"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan
“Biarkan aku sendiri!”
Mika baru saja terbangun dari kecelakaan tiga hari lalu. Fakta bahwa ia masih hidup terasa seperti sebuah keajaiban.
“Aku bisa bantu kamu, Mika,” kata Tristan lembut.
“Nggak perlu. Pergi dari sini sekarang!” Mika langsung mengusir pria yang telah menolongnya.
Tristan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Dengan sikapnya yang tetap lembut, ia beranjak pergi. Saat pria itu benar-benar menghilang dari hadapannya, Mika meraih ponsel yang ada di meja.
Tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan.
Tuan Arlan, maaf ... aku harus pergi dari kehidupanmu selamanya. Utang orang tuaku akan aku cicil.
Tanpa ragu, Mika langsung mematikan ponselnya. Ia membuka bagian belakang ponsel dan mengeluarkan kartu SIM.
Saat suster masuk untuk memeriksa kondisinya, Mika berkata pelan, “Sus, kalau nanti ada yang nyari nomor atau ponsel ini … bilang aja orangnya udah pergi.”
Suster itu hanya mengangguk tanpa banyak bertanya. Kondisi Mika sebenarnya sudah jauh lebih baik, meskipun salah satu tangannya masih harus disangga dengan arm sling.
“Ada keluarga yang bisa dihubungi?” tanya suster.
“Nggak ada,” jawab Mika tanpa ragu.
“Kalau begitu, silakan tanda tangan untuk pembayaran, ya,” ujar suster sambil menyerahkan berkas.
Mika terdiam sejenak. Lalu, ia membuka tasnya dan mengeluarkan satu-satunya kartu ATM yang ia miliki—ATM platinum milik Arlan.
Saat suster melihatnya, matanya langsung membesar. “Lho, ini punyamu, Nona?”
“Bukan. Aku dikasih seseorang,” jawab Mika.
Suster itu langsung melongo. “Jadi, Nona ini calon istri Tuan Arlan?”
Mika tersentak. “Bukan! Ini cuma dikasih sama dia,” jawabnya cepat, meski terdengar ragu.
“Astaga ... Nona, ambil kembali ATM-nya. Kami nggak berani minta pembayaran dari orang yang berhubungan dengan Tuan Arlan,” kata suster itu panik.
Mika mengerutkan kening. “Kenapa? Aku ‘kan nggak ada hubungannya sama dia.”
Namun, ucapan itu justru membuat suster semakin panik. Tanpa banyak bicara, suster itu langsung pergi.
“Eh, tunggu ... ATM-nya!”
Mika hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka pengaruh Arlan sebesar itu. Seolah-olah seluruh Kota Glazy berada di bawah kendalinya.
Mika pun bersiap untuk pergi. Saat keluar dari kamar rawat, langkahnya terhenti. Beberapa pengawal Arlan terlihat berdiri di dekat resepsionis.
Mika langsung bersembunyi di balik tembok. Ia mengintip dengan hati-hati. Tak lama kemudian—Arlan muncul.
Pria itu tampak segar. Seolah tidak terjadi apa pun semalam. Hati Mika terasa sesak.
“Maaf ya, aku nggak mau ngerusak hubunganmu sama Nona Kamalia,” batinnya.
Dengan napas tertahan, Mika mengendap-endap pergi. Beruntung, ia berhasil keluar tanpa terlihat. Ia segera menaiki taksi.
“Mau ke mana, Nona?” tanya sopir.
“Ke mana aja, Pak ... yang penting jauh dari sini,” jawab Mika sambil menoleh ke arah rumah sakit, memastikan Arlan tidak menyusul.
Di dalam perjalanan, pikirannya mulai berputar. Ia harus memulai hidup baru. Mencari tempat tinggal. Mencari sekolah, untuk melanjutkan pendidikannya sampai lulus adalah salah satu impian terbesarnya.
“Pak, ada kos-kosan murah nggak, ya?” tanya Mika.
“Hmm ... ada, Non. Dekat rumah saya. Kalau nggak salah sekitar satu juta sebulan,” jawab sopir.
Wajah Mika langsung berbinar. “Wah, mau, Pak! Tolong antarkan aku ke sana, ya.”
Sopir itu mengangguk. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah kontrakan sederhana. Sopir dan Mika turun bersamaan.
Sopir sempat melihat sekeliling, lalu kembali menatap Mika.
“Nggak bawa barang pindahan?”
Mika tersenyum kecil. “Nggak, Pak.”
Ia hanya membawa tas kecil, masih dengan pakaian pesta, dan tangannya yang disangga. Tanpa banyak bertanya, sopir itu membantu memperkenalkan Mika pada pemilik kontrakan. Seorang ibu paruh baya keluar menyambut mereka.
