Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Melelahkan
'Apa!!, dia menertawakanku, dengan hati dongkol aku meruntuki diri sendiri, selalu saja salah bicara'
"Sini duduk dulu."ujarnya. Aku duduk disampingnya, kembali dia merebahkan diri dipangkuan sembari memeluk pinggangku.
"Kapan ya kita punya baby?"Mengelus perutku pelan, tingkah Bang Yusuf terkadang membuatku merasa serba bersalah.
Air mata mulai menggenang dipelupuk mata, kudongakkan kepala agar tak jatuh mengenainya. Sekali lagi ' maafin aku Bang'
Dia beranjak duduk melepasku yang masih mematung karena perkataannya.
"Dek, buruan mandi sana," Aku beranjak meninggalkan dan masuk ke kamar mandi.
Kurang dari 10 menit aku keluar dengan pakaian ganti dan handuk menutupi kepala. Sedangkan Bang Yusuf masih setia dengan gawainya. Melihatku keluar dia meletakkan ponsel di nakas dan menuju kamar mandi dengan mengambil handuk tanpa mengambil baju ganti.
Baru sebentar Bang Yusuf masuk kamar mandi ponselnya berbunyi. Ku ambil ponselnya ingin memberi pada si empunya.
"Bang ada yang telfon nih"
"Biarin aja, gak usah di angkat."katanya
Aku baru ingat jika Bang Yusuf tak pernah mengangkat telfon didepanku. Rasa penasaran makin saat melihat nama yang tertera dilayar 'Bella' siapa ini.
Ah biarkan saja, nanti kalau penting Bang Yusuf bisa menelponnya lagi.
Aku turun kebawah 20 menit lagi waktu maghrib, aku membantu ibu dan Hana memasak.
Bang Yusuf dan Bapak sudah berangkat ke mesjid 5 menit yang lalu. Kami bertiga hanya duduk menunggu waktu maghrib.
"Yuna, kalian berdua kapan rencana punya anak?" Bagai dihantam batu, kepalaku mendadak pusing.
"Uwaaahh. Aku juga mau cepet dapat keponakan yang lucu-lucu"sahut Hana
"Hehe. Ibu mah belom sampai seminggu nikah, kok udah nanya anak sih" Kucoba mencairkan suasana.
"Ibu gak sabar aja gendong cucu. Maklum ibu udah tua." Kurengkuh tubuh tua itu dengan sayang, Hana pun ikut.
"Ahh. Ibu mah. Kami lagi usaha yang memberi itu Allah." ucapku
"Heem, ibu jangan sedih ya"timpal Hana
Suara azan memecah keheningan yang ada. Ibu dan Hana sudah beranjak aku pun menuju kamar. Berwudhu dan melaksanakan shalat maghrib, tak lupa membaca Qur'an beberapa halaman setelahnya.
Pintu terbuka Bang Yusuf sudah masuk segera kuselesaikan bacaan, melipat mukenah dan menuju Bang Yusuf ingin menyalami.
"Kamu cantik dek, lain kali kalau dikamar gini aja ya" ucapnya
Aku mengenyit heran tak mengerti, perlahan kurasa ada jari-jari tangan menelusup dalam rambutku. Aku terperanjat, baru ingat setelah wudhu tadi aku tak pakai jilbab lagi. Bang Yusuf membawaku dalam dekapan mencium puncak kepala beberapa kali, aku membeku.
"Bang, turun makan."tawarku
"Hah?" Sepertinya dia tak mengerti
"Kita turun, makan malam"Dia hanya mengangguk sekilas setelahnya melepas rengkuhan dan turun bersama. Tak lupa aku meraih jilbab yang ada dikasur.
"""""
Bapak dan Bang Yusuf asik dengan obrolan perusahaan, begitupun Hana dan ibu, ntah apa yang mereka bahas, aku yang dari lantai atas tak jadi turun lagi. Berbalik kembali kekamar lebih baik ku kerjakan pekerjaan tadi yang belum selesai.
Sangat banyak memang tapi aku hanya menbawa pulang 5 berkas, mulai membuka laptop, satu persatu berkas ku kerjakan hingga aku larut didalamnya.
•••
Sesudah melaksanakan shalat isya aku segera tidur tak mau kejadian absurd terjadi lagi. Bisa sakit kepalaku memikirkan.
10 menit mencoba tidur tapi tak bisa tidur, pintu kamar terbuka aku yakin itu Bang Yusuf, segera memejamkan mata pura-pura tertidur.
