Area Dewasa
Sebagai putri kesayangan dari pengusaha kaya keluarga Alexander membuat hidup Sea Caroline Alexander menjadi begitu bebas dan liar. Tidak ada yang berani melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Karena kebebasan itu membuat Sea menjadi wanita nakal dan mesum. Setiap hari pekerjaannya hanya ke kampus dan bersenang-senang bersama sahabat prianya, seperti balapan liar dan club malam.
Melihat kebebasan Sea, membuat Jhon berinisiatif untuk menikahkan putrinya dengan anak sahabat lamanya, Seorang presedir tampan namun sangat polos.
Sea menolak keras pernikahan itu. Dia tidak suka dengan pria polos. Walaupun begitu Jhon tetap melangsungkan pernikahan itu.
Bagaimana dengan nasib pernikahan Sea? Akankah Sea akan mencintai presedir polos itu? Atau maukah suaminya menerima keadaan Sea sebagai wanita nakal dan liar?
.
.
.
Akan banyak kata-kata vulgar serta beberapa adegan dewasa dalam cerita ini. Bijaklah dalam membaca!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EbieMai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Makan Siang
Dengan bergandengan tangan, Gava dan Sea masuk ke salah satu restoran Jepang yang ada di Jakarta. Sea meminta kepada Gava agar mereka makan siang di restoran Jepang saja. Sea sudah lama tidak mencicipi makanan Jepang dan juga rindu dengan makanan Jepang.
Makanan Jepang salah satu makanan kesukaan Sea. Selain enak, Sea menyukai makanan ini karena ia merupakan darah campuran Jepang. Ibu dari bunda Clara atau yang sering Sea panggil dengan sebutan Oma Xin merupakan orang Jepang asli. Jadi wajar saja kalau makanan Jepang termasuk kedalam salah satu makanan favoritnya.
Pelayan menyajikan di atas meja beberapa makanan yang telah di pesan Sea. Setelah selesai pelayan tersebut pergi meninggalkan patsuri itu.
Tanpa rasa malu dan gengsi, Sea langsung melahap makanan yang sudah menggiurkan lidah. Makan dengan lahap tanpa memperdulikan Gava yang masih bengong melihat istrinya memakan daging yang masih mentah. Gava mau muntah melihatnya, pria itu merasa jijik dengan makanan mentah yang tidak di masak seperti itu. Gava memang tidak tahu dengan makanan Jepang, jangankan memakannya, melihatnya saja Gava tidak pernah dan baru kali ini pria itu melihat langsung bentuk dan sajian makanan Jepang dan ia juga baru tahu.
"Dagingnya masih mentah, apa kamu tidak jijik memakannya?" Sea memberhentikan acara makannya. Ia melihat suaminya yang tidak menyentuh makanan itu sama sekali.
"Mengapa tidak makan? Apa kamu tidak lapar?" Bukannya menjawab Sea malah menanya balik sehingga membuat pria yang di hadapannya itu kesal.
"Gava lapar, tapi Gava tidak suka memakan daging mentah seperti itu. Lebih baik Gava menahan lapar daripada harus makan daging mentah, itu sangat menjijikan."
"Makanan Jepang memang seperti ini. Apa kamu tidak tahu?"
"Tidak."
Pantas saja norak. Selain polos lu juga jadul.
"Tidak baik menahan lapar, sayang. Tidak bagus untuk kesehatan." Sea yang mencoba membujuk suaminya agar mau makan.
"Tidak baik lagi jika makan daging mentah seperti itu."
Huh pintar sekali menjawab. Suka mu saja suami polos ku yang manja dan super cengeng.
"Tapi ini enak loh, Kamu cobain deh."
"Gava tidak suka, Sea gak pengertian banget sih." Ucapnya cemberut. Mukanya sudah di ketuk lecek seperti koran bekas.
Sea hembusankan nafas mencoba lebih bersabar lagi menghadapi suami manjanya, " Yaudah maaf. Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan lagi."
"Terserah." Salah satu kata yang sedari dulu tidak pernah Sea pahami maksud dari kata TER-SE-RAH.
Sea membolak-balik buku menu, mencari makanan yang cocok dengan selera suaminya yang tidak mentah dan harus benar-benar matang. Cukup sulit mendapatkan makanan seperti di inginkan suaminya di restoran Jepang seperti ini, apalagi di restoran Jepang rata-rata makanannya pada mentah atau hanya setengah matang. Cukup jarang menemukan daging yang benar-benar matang.
Sea menutup buku menu, meninggalkan kepalanya menatap palayan yang sedang melayani mereka. "Apa di restoran ini ada steak?"
"Saya gak suka steak." Gava terlebih angkat suara sebelum pelayan itu menjawab pertanyaan Sea.
