Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, suasana di ruang administrasi panti jompo terasa cukup sejuk dan tenang. Aletta sedang duduk di salah satu meja sambil merapikan berkas dan menulis laporan hariannya dengan rapi.
Dia terlihat fokus sekali, wajahnya tampak tenang dan serius. Tiba-tiba, Gery masuk ke ruangan itu dengan langkah gontai dan wajah yang tampak bingung sekali. Ia memegang selembar kertas dan pulpen dengan canggung.
Gery langsung menghampiri meja Aletta, lalu duduk di sampingnya dengan wajah memelas tapi tersenyum malu.
"Al... Al, tolongin gue dong, plis banget," rengek Gery pelan sambil menyodorkan kertas di tangannya ke hadapan Aletta.
Aletta berhenti menulis dan menoleh ke arah Gery dengan tatapan bingung namun ramah. "Ada apa sih, Gery? Kok mukanya kusut banget gitu? Ada masalah apa sama tugas loh?" tanyanya lembut.
"Ini lho, Al... Soal cara penulisan laporan harian ini. Gue udah baca berulang-ulang, udah tanya teman yang lain juga, tapi tetep aja nggak ngerti bagian yang ini. Rumusannya susah banget, bahasanya juga bikin pusing. Padahal nanti siang batas waktunya harus dikumpulkan. Kalau nggak ada yang bantuin gue jelasin, rasanya nggak bakal selesai sampai besok deh," keluh Gery panjang lebar dengan nada putus asa.
Aletta tertawa kecil melihat tingkah temannya itu. Ia mengambil kertas itu dan membacanya sekilas. Memang bahasanya agak teknis dan sedikit sulit dipahami bagi pemula.
"Ya ampun, Gery... Loh ini, panikan banget sih. Beneran nggak ngerti ya? Ya udah sini, gue jelasin pelan-pelan ya. Duduk yang tenang, dengerin gue baik-baik, terus tanya kalau ada yang kurang jelas. Tenang aja, pasti bisa kok," tawar Aletta sukarela.
"Asyik! Makasih banyak ya, Al! Loh emang teman terbaik gue deh. Kalau nggak ada loh, gue pasti bingung banget," seru Gery senang sekali.
Aletta pun mulai menjelaskan bagian demi bagian dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti. Dia juga memberikan contoh penulisan yang benar agar Gery tidak salah lagi.
Berkali-kali Gery bertanya dan Aletta selalu menjawab dengan sabar dan ramah tanpa pernah merasa kesal. Mereka berdua bekerja sama dengan tekun sampai akhirnya laporan milik Gery selesai ditulis dengan rapi dan benar.
"Nah, jadi gini kan tulisannya, Gery. Udah jelas kan semuanya? Sekarang pasti sudah siap buat dikumpulkan," kata Aletta menutup penjelasannya sambil tersenyum lega.
Gery membaca laporannya itu dengan cermat, lalu wajahnya berseri-seri gembira. "Wah, beneran jadi! Terima kasih banyak ya, Al. Loh hebat banget bisa jelasinnya sampai gue ngerti. Padahal tadi rasanya pusing banget kepala gue," katanya sangat berterima kasih.
"Sama-sama, Gery. Kan kita teman, harusnya saling bantu. Lagian nggak seberapa kok bantuan gue tadi," jawab Aletta rendah hati.
"Enggak! Ini bantuan besar banget lho buat gue. Jadi, sebagai tanda terima kasihnya, ayo kita makan siang di luar. Gue traktir loh ketoprak langganan gue yang enak banget deket sini. Gimana mau nggak?" ajak Gery antusias.
"Wah, nggak usah repot-repot deh, Gery. Gue kan bisa makan di kantin panti aja," tolak Aletta sopan.
"Nggak boleh nolak! Loh udah capek bantuin gue dari tadi, masa gue cuma bilang makasih aja sih. Harus gue traktir, udah keputusan bulat! Ayo berangkat sekarang," kata Gery tegas namun tetap ramah.
