Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara dendam dan sumpah
Flashback....
Suara air yang menderu dan gemuruh tanah yang terus bergeser menciptakan suasana mencekam. Wisya kecil berusaha mengatur napasnya yang sesak, sementara sang Ayah mendekap kedua putrinya di bawah perlindungan celah batu yang tersisa.
Sebuah perahu kayu kecil mendekat, dikemudikan oleh seorang pria berpakaian megah,seorang Raja dari wilayah Utara yang tengah melintas. Namun, wajah sang Raja terlihat pucat saat melihat situasi tersebut.
"Cepat naik!" teriak sang Raja di tengah kebisingan. Namun, ketika sang Ayah hendak menggendong kedua putrinya sekaligus, sang Raja langsung menahan tangannya.
"Berhenti!" cegat sang Raja dengan suara tegas namun penuh sesal.
"Perahu ini kecil dan arus air sangat deras. Jika ditambah beban kalian semua, kita akan tenggelam dalam hitungan detik. Perahu ini hanya muat untuk satu orang lagi!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Wisya. Ia menatap kakaknya, Sedra, yang terkulai pingsan di pelukan Ayah, lalu menatap Ibunya yang gemetar hebat.
"Tuan, kumohon... mereka berdua putriku ." rintih sang Ibu.
Sang Raja menggeleng keras. "Pilih satu, atau kalian semua akan terkubur di sini! Tanah di atas kita akan segera runtuh sepenuhnya!"
Sang Ayah terdiam. Matanya beralih dari Sedra ke Wisya. Wisya sudah hendak mengulurkan tangan, berharap ayahnya akan meraihnya. Namun, bayangan ramalan sang peramal tentang "Takdir Cahaya Dewi" pada Sedra seolah melintas di mata ayahnya.
"Tuan... bawalah dia bersamamu. Selamatkan putriku tuan." ucap sang Ayah dengan suara pecah sembari menyerahkan Sedra yang tak sadarkan diri ke tangan sang Raja.
Wisya membeku. Kalimat 'Hanya muat satu orang ' itu seolah menjadi vonis mati baginya.
"Ayah? Ibu?" suara Wisya mencicit, penuh keputusasaan. "Aku juga di sini... aku terluka..."
Sang Ayah tak berani menatap mata Wisya. Ia hanya terus mendorong perahu itu agar segera menjauh. Sementara sang Ibu menutup wajahnya dengan tangan, menangis meraung-raung namun tetap membiarkan Wisya tertinggal di belakang. Sang Ibu bahkan tidak menoleh. Matanya hanya terpaku pada perahu yang mulai menjauh membawa Sedra. Di pikiran mereka, mereka sedang menyelamatkan "Sang Cahaya " sementara "Sang Kutukan" memang sudah seharusnya terkubur bersama dengan reruntuhan itu.
Wisya melihat air mata ibunya jatuh, tapi bukan untuknya. Air mata itu untuk perpisahan dengan Sedra. Saat perahu itu menghilang di balik kabut, dan tanah kembali bergetar siap menimbun sisa-sisa tawanan yang tertinggal, Wisya tertawa lirih di tengah tangisnya. Rasa sakit di kakinya tidak lagi terasa, tertutup oleh rasa benci yang membakar dingin di dadanya.
"Jika aku adalah kutukan, maka aku akan pastikan kutukan ini hidup untuk menghancurkan cahaya yang kalian puja itu ." sumpahnya dalam hati sebelum kegelapan benar-benar menimbunnya.
Flash on...
***
Seorang tabib tampak sibuk memeriksa kondisi Nayan dengan raut wajah bingung. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang dan menggelengkan kepala, membuat suasana di ruangan itu semakin tegang.
"Dia baik-baik saja, Tuan. Tidak ada luka atau kejanggalan apa pun di tubuhnya." lapor sang tabib pelan.
Cakra terbelalak. Amarahnya seketika menyulut. Bagaimana mungkin tabib itu bicara begitu setelah ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Nayan meregang nyawa sampai memuntahkan darah?
Riu yang berdiri di sampingnya pun tak kalah sangsi. "Apa kau ini tabib gadungan?" cetusnya tajam. "Bagaimana mungkin kau bilang dia tidak apa-apa setelah semua kekacauan tadi?"
Kehilangan kesabaran, Cakra merangsek maju dan mencengkeram kerah baju sang tabib dengan kuat. "Jangan main-main denganku! Aku melihatnya sendiri ,dia hampir mati tadi . Dan sekarang kau bilang dia baik baik saja !"
"Am-ampun, Tuan! Saya bicara jujur. " sahut tabib itu dengan suara gemetar ketakutan."Gadis ini sama sekali tidak sakit. Dia hanya sedang tertidur pulas."
