Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ciiit!
Ban mobil berdecit saat supir menginjak rem sekaligus. Ia mematung dengan napas terhenti. Kedua tangannya memegang kemudi dengan erat, keringat dingin mengucur deras dari pori-pori di wajah dan merembes hingga ke leher. Matanya menatap lurus ke jalanan sepi dan minim penerangan dengan penuh rasa takut.
Rania beranjak dari kursi, menarik tangan si pengemudi sampai ia berpindah tempat ke kursi penumpang.
"Menyingkir!" katanya dengan dingin.
Ia berdiri di antara dua kursi, menahan kedua tangannya di sana. Lalu, mengangkat tubuh berpindah tempat ke depan. Ia duduk di balik kemudi, menggenggam erat setir setelah memasang sabuk pengaman.
"Pasang sabuk pengaman kalian baik-baik!" titahnya sebelum menyalakan mobil.
Dokter Pri terkesima dengan aksi sahabatnya itu. Ia menganga tak percaya bahwa gadis di depannya adalah gadis yang dulu anggun dan lembut. Sementara supir, menggenggam erat sabuk pengaman dengan jantung yang berdebar kuat. Ia menduga-duga apa yang akan dilakukan Rania.
Bibirnya berkomat-kamit, dalam hati berdoa untuk keselamatannya sendiri. Selama ini ia selalu berhati-hati dalam mengemudi dan selalu mematuhi aturan lalu lintas.
Rania menyalakan mobil, mesin menderu keras. Meraung di kesunyian malam. Ia melakukan hal tak terduga oleh keduanya.
J-Turn (atau Rockford Turn/Spin).
Pertama-tama Rania memundurkan mobilnya, lalu memutar setir tajam sehingga mobil berputar seratus delapan puluh derajat ke arah depan dan berlanjut maju.
Argh!
Keduanya menjerit, kejadiannya begitu cepat dan tak terduga.
Broom!
Swoosh!
Asap mobil mengepul saat Rania menginjak pedal gas sekaligus dan melaju dalam kecepatan tinggi.
"Argh! Rania apa yang kau lakukan?" Suara dokter Pri terdengar lambat karena laju mobil yang begitu kencang.
Rania diam, tetap fokus ke depan mencari mobil yang baru saja melewati mereka. Sebuah Van hitam yang mencurigakan. Instingnya sebagai agen rahasia bereaksi ketika ada sesuatu yang tidak beres.
Supir di sampingnya memejamkan mata, semakin cepat bibirnya bergerak-gerak melafalkan doa untuk keselamatan. Gadis itu benar-benar membawanya ke hadapan malaikat maut.
"Itu dia!" Rania berdesis saat melihat mobil hitam yang mencurigakan itu.
Semakin dalam kakinya menginjak pedal gas, semakin keduanya merasa kehabisan napas dan berada di ambang kematian.
"Rania, Rania! Kau ...." Dokter Pri tak mampu berkata-kata, ia lebih memilih terpejam dari pada menatap ke depan.
Rania mengejar mobil tersebut, menyalipnya dengan cepat. Orang-orang di dalam sana, menoleh tak percaya. Kemudian, Rania menarik rem tangan dengan tiba-tiba, mengunci roda belakang. Untuk selanjutnya, mobil berputar sembilan puluh derajat menghadang laju Van hitam yang mencurigakan.
Ia keluar dan membanting pintu, sementara kedua laki-laki di dalam mematung dengan napas mereka yang terhenti. Jantung keduanya seolah-olah berhenti berdetak, mata mereka melotot penuh rasa takut. Kejadian itu lebih menakutkan dari pada menaiki rollercoaster tertinggi di dunia.
Rania melangkah pasti ke sisi mobil yang lainnya, saat Van hitam itu berhenti beberapa meter dari mobilnya.
"Siapa dia? Beraninya dia menghalangi mobil kita?" tanya laki-laki yang mengemudikan mobil hitam itu.
Semua orang di dalam sana menatap Rania yang berdiri tegak di antara mobil mereka. Dokter Pri dan supirnya menoleh, seketika mata mereka membelalak saat melihat sebuah Van hitam yang dihadang Rania.
"Turunlah!" Suara Rania menggema di antara angin yang menderu halus.
Rambutnya yang panjang dan digerai berkibar tertiup angin. Ia menjadi sosok dingin menakutkan. Dokter Pri sendiri pun bergidik walau hanya menatap punggungnya.
"Apakah dia masih Rania yang ku kenal?" Ia berbisik pada sunyi, bertanya pada keheningan malam.
"Tidak tahu. Tapi, kenapa dia tiba-tiba menghadang mobil kita?" Orang-orang di dalam mobil hitam berdiskusi, membicarakan tentang wanita yang berdiri di depan mereka.
Supir di dalam mobil hitam membuka kaca jendela, mengeluarkan sedikit kepalanya.
"Hai, Nona! Kenapa kau menghalangi jalan kami? Apakah kami menyinggung mu?" tanya supir mobil hitam itu menahan kesal.
"Kalian mencurigakan. Berkendara dalam kecepatan di luar batas. Apa yang kalian sembunyikan di dalam mobil?" Rania menatap tajam, kakinya mulai melangkah mendekati mobil hitam tersebut.
"Rania, apa yang ingin dia lakukan? Bagaimana kalau mereka adalah sekelompok orang jahat?" Dokter Pri bergumam cemas, tapi ia sendiri justru ketakutan. Ragu untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil.
"Dia mendekat? Apakah dia tahu kita membawa Tuan Muda dari rumah Fattana?" ujar salah seorang dari mereka sembari melirik Rasya yang duduk diapit oleh dua orang laki-laki dewasa.
Mendengar itu, Rasya mendongak. Menatap keluar mobil, memastikan siapa yang menghadang. Ia tersenyum saat mengenali wajah itu.
"IBU! TOLONG AKU! MEREKA AKAN MEMBAWAKU KE RUMAH SAKIT JIWA! Mmmppp!"
Rania terhenyak, samar telinganya mendengar suara teriakan.
"Anakku!"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