[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Perisai Sang Predator
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos jendela ruang makan keluarga Crassia terasa jauh lebih menyengat. Aroma kopi Blue Mountain dan roti panggang hangat yang biasanya menggugah selera, kini menguap hambar di indra penciuman Elleta. Ia turun dengan langkah gontai, hanya mengenakan pakaian rumah seadanya.
Ada rasa enggan yang luar biasa di dadanya untuk bertatap muka dengan Papanya, namun sisa-sisa ketegasan dari konfrontasi kemarin di kantor Steve membuat Elleta menolak untuk terlihat lemah.
Di meja makan, Yuda Crassia sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Bahu pria tangguh itu tampak sedikit merosot, kehilangan wibawa mutlak yang biasanya terpancar kuat. Di sampingnya, Rena sedang sibuk menata piring porselen, bergerak dengan gestur yang dipaksakan demi mencairkan suasana yang membeku.
"Duduk, Elleta," suara Yuda terdengar berat, parau oleh kelelahan.
Elleta menarik kursi tepat di seberang Papanya. Rena dengan cekatan menyendokkan nasi goreng ke piring putrinya, meskipun jemarinya sedikit gemetar.
"Makan dulu, ya, El. Mama buatkan makanan kesukaan kamu," ucap Rena lirih. Ia mencoba tersenyum, meski sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang mendalam.
Elleta hanya menatap piringnya tanpa minat. Hawa dingin yang pekat mendadak menyelimuti ruangan itu. Kesunyian yang mencekam akhirnya pecah saat Yuda meletakkan sebuah tablet di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Elleta dengan gerakan kasar.
"Baca itu," perintah Yuda singkat, menahan gemuruh di dadanya.
Headline berita pagi ini terpampang dengan huruf tebal yang mencolok di salah satu portal media daring.
Arogansi Berdarah Biru: Putri Tunggal Keluarga Crassia Mengamuk di Kantor Danendra Group, Sekretaris Jadi Korban Siraman Kopi Panas!
Di bawah tulisan tersebut, potongan gambar dari video amatir yang memperlihatkan Elleta memegang cangkir dan Liana yang merintih kesakitan telah tersebar luas. Kolom komentar di bawahnya bahkan jauh lebih kejam, dipenuhi oleh penghakiman warganet.
“Cantik tapi tidak beretika. Begini ya cara didikan keluarga konglomerat?”
“Malu-maluin nama besar Crassia saja. Kasihan orang tuanya punya anak arogan seperti ini.”
“Uang bisa membeli barang mewah, tapi tidak bisa membeli kelas dan tata krama.”
Wajah Elleta seketika memanas. Rasa sesak merayap ke dadanya saat membaca komentar yang dengan mudahnya menguliti integritas keluarganya.
"Apa maksud dari semua tindakan kekanakanmu ini, Elleta?" Yuda akhirnya meledak. Ia menggebrak meja makan hingga sendok dan garpu berdenting nyaring.
"Papa sudah cukup pusing mengurus fluktuasi bisnis tambang yang sedang tidak stabil di daerah, dan sekarang kamu malah menambah beban dengan merusak citra keluarga di hadapan publik! Kamu bertingkah seperti orang tidak berpendidikan di kantor calon tunanganmu sendiri!"
Elleta meletakkan tablet itu dengan tangan yang sengaja dibuat setenang mungkin, meski di dalam dadanya seolah ada bom yang siap meledak. "Papa hanya melihat potongan berita yang sudah digoreng media, tanpa mau tahu alasannya. Wanita itu yang memulainya, Pa. Dia menghina namaku, menghina keluarga kita, bahkan menyiramkan air panas ke lenganku lebih dulu. Apa aku harus diam saja membiarkan orang seperti dia menginjak-injak harga diriku?"
"Kalau dia keterlaluan, kamu bisa melaporkannya pada Theo atau Steve secara elegan! Bukan dengan cara primitif seperti itu!" bentak Yuda, wajahnya memerah.
"Sekarang semua relasi bisnis Papa menelepon dan mempertanyakan kestabilan emosimu!"
"Hentikan, Pa!" Elleta berdiri mendadak. Kursinya terdorong ke belakang, menimbulkan suara derit yang memilukan di atas lantai marmer.
"Papa selalu peduli pada citra, nilai saham, dan relasi bisnis. Tapi Papa pernah enggak, tanya gimana perasaanku saat Steve membiarkan sekretarisnya merendahkanku? Aku enggak butuh relasi yang hanya menyukai topeng kita. Aku bisa membela diriku sendiri!"
"Membela diri dengan cara menghancurkan masa depanmu? Tiga hari lagi makan malam itu akan diadakan, Elleta! Bagaimana Papa harus menaruh wajah Papa di depan keluarga Danendra setelah kekacauan ini?"
"Kalau begitu batalkan saja! Aku tidak peduli!" teriak Elleta, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang karena rasa sesak yang tak terbendung.
Nafsu makannya hilang total, digantikan oleh rasa mual yang bergejolak. Ia memandang nasi goreng buatan Mamanya dengan tatapan nanar, sebelum akhirnya berbalik dan berlari menaiki tangga.
Ia meninggalkan keheningan yang menyakitkan di ruang makan mewah tersebut, mengunci diri di dalam kamar.
Sementara itu, di puncak gedung pencakar langit Danendra Group, atmosfer di ruang kerja utama tidak kalah menegangkan. Steve sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap hamparan pemandangan kota Jakarta yang mulai sibuk.