Baru saja Aletta mau menjawab, terdengar suara teriakan khas dari kejauhan yang makin lama makin mendekat.
"Ketopraaaak... Ketopraaaak..."
Gery langsung tersenyum lebar dan matanya berbinar senang. Ia langsung menunjuk ke arah jalan di depan panti.
"Nah! Kebetulan banget tuh lihat, abang penjual ketoprak lewat! Itu ketoprak yang langganan gue lho, rasanya enak banget, bumbunya pas, porsinya juga banyak. Yuk kita beli di sini aja, duduk di teras depan enak nih anginnya sejuk," ajak Gery antusias.
Aletta tertawa melihat semangat Gery, "Ya ampun, kebetulan banget ya waktunya! Ya udah ayo, gue juga jadi laper nih baunya udah ke cium dari sini."
Mereka pun bergegas keluar dan memanggil abang penjual itu. "Bang! Bang sini dong, beli dua!" seru Gery.
Abang penjual itu segera menghentikan dorongannya dan tersenyum ramah menyambut mereka. "Siap, Neng Mas! Mau pakai telur nggak?" tanyanya sambil mulai menyiapkan piring dan bumbu.
"Dua-duanya pakai telur ya, Bang. Yang satu pedasnya dikit aja, satunya lagi yang pedas banget biar semangat!" pesan Gery dengan lantang.
Aletta menoleh bingung, "Lho, kok tahu gue suka pedas banget sih, Ger?" tanyanya heran.
Gery menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu, "Nebak ... Aja sih kan biasanya cewek cewek tuh suka banget sama pedes kan. Makanya gue pesenin yang pedes buat loh. Kan nggak enak nanti kalau kurang pedes."
Mata Aletta terbelalak terkejut sekaligus tersentuh hatinya. "Makasih ya, traktirannya," katanya tulus.
"Iya udah ah, santai aja kali" jawab Gery sambil tersipu malu.
Tak lama kemudian, dua piring ketoprak yang masih mengepul hangat sudah tersaji di hadapan mereka. Baunya sangat harum dan menggugah selera. Mereka duduk di bangku panjang di teras depan panti sambil menikmati makanannya dengan lahap.
"Wah, beneran enak banget lho, Gery! Rasanya pas banget bumbunya, kacangnya juga halus dan gurih. Loh emang jago nyari makanan enak ya," puji Aletta sambil mengunyah dengan nikmat.
"Kan udah gue bilang! Abang ini jagonya, gue sering beli di sini kalau lagi jajan di luar. Seneng deh loh suka," kata Gery bangga sambil tertawa renyah.
Sambil makan, mereka terus mengobrol santai, membahas tingkah lucu Pak Bima, kebaikan hati Ibu Nining, sampai cerita-cerita seru lainnya.
Suasana terasa begitu santai, hangat, dan menyenangkan. Rasanya lelah pikiran dan badan mereka seolah hilang seketika hanya dengan makan ketoprak dan mengobrol bersama di bawah teduhnya pohon di depan panti.
"Terima kasih banyak ya traktirannya, Gery. Enak banget dan bikin kenyang," kata Aletta setelah menghabiskan makannya sampai bersih.
"Sama-sama, Al. Itu gak seberapa sama apa yang loh buat sama gue. Ayo nanti kalau dia lewat lagi kita beli bareng lagi ya," jawab Gery gembira.
Selesai makan dan membayar kepada abang penjual yang kemudian melanjutkan perjalanannya menjajakan dagangan, mereka pun kembali masuk ke dalam ruang administrasi untuk melanjutkan tugas masing-masing.
Siang itu udaranya cukup panas dan membuat suasana jadi agak mengantuk. Aletta yang sudah lelah beraktivitas sejak pagi dan habis makan kenyang, perlahan matanya terasa semakin berat.
Dia mencoba bertahan dengan memijat pelipisnya, tapi akhirnya ia tidak kuat lagi. Kepalanya perlahan jatuh ke atas meja, dan dalam sekejap dia sudah tertidur pulas di antara tumpukan berkas dan buku-bukunya.