Tak ada pergerakan apapun, kubuka mata pelan mencoba mengintip. Oho terkejut guys. Sorry
Kulihat bang Yusuf tepat disamping menatapku. Sekarang dia mengusap kepalaku pelan.
"Bangun dek jangan pura-pura tidur."Habis aku dia tau aku pura-pura tidur. Kubuka mata cepat saat ada angin menerpa wajah.
"A-apa?"ucapku sewot
"Mau ngomong aja"
"Ngomong apa?" Aku mendudukan diri sementara Bang Yusuf duduk didepanku
"Sabtu sore ini kita kerumah mama ya, mama mau bikin acara syukuran buat nyambut kita nanti sekalian nginep."
"Gak cepet banget?"
"Gak, ntar Ibu, Bapak sama Hana juga ikut kok"ucapnya
"Tapi disana kasian mama, pasti repot nyiapin semua"
"Gak repot, disana banyak yang bantuin, ada kak Nara sama adikku juga, mereka juga ikut bantu."jelasnya
Aku tertunduk mencoba berfikir, aku tak terlalu dekat dengan mama, dan kedua saudari Bang Yusuf. Tapi kan istri harus ikut kemana suami pergi.
"Baiklah, tapi kita harus bawa oleh-oleh juga, atau aku juga pergi kesana buat bantuin. Kan rumah Abang gak terlalu jauh."jelasku
"Oke kalau kamu setuju, sekarang kita tidur, kalau mau bantuin mama ntar abang tanya lagi"
"Oke"
Aku memejamkan mata memaksa tidur, kenapa tak tertidur.
"Dek?" Aku menoleh pada Bang Yusuf tepat berada disamping dengan wajah sangat dekat. Dia tersenyum, apa arti senyumnya itu.
"Udah abang bilang, kalau dikamar gak usah pakek jilbab." Lagi-lagi dia melepas jilbabku tanpa ada penolakan.
"I-iya. Tadi lupa,"jawabku kikuk
"Bagus kamu lupa, ada kesempatan abang buat bukain"balasnya. Aku jadi malu sendiri
"Boleh ya?" Dia bertanya sambil mengusap pelan pipiku. Dia minta apa sih?. Kukerutkan kening tanda tak faham
"Boleh A-...." apa ini benda kenyalnya sudah menempel di bibirku tanpa permisi, kenapa dia suka sekali seperti ini. Tak tau apa seluruh anggota tubuhku tak bisa menolaknya. Kenapa denganku !!!
Dia memeluk pinggang dan menekan tekukku, aku benar-benar pasrah denganya bahkan tangan yang sering ku gunakan menjahilinya tak bergerak. Apa yang terjadi padaku. Kutatap mata sayunya sedikit menyipit, sepertinya dia tersenyum.
"Udah jangan gitu dek, entar Abang cium lagi, mau?" aku mengangguk.
Apa ini aku mengangguk. Haduuhhh salah lagi. Dia tersenyum miring kembali mendekat dengan cepat. Kembali tubuhku merasa lumpuh tak bisa bergerak melawannya perutku terasa diaduk-aduk, mataku terasa sangat mengantuk setelahnya. Sungguh aneh!!
"Udah ya, kita tidur." Dia memeluk dengan wajahku didadanya. Puncak kepalaku dikecup beberapa kali dengan tangannya mengelus rambutku. Entah apa yang membuatku cepat tertidur.
-----
Mengingat kejadian semalam membuatku malu sendiri. Kenapa aku malah mengangguk. Aduh dasar Yuna. Kamu sudah gila hah?
Aku merasa benar-benar malu hingga aku tak mau berangkat bersama dengannya. Tapi apa daya dia suami yang harus dituruti selama tidak mengajak dalam keburukan. Tetap saja aku berangkat dengannya.
Suasana pagi ini begitu kikuk, hingga sepanjang perjalanan aku hanya diam. Tak butuh waktu lama mobil bang Yusuf sudah berada didepan kantor tempat kerjaku. Kusalami tangannya dan bergerak keluar. Saat sudah diluar mobil kubalikkan badan melambai pada mobil bang Yusuf. Eh
Entah kenapa rasanya tingkahku aneh hari ini, mungkin perasaanku saja.
"Pagi, Bu."sapa satpam yang bertugas
"Iya pagi juga pak,"
Aku berlalu masuk setelah menyapa satpam. Duduk di kursi kebanggaan mulai membuka komputer dan berkas, tak lama larut dalam pekerjaan seseorang menepuk punggungku. Aku menoleh karenanya
"Hy pengantin baru, cepet banget nyampe."ucapnya
"Maklum ini banyak kerja Sin"jawabku
"Idiihh. Sama juga kali, nih liat," sinta mengangkat dokumen di depannya, kira-kira ada 10 berkas.
