NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Jalan Raya Puncak

Tiga ekor rottweiler raksasa itu menundukkan kepala serempak. Telinga mereka terlipat rata ke belakang. Lolongan garang tadi menyusut menjadi dengkusan pasrah.

Insting purba binatang itu memilih tunduk total pada dominasi rantai makanan yang jauh lebih tinggi.

"Bangsat, kenapa kalian mundur?! Gigit perempuan itu!" jerit Boni panik dari atas pagar. Ia melihat ketiga anjing bayaran itu malah duduk diam gemetar di atas rumput basah.

"Hewan tahu membedakan bau majikan dan bau mangsa," ucap Sabrina datar. Ia melangkah maju menembus jarak yang tersisa.

"Gue bayar pawang kalian mahal-mahal! Maju, anjing gila!" Boni menendang-nendangkan kakinya di udara. Usahanya panik mempertahankan posisi tersangkut di kawat berduri. Darah terus menetes dari celana jeansnya yang robek.

"Percuma kau berteriak pada mereka." Ujung telapak kaki Sabrina berhenti tepat di bawah tubuh pria raksasa itu. "Pawang mereka tidak ada di sini malam ini. Yang ada di sini hanyalah kematianmu."

"Mau apa lo? Mundur, gila!" Boni memeluk tiang besi pagar erat-erat. Air matanya mengalir deras bercampur keringat dingin.

"Turun ke tanah," perintah Sabrina lambat-lambat. Suaranya memotong kebekuan angin gunung lereng Puncak. "Atau kupaksa jatuh."

"Gue loncat keluar sekarang juga! Sumpah, gue nggak bakal balik lagi! Gue nggak kenal Kania Tanjung!" Boni merengek memohon ampunan.

"Kau lari membawa informasi. Mulutmu terlalu berisik."

Tangan kanan Sabrina berayun kilat. Bilah belati tajam peninggalan Haryo menancap dalam menembus otot betis kanan Boni yang terbuka.

"Aaaaargh! Kaki gue, bangsat!" Jeritan Boni kembali merobek sunyi. Ia meronta hebat. Cengkeramannya pada tiang besi melemah drastis.

"Berhenti bergerak," desis Sabrina kejam. Ia memutar sedikit gagang pisau di dalam daging pria itu. "Jadilah pijakanku malam ini."

"Gila lo! Lo bukan manusia, lo setan!" Boni tersedak ludahnya sendiri. Tangannya bergetar putus asa menahan bobot tubuhnya yang mulai melorot.

"Pilihannya sangat sederhana." Sabrina menatap lurus menembus mata Boni. Aura pembunuhnya menyala pekat. "Kau menjadi tangga hidup untukku, atau kujatuhkan kau ke bawah sana sebagai makanan penutup anjing-anjing itu."

"Iya! Iya, ampun! Injek bahu gue! Injek paha gue, tapi tolong jangan bunuh gue di sini!" Boni memejamkan mata rapat-rapat pasrah menerima takdir.

"Pilihan yang cerdas."

Sabrina menarik kasar belatinya dari betis pria itu. Ia menyelipkan gagang logam basah tersebut ke celah giginya. Tangan kirinya mendekap bungkusan flanel pelindung bayi itu semakin rapat ke dada. Tangan kanannya yang bebas kini terulur, mencengkeram erat anyaman pagar kawat baja berkarat di atas kepalanya.

Sengatan dingin besi menjalar ke telapak tangannya. Otot perutnya menjerit protes keras. Rahimnya berkontraksi buas, memuntahkan kembali cairan kental hangat menembus gaun sutranya.

Kaki telanjangnya menginjak lutut Boni yang gemetar.

"Akh! Berat, ampun!" Boni mengaduh kesakitan menahan bobot tubuh Sabrina di atas kakinya yang terluka.

"Tahan beban ini atau kucolok matamu sekarang juga," ancam Sabrina teredam gagang pisau di mulutnya.

Ia memindahkan bobotnya naik. Kakinya kini menginjak bahu Boni. Tangan kanannya berhasil menjangkau puncak pagar setinggi dua meter. Gulungan kawat berduri rapat menyambut telapak tangannya tanpa ampun.

Ia mengencangkan rahang. Tangannya menggenggam kawat berduri itu kuat-kuat. Ujung duri besi berkarat merobek paksa jaringan kulit telapak tangannya. Menembus daging, menggores lapisan pelindung tulang. Bau karat dan anyir darah bersatu di udara basah.

Darah segar menetes deras dari telapak tangannya, jatuh membasahi wajah Boni di bawah sana.

"Sakit... perih," rintih Boni menangis sesenggukan menerima tetesan darah itu.

Sabrina mematikan total saraf sensorik rasa sakit di tangannya. Luka robek ini adalah harga sangat murah untuk tiket kebebasan. Ia memutar panggulnya perlahan melewati rintangan kawat. Sensasi ngilu tajam langsung membakar seluruh persendian panggulnya. Tulang kemaluannya serasa diremukkan mesin pres hidrolik.

