NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekerja

Hari berganti, tapi nampaknya Sita masih merasakan rasa tidak enak di tubuhnya. Maira lihat semalam gadis itu bahkan tidak keluar kamarnya sama sekali. Bahkan pagi ini saat ia dan suaminya hendak pergi ke kantor pun, Sita juga tidak nampak di dapur.

Dia yang biasanya menyiapkan sarapan, hari ini tidak terlihat sama sekali. Tapi karena Maira terburu-buru akan berangkat, ia tidak sempat menengok asisten rumah tangganya itu pagi ini.

"Mas antar saja ya, Sayang?" tawar Agam saat melihat istrinya tergesa-gesa. Tidak tega rasanya membiarkan Maira selalu berangkat sendiri tiap kali ke kantor.

Hari ini Maira ada meeting pagi yang harus ia siapkan segalanya. Memiliki bos yang super tepat waktu dan perfeksionis bukanlah hal yang mudah baginya. Jadi ia harus datang sepagi mungkin untuk menyiapkan semuanya sesempurna yang ia bisa. Agar bos galak itu tidak menyemprotnya dengan banyak kritikan.

"Nggak usah, Mas. Maira udah pesan ojek online, kok," ujar Maira sambil merapikan tasnya dan segera berpamitan pada suaminya, "Aku berangkat ya, Mas."

"Hati-hati, Sayang!" Agam membelai pipi lembut istrinya dengan penuh cinta. Ia lalu tersenyum hangat penuh cinta.

"Mas juga, semoga urusannya lancar." Ditepuknya pipi suaminya dengan lembut dan meninggalkan bekas kecupan disana.

Dengan berlari-lari kecil, Maira keluar dari rumahnya. Ojek online yang ia pesan sudah stand by di depan pagar. Tersenyum ramah dan siap menyambut penumpang pertamanya. Wanita cantik dengan pakaian rapi dan aroma yang harum. Ah ... beruntungnya tukang ojek ini.

"Sudah siap, Mbak?" tanya pengendara itu dengan ramah.

"Sudah, Mas." Setelah memastikan helmnya terpasang dengan tepat sampai berbunyi "klik", Maira pun siap berangkat.

Ia sengaja tidak memesan taksi karena pasti akan memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di kantor. Meski ini masih sangat pagi, tapi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Maira memutuskan untuk naik ojek saja. Lebih baik begitu, karena jika bosnya sudah marah maka seharian ia bisa kena omel dari lelaki penguasa itu.

Bersyukur jalanan lumayan lengang pagi ini, sehingga ia bisa sampai dengan cepat.

"Terimakasih, Bang." Maira menyerahkan helmnya dan bergegas masuk ke dalam gedung bertingkat yang ada dihadapannya.

Masih sangat sepi, hanya beberapa OB yang terlihat bekerja keras demi kebersihan gedung ini. Itu juga suatu kewajiban. Kalau bisa jangan ada satu debu pun yang menempel di area kantor ini.

Maira sangat dihormati disini, bukan karena ia adalah seorang sekretaris bos. Tapi karena pembawaannya yang tegas namun tetap lembut dan anggun. Maira juga adalah wanita yang supel dan tidak membeda-bedakan siapapun. Ia selalu ramah pada siapa saja, bahkan pada jajaran terendah di dalam kantor ini.

Semua bawahannya menyapanya dengan hormat setiap kali berpapasan dengannya.

"Pagi, Bu Maira." Begitulah yang Maira dengar setiap harinya dari depan gedung hingga kedalam. Semua menyapanya sambil tersenyum.

*****

"Terimakasih, Maira. Hari ini berkat kerja kerasmu, klien kita merasa puas telah bekerja sama dengan perusahaan ini." Pak Hardi secara khusus mengucapkan terimakasih pada sekertarisnya yang handal, Maira. Lelaki itu nampak tersenyum puas.

Lega rasanya, jika bos satu ini bisa tersenyum seperti itu. Itu artinya sepanjang hari ini akan berjalan mulus dan lancar. 

"Sama-sama, Pak. Semua ini juga karena kerja keras tim." Maira menoleh kearah asistennya dan tim yang lain. Ia tidak mau dipuji sendirian. Terlalu egois namanya.