Gigi Cakra gemertak . Ia merasa semakin dipermainkan oleh tabib ini .
Saat tangannya sudah melayang, siap untuk menghajar sang tabib , sebuah suara lemah menghentikan gerakannya.
"Cakra... hentikan..."
Cakra tersentak. Ia segera melepaskan cengkeramannya dan berlutut di samping tempat tidur, menatap Nayan dengan tatapan yang dipenuhi kecemasan luar biasa.
"Nayan! Kau sudah sadar? Apa yang terasa sakit? Katakan padaku." tanya Cakra bertubi-tubi, tangannya gemetar ingin menyentuh Nayan tapi takut menyakitinya.
Nayan mengedarkan pandangannya ke sekeliling , lalu menatap Cakra dengan lembut. "Aku baik baik saja , Cakra. Benar-benar tidak apa-apa."
Nayan sendiri sebenarnya merasa sangat bingung. Ingatannya masih jelas merekam rasa sakit yang begitu menyiksa beberapa menit lalu, seolah organ dalamnya hancur berkeping-keping. Namun sekarang, tubuhnya justru terasa segar, seakan rasa sakit itu hanyalah mimpi buruk yang lewat.
Melihat raut curiga di wajah Riu dan kecemasan di mata Cakra, Nayan memilih untuk bungkam. Ia tak ingin mereka bertanya lebih jauh tentang keanehan yang baru saja terjadi pada dirinya.
........
Malam itu terasa begitu panjang bagi Nayan. Meskipun tubuhnya sudah terasa bugar kembali, pikirannya justru semakin semrawut. Setelah Cakra dan Riu keluar untuk memberinya ruang .
Nayan hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, mencoba merangkai kepingan teka-teki yang menghantamnya. Kini dia bukanlah lagi Nayan seorang gadis lugu dia adalah Sedra .
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" gumamnya lirih.
"Untuk sesaat, aku merasakan energiku kembali masuk ke dalam tubuhku . Tapi itu tidak terasa seperti penyatuan. Energi itu justru terasa asing... seolah dia sengaja datang hanya untuk menghancurkanku dari dalam."
Sedra mengepalkan tangannya di balik selimut. Ia tahu persis siapa yang memegang pedangnya sekarang.
"Siapa yang bisa memberiku jawaban? Aku tidak mungkin bertanya pada Elias." desisnya sinis.
"Bedebah itu pasti ada di balik semua ini. Dan untuk apa juga dia memberitahuku yang sebenarnya? Dia pasti lebih senang melihatku mati perlahan."
Sedra memijat keningnya yang berdenyut. Di tengah kebuntuan itu, tiba-tiba sebuah bayangan melintas di benaknya—sosok lama yang selama ini ia kunci rapat di sudut memorinya.
"Kenapa aku baru terpikir sekarang?" Sedra tersentak duduk, matanya berkilat. " Dia mungkin tau rahasia di balik ikatan energi ini. Dia juga mungkin tau apa yang harus aku lakukan agar kekuatanku bisa kembali ."
Ingatan Sedra melayang ke masa lalu, ke sebuah tempat terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk istana maupun konflik pendekar. Seseorang yang telah mengenalnya bahkan sebelum Sedra turun ke Medan perang .
"Benar ! Besok, aku harus menemuinya. Apapun risikonya." tekad Sedra bulat.
Sorot mata Sedra yang biasanya selalu tenang saat menjadi Nayan kini berubah tajam dan dingin. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Elias yang licik dan teriakan orang-orang yang menjadi korban ambisi pangeran itu berputar seperti kaset rusak. Rasa sakit yang ia rasakan tadi malam seolah menjadi pengingat bahwa waktu yang ia miliki tidak banyak.
"Aku harus menyelesaikan masalah kekuatan ku ini secepat mungkin, sebelum Elias berhasil menemukanku." bisik Sedra pada dirinya sendiri, suaranya sarat akan dendam yang mendalam. Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku tidak boleh mati sekarang ! Belum saatnya. Tidak sebelum aku berhasil menghabisinya dengan tanganku sendiri."
Bagi Sedra, keberadaan Elias adalah sebuah noda yang harus dihapus. Ia tidak akan pernah rela membiarkan pria itu menghirup udara dengan tenang, apalagi hidup bahagia di atas penderitaan dan genangan darah orang-orang tak berdosa yang tewas hanya karena keserakahan sang Pangeran.
Sedra mengambil napas panjang, mencoba menekan amarahnya yang bergejolak .
"Keserakahan dan ambisimu akan menjadi liang lahatmu sendiri, Elias. Aku pastikan itu," tekadnya sekali lagi.
Bersambung......
🪻🪻🪻🪻