"Kita lompat sekarang, Jagoan," monolog Sabrina dalam hati. Dagunya melindungi kepala bayi mungil di dadanya.

Ia melepaskan genggamannya. Gravitasi menarik tubuh hancur perempuan itu jatuh bebas menembus tebalnya kabut lereng Puncak.

Brak.

Punggungnya menghantam aspal jalan raya yang kasar dan berlapis lumut basah. Benturan keras itu meremukkan sisa oksigen di paru-parunya. Visinya memutih sekejap. Telinganya berdenging memekakkan saraf pendengaran.

"Oek... oek..."

Rengekan pelan menyentak kembali kesadarannya ke dunia nyata. Sabrina buru-buru memutar posisi berbaringnya menjadi miring. Ia membuka sedikit lipatan flanel tebal berbau amonia itu dengan jari telunjuk kanannya yang terus meneteskan darah.

Wajah merah sang bayi berkerut mencari pasokan udara segar. Mata mungilnya mengerjap lambat menahan tamparan dinginnya kabut malam.

"Ssst, Ibu di sini," ucap Sabrina lembut. Suaranya parau kehabisan pita suara. Ia mengecup dahi basah bayi itu berulang kali. "Kau aman sekarang. Tidak ada preman bodoh yang bisa menyentuhmu."

Momen ini memberinya ruang napas yang sangat ia butuhkan. Hembusan napas hangat bayi itu menyapu kulit lehernya yang beku. Detak jantung kecil itu berirama stabil di telinganya. Gen dominan Adrianus Halim benar-benar mengalir deras di pembuluh darah anak ini. Ia menolak takluk pada ancaman hipotermia maupun benturan fisik.

"Kau kuat sekali, Sayang," gumam Sabrina. Bibir pucatnya menyentuh hidung mungil sang anak. Rasa cintanya membesar tanpa bisa dicegah. "Adrian pasti bangga punya penerus sepertimu. Sayangnya, bajingan itu tidak akan pernah melihat wajahmu."

Jalan raya Puncak di sekitarnya sepi mematikan. Kabut tebal turun merapat, menutupi jarak pandang hingga menyisakan ruang kurang dari dua meter. Udara beku menusuk pori-pori kulitnya tanpa henti.

Ingatan asing dari tubuh ini tiba-tiba berputar tanpa permisi di kepalanya. Sisa-sisa trauma Sabrina Tanjung muncul memecah fokusnya.

"Kau tahu apa kelemahan terbesarmu, Sabrina?" Suara bariton Adrianus Halim menggema dingin di memorinya. Pria itu menatapnya rendah. "Kau terlalu rapuh. Keluarga ini butuh penerus berdarah dingin, bukan perempuan cengeng yang takut pada bayangannya sendiri."

"Aku bukan alat pencetak anakmu," bantah Sabrina asli di dalam ingatan, suaranya bergetar menahan isak tangis.

"Status istri itu hanya selembar kertas kontrak." Adrianus tertawa sinis, tidak memalingkan pandangannya dari layar tablet bisnisnya. "Tugas utamamu adalah rahimmu. Berikan aku ahli waris malam ini, lalu kau bebas melakukan apa pun di dalam sangkarmu."

Sabrina Maureen mendengkus kasar, memutus paksa memori murahan itu dari otaknya.

"Sangkar bodohmu sudah kuhancurkan malam ini, Adrian," umpat Sabrina di tengah jalan aspal yang sunyi. "Anak ini milikku sepenuhnya sekarang. Cari saja inkubator lain untuk mewarisi tahta berdarahmu."

Darah persalinan terus mengalir konstan dari liang rahimnya. Otot panggulnya kejang mati rasa. Tubuhnya secara perlahan mencapai batas toleransi biologis penahan rasa sakit. Maureen tidak takut mati terbunuh peluru, tapi mati konyol akibat infeksi dan pendarahan pascamelahirkan adalah aib mutlak bagi seorang pembunuh elit.

Ia butuh intervensi medis tingkat tinggi. Segera.

"Kita cari tumpangan malam ini, ya," ucap Sabrina pelan. Ia mencoba menopang tubuhnya menggunakan sisa kekuatan siku kanannya.

Luka robek memanjang di telapak tangannya berdenyut kejam akibat serpihan aspal yang masuk ke dalam daging. Ia memaksa dirinya duduk bersandar pada pinggiran pembatas jalan. Kemeja Haryo yang membungkus bayinya ia perbaiki ikatannya, memastikan tidak ada satu pun celah bagi angin gunung untuk mencuri panas tubuh anaknya.

"Awas kalau lo berani lapor polisi, sundel!" Teriakan Boni sayup-sayup menggema dari balik pagar tinggi di kejauhan. Pria itu tampaknya berhasil turun kembali ke halaman rumput dengan selamat. "Nyonya Kania bakal ngejar lo sampai ke neraka!"

Sabrina memutar lehernya lambat-lambat. Matanya mengunci batas pagar beton gelap berselimut kabut itu.

"Kania Tanjung," eja Sabrina pelan. Ia mengecap nama itu seperti racun mematikan di ujung lidahnya. "Tunggu giliranmu."

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!