"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Ujung Tanduk Sang Pelakor
Suara ketukan pantofel Baskara bergema di koridor marmer gedung pengadilan yang mulai sepi. Ia tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Arini, seolah jika ia melonggarkannya barang satu milimeter, dunia akan menelan istrinya.
"Bas, pelan-pelan saja. Aku sedikit pusing karena aroma kemenyan yang mendadak muncul tadi," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Baskara.
Baskara menghentikan langkah. Ia menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam, penuh kekhawatiran yang ia coba tutupi dengan wajah datarnya. "Kemenyan? Di dalam ruang sidang yang ber-AC? Itu pasti kiriman. Kita harus segera keluar dari sini."
"Rin, bener kata Mas Jaksa!" Mika tiba-tiba muncul di depan mereka, terbang mundur mengikuti langkah mereka. "Aroma itu asalnya dari perempuan ular itu. Dia berdiri di dekat pintu keluar parkiran. Dia nggak sendirian, ada 'sesuatu' yang nempel di punggungnya."
Baru saja mereka sampai di lobi pintu belakang, sosok Siska sudah berdiri di sana. Ia tidak lagi tampak seperti sosialita kelas atas. Wajahnya kuyu, matanya merah, dan ia menggenggam sebuah tas tangan kecil dengan sangat erat.
"Berhenti!" teriak Siska. suaranya melengking, memantul di dinding lorong yang sunyi.
Baskara menarik Arini ke belakang punggungnya. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam, seolah ia siap menghancurkan Siska hanya dengan pandangan mata. "Nyonya Siska, saya sarankan Anda pulang dan siapkan pengacara terbaik. Waktu Anda untuk bebas sudah hampir habis."
Siska tertawa hambar, suaranya terdengar pecah. "Hukum? Kamu pikir aku takut dengan hukummu, Baskara? Kamu sudah menghancurkan hidupku! Kamu memenjarakan Mbah Suro, kamu mengungkap kasus Darmawan... dan sekarang kamu mau menyeret Ayahmu sendiri?"
"Keadilan tidak mengenal nama keluarga, Siska," balas Baskara dingin. "Apa yang Anda lakukan pada istri pertama Pak Darmawan dan bagaimana Anda mencoba menculik istri saya semalam... itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Anda membusuk di penjara."
Siska melangkah maju, wajahnya mendekat ke arah Arini yang mengintip dari balik bahu Baskara. "Dan kamu, Dokter Indigo... kamu pikir kamu pahlawan? Kamu hanya pembawa sial! Gara-gara mata hantumu itu, semua rencanaku berantakan!"
"Aku tidak meminta kemampuan ini, Siska," sahut Arini dengan nada yang lebih tenang namun tegas. "Tapi jika mata ini bisa melihat betapa hitamnya hatimu, maka aku bersyukur. Arwah Ratna dan Abang Tato menitipkan salam untukmu. Mereka bilang, mereka sudah menunggumu di sisi lain."
Siska terbelalak, ia mundur satu langkah dengan wajah pucat. "Jangan bicara sembarangan! Mereka sudah mati!"
"Tapi dendam mereka tidak pernah mati, Siska," bisik Arini.
Mika yang sejak tadi gemas, terbang mendekati Siska. "Rin, kasih tahu dia, mahluk item yang ada di punggungnya itu pelan-pelan lagi makan energinya sendiri. Tuh, lihat pundaknya, miring kan?"
Arini hanya terdiam, ia melihat sosok hitam kecil dengan wajah keriput sedang bertengger di bahu Siska—hasil dari ilmu hitam yang berbalik menyerang tuannya.
"Minggir, Siska. Jangan paksa saya menggunakan kekerasan fisik pada seorang wanita," ancam Baskara. Ia mulai melangkah maju, mendorong Siska dengan bahunya secara tegas untuk memberi jalan bagi Arini.
"Tunggu! Aku belum selesai!" Siska mencoba menarik tangan Arini, namun Baskara dengan sigap menepisnya dan mencengkeram pergelangan tangan Siska dengan sangat kuat.
"Jangan. Pernah. Sentuh. Istri. Saya." Baskara menekankan setiap katanya dengan nada yang membuat Siska gemetar. "Sekali lagi tangan Anda bergerak ke arahnya, saya pastikan pasal penganiayaan akan langsung menjerat Anda detik ini juga."
Baskara melepaskan tangan Siska dengan kasar hingga wanita itu terhuyung. Ia membimbing Arini masuk ke dalam mobil SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menyala.
Di dalam mobil, Arini menarik napas lega. "Bas, dia sudah kehilangan akal sehatnya."
Baskara menghidupkan mesin, tangannya kembali menggenggam tangan Arini sambil mulai mengemudi keluar dari area pengadilan. "Dia panik. Orang yang terpojok akan melakukan apa saja. Tapi dia lupa, dia berhadapan dengan siapa."
"Cieee, sombongnya keluar lagi," Mika nyengir di kursi belakang. "Tapi bener sih, tadi Mas Jaksa keren banget pas bilang 'Istri Saya'. Gila, aku yang hantu aja baper, gimana Arini?"
Arini tersenyum tipis, pipinya sedikit merona. Ia menatap profil samping wajah Baskara yang tampak serius fokus ke jalanan. "Terima kasih, Bas. Kamu selalu ada di waktu yang tepat."
Baskara melirik Arini sebentar, lalu ia membawa tangan Arini ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Aku tidak akan membiarkan 'waktu' mengambilmu dariku lagi, Arini. Dunia ini terlalu berbahaya untukmu sendirian."
Mobil terus melaju, meninggalkan Siska yang masih berdiri terpaku di parkiran pengadilan, sementara bayangan hitam di bahunya mulai menutupi seluruh wajahnya yang penuh kebencian.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