NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 18: "Denting Sunyi di Balik Ndalem"

​Lantai ruang tengah rumah itu seolah menjadi saksi bisu atas sisa-sisa badai semalam. Shania berdiri mematung di ambang pintu dapur, menatap punggung Zain yang sedang memakai sorban putihnya di depan cermin kecil dekat pintu keluar. Tidak ada sapaan. Tidak ada ciuman tangan yang biasanya dilakukan meski dengan keterpaksaan.

​Zain berangkat ke Surabaya pagi itu tanpa pamit secara lisan. Ia hanya meninggalkan secarik kertas di atas meja makan:

“Saya, ada seminar di Surabaya. Mungkin tiga hari. Jaga diri baik-baik. Assalamualaikum.”

​Shania meremas kertas itu hingga lecek. Air matanya yang sudah mengering sejak semalam kembali menggenang.

"Mas Zain, jahat," bisiknya parau. "Habis buat aku takut, sekarang main pergi gitu aja."

​Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, Shania tahu bahwa ia pun bersalah. Tamparan itu, teriakan itu, dan provokasinya yang menyebut-nyebut nama Fatimah—santriwati idola di pondok—telah membangunkan sisi gelap pria yang selama ini berusaha keras menjadi pelindungnya.

"​Dua Minggu dalam Kehampaan"

​Tiga hari yang dijanjikan Zain berlalu, namun pria itu tidak kunjung pulang. Lewat pesan singkat yang sangat kaku, Zain mengabarkan bahwa jadwalnya diperpanjang. Ia diundang untuk mengisi pengajian akbar di Sidoarjo, kemudian diminta menjadi pembicara dalam acara khitanan massal di Gresik, hingga rentetan agenda dakwah lainnya yang seolah sengaja ia susun agar tidak perlu cepat-cepat kembali ke Kediri.

​Bagi Zain, Surabaya adalah pelarian. Di setiap sujudnya di masjid-masjid yang ia kunjungi, ia selalu meminta ampun. Tangannya yang sempat mencengkeram bahu Shania dengan kasar malam itu terasa kotor. Pipi yang ditampar Shania sudah tidak sakit, namun harga dirinya sebagai seorang murabbi (pendidik) hancur berkeping-keping.

​*“Bagaimana mungkin aku bisa mendidik ribuan santri, sementara aku gagal mendidik nafsuku sendiri di depan istriku?”* batin Zain setiap kali ia menatap langit Surabaya yang gerah.

​Sementara itu di Kediri, Shania merasa seperti hamba sahaya di rumahnya sendiri. Ia tetap menjalankan rutinitasnya sebagai istri ustadz, namun tanpa nyawa. Ia sering melamun saat mengaji, bahkan beberapa kali salah saat menyebutkan silsilah keluarga besar pondok yang seharusnya sudah ia hafal.

"​Panggilan ke Ndalem"

​Suatu sore, seorang santriwati datang mengetuk pintu rumah Shania.

"Assalamualaikum, Ning Shania. Umi Zainab memanggil Ning ke Ndalem (rumah utama pengasuh pondok). Beliau bilang ada titipan untuk, Ning."

​Shania memperbaiki letak cadarnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia takut. Umi Zainab adalah wanita yang memiliki intuisi tajam. Shania takut rahasia perang dinginnya dengan Zain terbongkar.

​Sesampainya di Ndalem, bau harum kayu gaharu menyambutnya. Umi Zainab sedang duduk di atas permadani sambil memilah biji tasbih. Wajahnya yang sudah berkerut namun tetap memancarkan cahaya ketenangan itu tersenyum lembut saat melihat Shania.

​"Sini, Nak. Duduk dekat, Umi," ujar Umi Zainab sambil menepuk lantai di sampingnya.

​Shania mencium tangan mertuanya dengan takzim.

"Ngapunten, Umi. Wonten napa nggih memanggil, Shania?"

​Umi Zainab tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat mata Shania. Meskipun Shania bercadar, Umi bisa melihat binar mata menantunya yang meredup dan kantung mata yang menghitam karena kurang tidur.

​"Zain, sudah dua minggu di Surabaya. Dia, sempat telepon Umi, katanya jadwalnya padat sekali sampai belum bisa pulang ke Kediri. Dia, ada telepon, kamu?"

​Shania menunduk, memainkan ujung hijabnya.

"Hanya lewat pesan singkat, Umi. Mas Zain, sibuk sekali sepertinya."

​Umi Zainab menghela napas panjang, sebuah senyum pahit terukir di bibirnya.

"Zain, itu... sejak kecil kalau punya masalah, dia akan lari ke dalam ibadah atau kesibukan. Dia, tidak pernah mau memperlihatkan lukanya pada orang lain. Bahkan pada Ibunya sendiri."

​Deg.

Jantung Shania berdegup kencang. Apakah Umi tahu?

​"Shania, Nak."

Umi memegang jemari Shania yang dingin.

"Kamu, tidak seceria biasanya. Biasanya kalau ke sini, kamu selalu tanya kapan jadwal masak bareng atau protes soal hafalan yang sulit. Sekarang kamu diam saja. Ada apa? Apa Zain menyakitimu?"

​Shania tercekat. Air matanya hampir tumpah.

"Mboten, Umi. Mas Zain, baik..."

​"Jangan berbohong pada, Umi. Umi, yang melahirkannya, Umi yang mendidiknya. Zain, itu kaku, keras dalam prinsip, tapi dia lembut hati. Kalau dia sampai tidak pulang dua minggu padahal dia sangat mencintai rumahnya, berarti ada sesuatu yang besar yang sedang dia sesali."

