Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Jarak Yang Tidak Terlihat
Rumah itu masih sama isinya dan suasananya terasa hangat dan tenang, namun tentang sejak kapan ada yang berbeda seperti... Terasa sedikit lebih sepi.
Tidak ada perubahan yang signifikan didalamnya, tapi sunyi itu mulai terasa... Atau mungkin justru terlalu banyak yang berubah dalam waktu singkat.
Katanya menjelang hari pernikahan akan menjadi waktu paling membahagiakan, tapi kenapa saat ini justru suasana sepi seolah seperti kehilangan sesuatu.
Nayara kini duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel yang berada dalam genggaman tangannya, layar itu sudah menyala sejak beberapa menit yang lalu bahkan chat dari Adrian masih terlihat.
" Sayang, aku lembur ya. kamu istirahat dulu jangan begadang".
Hanya itu isi pesannya, terlihat singkat apalagi jika dibaca dengan nada terasa sekali datarnya. Seolah tidak ada hal yang perlu dijelaskan, padahal ada beberapa hal yang berubah dan Nayara bisa merasakannya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba-tiba saja ada suara bel berbunyi menandakan kehadiran seseorang diluar sana. Saat Nayara membuka pintu rumahnya terlihat wajah Adrian yang sedikit lelah, langkahnya terlihat lelah dan jas nya yang sudah kusut.
" Sayang..." panggil Adrian pelan
" Iya..." Suara itu terdengar berbeda.
Adrian menatap wajah Nayara dalam dan kini mengikuti langkah sang calon istri menuju ke ruang tamu, Nayara duduk diam tanpa senyum yang biasanya selalu terpancar ketika menyambut dirinya.
" Maaf ya, Aku pulang malam lagi. Kita tidak sempat makan siang bersama" Adrian menghela nafas lalu mendekat pelan.
Tidak ada jawaban bahkan kini Nayara menatap kearah lain.
" Sayang, kamu kenapa?" Adrian merasa ada yang tidak beres.
" Capek..." akhirnya Nayara menolehkan kepalanya, tatapannya tidak marah tapi tidak hangat juga.
" Capek? Bukannya kamu tidak lembur hari ini dan langsung pulang?" Adrian mengernyitkan dahinya.
" Apakah sekarang lelahku sudah mulai tidak terlihat?" Nayara tertawa kecil namun tidak ada hal lucu disana.
" Iya, Aku memang pulang cepat seperti biasa... Tapi ternyata itu enggak cukup capek ya buat dibandingkan sama Mas?" Nada suara Nayara begitu tenang bahkan terlalu tenang.
" Sayang... Aku enggak bermaksud..." Adrian langsung terdiam.
" Tapi kamu ngomongnya gitu, Mas" jawab Nayara.
Hening...
Adrian mengusap wajahnya kasar, kali ini ia benar-benar lelah... tapi bukan berarti ia tidak peduli pada perasaan Nayara.
" Ara... Mas lagi banyak sekali pekerjaan, Mas kejar semua sekarang supaya nanti setelah kita menikah mas bisa fokus sama kamu dan keluarga baru kita dengan lebih banyak waktu" Ucap adrian frustasi.
" Fokus ke aku?... Nanti?".
" Iya" jawab Adrian.
" Kenapa haru nunggu nanti?" tanya Nayara yang membuat Adrian seketika terdiam.
Kenapa semuanya jadi terasa salah? Padahal gue cuma lagi berusaha.
" Aku lakuin ini buat kita, Sayang" Jawab Adrian pelan.
" Tapi aku butuh kamu sekarang, Mas" Jawab Nayara cepat, tegas, dan jujur.
Suasana kembali hening, Nayara kini menggenggam tangannya sendiri mencoba menahan sesuatu yang mulai menyesakkan dadanya.
" Mas tahu enggak? Akhir-akhir ini kita hampir enggak pernah ngobrol yang benar-benar ngobrol" Ucap Nayara.
" Mas selalu chat kamu, apa lupa?" jawab Adrian.
" Aku enggak lupa, Mas. Tapi chat itu bukan ngobrol... Setiap malam kita mau diskusi yang aku dapat cuma " Gimana kamu aja, Mas ikut soalnya Mas capek" Nayara menurunkan nada bicaranya semakin melemah.
" Padahal ini acara kita berdua, aku mau kita sama-sama bertukar pikiran untuk menyiapkan semuanya..." Suara Nayara kini bergetar menahan tangis.
" Sayang..." Adrian kini mendekat.
" Dan satu lagi, Mas. Aku lihat kamu lebih sering di kantor dari pada sama Aku" Nayara menggelengkan kepalanya.
" Ara ..."
" Bahkan waktu persiapan kita sudah hampir selesai, Mas" Suara Nayara tidak tinggi tapi cukup menunjukkan rasa yang selama ini ia tahan.
" Apa kamu cemburu? Mas tidak selingkuh, Sayang. Mas mempercepat pekerjaan agar kita bisa lebih banyak waktu setelah menikah" Adrian kini berbicara sedikit panjang.
" Aku bukan cemburu Mas, tapi kenapa rasanya aku seperti kalah dari pekerjaan kamu... Aku juga takut kalau aku udah enggak sepenting itu lagi di mata kamu" Jawab Nayara lirih
Deg...
Kalimat itu seperti menampar pipi Adrian, tanpa berpikir panjang Adrian langsung mendekat dan menggenggam kedua tangan Nayara.
" Sayang... jangan pernah bilang gitu. Aku kerja keras justru karena kamu penting" Suara Adrian terdengar tegas.
" Tapi aku enggak ngerasain itu, Mas" Nayara menggelengkan kepalanya, air matanya mulai jatuh membasahi pipinya.
Adrian terdiam, itu yang paling menyakitkan bukan karena Nayara marah tapi karena ia merasa tidak cukup.
Beberapa waktu berlalu tenapa kata, kini Adrian menarik Nayara kedalam pelukannya. Awalnya Nayara terlihat kaku, namun perlahan ia menangis dalam pelukan Adrian.
" Maaf... Maafin Mas sayang" bisik Adrian lembut ditelinga Nayara.
" Maaf karena Mas terlalu fokus mengejar semuanya, sampai Mas lupa kalau Sayangnya Mas juga butuh kehadiran Mas" Adrian kembali membuka suaranya.
" Aku cuma enggak mau kita berubah Mas" Nayara menggenggam kemeja Adrian pelan.
" Mas Janji tidak akan ada yang berubah dari kita" Adrian mempererat pelukannya.
" Mulai sekarang Mas usahakan kehadiran Mas untuk kamu, Mas akan lebih mengatur waktu. Mas akan selalu hadir bahkan kalau kamu gak bisa Mas yang akan dateng dan samperin kamu duluan" Jawab Adrian dengan tangan mengelus punggung sang calon istri.
" Terimakasih banyak ya, Mas" Nayara menatap Adrian dengan senyuman tipisnya.
Perasaan Nayara saat ini memang tenang, tapi tidak sepenuhnya hilang rasa sedihnya namun cukup membuat hatinya lebih lega.
Cinta tidak selalu tentang bahagia, kadang ia datang dalam bentuk salah paham yang membuat komunikasi dan pemahaman pasangan menjadi lebih baik. Namun selama dua hati masih memilih untuk saling kembali, tidak ada jarak yang benar-benar jauh.