"Kamu tahu, terkadang waktu yang singkat memiliki kenangan yang hebat."
Gadis cantik dengan bulu mata lentik itu tersenyum kecut tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sudah lelah menggantungkan harapan pada pria yang selalu mengumbar kata sayang, namun sikap dan usahanya tak menunjukkan hal demikian.
"Maafkan aku, kutahu ini sakit bagimu. Tapi ini juga sulit untukku," lirih Joe sungguh-sungguh.
Bagaimana bisa pria itu menahan seseorang, ketika ia masih mengharapkan cinta dari yang lainnya. Dia tak ingin melepas salah satunya. Dan Shena tau itu. Tapi bodohnya, Shena tak kuasa untuk mundur sebab rasa cintanya sudah terlanjur dalam.
"Bersamamu aku sakit, tapi jika tidak denganmu aku hancur."
Ini kisah Shena Morghia yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Joe Mafarulls. Seorang pria dewasa dengan kisah hidupnya yang rumit. Trauma akibat ditinggalkan kekasihnya di masa lalu, membuat Joe kesusahan membuka diri pada orang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Pelarian
Pelarian tanpa perencaan itu omong kosong. Karena itu, Shena tidak ingin mengulang kesalahan-kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Ia yakin bisa melakukan itu, setidaknya untuk sementara waktu.
Saat ini, Shena tengah berada di rumah temannya yang dahulu membawa gadis itu ke Ibu kota hingga mendapatkan pekerjaan. Ia adalah Prita Shanuela. Seorang dosen di salah satu fakultas ternama di kota ini.
Prita bahkan bisa langsung menebak, alasan Shena meninggalkan apartemennya sendiri dan memilih untu melarikan diri ke rumahnya yang terletak tak jauh dari kampus tempatnya membagi ilmu.
Terang saja Shena tak bisa menjawab, ketika Prita langsung menodongnya dengan pertanyaan tepat sasaran.
"Kamu pasti mikir kalau aku manusia paling pengecut," gumam Shena pelan. "Sekarang aku bahkan gak bisa ngelak, karena itu semua benar. Semua ini masih tentang laki-laki itu—Zoe." Lanjutnya dengan rahang mengeras.
Wanita berambut sebahu dengan mengenakan daster bermotif doraemon itu meletakkan secangkir kopi di atas meja setelah menyesapnya perlahan.
"Makasih udah izinin aku tinggal di sini sementara waktu, Ta."
Prita sendiri sudah tahu bagaimana keadaan keluarga gadis itu, ia juga paham mengapa Shena lebih memilih ke tempatnya daripada ke rumahnya sendiri. Selain itu, Shena juga tidak ingin Zoe bisa dengan mudah menemukannya. Wanita itu benar-benar sedang menghindari pria brengshek tersebut.
"Kamu tahu nggak sih, Na. Berapa banyak kesempatan yang gak kamu ambil karena ngerasa Zoe itu dunia kamu sepenuhnya," ujar Prita sangat menyayangkan.
Prita cukup mengenal Shena, terutama permasalahan pribadinya yang menurut Prita selalu menghambat langkah Shena dalam hidup gadis itu. Baik perihal asmara, maupun kesuksesan karirnya.
"Apa aku udah ngecewain banyak orang, Ta?" tanya Shena tersenyum samar.
"Baiklah, kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu inginkan. Tapi tentu aja gak gratis ya, Na."
Shena mendengus sebal. "Ishh! Perhitungan banget sih. Tapi aku udah nebak, pasti ujung-ujungnya minta bayaran. Kali ini apa? Bantuin kamu nyari data buat jurnal? Aku bingung deh, kenapa banyak orang memusingkan dirinya sendiri sama yang namanya penelitian." Ujar Shena menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Kamu pikir aku sebaik itu, Na?" kata Prita menyunggingkan seulas senyum lebar.
Shena mengerutkan dahinya. Apa syarat yang diminta akan lebih berat dari dugaannya? Oh, Tuhan. Membantu Prita untuk penelitian tentang akademik saja nyaris membuat kepala Shena botak.
"Aaaa!! Please ya, Ta. Jangan aneh-aneh deh!!" pekik Shena tidak terima kalau ia harus membayar dengan cara yang lebih ekstrim setiap meminta bantuan pada Prita yang sudah ia anggap seperti saudarinya sendiri.
"Kamu punya wajah yang cantik, pintar, dan public speaking yang bagus. Itu pas banget. Aku pegen kamu jadi asisten dosen sementara waktu, selama aku pergi ke Korea." Prita memainkan gelas kopinya seraya tersenyum penuh arti pada Shena.
Terang saja Shena terkejut bukan main, matanya bahkan terbelalak tak menyangka dengan apa yang telinganya dengar.
"Apa? Ngajar?" pekik Shena.
Prita menganggukkan kepalanya mengiyakan. Ia juga meminta Shena untuk mengajar tak hanya 2 atau 3 minggu saja. Namun hingga 1 semester lamanya. Jelas saja Shena semakin tak percaya, hingga ia merengek pada Prita.
"Mana bisa begitu, Taaa."
Shena merasa dirinya tidak cukup kompeten lantaran ia bukan S2 apalagi S3. Akan tetapi, Prita mengatakan bahwa mengajar mahasiswa semester awal-awal itu bukanlah hal yang susah. Lagipula, seingat Prita saat kuliah dulu Shena pernah menjadi asisten dosen, menggantikan tugasnya juga.
"Ini cuma sementara, Na. Seperti yang kamu tahu, universitas swasta itu cenderung susah nyari dosen baru, budgetnya dikit. Terus apa yang kamu takutin saat koneksi orang dalem ada di depan muka kamu sendiri?" ujar Prita terkekeh kecil.
