja butuh kunci jawaban buat verifikasi."

"Kebetulan," elak Raka sambil menyomot tempe mendoan dari piring kecil yang dia bawa. "Gue pernah liat soal mirip gitu di YouTube. Channel orang India. Tau sendiri kan tutorial orang India lebih ampuh dari dosen Harvard?"

"Julian bener," potong Keyra tajam. "Lo nyembunyiin sesuatu."

Raka berhenti mengunyah. Dia menatap Keyra, matanya yang biasanya jenaka kini terlihat datar, sulit dibaca. "Semua orang punya rahasia, Key. Julian punya, Bu Ratna punya, lo juga punya. Kenapa cuma gue yang dipermasalahin?"

"Karena rahasia lo aneh!" Keyra memajukan tubuhnya, merendahkan suara agar tidak terdengar meja sebelah. "Lo berubah drastis dalam semalam. Lo tau hal-hal yang nggak seharusnya lo tau. Dan tadi... omongan lo ke Julian soal 'Garis Waktu'. Itu maksudnya apa?"

Suasana di meja itu mendadak hening di tengah kebisingan kantin. Raka menghela napas panjang, seolah sedang menimbang opsi: berbohong lagi atau memberi sedikit kebenaran. Namun, sebelum Raka sempat menjawab, seorang siswa kelas sepuluh yang berlari terburu-buru sambil membawa nampan soto tersandung kaki kursi di dekat mereka.

"Awas!"

Refleks Raka secepat kilat. Dia melompat dari duduknya, menarik lengan Keyra dengan sentakan kuat tepat sebelum kuah soto panas yang tumpah menyiram tempat Keyra duduk sedetik yang lalu. Nampan itu jatuh berantakan ke lantai, mangkuk pecah, dan kuah kuning panas menggenangi lantai keramik.

Keyra terhuyung, menabrak dada Raka. Tangan Raka mencengkeram bahu dan lengan atas Keyra dengan erat—sangat erat—untuk menahannya agar tidak jatuh ke pecahan beling.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Raka, suaranya terdengar panik. Napasnya memburu.

Dan saat itulah, pemicu itu aktif.

Sentuhan tangan Raka di bahunya. Cengkeraman yang kuat namun gemetar. Aroma keringat yang bercampur dengan rasa takut yang menguar dari tubuh cowok itu. Posisi tubuh mereka yang berhimpitan.

Dunia di sekitar Keyra mendadak berputar. Suara bising kantin—teriakan siswa yang kaget, bunyi pecahan mangkuk—semuanya meredam, tergantikan oleh suara denging panjang yang menyakitkan telinga.

*Bzzzzzztt.*

Keyra tidak lagi berada di kantin. Lantai keramik putih di bawah kakinya berubah menjadi aspal hitam yang basah dan dingin. Cahaya matahari siang berganti menjadi sorot lampu jalanan yang remang-remang di tengah hujan deras.

*Loop 20.*

Tubuhnya terasa remuk. Dia tidak bisa merasakan kakinya. Rasa dingin yang menusuk tulang merambat cepat dari ujung kaki menuju dada. Dia terbaring di aspal. Ada bau besi yang sangat kuat—darah. Darahnya sendiri.

Di atasnya, sesosok bayangan menghalangi hujan agar tidak jatuh ke wajahnya. Seseorang sedang memeluk kepala Keyra, mengangkatnya sedikit dari genangan air kotor. Tangan orang itu menekan luka di dada Keyra dengan putus asa, mencoba menahan nyawa yang sedang memaksa keluar.

"Key! Key, denger gue! Buka mata lo!" Teriakan itu terdengar pecah, hancur oleh isak tangis yang mengerikan.

Penglihatan Keyra di memori itu buram. Dia hanya bisa melihat siluet wajah yang basah oleh air hujan dan air mata. Tapi dia ingat rasanya. Rasa aman yang ganjil di tengah sekarat. Orang ini bukan orang asing. Orang ini peduli padanya lebih dari siapapun di dunia ini.

"Maafin gue... Maafin gue telat..." Suara itu lagi. Serak. Berat. Penuh penyesalan yang begitu dalam hingga rasanya lebih menyakitkan daripada luka fisik Keyra.

"Jangan pergi... Gue mohon, jangan reset lagi... Gue capek liat lo mati..."

Cahaya mobil ambulans berputar-putar di kejauhan, membiaskan warna merah dan biru di wajah sosok itu. Untuk sepersekian detik sebelum kesadaran Keyra di *Loop* itu hilang sepenuhnya, dia melihat wajah itu dengan jelas.

Bukan Julian.

Bukan orang tuanya.

Itu Raka.

Raka yang menangis tersedu-sedu, wajahnya kotor oleh debu aspal, matanya merah bengkak, menatap Keyra seolah dunianya baru saja kiamat. Itu bukan tatapan teman sekelas yang iseng. Itu tatapan seseorang yang mencintai dengan rasa sakit yang tak terukur.

"Ka..." bisik Keyra di memori itu, sebelum semuanya menjadi gelap.

