Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05 Akhirnya Liburr
Dayang Ra dan Dayang Ya sedang dalam perjalanan menuju kekamar Maharani Agung. Ini adalah rutinitas mereka untuk membangunkan dan membantu Maharani Agung bersiap-siap.
Krieett...
"Maharani Agung, kami izin masuk." Dayang Ra masuk secara perlahan diikuti Dayang Ya.
Mereka melihat Da Xie yang masih berbaring ditempat tidurnya, dengan posisi tengkurap. Akhirnya mereka mendekat kearah Da Xie dan menggoyangkan badan wanita itu dengan pelan untuk membangunkannya.
"Maharani Agung. Sudah waktunya bekerja." Dayang Ya berbisik lembut.
Namun respons dari Da Xie malah membuat mereka berdua kebingungan. "Aku tidak mau... Tidak mau bekerjaaaaaa." Rengek Da Xie tiba-tiba membuat kedua dayang saling bertatapan dengan bingung.
"Ada apa Maharani Agung? Kenapa anda tidak mau bekerja? Ini adalah kewajiban anda." Dayang Ra bertanya dengan hati-hati.
Akhirnya Da Xie mendongak dan memperlihatkan wajahnya. Kedua Dayang itu sontak berteriak dan menutup mata mereka masing-masing, "Kyaaa!!!"
Wajah Da Xie sekarang benar-benar mirip seperti zombie. Pucat dan lesu, serta kantung mata hitam yang sudah menyebar sangat luas seperti sebuah tumor.
Tentu saja dua Dayang benar-benar kaget, siapa sih yang tidak kaget melihat penampakan seperti ini? Untung saja ini Maharani Agung mereka, kalau orang lain, bisa-bisa sudah mereka panggil pengusir setan.
"M–Maaf Maharani Agung, saya terlalu terkejut sampai berbuat seperti ini." Dayang Ya membungkuk setelah melihat raut wajah kesal Da Xie yang tambah membuatnya jadi jelek.
"H–Hah? Saya juga minta maaf." Dayang Ra ikut membungkuk.
Da Xie hanya mengibaskan tangannya tanda ia tidak peduli. Lagipula dirinya sudah tahu kalau penampilan-nya seperti gembel gorong-gorong, jadi wajar saja mereka takut. Asal kalian tahu saja, penampilan Desi dikehidupan sebelumnya bahkan jauh lebih buruk daripada ini.
Da Xie kembali tidur tengkurap. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal dihadapannya.
Dua Dayang saling berpandangan, tidak tahu harus berbuat apa. Tugas Maharani Agung tidak bisa diabaikan begitu saja, namun melihat sang Maharani yang begitu 5L (Lelah, Letih, Lesu, Lunglai, Lemes) mereka jadi tak tega untuk mengganggu istirahat-nya.
Akhirnya Dayang Ya mempunyai sebuah ide, "Maharani Agung, Karena anda begitu kecapekan, bagaimana kalau anda berlibur saja? Mungkin berkeliling disekitar kekaisaran bisa membuat hati dan pikiran anda menjadi jernih."
Da Xie Menoleh kearah Dayang Ya. "Berlibur? Memangnya boleh?"
"Boleh saja, anda bisa bilang kalau ini adalah untuk observasi kondisi rakyat. Tentu saja tak ada yang bisa mencegah hal itu." Jelas Dayang Ya.
"Itu ide yang brilian!! Kau benar-benar sangat berguna Dayang Ra!" Teriak Da Xie senang atas saran tersebut.
Dayang Ya terlihat menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Tapi nama saya adalah Dayang Ya. Dia yang Dayang Ra." Dayang Ya menunjuk kearah Dayang Ra disampingnya.
"Meskipun kami kembar. Tapi kami punya perbedaan mendasar, Maharani Agung." Jelas Dayang Ra.
"Ya, Saya pintar dan dia cerewet." Dayang Ya berkata sembari menyeringai.
"Aku tidak cerewet!!"
...****************...
Disalah satu lorong paviliun, terlihat Adipati Yan sedang membawa tumpukan berkas. Ia sedang berjalan menuju keruang kerjanya sebelum akhirnya seseorang memanggilnya dari belakang.
"Adipati Yan!" Teriak seorang pria dari arah belakang Adipati Yan.
Adipati Yan menoleh dan mendapati seorang pria berusia paruh baya mendekatinya. Dia mempunyai janggut yang panjang dengan pakaian khas era zaman kuno berwarna abu-abu.
"Ada apa menteri Song?" Tanya Adipati Yan kepada pria tersebut.
Sang pria –Menteri song, tanpa basa-basi langsung mengungkapkan keluh kesahnya kepada Adipati Yan. "Adipati Yan, aku sudah melakukan apa yang kau suruh. Tetapi ini tetap membuatku bingung."
"Memangnya apa yang membuatmu bingung, Menteri Song?"
"Mengenai penurunan harga batu bara. Aku sudah melakukannya, dan batu bara kita dengan cepat hampir terjual seluruhnya. Tapi bukankah ini buruk? Pasokan batu bara kita tinggal sedikit. Dan kalau sampai habis, maka apalagi yang bisa kita ekspor ke negeri tetangga?" Jelas Menteri Song.
Menteri Song adalah Menteri yang mengurusi bagian ekspor dan impor produk dari dan ke kekaisaran tetangga. Dan perintah Adipati Song yang menyuruhnya untuk mengurangi harga baru bara sungguh tidak masuk akal baginya.
"Lalu, mengenai harga batu bara yang murah, itu sangat merugikan! Keuntungan yang seharusnya bisa sangat tinggi, kini kita hanya mendapatkan keuntungan pas-pasan dari apa yang kuta rencanakan di awal." Lanjut Menteri Song.