"Hehe. Kasiann."
"Kasian apa bu, punya lu lebih banyak tuh. Haha." Aku pun ikut tertawa dengan Sinta.
"Udah ah lanjut kerja malah ketawa."
"Asyiiaaap. "kata Sinta dengan semangat seperti orang hormat bendera. Aku hanya geleng-geleng melihat tingkahnya.
Tak lama Winda datang menyapa seperlunya dan dia ikut larut dalam pekerjaan.
----
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru tadi Aku makan siang dengan Winda dan Sinta. Sekarang sudah waktunya jam pulang kerja.
Aku berjalan keluar kantor bersama Winda dan Sinta hanya sampai parkiran. Mereka sudah pulang dengan kendaraan masing-masing.
Aku duduk menunggu bang Yusuf dihalte bus didepan kantor. Satu notifikasi masuk diponselku
[Dek, Abang pulang agak telat dikit hari ini jadi mungkin 20 menit lagi sampe kesitu. Adek boleh pulang sendiri dulu atau tunggu disitu ya]
[Aku tunggu aja bang, nanggung naik angkutan umum].
[Baik, tunggu disitu]
[Aku tunggu di mini market dekat sini aja, ada yang mau aku beli disitu]
[Iya. Hati-hati]
Aku melihat kendaraan yang melintas dari arah kiri. Ingin menyebrang jalan menuju mini market disebrang.
Tak lama akhirnya Aku sampai disebrang. Memasuki mini market, cukup luas. Aku membeli perlengkapan yang biasa ku pakai seperti sabun mandi, shampo, body lotion dan yang lain.
Aku pun tak lupa aku juga membeli shampo khusus pria karena aku bukan sendiri sekarang.
Lama berkeliling sekitar 10 menit aku sampai ditempat cemilan, memilih cemilan yang cocok dengan lidahku. Lihatlah begitu banyak cemilan semoga saja aku tak gelap mata dan membeli semuanya.
Saat ingin mengambil satu cemilan agak tinggi tanganku terasa dicekal seseorang. Aku tak bisa melihat wajah si pemilik tangan karena memakai masker dan kaca mata. Sekali sentakan tangan itu terlepas.
"Yang sopan ya, jangan asal pegang tangan orang" Aku mendengar dia tertawa. Aneh sekali
"Yuna, Yuna. Kau sangat garang setelah menikah" Dia tertawa.
Deggg
"A-adrian"Pasti tak salah dia adrian.
"Iya tepat sekali sayang" Adrian mulai mendekat. Aku pun baru sadar ini rak paling pojok.
"Jangan mendekat" aku meraih sebuah kaleng biskuit yang cukup besar sebagai tameng agar dia tak makin dekat.
"Haha. Aku tidah takut sayang"
"Apa mau mu hah?"
"Aku?aku mau memilikimu sayang."
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu" Amarahku memuncak.
Kulempar kaleng biskuit tepat mengenai kepalanya. Dia agak limbung, kiraih satu lagi kaleng yang sama besar kulempar padanya lagi.
"Aww.. awas kau." Kulempar lagi satu kaleng terakhir padanya.
Kesempatan ini tak ku sia-siakan lagi aku berlari ke kasir membayar belanjaan tak lupa membayar lebih.
Dengan menenteng plastik belanjaan aku berlari keluar mini market. Jujur rasanya takut jika tertangkap oleh Adrian. Beruntung saat keluar Bang Yusuf sudah ada di depan mini market ini.
"Eh. Kenapa lari-lari gitu, nanti kalau jatuh gimana??" bicara bang Yusuf agak keras.
Tak kupeduli apapun lagi, aku berlari ke arah bang Yusuf dengan plastik belanjaan ditangan. Ku peluk dia cepat karena tak siap dia pun agak limbung. Aku ketakutan sekarang.
"Rindu ya, Abang tadi mau masuk kedalam, tapi duluan kamu yang keluar" Dia membalas pelukanku. Tak kudengar celotehnya. Aku ketakutan karena Adrian
"Udah ya, kita pulang. Malu diliat sama orang banyak disini" katanya pelan. Aku hanya mengangguk
Kulepas pelukan begitupun sebaliknya. Bang Yusuf mengandeng tanganku, sekilas ku lihat ke belakang. Ada Adrian, dia terlihat mengerikan.
