NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : CUTI TIGA HARI

Pagi itu belum pukul tujuh. Pak Harsono baru saja turun dari kamar. Wajahnya terlihat lelah karena semalaman tidurnya tidak nyenyak.

Semalam Bi Rina sebenarnya ingin membangun kan Pak Harsono. Tapi saat dia melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Bi Rina mengurungkan niatnya.

"Pak Harsono pasti sudah tidur. Nggak baik dibangunkan cuma karena Non Kirana demam," pikir Bi Rina waktu itu.

Akhirnya baru pagi ini Bi Rina memberitahu Pak Harsono.

"Tuan... maaf mengganggu. Non Kirana semalam pingsan di kantor. Sekarang sudah di rumah dan dijaga Den Arga. Demamnya tinggi sekali..."

Kalimat itu membuat Pak Harsono langsung berjalan cepat menuju kamar Kirana yang ada di lantai dua.

"Anak itu... kenapa keras kepala sekali. Sampai pingsan pun masih kerja," gumam Pak Harsono dalam hati.

Pintu kamar Kirana terbuka pelan.

Di dalam, Kirana sudah bangun. Wajahnya masih pucat. Tapi demamnya sudah turun. Di sampingnya, Arga masih duduk di tepi kasur tengah memijat kaki Kirana. Iya memijat, awalnya Kirana

menolak karena malu, tapi Arga yg memaksa.

"Dia semalaman menjaga Kirana ya", pikir Pak Harsono sambil menatap Arga.

“Kirana... kamu sudah bangun?” suara Pak Harsono membuat Kirana Dan Arga tersentak.

Kirana menoleh. Dia melihat Pak Harsono berdiri di ambang pintu dengan mata yang sedikit memerah.

“Pa... kenapa Papa ada di sini sepagi ini?” tanya Kirana pelan. Suaranya masih serak.

Pak Harsono menghampiri dan menyentuh dahi Kirana dengan punggung tangannya. Panasnya sudah tidak seperti semalam.

“Bi Rina yang telepon Papa pagi ini. Dia bilang kamu pingsan di kantor semalam karena kelelahan,” jawab Pak Harsono dengan suara berat. “Papa sangat khawatir lihat kamu sakit, Kirana. Kamu itu Putri semata wayang Papa.”

Arga hanya diam mendengarkan pak Harsono.

Lalu " Arga, terimakasih udah jaga Kirana

dengan baik. " Pak Harsono menepuk pundak Arga.

"itu sudah menjadi kewajiban Arga pah, saya rasa seluruh suami di dunia akan melakukan hal yang sama untuk orang yg di cintai. " jelas Arga merasa itu hal yg wajar dilakukan.

"Orang yang di cintai, apa maksudmu Arga." Kirana

merasa bingung dengan perkataan Arga.

Kirana terdiam beralih melihat Papanya. Dia tidak terbiasa melihat Pak Harsono seperti ini. Selama ini Pak Harsono selalu terlihat kuat dan tegas. Tapi sekarang, di depan matanya, Pak Harsono terlihat seperti ayah yang takut kehilangan anaknya.

“Maaf ya Pa... sudah membuat Papa khawatir,” ucap Kirana pelan sambil menunduk.

Pak Harsono menghela napas panjang. Dia duduk di tepi tempat tidur Kirana.

“Kirana, Papa tidak peduli dengan kontrak dua puluh miliar itu. Kesehatanmu lebih penting dari apapun,” kata Pak Harsono tegas. “Mulai hari ini, Papa buat aturan baru. Maksimal lembur di kantor jam tujuh malam. Kalau lewat dari itu, Papa kunci pintu kantornya. Tidak ada pengecualian.”

Arga tersenyum singkat mendengar peraturan baru di Perusahaan.

Kirana mengernyit. “Pa, ini tidak profesional. Kita sedang dalam masa penting proyek...”

“Tidak ada yang lebih profesional dari menjaga kesehatanmu sendiri, Kirana,” potong Pak Harsono. “Dan kamu, Arga,” Pak Harsono menoleh ke arah Arga yang sudah terbangun.

Arga langsung berdiri tegak. “Siap, Pah.”

“Arga, Papa titip Kirana sama kamu. Kalau kamu biarkan dia lembur lagi lewat jam tujuh... Papa pecat kamu,” lanjut Pak Harsono.

Arga terdiam. Dia tidak menyangka Pak Harsono akan mengatakan itu. Tapi dia mengerti. Sebagai seorang ayah, Pak Harsono hanya ingin melindungi anaknya.

“Siap, Pah. Saya yang tanggung jawab. Kirana tidak akan lembur lagi,” jawab Arga tegas.

Kirana menatap Arga. "Dia tidak perlu setuju secepat itu. Apa dia senang akhirnya bisa pulang tepat waktu?"pikir Kirana dalam hati.

Pak Harsono belum selesai. Dia menarik napas panjang lalu berkata lagi.