"​Mengenang Belenggu Awal"

​Umi Zainab kemudian mengajak Shania ke teras belakang yang menghadap ke kebun jeruk. Sambil menikmati teh melati hangat, Umi mulai bercerita—sebuah cerita yang membawa Shania kembali ke masa di mana ia merasa dunianya berakhir.

​"Kamu, ingat pertama kali kalian dijodohkan?" tanya Umi.

​Shania mengangguk pelan. Bagaimana ia bisa lupa? Saat itu ia masih mengenakan jeans sobek dan rambut cokelat, berteriak-teriak menolak Zain yang ia sebut 'ustadz tua bangka'.

​"Waktu itu," lanjut Umi, "Zain, sebenarnya punya pilihan untuk menolak. Abahnya memberikan dia kebebasan. Tapi tahukah kamu kenapa dia menerima? Bukan hanya karena bakti pada orang tua."

​Shania menatap mertuanya dengan bingung.

"Lalu karena apa, Umi?"

​"Zain, melihat fotomu yang sedang balapan liar yang dikirimkan ayahmu ke, Abah. Di foto itu, Zain bilang dia tidak melihat wanita nakal. Dia, melihat seorang anak kecil yang sedang berteriak minta tolong karena merasa kesepian. Zain, bilang pada Umi malam itu, 'Umi, gadis ini butuh rumah, bukan penjara. Jika saya bisa menjadi rumahnya, maka saya akan mengambil mahar itu sebagai tanggung jawab dunia akhirat.'"

​Mendengar itu, pertahanan Shania runtuh. Ia menangis sesenggukan di pangkuan Umi Zainab. Ia teringat betapa ia selalu menganggap mahar yang diberikan Zain—seperangkat alat shalat dan mushaf—sebagai belenggu yang mematikan kebebasannya. Ternyata, bagi Zain, itu adalah janji untuk menyelamatkannya.

​"Tapi Shania nakal, Umi. Shania, jahat sama, Mas Zain. Shania, sering memancing amarahnya..."

​"Pernikahan itu seperti dua batu yang saling bergesekan, Nak. Awalnya panas, banyak percikan api, dan menyakitkan. Tapi jika keduanya bertahan, lama-lama sudut-sudut yang tajam akan terkikis dan menjadi halus, saling melengkapi. Zain itu batu yang keras, dan kamu api yang liar. Jika api itu tidak dikendalikan, dia akan membakar batu itu sampai retak. Itulah yang terjadi sekarang, kan?"

​Shania terdiam. Bayangan Zain yang membuka baju kokonya dengan kalap dan wajah frustrasinya semalam kembali muncul.

​"Umi, tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Zain tidak pernah jijik padamu. Dia, menjaga jarak karena dia sangat menghargaimu. Dia ingin kamu mencintainya karena kamu butuh, bukan karena kamu dipaksa oleh keadaan."

"​Sebuah Keputusan"

​Umi Zainab kemudian memberikan sebuah bungkusan kecil berisi nasi kebuli kesukaan Zain.

"Besok, Umi ada jadwal pengajian di Surabaya. Kamu, ikut, ya? Kita datangi, Zain. Jangan biarkan setan berlama-lama duduk di antara kalian. Perang dingin ini kalau dibiarkan akan menjadi es yang membekukan cinta."

​Shania menatap bungkusan itu, lalu menatap Umi.

"Apa Mas Zain mau melihat Shania, Umi? Shania, sudah menamparnya..."

​Umi Zainab tersentak sedikit mendengar kata 'menampar', namun ia segera menguasai diri. Ia tersenyum bijak.

"Tamparan di pipi bisa hilang dengan air wudhu, tapi tamparan di hati hanya bisa hilang dengan pelukan maaf. Ikut Umi besok, ya?"

​Shania mengangguk pelan. Ia menyadari satu hal: ia merindukan suaminya. Ia merindukan suara berat Zain yang membangunkannya subuh-subuh, merindukan tatapan teduh yang selalu menyembunyikan badai gairah, dan ia merindukan 'belenggu' yang dulu sangat ia benci.

"​Malam Terakhir Sebelum Bertemu"

​Di kamarnya, Shania membongkar kopernya yang selama dua minggu ini tetap tertutup. Ia mengeluarkan pakaian-pakaian terbaiknya. Ia juga mengambil mukena pemberian Zain saat mahar dulu.

​Ia bersujud panjang malam itu. Di atas sajadah yang sama tempat Zain biasanya memimpinnya shalat, Shania tumpah ruah dalam doa.

​"Ya Allah, lembutkan hati suamiku. Jika aku adalah fitnah baginya, maka jadikanlah aku obat untuk lukanya. Jangan biarkan mahar ini benar-benar menjadi belenggu yang menyiksa, tapi jadikanlah ia ikatan yang membawa kami ke surga-Mu."

​Sementara itu, di sebuah kamar hotel sederhana di Surabaya, Zain sedang menatap foto pernikahan mereka di ponselnya. Jarinya mengusap wajah Shania yang tampak cemberut di foto itu.

​"Dua minggu ini aku mencoba lari darimu, Shania. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin kuat aromamu menarikku kembali. Maafkan khilafku yang hampir menjadi monster malam itu," bisik Zain lirih.

​Zain mengambil keputusan. Besok, setelah acara terakhir, ia akan pulang. Tanpa ia tahu, sebuah kejutan sedang menuju ke arahnya bersama Umi Zainab.

​Akankah Surabaya menjadi tempat mereka berdamai, atau justru menjadi panggung untuk puing-puing gairah yang lebih hancur lagi?

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!