Kami menyebrang jalan menuju mobil bang Yusuf yang sudah terparkir disana.
Apa ada kontak batin antara aku dan Bang Yusuf sampai kalau aku dalam keadaan genting dia selalu ada, bisa jadi kami kan suami istri.
Melepas satu tanganku dan mulai menghidupkan mobil dan menjalankan membelah jalanan. Jalanan cukup lenggang.
Mobil memasuki daerah rumah. Rumah ini memang tersedia garasi yang cukup luas, dulu hanya dipakai untuk menyimpan motor dan mobil bapak tapi sekarang mobil bang Yusuf pun bisa masuk.
"Belanjaanku tadi mana ya?"tanyaku
"Itu dikursi belakangmu dek"jawabnya
"Kok bisa disitu sih?"tanyaku lagi
"Kan abang yang taruh tadi"balasnya.
Oke benar-benar aku sekarang pelupa. Oke fine!!
Aku turun membawa belanjaan tapi dengan cepat direbut oleh Bang Yusuf. Apa-apaan dia ini. Setelahnya dia berlari menuju pintu dan membuka sepatunya cepat. Aku hanya mematung. Kenapa dengannya, seperti anak kecil??
Ku ucap salam rupanya semua berkumpul disini menonton acara televisi. Setelah menyalami bapak dan ibu aku naik ke atas berniat mandi dan istirahat.
Kubuka pintu kamar pelan hingga, apa ini belanjaanku berserakan. Haduuh malu-maluin, kan ada barang khusus wanita. Pasti bang Yusuf yang membongkarnya. Dia tak terlihat mungkin sedang mandi.
Ku absen satu persatu belanjaanku, hanya shampo dan sabun mandi cair yang tak ada. Yakin aku Bang Yusuf pelakunya. Menyebalkan....
Kayak gak pernah keramas aja sampe belanjaan jadi rebutan. Dasar
Kurebahkan diri menunggu giliran mandi, memoriku berputar kebeberapa menit yang lalu.
Kenapa Adrian masih mengejarku padahal Hana lebih segalanya dariku. Lebih tinggi, lebih pintar, pokoknya lebih lah dariku. Apa yang membuatnya selalu menerorku.
Jelas-jelas dia sudah mencintai Hana dengan melamar langsung, lalu apa yang dicari dariku.
Kalau pun Hana tau masa lalu kami berdua dia pasti akan sedih, apalagi kalau tau kalau adrian bukan orang baik pasti dia akan sangat terpukul.
Aku tau Hana pernah mencintai beberapa senior nya di kampus, tapi semua hanya memanfaatkan kecantikan dan kepintarannya. Bagaimana nanti jika Hana tau semua.
"Aahh..." Ku garuk kasar kepala frustasi karna mulai pusing memikirkan masalah ini. Rumiitt...
"Kamu kenapa dek?" Hampir saja aku meloncat dari tempat tidur. Dia benar-benar membuatku kaget.
"Hehe. Gak, cuma kerjaan tadi banyak banget dikantor"kilahku
"Oo. Oke. Abang ke mesjid dulu ya, 15 menit lagi waktu maghrib."ujarnya.
"Buruan mandi, atau mau abang mandiin hm?" lanjutnya lagi. Dengan nada mengancam
Tak butuh dua kali dia bicara, buru-buru ku ambil handuk masuk kedalam kamar mandi, tak lupa menguncinya. Khilaf sedikit bang Yusuf bisa masuk kedalam. Bahaya...
Kurang dari 10 menit aku selesai mandi. Aku lupa membawa baju ganti karena bang Yusuf, ini salahnya suka mengancam.
Aku tak masak hari ini, karena tadi memang pulang telat, mungkin saja ibu dan Hana sudah memasak.
Merebahkan diri sebentar, hari-hari seperti ini memang selalu melelahkan. Apa lagi tugas menjadi seorang istri menjadi dua kali lipat.
Dulu sebelum menikah aku biasa mencuci pakaian seminggu sekali, sekarang hampir tiap hari. Begitupun masak pagi, dulu aku hampir tak pernah masak sepagi itu, aku lebih memilih sarapan diluar.
Sungguh tak mudah menjadi seorang istri, belum lagi aku selalu nginap dirumah Ibu, pasti harus memberi uang belanja. Yang jelas sekarang aku harus mulai menabung, walau aku pun tau Bang Yusuf orang kaya, tapi tak salah kan sebagai simpanan.
Kutarik nafas panjang mengeluarkan secara perlahan. Mencoba menghilangkan sedikit beban. Melelahkan.
