Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Setelah api padam, para petugas pemadam kebakaran di bantu warga memeriksa keadaan dengan alat seadanya.
"Pak!!!" Teriak salah satu warga sambil menunjuk ke suatu arah.
Mereka langsung berbondong menuju arah itu. Terlihat dua orang yang mengalami luka bakar serius. Ambulan yang sedari tadi stay langsung meng evakuasi dua korban kebakaran tersebut.
Tidak berselang lama ambulan meninggalkan lokasi, Kinar datang sambil memeluk Syafa.
"Pak … bagaimana keadaan anak dan menantu saya?" Tanya Kinar pada salah satu warga.
"Kami tidak tahu bu, Fa'az dan Syahida sudah di bawa kerumah sakit, kondisi mereka sangat …"
Kinar langsung lari menuju mobil suami Bibil. "Antar ibu kerumah sakit," pinta Kinar.
"Tapi lebih baik Syafa sama kami," pinta suami Bibil.
Mengingat Syafa baru enam bulan, Kinar setuju meninggalkan Syafa bersama Bibil, sedang dia langsung menuju rumah sakit setelah memberikan Syafa pada Bibil.
Sesampai rumah sakit Kinar berlari mencari tahu ruangan anak dan menantunya. Setelah tahu dia langsung menuju ruangan tersebut, Kinar tidak bisa masuk, karena dokter tengah memeriksa keadaan Fa'az juga Syahida.
Kinar duduk di kursi sambil berdo'a, berharap anak dan menantunya bisa selamat.
****
Flas back di kota.
Sejak enam bulan ini Kevin tidak mabuk, karena masih penasaran dengan kabar yang dia ketahui dulu.
"Sore bos!" Orang suruhan Kevin datang dengan wajah cemas.
Orang itu memberikan amplop pada Kevin. Keringat mengucur di wajah Kevin setelah membaca isi amplop tersebut.
"Syahidaku dalam bahaya!!!" Ucap Kevin panik.
"Mereka melancarkan aksi malam ini, maaf kami baru bisa mendapatkan info ini,"
"Ku harap masih bisa menyelamatkan Syahida dan keluarganya, ayo bawa aku ketempat Syahida," pinta Kevin. Mereka semua langsung berangkat menuju kediaman Syahida.
Orang suruhan Kevin mengebut di jalanan, berharap masih punya waktu untuk menyelamatkan Syahida. Namun setelah sampai desa itu sebuah mobil pemadam kebakaran menyalip mereka dari belakang. Orang suruhan Kevin menepikan mobilnya.
"Kita terlambat pak,"
"Cepat kita kesana," teriak Kevin.
"Pak, kalau kita kesana, kita hanya menerjunkan diri dalam masalah, kita tunggu di sini, jika ambulance tadi lewat lagi, maka kita ikuti,"
Kevin Pasrah, dia mengikuti apa usul orang suruhannya.
Tidak lama terdengar sirine ambulan.
"Ayo pak, kita ikuti ambulan tersebut," orang suruhan Kevin langsung memutar arah mobil, saat ambulance itu lewat, mereka segera mengikuti ambulance tersebut dengan jarak aman. Hingga mereka sampai di sebuah rumah sakit.
"Aku akan menunggu walau sampai besok, kalian bawa saja pulang mobilku sebagai jaminan, setelah urusan selesai, aku akan memberikan hak kalian," ucap Kevin pada orang-orang suruhannya.
Orang suruhan Kevin langsung pergi, sedang Kevin masuk kedalam rumah sakit tersebut. Setelah Kevin tahu dimana Syahida dan Fa'az, dia langsung menuju ruangan tersebut dan menunggu di depan pintu ruangan tersebut.
Melihat seorang wanita paruh baya datang, Kevin langsung sembunyi, dia mengenali perempuan itu, dia Kinar ibu Syahida.
Flash back off
***
Kinar menangis duduk di kursi tersebut.
"Maafkan saya, andai saya tahu lebih cepat semua ini tidak akan terjadi," sapa Kevin.
Kinar menegakkan wajahnya. "Kamu???" Kinar sangat ingat siapa Kevin.
"Maafkan saya, sejak Syahida melahirkan, saya mencari tahu orang yang mengincar kalian, tapi saya terlambat, maafkan saya," Kevin menangis meratapi ketidak becusannya memastikan kebahagiaan Syahida.
"Apa maksud kamu?"
Kevin memberikan amplop yang dia terima dari orang suruhannya. Kinar menerima dan membaca amplop itu dengan cermat.
Wajah Kinar memerah menampakkan kemarahannya saat membaca laporan yang Kevin berikan padanya.
"Dasar ibl*s!!!" Ucap Kinar geram sambil menahan ucapannya.