NovelToon NovelToon
Dari Terpaksa Jadi Cinta

Dari Terpaksa Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romantis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amillea24

"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."

Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Menempuh perjalanan 30 menit lamanya. Akhirnya Gavun sampai juga di Sekolah Children Smart School. Ia buru - buru keluar dari dalam mobilnya lalu berlari masuk kedalam sekolah.

"Permisi Mba. Saya mau bertanya." Ucap Gavin pada staff sekolah tersebut dengan sopan.

"Iya, pak. Mau tanya apa ?" Jawab Staff tersebut dengan ramah.

" Aruna nya ada ? Maksudnya Guru Aruna nya ada ?" Tanya Gavin dengan tidak sabaran.

" Oh Miss Aruna ? "

"Iya. Apa dia ada di dalam sekarang ?"

"Maaf Pak, Miss Aruna sedang ada kegiatan pembelajaran ke luar bersama anak-anak. Hari ini seluruh rombongan kelas TK A dan TK B sedang agenda study tour ke museum bersama guru - guru yang lain,"

Gavin yang berdiri tegak dengan napas sedikit memburu langsung terpaku. Kalimat staff sekolah itu laksana hantaman godam yang mendarat telak di dadanya. Sepanjang perjalanan membelah kemacetan pagi dari apartemen, kepalanya dipenuhi skenario konfrontasi, penjelasan, bahkan skenario terburuk jika ia harus berlutut meminta maaf di koridor sekola. Namun, kenyataan bahwa Aruna tidak berada di tempat justru membuatnya merasa benar-benar kehilangan arah.

"Study Tour?" Gavin mengulangi kata itu dengan dahi berkerut dalam, mencoba mencerna informasi yang terasa begitu mendadak baginya. "Ke museum mana, Bu? Dan... bagaimana dengan Kenzie? Keponakan saya yang di kelas batita?"

Petugas administrasi itu tersenyum ramah, mengetikkan sesuatu di komputer lobi sebelum kembali menatap Gavin. "Kebetulan Miss Aruna juga membawa Kenzie ikut serta agenda study tour, Pak. Karena hari ini kelas daycare memang sedang diliburkan sebagian karena mayoritas guru pendampingnya membantu untuk menjaga anak-anak selama study tour berlangsung. Miss Aruna bilang, daripada Kenzie tidak ada yang menjaga, lebih baik diajak sekalian biar bisa ikut jalan - jalan."

Gavin mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menyembunyikan getaran amarah dan kekecewaan yang mendadak membakar dadanya. "Kenapa saya tidak diberi tahu soal agenda ini?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Wah, kalau itu saya kurang tahu, Pak Gavin. Biasanya surat edaran sudah dibagikan sejak satu minggu yang lalu melalui grup orang tua murid," jawab petugas itu sopan.

Gavin menelan ludah. Pahit. Grup orang tua murid? Aruna yang memegang kendali penuh atas semua informasi sekolah Kenzie. Itu semua atas permintaan Gavin sendiri. Ia menyuruh Aruna masuk kedalam grup kelas Kenzie. Karena di dalam grup itu kebanyakan ibu - ibu. Gavin tak mau masuk kedalam grup tersebut, takutnya banyak ibu - ibu rempong di dalamnya.

"Baik, terima kasih, Bu," ucap Gavin ketus.

Ia membalikkan badan dengan gerakan kaku, melangkah lebar-lebar meninggalkan area lobi sekolah. Begitu pintu kaca menutup di belakangnya, Gavin menggeram rendah, memukul setir mobilnya dengan keras setelah ia masuk ke dalam kabin kemudi.

“Sialan!” umpatnya dalam hati.

Rasa dongkol, panik, dan frustrasi bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang bergemuruh di dalam kepalanya. Aruna benar-benar mengibarkan bendera perang yang sesungguhnya. Gadis itu lebih memilih repot menggendong batita berusia satu setengah tahun di tengah keramaian museum daripada harus menatap mukanya atau meminta bantuannya untuk menjaga Kenzie.

Dengan perasaan yang hancur berantakan dan rahang yang mengeras menahan emosi, Gavin menyalakan mesin mobil. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraannya membelah jalanan kota menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa melarikan diri dari rasa frustrasi ini: Kantor Aditama Group.

