Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: JEJAK YANG HILANG
Waktu bagaikan sungai yang mengalir deras, tak pernah berhenti walau hanya sedetik. Apa yang terjadi di langit tinggi itu kini telah tertulis sebagai legenda, sebuah kenangan pahit yang tersimpan rapi di hati para Penguasa Langit. Namun di dunia fana, waktu berjalan dengan iramanya sendiri, mengukir kisah baru di atas kanvas yang bersih.
Tujuh tahun telah berlalu sejak cahaya emas itu turun dan meninggalkan sesosok bayi di padang rumput.
Di sebuah rumah kayu sederhana yang terletak di pinggiran desa, hidup seorang gadis kecil. Penduduk desa memanggilnya Lira.
Ia bukan lagi bayi yang tak berdaya. Kini ia tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik dan lincah, dengan rambut merah muda yang selalu terurai indah membalai bahunya, dan sepasang mata yang berwarna cokelat keemasan—mata yang mampu menenangkan siapa saja yang memandangnya, seolah-olah ada kedalaman samudra di dalamnya.
Namun, di balik senyum manis dan tingkah lucunya, Lira menyimpan sebuah keanehan yang membuatnya berbeda dari anak-anak lain.
Ia tidak ingat apa pun.
Bukan hanya tidak ingat masa lalunya sebelum ditemukan, tapi ada sesuatu yang lebih aneh. Seolah-olah ada bagian dari dirinya yang sengaja dikunci, disembunyikan di balik tembusan tebal yang tak kasat mata. Setiap kali ia mencoba memikirkan siapa dirinya sebenarnya, atau dari mana asalnya, kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi kabut tebal yang tak bisa ditembus oleh pikiran.
Ia ingat nama orang-orang di desa. Ia ingat cara menanam padi, cara menenangkan hewan yang ketakutan, dan cara membuat bunga mekar hanya dengan sentuhan jari.
Tapi ia tidak ingat dirinya sendiri.
Tidak ada bayangan tentang sayap yang megah. Tidak ada ingatan tentang langit yang berwarna ungu. Tidak ada gambaran tentang pertempuran dahsyat atau tentang pengorbanan besar. Semuanya telah dihapus, diseka bersih oleh kekuatan misterius untuk melindunginya, atau mungkin untuk memberinya kesempatan memulai segalanya dari nol.
“Lira! Ayo pulang! Matahari sudah mulai condong ke barat!”
Seruan seorang wanita paruh baya memecah lamunannya. Itu adalah Bunda Mira, wanita baik hati yang menemukan Lira terbaring di padang rumput tujuh tahun lalu dan memutuskan mengangkatnya sebagai anak sendiri. Wajahnya teduh, penuh kasih sayang yang tulus.
Lira tersentak dari lamunannya. Ia sedang duduk di atas sebuah batu besar di tepi hutan, menatap jauh ke arah cakrawala di mana pegunungan menjulang tinggi menyentuh awan.
“Iya, Bunda!” jawab Lira dengan suara ceria, namun ada nada kerinduan yang samar di sana.
Ia melompat turun dari batu itu, berjalan menghampiri ibunya. Di setiap langkah kakinya, rumput dan bunga-bunga kecil di sekitarnya seolah menunduk hormat, tumbuh lebih segar dan berwarna lebih cerah. Itu adalah keajaiban kecil yang sudah biasa terjadi di sekitar Lira, sebuah sisa kekuatan yang masih tersisa meski ingatannya telah hilang.
Namun hari ini, sesuatu terasa berbeda.
Saat mereka berjalan melewati sebuah pohon beringin tua yang besar, angin berhembus kencang secara tiba-tiba. Bukan angin biasa yang membawa kesejukan, tapi angin yang terasa… dingin. Dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Lira berhenti berjalan. Ia memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
“Lira? Kenapa berhenti?” tanya Bunda Mira heran.
“Entahlah, Bunda…” bisik Lira, matanya mengedar gelisah ke sekeliling hutan yang tiba-tiba menjadi hening. Burung-burung berhenti berkicau. Daun-daun berhenti bergerak. Dunia seolah menahan napas. “Aku… aku merasa ada yang mengawasi kita.”
Dan benar saja.
Dari balik rimbunnya dedaunan, sepasang mata menyala. Bukan mata binatang buas, melainkan mata yang cerdas namun penuh dengan kegelapan. Sebuah sosok bayangan yang tinggi dan kurus melangkah keluar dari balik batang pohon.
Pakaiannya berwarna hitam legam, menyatu dengan bayangan di sekitarnya. Wajahnya tertutup sebagian oleh tudung, namun senyuman di bibirnya terlihat begitu tajam dan menakutkan.
Itu adalah Nyxarion.