"Key? Keyra!"

Sentakan keras menarik Keyra kembali ke masa kini. Dia tersentak, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja lari maraton. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke wajah Raka yang kini berada hanya beberapa sentimeter di depannya.

Raka masih memegang bahunya, alisnya bertaut khawatir. "Hei, lo bengong. Kena cipratan air panas? Mana yang sakit?"

Keyra mundur selangkah, melepaskan diri dari pegangan Raka seolah tangan itu membakar kulitnya. Dia menatap Raka dengan horor, tapi juga dengan pemahaman baru yang mengguncang logikanya.

Siswa yang menumpahkan soto tadi sedang sibuk meminta maaf, dibantu beberapa anak lain membersihkan kekacauan. Tapi Keyra tidak peduli. Seluruh atensinya terkunci pada Raka.

Itu bukan mimpi. Itu ingatan. Ingatan yang nyata.

Raka ada di sana saat dia mati. Raka menangisinya. Dan kata-kata itu... *'Gue capek liat lo mati...'*

"Lo..." Suara Keyra bergetar. Dia menunjuk dada Raka dengan jari telunjuk yang gemetar hebat. "Malam itu. Hujan. Lampu merah perempatan Dago. Lo ada di sana."

Wajah Raka yang tadinya penuh kekhawatiran mendadak kaku. Topeng jenakanya retak seketika. Pupil matanya mengecil, tanda panik yang dia coba sembunyikan dengan cepat. "Ngomong apa sih lo? Kita lagi di kantin, Key. Lo syok ya gara-gara soto?"

"Nggak usah bohong!" Keyra setengah berteriak, membuat beberapa siswa di meja sebelah menoleh. "Gue inget, Raka! Gue inget lo meluk gue! Lo nangis! Lo bilang... lo bilang lo capek liat gue mati!"

Raka terdiam. Dia melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan pembicaraan spesifik mereka di tengah keributan pembersihan soto. Perlahan, dia menarik tangan Keyra, membawanya menjauh dari kerumunan menuju koridor samping kantin yang lebih sepi.

"Lepasin!" Keyra menyentak tangannya.

"Pelanin suara lo," desis Raka. Nadanya bukan lagi Raka si badut kelas, tapi Raka yang dingin dan penuh perhitungan—sama seperti saat dia menghadapi Bu Ratna tadi. "Lo mau orang-orang ngira lo gila? Ngomongin kematian di siang bolong?"

"Jawab gue," tuntut Keyra, matanya mulai berkaca-kaca karena campuran rasa takut dan bingung. "Siapa lo sebenernya? Kenapa lo ada di ingatan kematian gue? Dan kenapa... kenapa lo keliatan sedih banget waktu itu?"

Raka bersandar ke tembok, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya yang kotor. Ada jeda yang panjang. Angin siang yang panas meniup rambutnya yang agak berantakan.

Saat Raka mengangkat wajahnya, senyum miring khasnya kembali terpasang, tapi kali ini tidak mencapai matanya. Matanya terlihat tua. Lelah.

"Mungkin lo cuma mimpi buruk, Key. Efek stres mau ujian," jawab Raka ringan, tapi suaranya hampa. "Otak manusia itu aneh. Suka nyampur aduk realita sama imajinasi."

"Itu bukan imajinasi! Rasanya terlalu nyata!"

"Kadang imajinasi emang lebih nyata dari kenyataan," potong Raka cepat. Dia melangkah mendekati Keyra, menatap lurus ke manik mata gadis itu. "Dengerin gue. Lupain apa yang lo liat. Anggap itu cuma bunga tidur. Fokus aja sama hidup lo sekarang. Fokus kalahin Julian. Fokus lulus."

"Kenapa gue harus dengerin lo?"

"Karena kalau lo mulai gali-gali masa lalu yang nggak seharusnya lo inget..." Raka mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Keyra, "...lo bakal narik perhatian hal-hal yang lebih bahaya dari sekadar Bu Ratna atau Julian."

Raka menarik diri, menepuk puncak kepala Keyra pelan—gerakan yang terasa sangat familiar, mengingatkan Keyra pada sentuhan di *flashback* tadi. Tanpa menunggu jawaban, Raka berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Keyra yang terpaku di koridor sepi.

Keyra menyentuh kepalanya sendiri, tempat tangan Raka baru saja mendarat. Jantungnya masih berdegup kencang.

Dia tidak percaya satu katapun dari penyangkalan Raka. Cowok itu tahu. Raka tahu tentang kematiannya. Dan yang lebih mengerikan, Raka sepertinya sudah melihat kematian itu berkali-kali.

Keyra menatap punggung Raka yang menjauh di tengah kerumunan siswa. Raka bukan sekadar orang jenius yang pura-pura bodoh. Dia adalah kepingan *puzzle* terbesar dari kekacauan hidup Keyra yang berulang ini. Dan Keyra bersumpah, dia akan membongkar isi kepala Raka, bagaimanapun caranya.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!