---

Pukul 10.00 WIB

Suasana di lantai teratas gedung Aditama Group mendadak mencekam. Seluruh staf di divisi eksekutif berjalan dengan langkah berjingkat, seolah-olah lantai yang mereka pijak terbuat dari kaca tipis yang siap pecah kapan saja. Penyebabnya hanya satu: sang CEO baru, Gavin Aditama, sedang dalam mode monster.

Sejak menginjakkan kaki di kantor pukul sembilan pagi tadi, aura sedingin es dan tegang memancar kuat dari tubuh pria itu. Tidak ada lagi senyum ramah atau sapaan santai yang biasa ia tunjukkan pada staf lobi.

Brak!

Gavin melemparkan sebuah berkas laporan operasional ke atas meja jati besarnya, membuat Tian yang berdiri di hadapannya refleks menegakkan posisi berdiri.

"Laporan macam apa ini, Tian?! Kenapa draf revisi anggaran dari tim operasional wilayah barat belum juga sinkron dengan data audit internal? Suruh kepala divisinya menghadap saya sepuluh menit lagi! Kalau tidak bisa kerja, silakan angkat kaki dari gedung ini!" bentak Gavin, suaranya menggelegar memenuhi ruangan yang kedap suara itu.

"Baik, Pak. Segera saya panggilkan," jawab Tian dengan tenang, meski dalam hati ia terus menerka-nerka apa yang membuat bos mudanya ini bertingkah seperti singa kelaparan sejak pagi.

Gavin menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran dengan kasar. Ia melonggarkan dasinya yang terasa semakin mencekik leher. Tangannya bergerak meraih ponsel di atas meja untuk kesekian kalinya dalam satu jam terakhir. Layar benda pipih itu tetap sama: tidak ada notifikasi, tidak ada pesan masuk, dan panggilan teleponnya ke nomor Aruna masih tetap dialihkan secara sepihak.

"Kenapa kamu diam begini sih, Ru? Sial!" gumam Gavin frustrasi, melempar kembali ponselnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras.

Pikiran Gavin benar-benar tidak bisa fokus. Setiap kali ia mencoba membaca draf kontrak atau menganalisis pergerakan saham perusahaan, wajah Aruna yang menatapnya dingin di meja makan atau bayangan Kenzie yang menangis ketakutan seminggu lalu langsung berkelebat di benaknya. Ditambah lagi, fakta bahwa mereka sekarang sedang berada di luar sana, di tempat umum yang ramai, tanpa pengawasannya.

Bagaimana kalau Kenzie rewel? Bagaimana kalau Aruna kewalahan mengurus anak sekecil itu sendirian sambil harus mengawasi puluhan murid anak - anak TK yang aktif?

Pintu ruang kerja kembali diketuk, dan Tian masuk dengan wajah yang sedikit lebih serius dari biasanya. "Pak Gavin, perwakilan dari divisi hukum sudah siap untuk membahas sengketa tanah proyek Kalimantan. Tapi, ada satu hal lagi..." Tian menggantung kalimatnya, ragu-ragu.

"Apa lagi, Tian?! Langsung bicarakan, jangan setengah-setengah!" sergah Gavin dengan nada meninggi, emosinya yang belum stabil membuat kesabarannya menipis.

Tian menghela napas, melangkah mendekat dan meletakkan sebuah foto hasil cetakan kamera pengawas rahasia yang dipasang di sekitar area parkir gedung direksi. "Orang-orang kita di lapangan melaporkan bahwa sejak kemarin sore, ada sebuah mobil minibus hitam yang tidak dikenal beberapa kali terlihat mondar-mandir di sekitar apartemen Anda, Pak. Dan pagi ini, mobil yang sama terlihat melintas di dekat sekolah Children Smart School."

Deg.

Darah Gavin seolah berhenti mengalir seketika. Gurat kemarahan di wajahnya mendadak lenyap, digantikan oleh ketegangan yang luar biasa mengerikan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Mobil hitam?" tanya Gavin, suaranya mendadak merendah namun sarat akan ancaman yang mematikan.

"Benar, Pak. Kami sedang melacak nomor pelat kendaraannya, tapi indikasi awal menunjukkan bahwa pelat tersebut palsu. Saya khawatir... pergerakan Anda dalam merombak jajaran direksi dan menyelidiki pemalsuan tanda tangan almarhum Pak Rendy sudah mulai memicu reaksi dari pihak lawan. Mereka mungkin sedang mencari celah, Pak," jelas Tian dengan raut wajah waspada.