Selama bertahun-tahun sejak kekalahannya, ia tidak benar-benar pergi. Ia hidup dalam pengasingan, membenamkan dirinya dalam kegelapan, merenungi kesalahannya. Namun rasa penasaran dan ambisinya yang belum padam membawanya turun ke dunia fana. Ia ingin melihat. Ia ingin memahami kekuatan apa yang sebenarnya dimiliki oleh sosok yang telah mengalahkan Nihilum dan mengalahkan logikanya sendiri.
Dan kini, ia menemukannya.
Dalam wujud seorang gadis kecil yang polos dan tak berdaya.
“Jadi… ini wujud barumu?” bisik Nyxarion, suaranya rendah dan bergetar, terdengar seperti desiran angin malam. “Kau yang dulu bersinar terang bagai matahari, kini terkurung dalam daging dan tulang yang rapuh ini?”
Lira mundur selangkah, bersembunyi di belakang punggung Bunda Mira yang juga gemetar ketakutan. Instingnya berteriak bahwa sosok di hadapannya ini berbahaya. Sangat berbahaya.
“Kau… siapa?” tanya Lira dengan suara kecil, namun ia mencoba memberanikan diri.
Nyxarion tertawa pelan. Tawa yang tidak terdengar lucu, justru terasa mengerikan.
“Aku adalah apa yang kau lupakan, Lira. Atau… Myrrha.”
Saat nama terakhir itu terucap, sesuatu terjadi.
Duar!
Seperti ada petir yang menyambar di dalam kepala Lira.
Gambar-gambar aneh berkelebat cepat di benaknya. Langit yang retak. Cahaya emas yang menyilaukan. Suara tangis dan suara gemuruh. Sebuah perasaan hampa yang besar dan rasa sakit yang luar biasa menyergap hatinya tanpa peringatan.
“Aaaah!” Lira menjerit pelan, memegang kepalanya dengan kedua tangan. “Sakit… Kepalaku sakit!”
“Lihat?” bisik Nyxarion mendekat, matanya bersinar liar. “Ingatan itu tidak benar-benar hilang. Mereka hanya tidur. Dan aku bisa membangunkannya. Aku bisa mengembalikan segalanya padamu. Kekuatanmu, statusmu, ingatanmu…”
Ia mengulurkan tangannya yang pucat dan dingin ke arah Lira.
“Bersamaku, kau tidak perlu menjadi gadis kecil yang lemah ini. Kau bisa menjadi Ratu Langit lagi. Kau bisa menjadi segalanya.”
Bunda Mira dengan berani maju ke depan, melindungi anaknya. “Jangan dekati anakku! Pergi kau setan!”
Nyxarion menatap wanita itu dengan tatapan dingin, seolah-olah Bunda Mira hanyalah semut yang bisa diinjaknya kapan saja. Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, tiba-tiba cahaya putih menyilaukan meledak dari tubuh Lira.
Cahaya itu mendorong Nyxarion mundur beberapa langkah.
Lira mengangkat wajahnya, matanya kini berkaca-kaca, penuh dengan ketakutan namun juga tekad yang kuat. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan pria aneh itu. Ia tidak tahu siapa Myrrha itu. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak ingin menjadi orang lain. Ia ingin menjadi Lira. Ia ingin bersama Bundanya.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!” seru Lira, suaranya bergetar namun tegas. “Aku bukan ratu! Aku hanya Lira! Dan aku tidak mau ingat apa pun jika itu membuatku sesakit ini!”
Kata-kata itu menggema di hutan yang sunyi.
Nyxarion terpaku. Ia menatap gadis kecil itu dengan ekspresi terkejut. Sekali lagi, ia dikalahkan bukan oleh kekuatan, tapi oleh ketulusan hati yang murni.
Ia tersenyum lagi, kali ini senyuman yang penuh makna yang sulit diartikan.
“Bagus…” gumamnya pelan. “Sangat bagus. Mungkin kau benar. Mungkin menjadi manusia yang sederhana jauh lebih berharga daripada menjadi dewa yang kesepian.”
Bayangan di sekitarnya mulai menebal, menyelimuti tubuhnya.
“Tapi ingat kata-kataku, Lira,” ucapnya sebelum sepenuhnya menghilang ke dalam kegelapan. “Jejak itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Sooner or later… kau harus menghadapi takdirmu.”
Dalam sekejap mata, sosok hitam itu lenyap. Angin dingin pun hilang bersamanya. Hutan kembali menjadi tenang dan hijau seperti sedia kala. Seolah-olah tidak pernah ada apa-apa terjadi.
Namun Lira masih berdiri mematung, napasnya memburu. Ia memegang kuat tangan Bundanya.
Ia merasa bahwa dunianya yang tenang dan sederhana telah mulai retak. Pria misterius itu membawa pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini ia hindari.
Siapa dia sebenarnya? Mengapa ada kekuatan aneh dalam dirinya? Dan apa arti nama “Myrrha” yang membuat hatinya terasa begitu perih saat didengar?
Jejak masa lalu yang ia pikir telah hilang selamanya, ternyata masih tertinggal, menunggunya untuk ditemukan… atau menunggunya untuk ditakuti.