"Ya terus kamu maunya apa?"
"Terserah."
Satu kata itu lebih menyeramkan daripada Suzanna.
Sudah tidak tahan. Satu tangan Sea seudah mengepal, ia sembunyikan di bawah meja, "Kita pindah restoran aja."
"Tidak mau. Jam istirahat kantor akan segera berakhir, bila pindah restoran Gava tidak sempat lagi untuk makan siang." Gava mengundurkan kepalanya kebelakang, menyadar malas di sandaran sofa. Ia juga melipat kedua tangannya di depan dada yang menjadi ciri khas Gava bila sudah ngambek.
"Kamu kan Bosnya. Bisa suka-suka kamu dong."
"Karena Gava Bosnya, jadi Gava harus memberikan contoh yang baik untuk semua para karyawan ku."
Cih
Otak Sea berpikir keras, mengingat-ingat kembali makanan yang sering di makan oleh suaminya itu, sehingga terlintas salah satu makanan.
"Nasi goreng lengkap dengan berbagai potongan sayuran serta cincangan daging dan udang dan tidak pedas." Ucapnya pada pelayan.
Pelayan itu mau protes bahwa restoran mereka tidak menyediakan nasi gorong, namun dengan cepat Sea buka suara kembali, " Saya akan membayar 7 kali lipat." Biarlah Sea kehilangan banyak uang supaya drama makan siang ini cepat berakhir. Sea sudah tidak tahan lagi, ia ingin cepat-cepat melampiaskan seluruh emosinya yang tertahan sedari tadi.
Begituyan itu dengan cepat pergi ke dapur meminta para koki untuk memasak makanan seperti yang di ucapkan Sea. Awalnya para koki menolak karena itu bukan termasuk dalam daftar sajian, namun pelayan itu menjelaskan bahwa orang yang memesan makanan itu akan membayarnya 7 kali lipat.
Gava terkejut mendengar ucapan Sea, hanya untuk sepiring nasi goreng rela membayar sampai harga 7 kali lipat. "Gava tidak bilang mau makan nasi goreng." Ketusnya. Gava masih dalam keadaan ngambek.
"Hanya nasi goreng yang terlintas di otak ku." Ucap jujur Sea. "Kamu harus makan sayang, aku tidak mau kamu sakit." Dengan tersenyum anggun lengkap dengan elusan di kepala mampu membuat Gava merubah ekspresinya karena mendapat perlakuan lembut dan anggun dari sang istri.
Kalau lu sakit, gua juga yang repot.
Gava menyandarkan kepalanya di bahu Sea dengan gaya manja ciri khasnya. Memainkan rambut ikal Sea dengan jari telunjuknya, "Apa kamu begitu mengkhawatirkan ku.?" Ucapnya.
"Iya, aku mengkhawatirkan mu." Ucap Sea yang masih mengelus kepala Gava. Wanita itu mendaratkan beberapa kecupan di pipi Gava. Muach! Muach! Pria itu langsung berubah sumringah, semburat merah sudah muncul di pipinya. Seperti ada sejuta kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Gava sangat bahagia.
Tidak lama kemudian pesanan Sea telah datang, "Kamu makan yah."
Gava menggeleng, " Saya tidak akan makan, jika kamu tidak menyuapi ku."
Oke fiks, lebih baik mengalah dan menuruti kemauan pria manja itu. "Aaaaa...." Sea menganga supaya Gava membuka mulutnya. Menyuapi Gava seperti anak balita.
Anggap saja lu sedang latihan menjadi seorang ibu, Sea.
Sea terus menyuapi suami manjanya dengan pelan dan hati-hati. Menunggu makanan habis baru menyuapi lagi. Mengelap sudut bibir Gava dengan tisu ketika makanan itu telah habis tanpa sisa. Gava merasa salting, ia terpana dengan sikap lembut yang di berikan istrinya. Tidak menyangkah istrinya yang nakal dan mesum itu bisa juga bersikap lembut seperti itu.
Tanpa mereka sadari adegan itu mengundang tatapan dari para pengunjung restoran Jepang itu. Mereka pada iri melihat pandangan romantis Gava dan Sea lakukan. Ada juga beberapa pengunjung mengejek tingkah Gava yang sangat manja.
Setelah selesai menyuapi Gava, sekarang giliran Sea untuk melanjutkan makannya yang tertunda. Perut Sea masih terasa lapar, apalagi tenaganya telah terkuras karena harus menahan emosi menghadapi tingkah menyebalkan dari suaminya.
Awas aja lu kembali ganggu acar makan gue. Gue pastikan nasib lu seperti daging mentah ini.
tapi endingnya sad😭