Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ruang Hukuman
Pintu besi itu dingin saat telapak tanganku menempel di permukaannya.
Bukan dingin biasa. Dingin yang merambat sampai ke sumsum, seperti besi itu menghisap panas dari tubuhku. Karatnya bergerigi, menggores kulit hingga meninggalkan garis-garis merah tipis. Tapi aku tidak mundur.
Karena di balik pintu ini, Damian Kecil bilang, ada jawaban.
“Kak, jangan buka.”
Suaranya bergetar di belakangku. Damian Kecil—bocah laki-laki berusia delapan tahun dengan piyama sutra kebesaran itu—meraih ujung kemejaku dengan gemetar. Matanya yang hitam pekat menatapku penuh permohonan. Bibirnya yang pucat menggigit bawah.
“Kenapa?” bisikku. “Apa yang ada di dalam?”
“Aku...” Ia menunduk. Tangannya yang kecil meremas kain kemejaku sampai kuku-kukunya memutih. “Aku lupa. Tapi aku takut.”
Aku menatap pintu itu lagi.
Lampu lorong hanya satu, bohlam tua yang berkedip-kedip seperti sedang sekarat. Cahayanya oranye pucat, cukup untuk menerangi karat di pintu, tapi tidak cukup untuk menembus kegelapan di balik celah-celahnya. Dari sana, hawa dingin merembes keluar—lembab, berat, seperti napas raksasa yang tidur di dalam.
Aku merasakannya di ujung jari.
Visi.
Tidak, bukan visi kematian. Ini lebih samar. Seperti ingatan yang bukan milikku. Bau. Bau anyir. Bau manis yang membusuk. Bau yang pernah kuhirup di ruang mayat saat magang forensik dulu.
“Aku harus buka,” kataku pelan. “Kalau aku tidak tahu apa yang terjadi di sini, aku tidak bisa membantu Damian dewasa. Atau kamu.”
“Tapi Damian dewasa bilang aku tidak boleh ke sini.”
“Kenapa dia bilang begitu?”
“Karena...” Damian Kecil mengerjap. Matanya mulai berkaca-kaca. “Karena di sini aku mati.”
---
Udara di lorong terasa berhenti.
Aku membeku. Jari-jariku yang masih menempel di pintu tiba-tiba terasa terlalu berat. Aku ingin menariknya, tapi aku juga tidak bisa.
“Kamu... mati?”
“Aku lupa,” ulangnya. Sekarang air matanya benar-benar jatuh. Membasahi pipi tembamnya yang pucat. “Tapi Damian dewasa bilang aku harus lupa. Supaya aku tidak sedih terus.”
Damian dewasa melindunginya. Atau mengurungnya?
Aku tidak tahu lagi.
Tapi satu hal yang aku tahu: aku tidak bisa mundur sekarang.
“Aku akan buka,” kataku, suaraku lebih tegas dari yang aku rasakan. “Tapi kalau kamu takut, kamu tunggu di sini. Kamu bisa tutup telinga. Pejam mata. Aku tidak akan lama.”
Damian Kecil menggeleng keras. “Tidak! Aku ikut kakak! Aku tidak mau ditinggal.”
Aku menatapnya. Lalu aku meraih tangan kecilnya.
“Baik. Tapi kalau kamu mau kabur, kamu kabur. Janji?”
Ia mengangguk, masih menangis.
Aku tarik napas dalam-dalam. Lalu aku tekan gagang pintu.
Tidak terkunci.
Gagangnya berputar dengan bunyi gesekan logam yang sudah lama tidak disentuh. Berat. Seperti pintu ini tidak ingin dibuka. Seperti ia lebih suka tetap terkunci, menyimpan rahasianya sendiri.
Aku dorong.
---
Pintu terbuka dengan suara kreeeek panjang yang bergema di lorong sempit itu.
Dan bau itu langsung menyerang.
Aku menutup hidung dengan lengan baju. Mataku perih. Damian Kecil di belakangku terbatuk-batuk kecil.
Bau anyir. Bau besi. Bau sesuatu yang membusuk puluhan tahun lalu tapi tidak pernah benar-benar hilang. Dinding menyerapnya. Lantai menyerapnya. Udara di sini terlalu pekat untuk bernapas, seperti mengisap kapas basah.
Aku merogoh saku, mengambil ponsel, menyalakan senter.
Cahaya putih menyorot ke dalam ruangan.
Dan aku melihat.
---
Ruangan ini kecil. Mungkin tiga kali tiga meter. Dindingnya dari beton, lembab, dengan retakan-retakan yang menganga seperti bekas cakaran. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi. Hanya satu pintu besi yang baru saja aku buka.
