NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Trakhir Dan Teknik Tanpa Bayangan

Sinar matahari pagi yang pucat menembus dedaunan lebat di dalam hutan rahasia yang kini menjadi tempat perlindungan sekaligus arena pelatihan bagi Arlan. Sudah dua minggu sejak Arlan menghancurkan mental Gort di kantor kepala desa. Sejak hari itu, kehidupan di gubuk keluarga Vandermir menjadi jauh lebih tenang secara fisik, namun Arlan tahu bahwa ini hanyalah ketenangan semu sebelum badai besar melanda. Ujian masuk akademi tinggal menghitung hari, dan Arlan bisa merasakan tatapan mata mata-mata kerajaan yang mengawasinya dari kejauhan semakin intens. Mereka tidak lagi mendekat, namun keberadaan mereka seperti sekumpulan burung nasar yang menunggu seekor mangsa untuk jatuh kelelahan.

Arlan berdiri tegak di tengah sebuah lingkaran yang dia buat di atas tanah berlumpur. Dia hanya mengenakan celana kain panjang yang sudah kusam, membiarkan tubuh bagian atasnya yang kini tampak lebih padat dan penuh dengan bekas luka latihan terpapar udara dingin. Meskipun tubuhnya kecil, setiap otot di lengan dan punggung Arlan terlihat sangat terdefinisi, seperti hasil pahatan pemahat terbaik. Dia menutup matanya, membiarkan energi dari Gerbang Keempat mengalir dengan ritme yang sangat lambat. Setelah membuka Gerbang Keempat, Arlan menyadari bahwa tantangan terbesarnya bukan lagi soal kekuatan fisik, melainkan soal kecepatan yang melampaui persepsi mata manusia.

Kakek tua itu muncul dari balik sebuah pohon besar sambil memegang sebuah dahan kecil yang masih memiliki daun hijau di ujungnya. Dia menatap Arlan dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada biasanya. Dia menyadari bahwa Arlan telah melewati ambang batas seorang manusia biasa. Sekarang, dia harus mengajarkan Arlan cara untuk menjadi hantu di medan perang.

"Kekuatan besar yang kamu miliki sekarang adalah sebuah kutukan jika kamu tidak bisa menggunakannya dengan benar," ucap kakek itu sambil mengayunkan dahan kecilnya di udara. "Pengguna sihir di akademi nanti akan menggunakan mana untuk melacak pergerakanmu. Mereka tidak menggunakan mata mereka, mereka menggunakan indra mana. Jika kamu bergerak seperti biasa, mereka akan dengan mudah menebak arah seranganmu. Kamu butuh Teknik Tanpa Bayangan."

Arlan membuka matanya. "Tanpa Bayangan? Apakah itu berarti aku harus bergerak lebih cepat dari cahaya?"

Kakek itu tertawa kecil. "Bukan lebih cepat dari cahaya, tapi lebih sunyi dari udara itu sendiri. Teknik Tanpa Bayangan adalah tentang cara meminimalkan perpindahan udara saat kamu bergerak. Manusia biasa menciptakan hambatan udara saat mereka berlari, dan itulah yang dibaca oleh para penyihir. Kamu harus belajar cara membelah udara tanpa membuat riak sedikit pun. Kamu harus menjadi bagian dari angin itu sendiri."

Kakek itu kemudian memerintahkan Arlan untuk berdiri di bawah pohon oak yang sangat besar. Musim gugur telah tiba, dan daun-daun mulai berjatuhan dengan ritme yang acak. "Tugasmu hari ini adalah menangkap setiap daun yang jatuh di sekitarmu sebelum mereka menyentuh tanah. Tapi ingat, kamu tidak boleh membuat satu daun pun yang masih menempel di pohon bergetar karena gerakan tubuhmu. Jika ada satu daun di dahan yang bergerak karena embusan angin dari tubuhmu, kamu gagal."

Arlan mulai melakukan latihan tersebut. Pada awalnya, ini terasa sangat mustahil. Setiap kali Arlan melesat untuk menangkap sehelai daun, kecepatan dari Gerbang Pertama dan Keempat menciptakan tekanan udara yang cukup kuat untuk membuat seluruh dahan pohon bergoyang. Meskipun dia berhasil menangkap daun yang jatuh, dia gagal memenuhi syarat kedua. Arlan menyadari bahwa selama ini dia menggunakan kekuatannya dengan cara yang sangat kasar. Dia seperti palu besar yang mencoba menangkap lalat.

Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia teringat akan sebuah pelajaran penting dalam manajemen krisis. Terkadang, tindakan yang terlalu agresif justru akan merusak peluang yang ada. Untuk mengendalikan situasi yang rumit, seseorang butuh ketenangan dan presisi yang luar biasa. Arlan mulai mengubah pendekatannya. Dia mulai mengendurkan seluruh ototnya, menerapkan teknik Gerbang Kedua untuk membuat tubuhnya tetap rileks di tengah gerakan cepat.

Dia mencoba lagi. Dan lagi. Ribuan kali Arlan bergerak maju mundur di bawah pohon itu. Keringat mulai membasahi tubuhnya, namun dia terus memfokuskan pikirannya pada aliran udara di sekitarnya. Dia mulai memahami bahwa Teknik Tanpa Bayangan bukan hanya soal kecepatan, tapi soal sinkronisasi antara pernapasan dan gerakan kaki. Dia harus menapakkan kakinya sedemikian rupa sehingga tidak ada tekanan yang tertinggal di tanah.