Gavin berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar hingga kursi jati itu bergeser ke belakang. Matanya menatap tajam ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan lanskap kota Jakarta dari ketinggian. Rasa dongkol karena didiamkan oleh Aruna kini mendadak berubah menjadi rasa takut yang amat sangat—takut akan keselamatan istri dan keponakan kecilnya.

Aruna berada di luar bersama Kenzie hari ini. Di tempat umum yang terbuka. Tanpa ada satu pun orang dewasa dari pihak keluarga yang mendampingi atau melindunginya. Dan parahnya lagi, Aruna sengaja mematikan komunikasi dengannya.

"Tian, batalkan semua rapat setelah jam makan siang!" perintah Gavin tegas, suaranya bergetar menahan ketegangan yang membuncah. "Saya tidak peduli soal sengketa Kalimantan atau apa pun itu untuk saat ini. Suruh tim keamanan internal untuk melacak lokasi tepatnya rombongan Study tour Children Smart School berada sekarang juga! Saya mau datanya siap dalam waktu tiga puluh menit!"

"Baik, Pak. Saya laksanakan sekarang," sahut Tian, segera berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah cepat.

Gavin mencengkeram tepi meja kerjanya hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul ke permukaan. Matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya. “Bramantyo, atau siapa pun kamu di balik semua ini... kalau sampai kamu berani menyentuh seujung kuku pun dari Aruna dan Kenzie, saya pastikan kamj gak akan pernah punya kesempatan untuk melihat hari esok,” batin Gavin bersumpah, siap melumat siapa saja yang berani mengusik benteng pertahanan terakhirnya.

---

Di Waktu yang Sama, di Museum Nasional

Berbeda terbalik dengan atmosfer mencekam dan penuh intrik yang sedang melanda Gavin di kantornya, suasana di koridor Museum Nasional justru dipenuhi oleh keriuhan yang menyenangkan. Suara tawa anak-anak kecil bergaung ceria di antara pilar-pilar batu besar dan jajaran etalase kaca yang memamerkan benda-benda bersejarah.

"Anak-anak, lihat ke sebelah sini ya! Ini adalah prasasti peninggalan kerajaan zaman dulu. Tulisan yang ada di batu ini namanya huruf Pallawa," ucap Aruna dengan suara yang lantang namun tetap ramah dan penuh kesabaran, memandu sekitar dua puluh anak murid Children Smart School.

"Wah, batunya besar sekali, Miss Aruna!" seru salah satu murid laki-laki dengan mata berbinar kagum.

Aruna tersenyum manis, menganggukkan kepalanya. Di dalam dekapannya, Kenzie tampak duduk dengan tenang di dalam gendongan kain ergonomic yang melingkar erat di tubuh Aruna. Batita satu setengah tahun itu mengenakan baju kaus bergambar bebek kuning yang lucu, senada dengan topi ember kecilnya.

Seolah mengerti bahwa sang mami sedang bekerja, Kenzie sama sekali tidak rewel. Sepanjang hari ini, mata bulatnya yang jernih terus bergerak aktif menatap patung-patung besar dan arsitektur megah di sekelilingnya. Sesekali, tangan mungilnya menepuk pundak Aruna sambil mengoceh cadel, menunjukkan ketertarikannya pada benda-benda berwarna terang.

"Mamih... itu apa !" celoteh Kenzie dengan riang, menunjuk ke arah sebuah replika patung perunggu di sudut ruangan.

"Itu namanya patung. Besar sekali ya patungnya" sahut Aruna lembut, mencium pipi bulat Kenzie yang terasa hangat dan empuk.

Rasa lelah karena harus menggendong Kenzie sambil mengawasi puluhan murid yang aktif seolah menguap begitu saja setiap kali Aruna melihat senyum gembira yang terpancar jelas di wajah keponakannya. Ini adalah keputusan terbaik yang ia ambil hari ini. Membawa Kenzie ikut serta mengajak Kenzie jalan - jalan. Kasih sekali bocah kecil ini tak pernah di ajak keluar rumah sejak kejadian naas itu terjadi.

Aruna melirik sekilas ke arah tas selempangnya yang tergantung di bahu. Di dalam sana, ponselnya sengaja ia atur dalam mode hening. Ia tahu persis, sejak pagi tadi benda itu pasti tidak berhenti bergetar karena panggilan dan pesan dari Gavin.