Ia baru saja menyesap kopi hitamnya saat pintu ruangan diketuk dengan terburu-buru. Theo masuk dengan wajah pucat, membawa tablet yang menampilkan distorsi berita yang sama dengan yang dilihat Elleta pagi ini.
"Maaf, Pak Steve. Berita tentang kejadian kemarin mendadak meledak di media sosial. Seseorang menyebarkan rekaman amatir dari dalam divisi periklanan, dan saat ini nama Nona Elleta sedang diserang habis-habisan oleh opini publik," lapor Theo cepat.
Steve menyambar tablet tersebut. Sepasang matanya menyapu tajam setiap kalimat ejekan dan penghakiman yang ditujukan pada Elleta. Ia melihat bagaimana orang-orang yang bahkan tidak pernah bertatap muka dengan gadis itu berani melabelinya sebagai sosok yang cacat moral.
Steve memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Kilasan wajah Elleta yang penuh harga diri setelah memberi pelajaran pada Liana kembali melintas di benaknya. Ia tahu, secara tidak langsung, dialah yang memicu Elleta untuk bertindak nekat.
Namun, ia tidak mengira dampak eksternalnya akan dikoordinasikan secepat ini oleh media.
"Siapa yang pertama kali mengunggah rekaman ini?" tanya Steve.
Suaranya terdengar sangat rendah, jenis suara yang membuat Theo tahu bahwa bosnya sedang berada di puncak kemarahan yang dingin.
"Beberapa akun anonim di platform X, Pak. Tapi dalam hitungan jam, sindikasi media besar langsung mengangkatnya menjadi headline," jawab Theo.
Steve bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar dengan punggung yang tampak tegang. Ia tahu betul bagaimana kejamnya narasi publik bisa menghancurkan seseorang, terutama gadis sekeras kepala namun sebenarnya rapuh seperti Elleta.
Ia tidak akan membiarkan properti berharganya dihancurkan oleh opini murahan sebelum ia sempat memilikinya secara utuh.
"Theo," panggil Steve tanpa berbalik.
"Ya, Pak?"
"Gunakan semua pengaruh dan jaringan kita. Hubungi para pemilik konglomerasi media utama yang memegang portal berita tersebut. Berikan mereka penawaran yang tidak akan bisa mereka tolak. Aku mau semua berita dan video itu bersih tanpa sisa dalam waktu satu jam dari seluruh platform internet."
Theo sedikit terperanjat, kalkulasi bisnis langsung berjalan di kepalanya. "Tapi, Pak, menghentikan penyebaran massal secara serentak dalam waktu sesingkat itu akan membutuhkan biaya kompensasi yang sangat besar..."
Steve berbalik lambat, menatap asistennya dengan pandangan sedingin es. "Apa aku terlihat sedang kekurangan uang atau sedang menghitung anggaran, Theo? Berikan mereka angka berapa pun yang mereka minta. Jika ada yang menolak, beli saham medianya atau cari celah hukum untuk menekan mereka. Aku tidak mau melihat ada satu pun kalimat ejekan tentang Elleta Clarissa Crassia melintas di layar monitor mana pun."
Theo menelan ludah dengan susah payah, lalu segera mencatat instruksi mutlak itu di agendanya. "Baik, Pak. Saya mengerti. Akan segera saya eksekusi."
"Dan satu lagi," tambah Steve sebelum Theo melangkah keluar.
"Cari tahu siapa saja staf di divisi periklanan yang berani merekam dan menyebarkan video internal itu. Pastikan mereka menerima surat pemutusan hubungan kerja hari ini juga. Tidak ada tempat di Danendra Group bagi orang-orang yang tidak bisa menjaga kerahasiaan aset perusahaan."
"Dimengerti, Pak."
Setelah pintu ganda itu tertutup dan menyisakan kesunyian, Steve kembali ke meja kerjanya. Ia menyandarkan punggung, matanya tertuju pada sebuah foto dokumentasi keluarga Crassia yang sempat ia periksa semalam. Ia menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya.
Elleta telah melakukan bagiannya untuk menjadi berani dan mempertahankan harga diri, persis seperti tantangan yang ia berikan. Dan sekarang, sudah menjadi tugasnya untuk memastikan badai yang dipicu oleh gadis itu tidak berbalik menelannya hidup-hidup.
"Kamu sudah berjuang cukup keras kemarin, Elleta," gumam Steve pelan pada ruangan yang sepi.
"Biarkan sekarang aku yang membereskan sisanya."
Steve tahu betul, intervensi agresifnya ini mungkin akan membuat Yuda Crassia semakin waspada, atau bahkan membuat Elleta merasa semakin terikat dalam jeratannya.
Namun, melihat gadis yang ia pilih harus dihakimi oleh orang-orang yang bahkan tidak berada di level sosial yang sama adalah sesuatu yang tidak bisa ditoleransi oleh ego seorang Steve Athariz Danendra.
Bagi Steve, hanya dia yang memiliki hak eksklusif untuk menguji batas kemampuan Elleta, bukan dunia luar. Tiga hari lagi, makan malam resmi antar keluarga akan tetap berjalan.
Dan Steve sudah menyusun skenario cadangan untuk memastikan bahwa di mata publik, Elleta akan tetap menjadi sosok Crassia yang tak tersentuh apa pun cara yang harus ia tempuh.