Pada akhirnya, Shena menerima permintaan Prita. Tentunya setelah Prita melakukan rayuan dengan berbagai cara.
Kata Prita, Shena tidak perlu memikirkan masalah lisensi. Karena wanita itu yakin bahwa Shena bisa diandalkan dan dibanggakan, ini mata kuliah pilihan dan mahasiswa yang akan Shena ajar ialah jurusan Ilmu Komunikasi. Shena hanya perlu memberi materi dasar saja.
Shena pikir, tidak ada salahnya bukan? Di kantor, ia juga belum ada proyek besar. Maka Shena bisa meluangkan waktunya untuk mengajar.
Lebih dari itu, Shena juga butuh lingkungan dan susasana baru. Mungkin dengan begitu, ia bisa sejenak melupakan masalahnya dengan Zoe.
...*...
...*...
Shena berdiri di depan gedung universitas swasta, ia menarik napas kuat-kuat sebelum akhirnya meyakini diri memasuki gedung fakultas enam tingkat tersebut.
Gadis itu mengusap rambutnya beberapa kali, memastikan penampilannya sekali lagi sebelum memasuki ruangan dosen. Shena mengenakan kemeja lengan panjang berwarna cokelat susu dan rok cokelat tua menutupi lututnya. Ia mengikat rambutnya dikuncir kuda, dan riasan tipis hanya agar tidak terlihat pucat saja.
Namun sungguh, Shena memanglah sudah cantik meski tanpa riasan sekali pun yang menempel di wajah mulusnya.
"Oh, dengan Bu Shena, ya? Asistennya Bu Prita?" sapa seorang wanita berambut pendek berdiri dari kursinya.
Shena tersenyum sopan, kemudian mengulurkan tangan. "Iya, betul. Saya Shena Morghia. Asistennya Bu Prita"
"Ah, ternyata masih muda, ya. Perkenalkan nama saya Dania, dosen tetap di jurusan Ilmu Komunikasi."
Setelah berbasa-basi dan mendengarkan perihal jadwal mengajarnya, dengan segera Shena menuju ruang kelas dan mematikan ponselnya sebelum ia mulai mengajar.
Dadanya berdebar-debar karena rasanya sudah lama tidak bertemu banyak orang. Aneh, bukan? Shena mengaku tidak suka keramaian, tetapi mau tidak mau ia harus melakukannya.
Sebenarnya keramaian tidak buruk juga, hanya saja ... ia lebih menikmati waktunya sendirian. Itu lebih baik, daripada melihat ribuan masalah yang dirasakan orang-orang di depan matanya sendiri.
Setelah menyapa, dan mengabsen daftar hadir mahasiswa, Shena pun memeperkenalakn diri juga menjelaskan jadwal kelasnya. Lantaran ia hanya bisa mengajar di hari sabtu saja.
Untungnya, mereka tidak keberatan. Malah mengaku senang sebab ada kegiatan di akhir pekan. Terutama bagi mahasiswa yang mengaku tidak memiliki kekasih.
Hal itu cukup menerbitkan senyum di wajah Shena. Meski ia coba menahannya sebab harus tetap lanjut memberikan materi yang sebelumnya sudah disiapkan.
Sementara di tempat lain.
Zoe sudah mengeluhkan hal yang sama hampir 10 kali, ia terus bertanya mengapa sampai saat ini Shena masih belum bisa dihubungi.
Tangan Elios sudah benar-benar gatal ingin memukul belakang kepala Zoe sekali saja.
"Ya udah sih, biarin dia punya waktu buat dirinya sendiri. Kenapa kamu gak bisa ngasih jarak sama dia buat sementara waktu? Biar dia nikmatin hari-harinya, ngelihat mukamu yang bangshat juga gak ada gunanya buat dia!" ujar Elios kesal.
Sebetulnya, Elios bukanlah satu-satunya orang menyarankan hal itu. Namun, Zoe mengakui bahwa dia tidak bisa seperti ini terus tanpa kabar dari Shena.
"Aku gak bisa kalau gak ada dia. Walaupun mulutnya kayak cabe dan ceplas-ceplos, tapi suka bener," ucap Zoe pelan.
saking dalamnya dia menoreh kan luka di hatimu /Grievance/
makanya jangan nyepelein wanita klo lagi cemburu 🤣🤣🤣🤣
keren nih cowok kere 🤣🤣🤣
weh orang mah bawa ke hotel ini di mobil 🤣🤣🤣🤣
kamu lupa klo shena yg skrg bukan Shena yg dlu lagi yg bisa kamu permainkan, ya wlopun perasaan kamu ke Shena skrg emg sungguhan.tapi buat Shena susah buat percaya lagi sama kamu zoe.dan kita liat sejauh mana perjuangan kamu buat dapetin lagi hati Shena.
hadeuh ko tamat sih teh 🙄
lanjut ke part 2 ya🙄🤔
kuy lah mrapat ke part 2 nya 🤣🏃🏃🏃
it's too late Zoe!!
eh bner teu sih bhsa inggris na🙄 sieun salahan ke gagal keren atuh 🤭🤣🤣🤣🤣
maklum sarapan na sampeu teh Anna lain roti lapis kotak"..🤣🤣🤣
Harry klo Shena ga maw sama kamu ,yuk maen sini yuk ke krawang aku ikhlas ry jadi tempat mu bersandar apalagi jdi tmen bobo kamu ry,ikhlas bgt aku 😳😳😳🤭🤭🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃
paksu ga baca novel ini kan 👀👀
🤣🤣🤣🏃🏃🏃