"Ya ... kalian memang hebat," ujar pak Hardi ramah untuk pertama kalinya.

Semua orang pun jelas terkejut. Apakah klien yang ini se-menguntungkan itu hingga pak Hardi pun puas karenanya? Tapi ya sudahlah, lebih baik seperti itu, bukan? 

Begitulah kira-kira yang ada dibenak mereka. Namun hal itu tentu saja hanya menjadi pemikiran di dalam otak mereka sendiri. Tidak ada yang berani bertanya atau mencari tahu secara diam-diam.

Siang itu setelah menyelesaikan semua tugasnya, Maira melenggangkan kakinya menuju kantin kantor guna menenangkan diri. Ia berjalan anggun dan berwibawa sekali.

Kantin yang suasananya dibuat seperti cafe di luaran itu menyuguhkan area hijau dibeberapa tempat. Sengaja di desain demikian agar para penghuni kantor itu bisa menikmati suasana hijau di dalam gedung kantor. Memberi nuansa segar dan sejuk sehingga bisa mengembalikan mood para pegawai setelah istirahat.

Maira duduk di meja nomor 5 sambil meminum jus jeruk yang segar. Dari jarak sekitar empat meter, seseorang memanggil namanya dengan lantang seperti biasanya. Siapa lagi kalau bukan Nisa, sahabatnya.

"Ke kantin nggak ngajak aku, sih?" tanyanya dengan nada yang bermuatan protes. Gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Kamu kan tadi lagi sibuk waktu aku lewat. Udah ku panggil juga, kok." Maira dengan santainya menjawab.

"Iya, deh. Dimaafin," ujar Nisa mengakhiri perdebatannya.

"Dih! Siapa yang minta maaf?" Maira mengedikkan bahunya seraya melirik sinis pada sahabatnya.

"Iya ... iya, Maira. Ada gosip apa, nih?" tanya Nisa antusias. Selalu ada saja yang gadis ini tanyakan, padahal Maira sejak dulu juga tidak pernah bergosip apapun. Hanya berbagi info tentang situasi perusahaan.

Maira menarik nafas dan mulai bersiap-siap ngomong. Ia mendekatkan wajahnya seperti orang yang akan bergosip ria.

"Semua orang pada ngomongin dan bertanya-tanya. Kapan Nisa nikah, ya? Jomblo terus, nggak bosan apa?" ledek Maira.

"Udah ah! Gosip basi itu. Emmm ... omong-omong kamu sama Agam gimana? Pasti makin uwu kan, secara kalian kan sekarang udah punya pembantu sama kang kebun. Rumah jadi terawat dan kalian bisa berduaan terus, dong?" goda Nisa.

"Ya ... aku bersyukur sih, Nis. Mereka emang berjasa banget. Sita, asisten rumah tangga aku malahan udah kayak adek aku sendiri. Tapi ... sejak dia punya masalah hari itu, dia kayak menutup diri gitu. Nggak mau ngomong atau ngobrol banyak kayak dulu." Maira sedikit menjelaskan.

"Kamu nggak coba gali informasi gitu? Dari kang kebun misalnya, kan dia yang seharian berada dirumah. Kali aja dia tahu Sita habis terima tamu atau habis mengalami sesuatu."

Nisa memang selalu tidak berpikir panjang dan hanya mengatakan apa yang ada di dalam benaknya, tapi entah kenapa bagi Maira hal itu seolah seperti mantra yang membuatnya tergugah untuk mengikuti sarannya. Seperti saran mencari pembantu waktu itu.

"Iya sih, nanti aku coba tanya-tanya pak Kasim. Barangkali pak Kasim tahu sesuatu atau pernah lihat Sita menerima tamu atau bahkan pergi sama seseorang."

Ada banyak hal sepele yang mereka bicarakan di kantin itu. Kebetulan karena pekerjaan Maira telah selesai serta atas ijin dari bosnya, ia hari ini bisa pulang lebih awal.

Sesuai saran dari Nisa, ia hari ini berniat untuk menemui pak Kasim dan mencari sedikit informasi darinya.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!