NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kain yang belum terbiasa

Pagi itu, suasana di rumah nomor 12 terasa berbeda. Tidak ada suara bantingan pintu atau gerutu ketus dari Adeeva. Di depan cermin kamar, gadis sembilan belas tahun itu sedang bergelut dengan selembar kain pashmina berwarna hitam.

Tangannya yang biasa lincah menggoreskan pensil gambar kini tampak kaku. Ia mencoba melilitkan kain itu ke kepalanya, meniru gaya yang sering dipakai Adiba. Namun, hasilnya jauh dari kata rapi. Jarum pentul yang ia gunakan hampir saja menusuk dagunya beberapa kali. Kerudungnya tampak miring, bagian lehernya masih longgar, dan rambut kecokelatannya masih mengintip di sela-sela telinga.

Ia menatap bayangannya dengan kesal. "Kenapa susah sekali sih? Padahal Kak Adiba cuma sekali lilit langsung rapi," gumamnya frustrasi.

Adeeva hampir saja melempar kain itu ke lantai jika ia tidak mendengar langkah kaki tegap yang masuk ke kamar. Ia melihat pantulan Shaheer di cermin. Pria itu sudah rapi dengan seragam lorengnya, siap untuk berangkat dinas. Shaheer berdiri di belakang Adeeva, memperhatikan istrinya yang tampak sedang berperang dengan selembar kain.

"Mau aku bantu?" tanya Shaheer pelan.

Adeeva mengerucutkan bibirnya. "Memangnya Kapten bisa? Pakai baret saja cuma ditaruh begitu."

Shaheer tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat, tangannya yang besar dan kasar karena latihan militer ternyata bisa bergerak sangat lembut. Ia mengambil alih ujung kain yang terjuntai, merapikan letaknya di dahi Adeeva, lalu menyematkan jarum dengan sangat hati-hati.

"Ibuku dulu sering memintaku membantunya kalau beliau sedang buru-buru," jelas Shaheer singkat.

Adeeva terdiam. Ia bisa merasakan napas Shaheer yang teratur di dekatnya. Ada rasa aman yang aneh, seolah pria ini memang diciptakan untuk menjadi pelindungnya. Namun, sifat keras kepalanya tetap muncul.

"Masih berantakan," gumam Adeeva saat Shaheer selesai. Memang benar, hasilnya tidak sesempurna buatan Adiba, tapi jauh lebih baik dari usahanya sendiri.

"Tidak apa-apa. Masih belajar," sahut Shaheer datar namun menenangkan. Ia menepuk bahu Adeeva sekilas sebelum beranjak. "Aku ada latihan di lapangan sampai sore. Makan siang sudah ada di meja. Jangan keluyuran jauh-jauh."

Sore harinya, Adeeva memutuskan untuk keluar rumah mencari udara segar. Ia berjalan menyusuri trotoar asrama dengan kerudung hitam yang sedikit miring itu. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Fathiyah di dekat area kesehatan.

Fathiyah, meskipun merupakan adik dari Shaheer, secara usia jauh lebih matang dibandingkan Adeeva yang masih berstatus mahasiswa baru. Karena itu, Adeeva tetap memanggilnya 'Kak', meskipun secara status keluarga, Fathiyah adalah adik iparnya.

Fathiyah menghentikan langkahnya, menatap kerudung Adeeva yang tampak sangat amatir. Mata dokter militer itu menyipit, menilai setiap lipatan kain yang tidak simetris itu.

"Kerudungmu berantakan sekali, Adeeva," tegur Fathiyah. Nadanya masih dingin, tapi tidak ada lagi nada merendahkan seperti kemarin.

Adeeva sudah bersiap untuk membalas dengan ketus, tapi ia teringat bagaimana Shaheer membelanya kemarin. Ia mencoba menahan emosinya. "Aku baru belajar, Kak. Susah ternyata."

Fathiyah menghela napas. Ia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan cepat namun ahli, ia menarik bagian depan kerudung Adeeva dan menyematkan ulang jarumnya. "Kalau mau pakai pashmina, bagian dalamnya harus rapi dulu. Jangan asal lilit. Kamu itu istri Kapten, kalau berantakan begini, orang akan menyalahkan Abangku karena dianggap tidak bisa mengurus istri."

Adeeva terdiam saat tangan Fathiyah merapikan kain di kepalanya. "Terima kasih, Kak," gumamnya canggung.

"Nanti sore ke rumahku. Aku punya beberapa kerudung yang lebih simpel untuk pemula. Daripada kamu mempermalukan diri sendiri dengan gaya 'lilitan darurat' begini," ujar Fathiyah sebelum berbalik pergi.

Adeeva hanya menatap punggung adik iparnya itu. Fathiyah memang kaku dan sering bicara pedas, tapi Adeeva mulai sadar bahwa itu adalah cara wanita-wanita di keluarga Shaheer menunjukkan perhatian.

Namun, ketenangan itu terusik saat Adeeva melewati gerbang samping batalyon. Ia melihat sebuah mobil yang tidak asing lagi baginya: mobil Revian. Kali ini Revian tidak turun, tapi ia menurunkan kaca jendela dan melemparkan sebuah amplop cokelat ke arah Adeeva.

"Baca itu, Deeva! Kalau kamu tetap memilih hidup di kandang macan ini, foto-foto itu akan sampai ke meja komandan suamimu besok pagi!" teriak Revian dari dalam mobil sebelum tancap gas meninggalkan area asrama.

Adeeva memungut amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat foto-foto lama saat ia masih sering menghabiskan malam di klub bersama teman-temannya di Jakarta. Foto-foto yang menunjukkan sisi gelapnya yang sangat bertolak belakang dengan citra menantu seorang Kyai.

Ia merasa dunianya berputar. Di saat ia mulai mencoba berubah, masa lalunya datang untuk menariknya kembali ke jurang. Adeeva duduk lemas di bangku taman, menyembunyikan amplop itu di balik tasnya. Ia takut. Bukan takut pada nasibnya sendiri, tapi takut jika karier Shaheer yang begitu cemerlang hancur hanya karena masa lalunya yang berantakan.

Malam itu, saat Shaheer pulang dengan tubuh penuh keringat dan debu setelah latihan, Adeeva hanya diam di sudut ruangan. Ia menatap suaminya dengan perasaan bersalah yang luar biasa.

"Kenapa?" tanya Shaheer sambil melepas sepatu larasnya. Ia menyadari ada yang salah dengan raut wajah Adeeva.

Adeeva menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, Kapten. Cuma... lelah saja."

Shaheer menyipitkan mata, namun ia tidak mendesak. Ia tahu istrinya ini punya banyak rahasia yang belum berani diungkapkan. "Mandi sana. Aku beli martabak di depan gerbang tadi."

Adeeva hanya mengangguk, namun pikirannya melayang pada ancaman Revian. Ia harus memutuskan: memberitahu Shaheer dan mempertaruhkan segalanya, atau menghadapi Revian sendirian.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!