Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.Kalian Sampah
Malam nya, Adrian dengan ragu pergi ke rumah Khalisa. Khalisa hanya hidup seorang diri, rumah terlihat sepi dan pria itu sedikit ragu untuk mengetuk pintu. Celingukan sebentar untuk memastikan ada orang apa tidak dan tiba-tiba Adrian mendengar suara deheman seseorang dari belakang.
"Mau apa kau di rumah ku?" tanya Khalisa ketus.
Adrian tersentak kaget, lalu membalikan tubuh nya. "Khalisa, aku datang ke sini untuk...."
"Untuk apa? menghina ku?" potong Khalisa.
"Tidak, tidak begitu maksud ku. Aku hanya ingin bilang jika coffe shop mu sudah di perbaiki."
"Oh...!" Khalisa berseloroh. "Pulanglah! mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." ucap Khalisa. Entah kenapa ada rasa sakit di hati Adrian saat Khalisa meminta nya untuk tidak saling mengenal. "Pergilah! aku muak melihat mu!" ujar Khalisa kemudian berlalu masuk ke dalam rumah nya.
Adrian terpaku melihat pintu yang baru saja tertutup itu, lamunannya buyar saat bunyi rintik hujan mulai turun. Adrian bergegas kembali ke mobil nya dan langsung pulang.
Pagi sekali, Khalisa pergi ke tempat usaha nya dan tak lama di susul oleh David. Ya, tempat itu sudah kembali seperti semula bahkan jauh lebih bagus lagi.
"Adrian datang ke rumah ku tadi malam." ujar Khalisa yang baru menyandarkan tubuh nya.
"Mau apa dia?"
"Hanya sekedar mengatakan jika tempat ini sudah di perbaiki."
"Lalu?"
"Lalu aku mengusir nya. Aku sangat membenci nya." ujar Khalisa.
"Jangan bilang benci, kau tahu sendiri kan jika benci dan cinta adalah teman yang nyata." balas David.
"Kau! kenapa kau tidak bekerja?" tanya Khalisa mengalihkan pembicaraan.
"Kau ini amnesia atau apa? hari ini kan akhir pekan."
"Astaga! aku lupa." ujar Khalisa lalu mereka tertawa.
"Hari ini aku akan membantu mu, tapi jangan lupa beri aku gaji." ujar David dan di iyakan oleh Khalisa.
Matahari semakin naik, pengunjung mulai antri menunggu pesanan mereka. Apa lagi penjual nya cantik dan tampan, membuat semua orang rela mengantri.
Dari seberang jalan, Adrian memandang ke arah coffe shop yang berukuran tak terlalu luas itu. Ada kecemburuan saat melihat David bersama dengan Khalisa.
Takut di ketahui, Adrian kembali melajukan mobil nya untuk menjemput Luna.
Menjelang sore, pengunjung samakin ramai. David nampak kagum melihat wanita yang tak sedikit pun mengeluh dengan rasa lelah nya.
Pukul delapan malam, meski masih ramai namun Khalisa memilih menutup kedai nya.
David dan Khalisa kemudian pergi ke tempat makan karena malam ini Khalisa akan mentraktir David sesuai janji nya.
Malam ini malam minggu, David mengajak Khalisa ke sebuah restoran ternama yang ada di kota itu. Khalisa awal nya menolak namun David memaksa.
"Kita bahkan belum mandi." gerutu Khalisa.
"Udah gak papa, cantik mah bebas." seloroh David membuat Khalisa tertawa.
Mereka duduk di meja yang sudah di pesan David sedari siang. Hidangan mewah sudah terpampang nyata di depan Khalisa.
"Aku mulai lapar." ujar Khalisa melihat makanan.
"Ayo makan, aku juga lapar." ajak David.
Namun baru saja mereka melahap satu sendok makanan, suara perempuan sedikit menghina terdengar jelas di telinga Khalisa.
"Wah, mantan perawat bisa juga makan di restoran mewah!" ledek Luna.
Khalisa mengepal sendok yang ada di tangan nya, ia semakin terlihat emosi saat Adrian diam begitu saja.
"Makanlah, jangan hiraukan nyamuk nakal." ujar David.
"Luna diam lah, jangan membuat keributan " tegur Adrian berbisik.
"Aku hanya ingin melihat apa perawat mu ini mampu membayar makanan ini, secara dia kan orang miskin."
Habis sudah kesabaran Khalisa, ia mengambil jus lalu menyiramkan nya ke wajah Luna. Luna berteriak histeris.
"Adrian, bukankan sudah ku bilang jangan pernah menganggu ku dan aku sudah meminta mu untuk kita tidak saling mengenal!" ujar Khalisa dengan nada tinggi nya hingga membuat mereka jadi sorotan oara pengunjung. "Dan kau Luna, entah apa salah ku pada mu aku tidak tahu. Tapi berhenti mengganggu ku!"
"Dia hanya cemburu pada mu." ucap David yang masih santai dengan duduk nya.
"Kalian berdua sampah!" ujar Khalisa kemudian pergi begitu saja. Jelas David mengejar nya.
Begitu juga dengan Adrian, ia yang terlihat malu langsung meninggalkan Luna begitu saja.
"Lisa, apa kau baik-baik saja?" tanya David.
"Aku hanya bingung, kenapa nenek peyot itu terus mengusik ku?"
"Dia hanya iri melihat mu, secara om Surya lebih sayang pada mu dari pada dia calon menantu nya. Kau lihat saja, jika om Surya mengetahui semua ini beliau tidak akan tinggal diam."
"Lagian kenapa sih pak Surya mengizinkan Adrian menikah dengan nenek peyot itu?"
"Om Surya hanya ingin memberi Adrian pelajaran."
Reda, emosi Khalisa sudah reda. Kemudian David mengantar Khalisa pulang karena hari mulai larut malam.
Khalisa menyegarkan tubuh nya, kemudian memasak mi instan untuk mengganjal perut nya. "Gara-gara tokek itu aku jadi melewatkan makanan enak itu hiks...hiks..." ujar Khalisa laku memakan mi nya.