Setelah berhari-hari berlatih tanpa henti, Arlan mulai merasakan perubahan. Sekarang, saat dia bergerak, suaranya hanya terdengar seperti bisikan halus. Dia bisa menangkap sepuluh daun sekaligus tanpa membuat dahan di atasnya bergetar sedikit pun. Dia telah menguasai dasar dari Teknik Tanpa Bayangan. Dengan teknik ini, Arlan bisa mendekati lawan dari arah mana pun tanpa terdeteksi oleh radar mana mereka. Ini adalah senjata mematikan bagi seorang pendekar Taijutsu saat berhadapan dengan penyihir jarak jauh.

Malam harinya, Arlan kembali ke gubuk untuk makan malam bersama Elena. Ibunya itu terlihat jauh lebih bahagia sekarang karena Gort benar-benar tidak pernah mengganggu mereka lagi. Namun Arlan melihat Elena sedang menjahit sebuah pakaian baru dari kain yang lebih bagus.

"Ini untuk ujianmu nanti, Arlan," ucap Elena sambil tersenyum kecil. "Ibu ingin kamu terlihat rapi di hadapan para penguji kerajaan. Meskipun kita miskin, harga diri keluarga Vandermir tidak boleh terlihat kotor."

Arlan menerima pakaian itu dan merasakannya dengan tangannya. Dia bisa merasakan cinta dan harapan yang sangat besar dari ibunya yang tertuang di setiap jahitan pakaian tersebut. Di kehidupan lamanya, Adit selalu memakai jas bermerek yang harganya ratusan juta, namun tidak ada satu pun jas mewah itu yang terasa senyaman pakaian yang dijahit oleh tangan Elena.

"Terima kasih, Ibu," ucap Arlan pelan. "Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa."

"Ibu tidak pernah kecewa padamu, Arlan. Ibu hanya takut kehilanganmu," Elena memeluk anaknya erat.

Keesokan harinya adalah hari terakhir sebelum rombongan penguji kerajaan sampai di Desa Oakhaven. Arlan menghabiskan waktunya untuk bermeditasi di tepi sungai, tempat pertama kali dia menjatuhkan Gort. Dia mengintegrasikan semua teknik yang telah dia pelajari kekuatan dari Gerbang Pertama, stamina dari Gerbang Kedua, energi kehidupan dari Gerbang Ketiga, dan ketahanan rasa sakit dari Gerbang Keempat. Sekarang ditambah dengan kelincahan dari Teknik Tanpa Bayangan.

Arlan merasa tubuhnya sudah mencapai titik puncak untuk usianya saat ini. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa membuka Gerbang Kelima di dalam desa karena ledakan energinya akan menghancurkan gubuknya. Dia memutuskan untuk menyimpan pembukaan gerbang selanjutnya sebagai kartu as saat ujian akademi nanti jika dia bertemu dengan musuh yang benar-benar kuat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki kuda yang teratur terdengar dari arah gerbang masuk desa. Arlan menoleh dan melihat sebuah rombongan besar ksatria dengan zirah berwarna emas mengilap sedang memasuki desa. Di tengah rombongan itu, terdapat sebuah kereta mewah dengan lambang bunga lili milik Kerajaan Astra. Ini adalah rombongan penguji akademi. Dan di barisan ksatria pengawal, Arlan melihat Julian sedang menunggangi kuda putih dengan wajah yang sangat angkuh.

Julian tampak lebih kuat dari sebelumnya. Auranya terasa lebih padat, menandakan dia juga telah melalui latihan intensif. Saat Julian melewati area sungai dan melihat Arlan sedang duduk di sana, dia menarik tali kekang kudanya sejenak. Julian menatap Arlan dengan senyum yang penuh dengan niat membunuh yang tertahan.

"Persiapkan dirimu, Sampah," ucap Julian tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya.

Arlan tidak menjawab. Dia hanya menatap Julian dengan tatapan kosong yang sangat dingin. Tatapan mata Arlan membuat Julian merasa sedikit tidak nyaman, namun Julian segera mengabaikan perasaan itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor kepala desa.

Kakek tua itu muncul di samping Arlan secara tiba-tiba, menatap rombongan ksatria itu dengan pandangan yang penuh dengan penghinaan. "Sekumpulan orang sombong yang hanya mengandalkan berkat dewa. Arlan, panggungmu sudah disiapkan. Ingat, jangan biarkan mereka melihat seluruh kekuatanmu di babak awal. Biarkan mereka merasa aman sampai saat kamu menghancurkan harapan mereka di babak final."

Arlan bangkit berdiri dan membersihkan pakaiannya. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Di kehidupan sebelumnya, aku menang karena aku sabar. Di kehidupan ini, aku akan menang karena aku tidak memiliki belas kasihan."

Arlan berjalan kembali ke rumahnya dengan langkah yang sangat tenang. Dia melihat para penduduk desa berkumpul di sepanjang jalan, bersorak menyambut para penguji kerajaan. Mereka tidak tahu bahwa kehadiran rombongan ini adalah awal dari perubahan besar yang akan menghancurkan kenyamanan desa mereka yang munafik.

Malam itu, Arlan tidak berlatih secara fisik. Dia hanya duduk diam dalam kegelapan, memvisualisasikan setiap serangan dan pertahanan yang mungkin terjadi besok. Dia mempersiapkan mentalnya untuk menjadi pemangsa yang paling efisien. Dia sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah Julian, Gort, dan para bangsawan kerajaan saat mereka menyadari bahwa anak yang mereka sebut sampah adalah orang yang akan merobek robek takhta mereka.

Ketenangan sebelum badai telah berakhir. Besok, sejarah baru akan mulai ditulis dengan darah dan keringat. Arlan Vandermir, sang pendekar tanpa berkah, siap untuk membuktikan kepada dunia bahwa manusia bisa melampaui dewa hanya dengan kepalan tangan mereka sendiri.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!