Gery yang sedang asyik menulis laporan, tiba-tiba menyadari kalau ruangan menjadi sangat hening. Dia menoleh ke samping dan melihat Aletta sudah tertidur lelap di meja dengan posisi yang sedikit miring.
Gery tersenyum lembut melihat wajah gadis itu yang terlihat damai dan polos saat tidur. Ia tahu betapa lelahnya Aletta hari ini, sudah membantu dia mengerjakan tugas, lalu sibuk mengurus Ibu Nining seharian.
Melihat suhu ruangan yang mulai terasa agak dingin karena kipas angin yang menyala kencang, Gery segera bangkit dari duduknya.
Dia mengambil jaket tebal yang ia bawa, lalu berjalan perlahan mendekati Aletta agar tidak membangunkannya. Dengan gerakan hati-hati dan lembut, Gery menyelimuti punggung dan bahu Aletta dengan jaketnya agar ia tidak kedinginan saat tidur.
"Tidur yang nyenyak ya, Al... Istirahatlah sepuasnya.loh gadis yang hebat dan baik hati banget, disaat cewek cewek yang lain gak mau bantuin gue gara gara gue terkenal nakal" bisik Gery pelan sambil menatap punggung Aletta sejenak, lalu kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sekitar satu jam kemudian, terdengar suara teriakan dan keributan dari arah kamar penghuni.
"Tolong! Tolong cepat! Ibu Nining kenapa nih?!" teriak salah satu perawat dengan nada panik.
Suara itu terdengar sampai ke ruang administrasi. Gery yang mendengarnya langsung kaget dan bangkit berdiri. Ia segera menggoyangkan bahu Aletta pelan untuk membangunkannya.
"Al! Aletta bangun! Cepat bangun! Kayaknya ada masalah di kamar pasien loh, Ibu Nining," seru Gery dengan nada cemas.
Aletta tersentak bangun dengan mata masih setengah terpejam dan bingung. "Hah? Ada apa? Ibu Nining? Kenapa dia?" tanyanya cepat sambil melepaskan jaket yang menyelimutinya dan langsung berlari keluar ruangan diikuti oleh Gery.
Sesampainya di kamar Ibu Nining, suasana sudah sangat ramai dan panik. Terlihat Ibu Nining tergeletak di tempat tidur, tubuhnya kejang-kejang hebat, matanya terbalik, dan mulutnya mengeluarkan busa tipis.
Wajahnya pucat pasi dan napasnya terdengar sesak. Aletta langsung gemetar ketakutan melihat keadaan pasiennya itu, tapi ia mencoba menenangkan diri dan segera menghampiri.
"Ibu Nining! Ibu Nining tahan ya! Kami di sini, Bu!" seru Aletta dengan suara gemetar menahan tangis.
"Segera panggilkan ambulans! Keadaan Ibu Nining kritis, harus segera dibawa ke klinik terdekat!" perintah Ibu Eka yang sudah ada di sana lebih dulu.
Tak lama kemudian, suara sirine ambulans terdengar mendekat. Para petugas kesehatan segera memindahkan tubuh Ibu Nining ke atas tandu dengan hati-hati.
Aletta yang merasa paling bertanggung jawab dan sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu Nining, memutuskan untuk ikut serta di dalam ambulans menuju klinik.
"Bu Eka, saya ikut ya mengantar Ibu Nining ke klinik. Saya nggak tenang kalau di sini saja," kata Aletta memohon izin dengan wajah cemas.
"Baiklah, Nak Aletta. Hati-hati di sana ya. Kabari kami kalau ada perkembangan apa-apa," jawab Ibu Eka mengizinkan.
Gery berdiri di samping pintu dengan wajah khawatir sekali. Ia menatap Aletta dengan pandangan memohon. "Al... Hati-hati ya di sana. Kabarin gue terus kalau ada apa-apa. Gue nunggu loh di sini sampai loh pulang," janji Gery tulus.
