NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 18

Ansel menatap bingung Cwen yang berjongkok di depan ruangan kantornya, belum lagi rambut Cwen yang tidak terikat rapih, membuat Ansel bertanya-tanya apa yang telah terjadi lagi di dalam kelas Cwen.

“Cwen?”

Cwen yang sedang jongkok di depan pintu ruangan Ansel dan membelakangi pintu langsung bangkit dan berbalik, tanpa mengatakan apapun lagi, Cwen memeluk Ansel erat, membuat Ansel terkejut bukan main.

“Kita masuk dulu, ya”ajak Ansel tapi tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Cwen membuat Ansel menghela napas dan membawa Cwen masuk ke dalam tanpa melepaskan pelukan Cwen.

“Sekarang katakan kepada pak guru! Cwen ada masalah di kelas?”

Cwen mengangguk, ia melepaskan pelukannya dan menatap Ansel, Ansel terkejut melihat wajah Cwen yang sudah memerah dan matanya yang sembab.

“Cwen?”

“Cwen marah sama bu Sindy,”lirih Cwen.

Ansel langsung paham, tidak perlu penjelasan apapun lagi, Ansel langsung memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan Cwen sampai kedua matanya sembab.

“Bu guru bilang rambut dan warna kulit Cwen tidak bagus, bu guru juga bilang cwen lebih baik tidak bersekolah di sini,”

Ansel menghela napas berat, kalau sudah seperti ini urusannya akan panjang, seorang guru sudah berani rasis kepada murid sendiri adalah pelanggaran yang sangat berat di sekolah itu. Dan Ansel juga akan melakukan apapun agar Cwen mendapatkan keadilan di sekolah ini.

“Tidak ada yang jelek dalam diri Cwen, semuanya cantik, sangat cantik, malah pak guru sangat suka loh warna rambut Cwen yang seperti ini, terlihat sangat cantik,”puji Ansel demi menghilangkan pikiran buruk dari dalam pikiran Cwen, Ansel tidak mau juka Cwen menyimpan memori buruk tentang apa yang di lontarkan guru perempuan itu kepadanya.

“Cwen harus ingat ini ya,” Ansel mengusap lembut pipi Cwen yang masih memerah bekas menangis.

“Rambut Cwen sangat cantik, sangat cocok untuk Cwen yang juga cantik, jadi Cwen berhenti berfikir kalau rambut Cwen jelek, oke?”

Cwen mengangguk, "Aku juga mengatakan hal yang sama kepada bu guru, Cwen bilang kalau Cwen dan rambut Cwen cantik, karena pak guru dan juga mama selalu muji Cwen cantik dan rambut Cwen yang indah,”

Ansel tersenyum bangga, ia mengusap lembut rambut Cwen dan memeluknya kembali, memberikan kehangatan untuk gadis kecil itu.

***

Selepas Cwen ganti baju yang lebih santai, ia berlari ke arah sofa dan menghampiri Ansel yang sedang bermain ponselnya.

“Sudah?”tanya Ansel mendongak menatap Cwen yang sudah rapih dengan pakaian santainya.

Cwen mengangguk, lalu duduk di sebelah Ansel yang masih berkutat dengan ponselnya, entah apa yang sedang di lakukan oleh gurunya itu, Cwen tidak mau terlalu mencampuri urusan gurunya yang sedang focus itu.

“Cwen mau makan apa?" tanya Ansel tiba-tiba.

“Makan siang pak guru?”bukannya menjawab Cwen malah balik bertanya dengan nada bingung.

“Memangnya mau makan apa selain makan siang , hmm?”tanya Ansel menggoda Cwen dengan senyum tertahannya.

“Cwen makan apapun yang pak guru makan,” jawab Cwen membuat Ansel mengerutkan dahinya bingung.

"Cwen sedang tidak mau makan atau bagaimana, kok malah ikut pak guru?”