Di sudut ruangan, ada kasur busa tanpa seprai. Hitam. Atau mungkin dulunya berwarna lain, tapi sekarang hanya hitam pekat karena sesuatu yang tidak bisa aku identifikasi.
Di samping kasur, botol plastik kosong berserakan. Empat. Lima. Mungkin lebih, setengah terkubur debu.
Dan di dinding—
Aku menyorot senter ke dinding di hadapanku.
Coretan.
Ribuan coretan.
Kapur, atau mungkin kuku, atau mungkin sesuatu yang lebih tajam. Garis-garis tak beraturan yang memenuhi seluruh permukaan dinding dari lantai sampai langit-langit.
Aku mendekat perlahan. Kaki-kakiku berderit di lantai semen yang berlubang.
Coretan itu bukan gambar. Bukan tulisan yang rapi. Tapi aku bisa membacanya.
“HARI 1”
“HARI 2”
“HARI 3”
Garis-garis hitung mundur.
Lalu di bawahnya, tulisan yang lebih kecil, lebih kacau, seperti yang menulisnya sudah mulai kehilangan akal:
“DIA BILANG AKU AKAN KELUAR.”
“DIA BOHONG.”
“AKU LAPAR.”
“AKU TAKUT.”
Aku terus membaca. Setiap coretan membuat perutku mulas.
“TIDAK ADA SUARA.”
“HANYA AKU.”
“AKU INGIN MATI.”
Lalu tiba-tiba tulisan itu berubah. Menjadi lebih rapi. Lebih dewasa. Seperti orang yang berbeda yang menulis:
“DAMIAN TIDAK TAKUT.”
“DAMIAN TIDAK BUTUH SIAPA PUN.”
“DAMIAN AKAN KELUAR.”
Aku merinding.
Damian kecil di belakangku diam. Aku tidak berani menoleh untuk melihat wajahnya. Tapi aku merasakan tangan kecilnya menggenggam erat jari-jariku.
“Kak...” suaranya hanya bisikan. “Itu aku.”
Aku menoleh.
Damian Kecil menatap coretan di dinding dengan mata kosong. Tidak menangis. Tidak berkedip. Ia hanya berdiri di sana, mematung, seperti patung lilin di museum horor.
“Kamu menulis itu?”
“Aku lupa,” katanya lagi. Kali ini suaranya datar. Seperti mesin. “Tapi itu tulisan aku.”
Ia melepaskan tanganku. Perlahan, ia berjalan mendekati dinding. Telapak tangannya yang mungil menyentuh coretan “HARI 47”.
“Di sini aku menangis terus,” bisiknya. “Sampai Damian dewasa bilang, ‘Diam. Kalau kamu nangis, aku bunuh kamu.’”
“Damian dewasa bicara begitu?”
“Bukan.” Damian Kecil menggeleng. “Aku yang bicara ke diriku sendiri. Damian dewasa belum lahir waktu itu.”
Ia menoleh ke arahku. Matanya masih kosong, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Waktu itu hanya aku,” katanya. “Aku sendiri. Di ruangan ini. Selama tiga bulan.”
---
Tiga bulan.
Otakku berusaha memproses. Tiga bulan. Bocah delapan tahun dikurung di ruang bawah tanah tanpa jendela. Tanpa makanan cukup. Tanpa suara manusia. Tanpa apa pun kecuali dinding dan kegelapan.
“Siapa yang mengurungmu?”
“Ayah.”
Kata itu keluar begitu saja. Tanpa emosi. Seperti ia sudah mengulanginya ribuan kali dalam kepalanya.
“Ayah bilang aku harus membunuh anjing aku. Anjing kecil. Namanya Brownie. Aku sayang Brownie. Tapi Ayah bilang kalau aku tidak bunuh Brownie, aku tidak layak jadi anak Ayah.”
Ia menunduk.
“Aku tidak mau bunuh Brownie. Jadi Ayah marah. Ayah bawa aku ke sini. Ayah bilang, ‘Kamu keluar kalau kamu mau bunuh Brownie.’ Tapi aku tetap tidak mau.”
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti tergores kaca.
“Lalu... Brownie?”
Damian Kecil diam lama.
“Aku tidak tahu. Waktu aku keluar, Brownie sudah tidak ada. Ayah bilang Brownie mati karena aku tidak mau bunuh dia.”
Ia menatapku.