Aletta mengangguk cepat sambil naik ke dalam ambulans. "Iya, makasih ya, Gery. Gue berangkat dulu," jawabnya singkat sebelum pintu ambulans tertutup dan kendaraan itu melaju dengan cepat membelah jalanan.
Di klinik, Aletta menunggu dengan perasaan yang sangat gelisah dan cemas. Ia mondar-mandir di depan ruang perawatan, berdoa agar Ibu Nining selamat dan kejangnya segera berhenti.
Berjam-jam dia menunggu, sampai akhirnya dokter keluar dan memberitahu kalau keadaan Ibu Nining sudah mulai stabil dan aman, tinggal perlu istirahat dan pengawasan intensif di sana. Aletta baru bisa bernapas lega dan merasa tenang kembali.
Saat dia melihat jam, ternyata hari sudah mulai gelap dan langit sudah berubah menjadi hitam pekat. Aletta segera pamit dan berjalan kaki menuju panti jompo karena dia khawatir anak-anak yang lain pasti menunggunya.
Sesampainya di gerbang panti, dia sangat terkejut melihat sosok yang masih berdiri di sana dengan sabar. Itu Gery. Ia masih ada di sana, berdiri menyandarkan punggungnya di tiang gerbang dengan wajah yang tampak lelah namun lega saat melihat kedatangan Aletta.
"Gery?! Loh masih di sini? Loh nungguin gue dari siang sampai sekarang?" seru Aletta kaget sekaligus haru, matanya langsung berkaca-kaca.
Gery tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Aletta. "Iya dong, gue janji kan bakal nungguin loh sampai pulang. Gue nggak tenang kalau loh belum ada di sini. Gimana keadaan Ibu Nining? Aman kan sekarang?" tanyanya dengan nada cemas yang belum hilang.
"Alhamdulillah, Gery... Beliau udah aman, kondisinya udah stabil. Dokter bilang beliau cuma butuh istirahat dan obat rutin. Makasih banyak ya udah nungguin gue selama ini. Loh pasti capek dan lapar banget kan?" kata Aletta sangat berterima kasih.
"Syukurlah kalau begitu. Gue senang denger kabar baik itu. Gue sih nggak apa-apa, yang penting loh selamat dan sehat," jawab Gery lega.
"Yuk, gue antar loh pulang ke kosan sekarang. Udah malem banget nanti loh kenapa-napa di jalan," ajak Gery lalu mereka berjalan beriringan keluar dari gerbang panti.
Di tengah perjalanan menuju kosan, perut mereka berdua berbunyi bersamaan karena sudah sangat lapar seharian belum makan dengan tenang. Mereka pun tertawa melihat tingkah perut mereka itu.
"Wah, ternyata kita sama-sama kelaparan nih. Kebetulan banget, di depan sana ada warung bakso yang enak banget. Yuk kita mampir dulu makan, biar tenang perutnya," ajak Gery.
"Setuju banget! Gue juga udah lapar banget rasanya," jawab Aletta antusias.
Mereka duduk di bangku panjang warung bakso pinggir jalan yang sederhana tapi ramai pengunjung. Sambil menunggu pesanan datang, mereka saling bercerita tentang kejadian tadi siang, saling bertukar rasa lega dan kekhawatiran yang sudah berlalu.
Saat makan, suasana terasa sangat hangat dan akrab, seolah rasa lelah dan cemas seharian itu lenyap begitu saja karena kebersamaan mereka berdua.
Setelah kenyang dan perut terasa nyaman, Gery mengantar Aletta sampai tepat di depan pagar kosan. Dia memastikan Aletta masuk dengan aman dan selamat sebelum ia pamit pulang ke tempat tinggalnya.
"Makasih banyak hari ini, Gery... Makasih udah bantuin gue, nungguin gue, dan nemenin gue," kata Aletta tulus sebelum masuk ke dalam.
"Sama-sama, Al. Itu tandanya kita teman baik. Istirahat yang nyenyak ya, jangan lupa berdoa. Sampai ketemu besok lagi," balas Gery ramah sambil melambaikan tangan sampai pintu pagar tertutup rapat.
~be to continuous~