“Kamu nanti tinggal sama siapa?” tanya ibu kontrakan.
“Sendiri, Bu,” jawab Mika.
“Masih sekolah?”
Mika sempat menunduk sejenak sebelum menjawab. “Iya, Bu. Makanya nanti aku mau cari sekolah di dekat sini, sama cari kerja juga.”
Ia sudah bertekad tidak akan kembali ke restoran lamanya. Jika ia kembali, Arlan pasti akan menemukannya.
“Kalau begitu, kamu sekolah di SMA Goham 01 aja. Dekat, cuma di seberang jalan,” saran ibu kontrakan.
Wajah Mika langsung cerah. “Iya, Bu! Makasih banyak!”
Mika mengangguk antusias, lalu menjabat tangan ibu kontrakan dengan penuh semangat. Untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi, ia mencoba berdiri sendiri.
Sementara itu, Arlan masih mencari keberadaan Mika. Ia berdiri di tengah rumah sakit dengan aura dingin yang menekan.
“Di mana pemilik ponsel ini?” tanyanya tegas.
Suasana langsung hening. Tak satu pun staf berani menatapnya, apalagi menjawab. Tatapan Arlan terlalu tajam dan menekan.
“Aku tanya sekali lagi!” Suaranya merendah, tapi justru lebih menakutkan. “Di mana gadis itu?”
Seorang perawat akhirnya maju dengan ragu. “Dia mengalami kecelakaan, Tuan. Nggak sadarkan diri selama tiga hari,” jelasnya gugup.
Rahang Arlan mengeras. Urat di pelipisnya terlihat menegang. “Lalu sekarang?” tanyanya singkat.
“Dia udah sadar. Tapi ... udah pergi, Tuan.”
Deg.
Suasana mendadak terasa lebih mencekam. “Apa yang terjadi sama dia selama di sini?” bentak Arlan tiba-tiba.
Perawat itu tersentak. “Se—selama di sini ... dia dirawat seperti pasien biasa, Tuan.”
Arlan menarik napas kasar. “Dengan siapa dia dibawa ke sini?” Pertanyaan itu keluar dengan nada dingin, tapi penuh tekanan.
Perawat itu menelan ludah. “Dia, dibawa oleh seorang pria, Tuan.”
Arlan menyipitkan mata. “Siapa?”
“Dia bilang, pacarnya, Tuan.”
Kalimat itu seperti menyulut api. Jantung Arlan langsung berdegup keras. Pacar? Sejak kapan Mika punya pacar? Kenapa dia tidak pernah tahu?
Bruak!
Sebuah kursi lipat dibanting keras ke lantai. Semua orang tersentak. Beberapa staf bahkan mundur ketakutan. Suasana berubah kacau.
“Aku nggak mau dengar alasan!” bentak Arlan. “Cari dia!”
Para pengawal dan asistennya langsung bergerak cepat. Namun, salah satu asisten buru-buru mendekat. “Bos, di rumah sakit pasti ada CCTV. Kita bisa lacak dari sana.”
Arlan langsung berbalik. Tanpa banyak bicara, ia berjalan cepat menuju ruang VIP. Di dalam ruangan itu, sebuah laptop sudah tersambung dengan sistem CCTV rumah sakit. Arlan duduk. Matanya terpaku pada layar. Rekaman demi rekaman diputar. Menit demi menit berlalu. Hingga akhirnya, ia melihat Mika.
Gadis itu berjalan cepat keluar dari ruang rawat. Wajahnya pucat, tapi tekadnya terlihat jelas. Arlan menyipitkan mata. Rekaman berlanjut. Mika terlihat menaiki sebuah taksi berwarna kuning.
Tetapi plat nomor taksi itu tidak tertangkap kamera.
Buk!
Tangan Arlan menghantam meja. “Aku nggak mau tahu!” Suaranya rendah dengan penuh amarah. “Cari taksi itu sampai dapat.” Lanjutnya.
Ia menatap tajam ke arah para bawahannya. “Temukan Mika.” Perintahnya singkat, tapi tak terbantahkan.
Semua orang langsung bergerak. Tidak ada yang berani menunda. Setelah ruangan kembali sepi, Arlan tetap duduk di sana beberapa detik.
Tatapannya masih terpaku pada layar yang kini sudah berhenti. Wajahnya dingin. Tapi matanya penuh sesuatu yang tidak biasa. Perasaannya muncul marah, kesal dan kehilangan kendali.
Arlan membuka ponselnya. Pesan yang dikirimkan Mika begitu membayanginya. “Anak kecil ini mau main-main sama aku!” batinnya.
Tanpa berkata apa pun lagi, Arlan berdiri. Ia berjalan keluar, menaiki mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah sakit.