“Aku yang bunuh Brownie, Kak. Karena aku tidak mau bunuh dia.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Damian Kecil tersenyum. Senyum yang salah. Senyum yang seharusnya tidak dimiliki anak kecil.
“Aku jadi gila di sini, Kak. Aku bicara sama dinding. Aku lupa rasanya makanan. Aku lupa suara ibu. Lalu aku... aku bunuh aku. Biar Damian dewasa yang hidup.”
Ia mengangkat tangan kecilnya, menunjuk ke sudut ruangan.
“Di sana. Aku bunuh aku di sana.”
---
Aku menyorot senter ke arah yang ia tunjuk.
Sudut ruangan itu kosong. Tidak ada apa-apa selain debu dan retakan di lantai.
Tapi di dinding di atas sudut itu, ada coretan terakhir.
Tulisan yang paling rapi. Paling tenang. Seperti yang menulisnya sudah tidak marah lagi, tidak takut lagi. Hanya lelah.
“Aku sudah mati. Yang hidup sekarang Damian.”
Aku merasakan dadaku sesak.
Ini bukan sekadar trauma. Ini bukan sekadar kepribadian ganda yang muncul karena stres.
Ini adalah pembunuhan. Damian kecil membunuh dirinya sendiri agar bisa bertahan hidup. Dan Damian dewasa—kepribadian yang lahir dari kematian itu—telah menjaga rahasia ini selama dua puluh tahun.
“Kak...”
Aku menoleh.
Damian Kecil berdiri di sampingku. Sekarang ia tersenyum. Senyum yang lebih tenang. Lebih ikhlas.
“Aku senang kakak di sini,” katanya. “Sekarang aku tidak sendirian lagi.”
Aku berlutut. Kuraih wajahnya yang dingin. Jari-jariku menyentuh pipinya yang basah. Kapan ia menangis? Aku bahkan tidak sadar.
“Aku tidak akan biarkan kamu sendirian,” bisikku. “Janji.”
“Tapi Damian dewasa...”
“Damian dewasa juga tidak akan sendirian. Kalian berdua. Aku akan bantu kalian.”
Damian Kecil menatapku lama. Matanya yang hitam pekat itu bergetar, seperti ada badai di dalamnya.
Lalu ia memelukku.
Pelukan anak kecil yang terlalu erat. Tangannya yang kecil mencengkeram bajuku seperti aku akan menghilang jika ia melepaskan.
“Kak, aku takut,” bisiknya di bahuku. “Aku takut kalau kakak pergi. Kalau kakak pergi, Damian dewasa akan bunuh aku lagi.”
“Tidak akan.”
“Iya. Dia akan bunuh aku. Karena aku lemah. Karena aku cuma anak kecil yang takut gelap.”
Aku memeluknya balik. Tubuhnya sekecil itu. Sebegitu kecilnya hingga aku bisa merasakan tulang rusuknya di bawah piyama sutra.
“Kamu tidak lemah,” kataku. “Kamu bertahan di sini tiga bulan. Kamu menciptakan Damian dewasa agar kamu bisa hidup. Itu tidak lemah. Itu... luar biasa.”
Ia tidak menjawab. Tapi bahunya bergetar. Menangis tanpa suara.
Aku membiarkannya. Aku memeluknya lebih erat. Bau anyir di ruangan ini masih menusuk hidung, tapi sekarang aku hampir tidak merasakannya. Yang aku rasakan hanyalah anak kecil ini. Anak kecil yang mati dua puluh tahun lalu tapi masih hidup di dalam tubuh pria yang paling ditakuti di kota ini.
---
Aku tidak tahu berapa lama kami berpelukan.
Mungkin lima menit. Mungkin sepuluh.
Tapi suara langkah kaki di lorong membuatku tersentak.
Tap. Tap. Tap.
Langkah berat. Langkah yang tenang. Langkah yang tidak terburu-buru, seperti orang yang tahu persis kemana ia pergi.
Damian Kecil melepaskan pelukanku. Matanya membelalak ketakutan.
“Damian dewasa,” bisiknya. “Dia tahu kita di sini.”
Aku berdiri cepat. Aku menghadap pintu.
Langkah kaki berhenti tepat di depan ambang pintu.
Dan Damian Adhiratria berdiri di sana.
---
Ia tidak marah.
Aku pikir ia akan marah. Aku pikir ia akan berteriak, atau mungkin mengeluarkan senjata, atau setidaknya menatapku dengan mata membunuh seperti yang semua orang takutkan.
Tapi tidak.
Ia hanya berdiri di sana. Tangan di saku celana hitamnya. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi. Tidak ada emosi.