Ada secercah rasa puas yang aneh di dalam hati Aruna saat membayangkan bagaimana panik dan bingungnya pria playboy itu ketika mendapati apartemen dalam keadaan kosong melompong dan dingin tanpa kehadirannya. Aruna ingin Gavin merasakan sedikit saja dari rasa sakit, cemas, dan kecewa yang ia rasakan kemarin saat melihat pria itu bersenang-senang dengan wanita lain di tengah kebohongannya.

"Biarkan saja dia kebingungan mencari kita," gumam Aruna dalam hati dengan senyum sinis yang tersungging tipis di bibirnya. "Awal-awal saja rajin bersikap manis seolah-olah menjadi pahlawan pelindung. Ujung-ujungnya, semua janjinya menguap hilang terembus angin begitu ada wanita cantik yang mendekat."

Bagi Aruna, urusan internal perusahaan Aditama Group atau misteri kematian Bang Rendy dan Kak Adisti yang sempat diceritakan Gavin seminggu lalu kini terasa seperti sebuah teka-teki besar yang kabur. Ia mulai meragukan apakah semua cerita tentang musuh dalam selimut dan ancaman dari orang bernama Bramantyo itu nyata, ataukah itu semua hanyalah bualan Gavin untuk memanipulasinya agar tetap tunduk dalam pernikahan wasiat ini.

"Miss Aruna, setelah sesi ini anak-anak akan kita arahkan ke taman dalam untuk makan siang bersama," ucap Miss Citra, rekan sesama guru TK membuyarkan lamunan Aruna.

"Oh, iya, Miss. Bagus itu, anak-anak juga pasti sudah mulai lapar, di tambah Mommy - mommy yang ikut juga sudah lelah." jawab Aruna dengan senyum profesionalnya yang kembali mengembang.

Study Tour ini bukan hanya anak - anak saja. Ada beberapa wali murid juga ikut untuk menemani anak - anak mereka berwisata sambil belajar di museum ini.

Aruna berjalan bersama rombongan murid-muridnya menuju area taman terbuka hijau yang terletak di bagian tengah kompleks museum. Angin sepoi-sepoi sore bertiup lembut, menggoyahkan dedaunan pohon pelindung yang rindang. Aruna mendudukkan dirinya di atas bangku taman, melepaskan gendongan Kenzie perlahan dan membiarkan batita itu duduk di sampingnya sambil membuka kotak bekal berisi potongan buah segar dan roti yang sempat ia beli di minimarket dekat sekolah.

"Nyam... enak, Mih!" ucap Kenzie dengan mulut penuh buah potong, membuat pipinya semakin menyembul menggemaskan.

"Makan yang banyak ya, anak pintar," tutur Aruna hangat, mengusap sisa tetesan air buah di sudut bibir Kenzie dengan tisu.

Aruna menghirup udara segar dalam-dalam, mencoba menikmati momen kedamaian yang langka ini. Di bawah siraman cahaya matahari yang mulai menghangat, tawa anak-anak yang berlarian di taman terasa begitu menenteramkan. Aruna merasa senang, sangat senang, karena setidaknya hari ini ia bisa mengajak jalan - jalan Kenzie.

Namun, tanpa disadari oleh Aruna yang sedang asyik memperhatikan Kenzie bermain dengan anak - anak lainnya di dekat dirinya, dari kejauhan—tepat di balik pagar pembatas area luar museum—sebuah mobil minibus berwarna hitam pekat tampak terparkir diam di bawah bayangan pohon. Kaca mobilnya yang gelap perlahan-lahan turun beberapa sentimeter, menampilkan sebuah lensa kamera jarak jauh yang bergerak lambat, membidik tepat ke arah posisi duduk Aruna.

Bersambung...

1
partini
lihat yg dia beli atuh ,dia beli buat kamu juga ga semua buat dirinya sendiri
partini
semangat Thor ,semoga di kontrak novel nya
partini
siapa wanita itu yg bikin salah faham
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
partini
diem itu lebih baik dari pada cuap 👍👍
partini
dalam bahaya Tah
partini
paling bagus tuh diem sih dari pada bertengkar ga bagus buat anak" dengar kata" kasar
lagi dong Thor
partini
run semoga ga cinta duluan kamu , soal nya yg kebanyakan terjadi cewe yang suka duluan makanya nyesek
Namjachinggu: tenang aja kak, Aruna ngga akan cinta duluan ko 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!