“Kamu juga cuti tiga hari, Arga. Jaga Kirana di rumah. Pastikan dia benar-benar istirahat. Jangan sampai dia kerja lagi selama tiga hari ini.”

“Pa! Aku bisa jaga diri sendiri,” protes Kirana langsung.

Pak Harsono menatap Kirana dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. “Tidak, Kirana. Papa sudah putuskan. Titik.”

Arga menatap Pak Harsono. “Tapi Pah, kerjaan di kantor...”

“Kerjaan bisa menunggu, Arga. Kesehatan anakku tidak bisa,” jawab Pak Harsono singkat. “Papa percaya kamu, Arga. Papa tahu kamu orang yang bertanggung jawab.”

Arga mengangguk pelan. "Pak Harsono mempercayakan Kirana padaku. Aku tidak boleh mengecewakan beliau," gumam Arga dalam hati.

Pak Harsono berdiri dan berjalan keluar kamar. Sebelum menutup pintu, dia berkata pelan.

“Kirana, Papa sayang kamu. Jangan buat Papa khawatir lagi.”

Pintu kamar tertutup. Tinggallah Kirana dan Arga berdua. Suasana jadi sedikit canggung.

Kirana menatap Arga. “Kamu dengar kan apa yang Papa bilang? Aku bisa jaga diri sendiri. Kamu tidak perlu cuti juga.”

Arga tersenyum kecil. “Aku tidak tenang kalau kamu sendirian di rumah, Kirana. Lagian ini perintah Papa. Aku tidak bisa menolak.”

Kirana mendesah. "Dia selalu punya alasan untuk tinggal. Kenapa dia tidak menolak saja?" pikir Kirana. Tapi dia tidak mengatakan itu dengan lantang.

“Baiklah. Tapi kamu tidak perlu jaga aku sepanjang hari. Aku sudah lebih baik,” kata Kirana sambil berjalan keluar kamar.

Arga langsung mengikuti dari belakang. “Jangan bergerak cepat. Kamu masih lemah.”

Hari pertama cuti berlalu dengan canggung. Kirana lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Dia mencoba membaca buku, tapi pikirannya tidak bisa fokus. Setiap beberapa menit dia mendengar suara Arga dari dapur yang ada di lantai bawah.

Arga memasak sup ayam untuk Kirana. Aroma jahe dan ayam menyebar ke seluruh rumah. Bi Rina yang melihat itu hanya tersenyum.

“Den Arga memang telaten ya, Non. Jarang ada laki-laki yang mau masak untuk istrinya,” kata Bi Rina sambil mengiris bawang.

Kirana yang mendengar itu langsung menggeleng. “Bi, kami bukan suami istri sungguhan.”

Bi Rina hanya tersenyum bijak. “Tapi yang jaga Non Kirana sekarang siapa? Kalau bukan Den Arga?”

Kirana tidak menjawab. Dia hanya masuk ke kamar lagi. Bi Rina ini... kok pertanyaannya menusuk sekali, pikir Kirana sambil menghela napas.

Siang hari, Arga mengetuk pintu kamar Kirana sambil membawa nampan berisi sup ayam dan teh hangat.

“Kirana, makan dulu. Supnya masih hangat,” kata Arga sambil meletakkan nampan di meja.

Kirana menatap sup itu. “Kamu yang masak?”

Arga mengangguk. “Iya. Belajar dari Bi Rina tadi pagi. Katanya sup ayam bagus untuk orang yang sedang demam.”

Kirana menerima mangkuk itu dengan ragu. Suapan pertama masuk ke mulutnya. Hangat. Gurih. Lebih enak dari yang dia kira.

“Enak...” gumam Kirana tanpa sadar.

Arga tersenyum melihat itu. “Makan yang banyak. Biar cepat sembuh.”

Kirana mengangguk. Mereka makan dalam diam. Tidak ada obrolan panjang. Tapi suasana terasa nyaman. Tidak seperti di kantor yang penuh tekanan.

Hari kedua, kondisi Kirana sudah jauh lebih baik. Demamnya sudah hilang. Tapi tubuhnya masih sedikit lemas.

Sore hari, Kirana duduk di ruang tamu lantai satu sambil menonton film yang diputar Arga di televisi. Film romantis komedi yang ringan. Sesuatu yang tidak pernah ditonton Kirana sebelumnya.

“Kamu suka film seperti ini?” tanya Kirana sambil mengaduk teh jahe di cangkirnya.

Arga mengangguk. “Iya. Ringan. Tidak perlu mikir terlalu berat.”

Kirana tersenyum kecil. "Dia benar. Aku terlalu memprioritaskan kerjaan. Sampai lupa bagaimana rasanya tertawa tanpa beban pekerjaan," pikir Kirana.

Tengah malam, Kirana ketiduran di sofa ruang tamu. Kepalanya bersandar pada bantal sofa. Selimut tipis menutupi tubuhnya.

Arga yang melihat itu berjalan pelan ke arah Kirana. Dia mengambil selimut yang lebih tebal dari lemari dan menyelimutkan ke tubuh Kirana dengan hati-hati.