“Kata mama, kalau kita di tawarkan makanan oleh orang lain, kita tidak boleh meminta apa yang kita mau, tapi makan saja apa yang di sediakan,”

Lihat! Pola pikirnya benar-benar seperti sudah orang dewasa, apapun yang di ajarkan mamanya, semua Cwen ingat, bukan hanya diingat, tapi juga benar-benar di terapkan kepada dirinya sendiri.

“Cwen mau ayam goreng atau seafood?”tanya Ansel akhinya memberikan pilihan, agar Cwen tetap bisa menikmati makanan yang di sukainya, tanpa mengikuti selera makan orang dewasa.

Cwen tampak berfikir beberapa saat, sebelum menatap Absel dengan tatapan ragu.

“Cwen benar boleh pilih, pak guru?”tanya Cwen memastikan jika ia benar-benar diizinkan untuk memilih makanan yang ia inginkan.

“Tentu saja boleh, atau Cwen mau yang lain, ada banyak pilihannya, ikan, sayur sop, ayam goreng, seafood, ada sate juga, Cwen mau yang mana?”

“Cwen suka makan seafood, apakah boleh?”

“Tentu saja, pak guru pesan dulu ya, Cwen boleh tidur dulu agar tidak terlalu lama menunggu,”

Cwen mengangguk, "pak guru,”

Ansel yang sedang fokus memesan makanan menoleh sebantar, lalu kembali fokus memesan makan siang untuk mereka.

“Cwen senang sekali bisa kenal dan dekat dengan pak guru, terima kasih sudah selalu baik kepada Cwen dan mama, pak guru.”

***

Ansel izin untuk tidak masuk di jam kedua di sekolah, karena ia baru saja mendapatkan telpon dari rumah sakit jika, Jenia sudah di perbolehkan pulang.

Ansel bergegas ke rumah sakit untuk menjemput Jenia, perasaannya sedikit lega begitu sang dokter Jenia bisa pulih cepat, karena racun yang masuk ke dalam tubuhnya tidak menyebar terlalu luas, jadi masih bisa di selamatkan, dan tidak ada yang terjadi dengan tubuh Jenia, semuanya baik-baik saja.

“Terima kasih pak Ansel sudah repot-repot menjemput saya, padahal saya bisa pulang sendiri,”

Seperti biasanya Jenia dengan perasaan tidak enaknya, merasa jika dirinya benar-benar merepotkan orang lain terus-menerus, padahal bukan kewajikan Ansel juga untuk menjemput dirinya ke rumah sakit, tapi guru dari putranya itu malah merepotkan dirinya sendiri.

“Tidak ada yang merasa di repotkan di sini, silakan masuk!”Ansel membukakan pintu sebelah kemudi untuk Jenia.

“Terima kasih pak Ansel,”

Ansel menganggu dan menutup pintu pelan, lalu ia memutar untuk duduk di kursi kemudi.

“Apa Cwen banyak merepotkanmu hari ini pak?” tanya Jenia membuka obrolan, padahal mobil pun masih belum keluar dari dalam parkiran.

Bukannya menjawab pertanyaan Jenia, Ansel malah menoleh dan menatap Jenia dengan tatapan, yang Jenia sendiri tidak bisa jelaskan.

"Pak Ansel?"

“Jenia,”

Jenia menoleh terkejut begitu Ansel memanggil namanya tanpa embel-embel lain, jantungnya tiba-tiba saja berdetak cepat, perasaan canggung itu langsung di rasakan oleh Jenia, sedangkan Ansel masih diam menatap Jenia dari samping.

“Jangan membuat khawatir lagi, kamu sudah dua kali masuk ke rumah sakit dalam waktu berdekatan, tolong jaga diri dan membuat khawatir lagi,”

Jenia diam, mulutnya tiba-tiba saja menjadi kaku. Apa maksud dari ucapan Ansel? Khawatir? Memangnya siapa yang mengkhawatirkan dirinya selain putrinya sendiri? Tidak mungkin- Ansel, kan?

“M-Maksud pak A-Ansel apa?”

Ansel tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parker.

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!