Adipati Yan terlihat memikirkan ucapan Menteri Song. Ia lalu mengangkat bahu dan berkata, "Ini adalah keputusan dari Maharani Agung sendiri. Bila Menteri Song ingin mengajukan komplain. Silahkan berkata kepada Maharani Agung. Walau, saya juga agak mempertanyakan keputusan Maharani Agung ini."
Adipati Yan kemudian berjalan pergi dari sana. Ia masih mempunyai banyak urusan yang harus dikerjakan bukan hanya meladeni komplain Menteri Song.
...****************...
"Begini ya rasanya berlibur."
Sebuah tandu besar dibopong oleh empat orang pengawal ditengah ibukota kekaisaran. Didalamnya terdapat Da Xie yang sedang mengintip keluar dan menikmati hembusan angin yang lembut.
Para rakyat biasa terlihat bertanya-tanya mengapa tandu itu bisa berada disini. Mereka mendekat membuat Da Xie bisa mendengar hiruk pikuk diluar.
"Hm... Meskipun agak berlebihan jika harus menggunakan tandu besar seperti ini. Tapi it's okay, yang penting aku tidak perlu mengerjakan dokumen menumpuk diruang kerja memuakkan itu." Ucap Da Xie senang.
Da Xie mengangkat kakinya keatas kursi. Sebagian roknya tersingkap sehingga paha mulu Da Xie kelihatan.
Beruntungnya tandu ini mempunyai kain penutup yang tebal. Jika tidak, maka rakyat kekaisaran akan terkejut setengah mati melihat perilaku tidak sopan Maharani Agung mereka.
Bruk!
Tiba-tiba posisi tandu menjadi miring ke-depan. Da Xie yang berada didalam tandu otomatis terjengkang dan tubuhnya menabrak bagian depan tandu secara kasar.
"Aduh!" Da Xie meringis karena hidungnya yang imoets menabrak tembok.
"Maafkan kami Maharani Agung." Seseorang dari luar tandu berbicara kepada Da Xie. Tandu kemudian diturunkan kebawah.
Da Xie membuka kain penutup tandu, hendak menanyakan apa yang terjadi. "Ada apa ini?"
Tidak ada satupun orang yang menjawab pertanyaannya. Akhirnya Da Xie memutuskan untuk turun dari tandu dan mencari tahu sendiri.
Ketika dirinya turun, semua rakyat biasa segera memberi jalan. Tentu saja mereka tahu kalau orang dihadapannya ini adalah Maharani Agung mereka, pakaian-nya saja sudah sangat jauh berbeda dari pakaian yang mereka kenakan.
"Ada apa ini?" Setelah menemukan salah seorang pengawal yang tadi mengangkat tandu, Da Xie segera menanyai keadaannya.
"Ah, Maharani Agung. Maafkan kami karena menurunkan anda tiba-tiba. Tetapi, pengawal didepan yang mengangkat tandu bertabrakan dengan seorang pemuda. Membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh." Jelas pengawal tersebut.
Seorang pemuda menabrak pengawal yang membawa tandu Maharani Agung. Bukankah itu adalah kejahatan yang cukup serius? Da Xie segera menuju ketempat dimana pemuda itu berada. Jiwa kepo-nya meraung-raung ingin melihat apa yang terjadi.
Begitu sampai, Da Xie melihat seorang pemuda yang mengenakan jubah kumuh duduk meringkuk dihadapannya. Ia sepertinya sedang dimarahi habis-habisan oleh pengawal yang mengangkat tandu Da Xie.
Tetapi, bukannya mendengarkan ceramahan pengawal, Pemuda itu malah menatap kearah Da Xie. Mata mereka berdua bertemu. Da Xie bisa melihat kalau pemuda itu mempunyai mata putih seperti seseorang yang buta.
Namun entah mengapa, Da Xie merasa kalau pemuda itu agak, "Cantik..."
Pemuda itu tiba-tiba berdiri. Ia melangkah mendekat kearah Da Xie membuat wanita itu terkejut.
"E–Eh..." Tangan kotor pemuda itu menggenggam tangan Da Xie dengan erat. Surai hitamnya bergerak mengikuti arah angin.
"Tolong bawa aku. Aku akan menjadi berguna." Lirih pemuda itu yang hanya bisa didengar oleh Da Xie.
Da Xie kebingungan, ia tidak tahu harus berkata apa. Selama kurang lebih 1 menit Da Xie hanya bisa diam saja sampai seorang pengawal menarik mundur sang pemuda dari Da Xie.
"Beraninya kau menyentuh Maharani Agung dengan tangan kotormu!" Pengawal itu menarik sang pemuda menjauh.
Seorang tante-tante gendut muncul. Dengan riasan diwajahnya yang seperti badut, ia berlari kecil kearah sang pemuda membuat perut buncitnya bergerak naik turun.
Entah mengapa, ketika melihat wanita itu, Da Xie bisa mendengar sound effect boing boing dari gerakan perut buncitnya.
"Maharani Agung! Astaga maafkan saya! Budak ini melarikan diri dari rumah bordil saya. Saya akan memastikan kalau dia mendapatkan hukuman atas perilaku-nya."
Tante-tante gemoy itu mencengkeram lengan pemuda itu dengan erat. Mereka lalu berbalik hendak pergi.
Sebelum mereka benar-benar pergi, Da Xie mengambil satu langkah kedepan dan memegang satu tangan sang pemuda yang bebas.
"Tunggu, sebutkan namamu..."