Rambut Kirana berantakan menutupi wajahnya. Arga menyingkirkan rambut itu dengan jarinya pelan. Wajahnya terlihat lebih lembut saat tidur. Tanpa ekspresi dingin. Tanpa beban, pikir Arga sambil menatap Kirana.

Tiba-tiba Kirana bergerak. Matanya terbuka perlahan. Dia melihat Arga yang berjongkok di depannya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti.

“Ki..Kirana... kamu sudah bangun?” tanya Arga pelan, sedikit gelagapan.

Kirana mengerjap. Dia merasakan selimut tebal di tubuhnya. " Dia yang selimutin aku", pikir Kirana. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Terima kasih,” ucap Kirana pelan sambil duduk tegak.

Arga berdiri dan mundur sedikit. “Kamu tidur saja di kamar. Nanti masuk angin.”

Kirana mengangguk. Tapi dia tidak langsung masuk ke kamar. Dia menatap Arga yang berjalan ke arah dapur. "Kenapa dia begitu baik padaku? Apa karena ini hanya tugas? Atau... ada alasan lain?" pikir Kirana sambil menggigit bibirnya.

Hari ketiga, Kirana sudah hampir pulih sepenuhnya. Pagi itu dia keluar ke taman belakang rumah Pak Harsono. Udara segar dan sinar matahari membuat suasana hati Kirana menjadi lebih baik.

Arga menyusul Kirana dengan membawa dua cangkir teh hangat.

“Kamu kok keluar? Bi Rina bilang kamu harus istirahat di dalam dulu udara nya masih dingin.” kata Arga sambil menyerahkan satu cangkir teh ke Kirana. Tidak ada nada paksakan di ucapannya.

Kirana menerima cangkir itu. “Aku sudah bosan di dalam kamar. Udara di sini lebih segar.”

Mereka duduk berdampingan di bangku taman. Tidak ada obrolan. Hanya ada suara burung dan angin yang berdesir di antara daun-daun.

“Terima kasih, Arga. Tiga hari ini... aku tidak merasa sendirian,” ucap Kirana tiba-tiba.

Arga menoleh ke arah Kirana. “Kamu istirahat yang cukup. Itu yang penting.”

Kirana menatap Arga lama. Wajah Arga yang biasanya datar kini terlihat lebih lembut di bawah sinar matahari pagi.

“Kamu... beda kalau di luar kantor,” kata Kirana pelan.

Arga tersenyum kecil. “Kamu juga. Di luar kantor, kamu tidak terlihat seperti Anak seorang CEO yang dingin.”

Kirana tertawa kecil mendengar itu. Tawa yang jarang keluar dari bibirnya.

Arga menatap Kirana yang sedang tertawa. "Suaranya indah. Aku baru menyadarinya sekarang." pikir Arga. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Kirana...” panggil Arga pelan.

“Hmm?” Kirana menoleh.

“Tidak apa-apa. Lupakan saja,” jawab Arga sambil mengalihkan pandangan. "Aku hampir saja bilang kalau aku senang bisa menghabiskan waktu seperti ini denganmu." gumam Arga dalam hati.

Kirana mengernyit. "Ada apa dengan Arga? Kenapa dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan?" pikir Kirana.

Mereka kembali diam. Tapi diam kali ini terasa hangat. Tidak canggung seperti dulu.

Malam hari, hari ketiga cuti berakhir. Besok Kirana harus kembali ke kantor.

Kirana duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. "Besok aku harus kembali ke rutinitas. Ke tumpukan berkas. Ke suasana kantor yang dingin." pikir Kirana.

Tiba-tiba dia merasa... berat. Berat untuk meninggalkan suasana tiga hari ini. Suasana di mana ada seseorang yang selalu memastikan dia makan. Ada seseorang yang selalu memastikan dia tidur cukup. Ada seseorang yang selalu ada di sampingnya.

"Kenapa aku merasa merasa takut kalau besok Arga tidak ada di sampingku lagi?" pikir Kirana. "Apa aku... sudah terbiasa dengan kehadirannya?"

Di atas Sofa, Arga juga tidak bisa tidur. matanya terpejam tapi hatinya terus bermonolog sendiri. Akhirnya dia memilih bangun. Dia melihat kesamping "Kirana sepertinya sudah tidur ".

"Besok dia kembali ke kantor. Aku juga harus kembali ke peran sebagai kepala divisi. Jaga jarak. Profesional. Itu yang benar"pikir Arga. Tapi hatinya terasa sesak. "Kenapa aku tidak ingin jarak itu kembali?"

Tiga hari bersama. Tiga hari tanpa status suami istri kontrak. Tiga hari tanpa tekanan kerjaan. Hanya ada Arga dan Kirana. Sebagai dua manusia yang saling menjaga.

Dan untuk pertama kalinya... Kirana merasa tidak ingin tiga hari ini berakhir.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!