Seperti ia sudah mati sejak lama.
“Kau lihat semuanya,” katanya.
Bukan pertanyaan. Fakta.
Aku mengangguk. Aku tidak bisa berbohong. Tidak setelah melihat semua ini.
“Ya.”
Damian mengalihkan pandangan ke dinding coretan. Matanya bergerak perlahan dari “HARI 1” sampai “Aku sudah mati. Yang hidup sekarang Damian.”
Ia tidak berbicara. Tidak menunjukkan apa pun.
Tapi aku melihat tangannya di saku celana mengepal. Buku-buku jarinya memutih.
“Dia yang bawa kau ke sini?” tanyanya. Matanya masih pada dinding.
“Dia?”
“Anak itu.”
Aku menoleh ke samping.
Damian Kecil tidak ada di sana.
Aku menoleh cepat ke kiri, ke kanan, ke belakang. Kosong. Ia menghilang. Seperti asap. Seperti hantu yang hanya aku yang bisa lihat.
“Dia tadi di sini,” kataku cepat. “Dia—”
“Aku tahu.”
Damian menatapku. Matanya hitam pekat, sama persis dengan mata Damian Kecil. Tapi di mata ini tidak ada ketakutan. Tidak ada tangisan. Hanya kehampaan yang sudah mengeras selama dua puluh tahun.
“Dia selalu di sini,” lanjut Damian. “Di ruangan ini. Di kepalaku. Di setiap malam ketika lampu mati.”
Ia berjalan masuk ke ruangan.
Aku mundur memberi jalan.
Damian berjalan ke sudut yang Damian Kecil tunjuk tadi. Ia berlutut. Tangan yang selama ini terkepal di saku perlahan keluar, menyentuh lantai semen yang berlubang.
“Di sinilah aku bunuh dia.”
Aku membeku.
“Aku bunuh anak kecil yang takut gelap itu. Aku bunuh anak kecil yang cuma mau dipeluk ibunya. Aku bunuh dia agar aku bisa keluar dari sini. Agar aku tidak perlu takut lagi.”
Ia menoleh ke arahku.
Sekarang aku melihatnya. Sesuatu di matanya. Bukan kehampaan. Bukan kebencian.
Tapi kelelahan yang begitu dalam hingga ia tidak punya energi lagi untuk berpura-pura kuat.
“Kau tahu,” katanya pelan. “Tiga bulan di sini. Tanpa makanan. Tanpa air bersih. Tanpa suara. Aku bicara dengan Brownie di kepalaku. Aku bicara dengan ibu yang sudah mati. Lalu suatu hari, suara mereka hilang. Yang tersisa hanya aku. Damian dewasa.”
Ia berdiri.
“Dan sejak itu, aku tidak pernah takut lagi.”
Aku menarik napas. Dadaku sakit. Rasanya seperti ada yang menusuk tulang rusukku dari dalam.
“Tapi aku juga tidak pernah bahagia,” lanjut Damian. “Aku tidak bisa. Anak kecil yang tahu caranya bahagia sudah mati di sini.”
Ia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Damian Adhiratria bertanya. Bukan memerintah. Bukan mengancam.
Hanya bertanya.
“Kau bisa menghidupkannya?”
---
Udara di ruangan itu terasa berhenti.
Aku menatap Damian. Pria setinggi 183 cm dengan bahu bidang dan rahang tegas yang membuat semua orang takut hanya dengan satu tatapan. Tapi di sini, di ruang bawah tanah ini, dengan coretan-coretan gila di dinding dan bau kematian yang masih melekat, ia terlihat kecil. Sekecil Damian Kecil yang tadi memelukku.
“Kau minta aku menghidupkan Damian Kecil?” tanyaku pelan.
Damian mengangguk.
“Tapi kalau dia hidup... kamu yang mati.”
“Aku tahu.”
Aku menggeleng. “Tidak. Tidak bisa. Aku tidak bisa membunuhmu hanya untuk—”
“Kau tidak membunuhku.”
Damian mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Ia berdiri tepat di depanku. Jarak kami hanya sejengkal. Aku mencium bau cendananya, tapi di bawahnya masih terselip bau darah yang sama yang kuhirup di ruangan ini.
“Kau menyelamatkanku,” katanya. “Aku sudah mati sejak dua puluh tahun lalu. Yang hidup hanya cangkang. Tapi dia...” Ia menoleh ke sudut ruangan. “Dia masih hidup di suatu tempat. Dan hanya kau yang bisa melihatnya.”
“Kenapa aku?”