°°°°°°°°°°
Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, aku turun ke bawah ingin menyapa Ibu atau pun Hana. Mereka sedang duduk disofa sambil memakan cemilan yang ada dimeja.
"Ada apa nih, seru banget kayaknya"
"Yaiyalah kak, tadi itu aku dapet juara dikampus, juara 2 tapi."
"Waah. Beneran ini?"tanyaku antusias
"Iya, ada hadiah uang juga tadi sekitar 5 jt. Hitung-hitung bisa buat modal nikah. Boleh kan bu?"
"Boleh. Nanti ditambahin sama bapak. Ian tambahin juga loh."
"Aduuhh. Jadi mau cepat-cepat nikah"
"Aiishh. Tunggu sebulan lagilah"
"Hehe. Iya lupa kak "
'Andai mereka tau kebenarannya, mungkin tak akan sebahagia ini'
Kami larut dalam pembicaraan hanya tertuju pada Hana. Suara motor diluar memaksaku membuka pintu. Bang Yusuf dan Bapak sudah pulang. Kusalami kedua pria itu dengan takzim.
Setelah mereka masuk dan ikut duduk disofa yang sama.
"Abang mau minum apa?"
"Gak usah dek,"
"Bapak mau kopi, aku buatin ya?."
"Gak usah Yun, ayo kita makan aja dulu." Kami semua berkumpul dimeja makan, makan bersama dalam keheningan.
••••••••
Bolak balik diranjang, ntah kenapa aku sangat susah tidur akhir-akhir ini. Bang Yusuf sedang duduk dikursi pojokan dengan laptop dipangkuannya. Aku menggeram kesal, membuka selimut kasar dan berjalan kebawah mengambil air hangat. Semoga saja cepat tertidur.
Ternyata percuma sekarang badanku berkeringat karena minum air hangat. Ku basuh anggota tubuh atau berwudhu, biasanya ini cara ampuh membuat cepat tidur.
Aku frustasi kalau begini, mataku ingin tidur tapi tak bisa, kepalaku bisa sakit besok.
"Kenapa sih dek? Mondar-mandir mulu"
"Gak, gak kenapa-kenapa kok."Kubenamkan diri dalam selimut dan memeluk guling sekuat tenaga kucoba tidur.
Hatiku begitu jengkel sekarang, ada apa denganku.? Aku pun tak tau jawabannya. Padahal aku tak ada riwayat insomnia sebelumnya.
20 menit sudah pura-pura tidur tak ada perkembangan, jalan terakhir yang harus kulakukan adalah mandi.
"Mau kemana dek?" Kuraih handuk yang tergantung didekat lemari
"Mandi "jawabku ketus
"Ngapain mandi malam-malam gini"tanyanya
"Kepo"
"Sewot amat dek" untuk terakhir aku menoleh padanya dengan tatapan tajam
"Suka-suka dong"jawabku ketus. Maafkan aku , aku sedang kesal
Setelahnya aku benar-benar mandi dengan air hangat tentunya. Menyegarkan.
Aku masih menggunakan pakaian yang sama seperti yang tadi karena memang belum kotor.
Dengan cekatan aku kembali kekasur setelah menggantung handuk ditempatnya. Kubenamkan seluruh tubuh dalam selimut.
Entah apa yang dikerjakan, tumben sekali Bang Yusuf masih sibuk dengan laptopnya sampai jam segini.
"Belum tidur dek"tanyanya tiba-tiba.
"Belum" Dia menutup laptop, meletakkan di meja dekatnya.
Dia berjalan mendekatiku, kenapa ini ada yang salah denganku. Dia duduk tepat disampingku.
"Tidur terus besok kerja" aku mengangguk. Kupejamkan mata tak lupa selimut menutup hingga ke leher.
Sebenarnya aku takut sama Bang Yusuf sih
Tangannya mengusap kepalaku pelan. Sekilas ku dengar dia merapalkan do'a, aku pun tak pernah mendengarnya.
Kurang dari lima menit, aku merasa tak kuat menahan beban kantuk yang menyerang.
"Tidur yang nyenyak dek" Suara bang Yusuf pelan disusul sebuah kecupan dikening, setelah itu aku tak sadar lagi.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hola ini part pualing panjang guys, moga suka,
Sedikit ngerupi nih, kayaknya Yuna mulai ketergantungan deh sama Yusuf, sampe tidur aja harus ada Yusuf disampingnya.
tapi tenang Author gak baper kok, Author cuma gak bisa tidur tanpa bantal. wkwkwk
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati