Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Wanita Mahal
Pagi harinya, Luna terbangun lebih dulu. Ia mendelik ketika lagi-lagi menemukan lengan kekar Arash melingkar di perutnya. Bahkan kepala lelaki itu menempel di bahunya. Ia bisa merasakan napas hangat yang menerpa ceruk lehernya.
“A....” Hampir saja berteriak, namun Luna segera tertahan kala mengingat suaminya semalam demam.
Luna menggerakkan tubuh, sedikit membuat jarak dari wajah Arash yang menempel padanya. Jari telunjuknya mendorong kening Arash.
Arash bergerak, namun justru semakin merapatkan tubuhnya. Luna tampak meringis, masih mempertahankan telunjuk di kening Arash, sembari menjauhkan kepalanya. Napasnya berembus sangat pelan.
Ekor mata perempuan itu memicing tajam, memerhatikan kelopak mata Arash tanpa berkedip, ia bisa menangkap senyum tipis di bibir lelaki itu.
“Arash minggir nggak?!” sanggah Luna mendorong wajah Arash dengan telapak tangannya.
“Sebentar, Sayang. Lagi recharge. Kan aku demam,” cetusnya semakin merapat, bahkan kini Luna sudah sampai di ujung ranjang.
“Iiihh! Demam apanya? Orang udah turun demamnya kok. Recharge recharge! Emang baterai harus diisi ulang?” sembur perempuan itu meregangkan kedua lengan, mendorong dada Arash.
Sempat merasa simpati, namun lagi-lagi Arash memancing emosinya. Bukan karena apa, Luna hanya belum sepenuhnya percaya pada Arash. Karena itulah, ia tidak suka jika suaminya bersikap seenaknya.
Adu kekuatan pagi itu membuat Arash terkekeh, kelopak matanya terbuka. Ia segera menahan punggung Luna, karena terus memberontak hingga nyaris terjatuh.
Arash segera menggulingkan tubuh Luna, hingga kini berada di bawah kungkungannya. Senyum nakal tercetak di bibirnya. “Jiwaku yang harus diisi ulang, Luna.”
Luna masih terkejut, netranya membeliak lebar. Tubuhnya membeku tidak bisa bergerak. Napas keduanya saling beradu.
“Kamu kapan enggak cantiknya sih, Lun?!” Arash mengecup bibir Luna.
Perempuan itu memberontak hebat, lalu menendang suaminya hingga terguling ke lantai. Rambut panjangnya yang acak-acakan, wajah memerah semakin membuat Arash berdebar hebat. Luna menggosok bibirnya dengan kesal. “Dasar mesum!”
“Enggak apa-apa deh, kamu aniaya. Nanti kalau sakit kamu sendiri yang kelimpungan!” sindir Arash bersandar di ranjang, ia mendongak sembari mengamati wajah cantik istrinya dengan sejuta pesona walau baru bangun tidur.
“Sinting! Mana ada orang waras yang kepengen sakit!” cetus Luna beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arash menarik napas dalam-dalam, menyentuh bibirnya yang entah sudah berapa kali bertemu dengan bibir Luna. Seperti itu saja, sudah membuat Arash bangga. “Pasti aku yang pertama dapetin itu semua!” gumamnya mengepalkan kedua tangan. Baru mendapat ciuman saja sudah sebahagia itu. Apalagi kalau lebih?
“Huuh, sabar. Dia wanita mahal, Arash! Butuh perjuangan untuk meluluhkannya," sambung Arash bersandar di tepi ranjang menyentuh bibirnya sambil senyum-senyum sendiri.
...\=\=\=000\=\=\=...
“Mobil kamu masih di bengkel, Lun. Aku antar aja ya. Hari ini janji akan jemput tepat waktu!” Arash menaikkan dua jarinya saat mereka sedang menikmati sarapan.
Luna mengunyah makanannya dengan anggun, tanpa mau membalas ucapan suaminya. Jika boleh jujur, ia lebih suka naik motor. Karena terhindar dari kemacetan dan lebih cepat sampai.
“Diam berarti setuju. Mobilmu enggak aku kerjain aja ya, biar bisa boncengin kamu tiap hari,” tutur Arash menaik turunkan kedua alisnya.
Wajah Luna tetap datar, tidak bereaksi apa pun. Sampai potongan roti terakhir, Luna meneguk segelas susu. Usai menyeka bibirnya dengan tisu, Luna baru membuka suara.
“Bagaimana kabar ibu dan adikmu?” tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
Gerakan Arash terhenti, jika diingatkan kembali pria itu tidak bisa sembunyikan kesedihannya. Sikapnya yang tengil memang sengaja untuk menutupi.
“Aku masih usaha, doain ya!” balas lelaki itu mengembuskan napas berat. Nafsu makannya mendadak hilang, “Berangkat sekarang?” tawarnya ketika melihat Luna sudah siap.
“Habiskan dulu!” titah Luna mengedikkan kepala.
“Udah kenyang,” tolak Arash beranjak berdiri.
Luna bergeming, mendongak dengan tatapan tajam. Tidak ingin membuat sang istri merajuk, ia kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.
“Anak pintar,” puji Luna tersenyum tipis.
“Aduh, irit banget sih senyumnya! Full senyum dong, biar aku semangat berjuang!” seloroh Arash menepuk dadanya.
Bukannya menurut, Luna justru beranjak berdiri, menggamit tasnya lalu melenggang pergi. Buru-buru Arash berlari menyamakan langkah dengan sang istri. Keduanya menuju basemen beriringan. Arash terus mengajaknya bicara untuk mencairkan suasana. Namun, Luna hanya menjawab sepatah dua patah kata saja.
Meski terlihat abai, Luna ternyata berhenti tepat di parkir motor Arash. Menunggu sang empunya naik dan mulai menyalakannya.
“Cantik, imut, penurut, baik hati, bener-bener istri paket komplit!” puji Arash gemas hendak mencubit pipi Luna. Tapi tatapan tajam langsung melayang tepat manik Arash yang seketika menurunkan lengannya kembali. Arash mengenakan helm dan mulai menyalakan mesin motornya. Menunggu istrinya naik di belakangnya.
Perjalanan begitu singkat, tidak butuh waktu lama mereka sampai di pelataran rumah sakit. Luna segera turun.
“Tunggu!” Arash mencegah kepergian Luna, mencekal lengan wanitanya itu hingga mereka kembali dekat.
Arash merapikan rambut Luna yang sedikit berantakan tersapu angin. “Ponsel kamu mana, Sayang? Nanti aku telepon.”
“Buat apa?” seru Luna ketus.
“Aku masukin nomor aku. Jadi kalau ada apa-apa gampang hubunginya. Sini!” pinta lelaki itu menengadahkan tangan.
Luna menghela napas kasar, meraih ponsel miliknya dan menyerahkan pada Arash. Arash mengetik papan angka, menyimpannya lalu melakukan panggilan pada nomornya. Setelahnya menyerahkan kembali pada Luna, “Jangan ke mana-mana sebelum aku jemput! Oh ya, apa Cika emm maksudku Dira juga dokter di sini?”
Luna menaikkan sebelah alisnya. Belum sempat menjawab, sebuah ambulans menerobos masuk hingga berhenti tepat di depan IGD. Pandangan Luna dan Arash serentak beralih ke sana.
“Loh, Axel?” teriak Luna bergegas menghampiri.
Nama yang tidak asing di telinga Arash, apalagi ketika sang istri menyebutnya dengan panik. Ia turut berlari mengejarnya.
Bersambung~
mampir juga di novel keren ini ya, Best 😘