“Karena kau satu-satunya yang tidak lari saat melihatnya. Karena kau memeluknya. Karena kau bilang dia luar biasa.”
Suaranya bergetar di kata terakhir. Hanya sedikit. Hampir tidak terdengar. Tapi aku mendengarnya.
“Aku...” Aku menggigit bibir. “Aku tidak tahu caranya.”
“Kau psikiater forensik.”
“Psikiater forensik menangani kriminal, bukan kepribadian ganda! Aku bukan ahlinya!”
“Tapi kau satu-satunya yang aku percaya.”
Kalimat itu menghentikan semua protes di mulutku.
Aku menatap Damian. Matanya masih hitam pekat, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang sangat mirip dengan tatapan Damian Kecil saat ia bertanya, “Kak, main sama aku?”
Aku menghela napas.
“Aku akan coba,” kataku akhirnya. “Tapi tidak ada jaminan. Dan prosesnya lama. Mungkin bertahun-tahun.”
“Aku punya waktu.”
“Kau punya organisasi mafia yang harus diurus. Kau punya musuh yang terus mengintai.”
“Mereka bisa tunggu.”
Aku hampir tertawa. Pria yang tidak pernah menunjukkan emosi ini tiba-tiba berkata seperti anak kecil yang ngotot ingin mainan.
“Baik,” kataku. “Tapi dengan syarat.”
Damian mengangkat alis. Satu alis. Ekspresi paling ekspresif yang pernah ia tunjukkan.
“Syarat?”
“Kau harus mulai bicara lebih dari lima kata per hari. Damian Kecil butuh komunikasi. Dan aku tidak bisa jadi satu-satunya orang yang diajaknya bicara.”
Damian diam. Lama.
Lalu ia mengangguk.
“Baik.”
Satu kata.
Aku menghela napas lagi. “Itu tidak sampai lima kata.”
“Belajar perlahan.”
Aku menatapnya. Ia menatapku.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang mirip dengan senyum di sudut bibirnya. Hanya bayangan. Hampir tidak terlihat. Tapi itu ada.
“Kita keluar dari sini,” kataku. “Udara di sini tidak sehat.”
Aku berbalik menuju pintu. Tapi sebelum aku melangkah, tangan Damian meraih pergelanganku.
Tangannya dingin. Tapi tidak sedingin pintu besi itu.
“Alea.”
Aku menoleh.
“Terima kasih.”
Dua kata. Hanya dua kata.
Tapi cara ia mengucapkannya—pelan, seperti ia takut kata-kata itu akan pecah jika terlalu keras—membuat dadaku terasa sesak lagi.
Aku tersenyum. Senyum yang aku harap tidak terlalu getir.
“Sama-sama.”
---
Kami berjalan keluar dari ruang bawah tanah itu. Damian menutup pintu besi dengan lembut. Tidak menguncinya. Tidak lagi.
Di lorong, lampu bohlam tua masih berkedip-kedip. Tapi sekarang cahayanya terasa lebih hangat. Atau mungkin hanya perasaanku.
Saat kami sampai di tangga menuju lantai dasar, Damian berhenti.
“Kau tidak akan cerita pada siapa pun tentang ini,” katanya. Bukan pertanyaan. Tapi juga bukan ancaman.
“Tidak akan,” jawabku.
Ia mengangguk. Lalu ia melanjutkan langkah.
Aku mengikutinya, menaiki anak tangga satu per satu. Di tengah jalan, aku merasakan sesuatu di tanganku. Lembut. Hangat.
Aku menoleh ke samping.
Damian Kecil berjalan di sampingku, menggenggam tanganku. Ia tersenyum. Senyum yang seharusnya dimiliki anak kecil. Senyum yang bebas dari ketakutan.
“Kak,” bisiknya. “Damian dewasa tadi bilang terima kasih. Aku juga mau bilang terima kasih.”
Aku tersenyum. Aku tidak bisa membalasnya dengan suara—Damian dewasa ada di depan, dan ia tidak tahu Damian Kecil muncul lagi.
Tapi aku menggenggam balik tangan kecil itu.
Dan di tangga menuju cahaya, kami bertiga berjalan bersama.
---
— BERSAMBUNG —
Cliffhanger alami untuk Bab 19: Saat Alea sampai di kamarnya, ia menemukan amplop coklat di atas bantal. Di dalamnya: foto kakak Alea yang tewas sepuluh tahun lalu, dengan tulisan di belakangnya: “Tanya ibu Damian. Dia tahu siapa yang benar-benar membunuh.”