Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kakek Tua
Satu bulan telah berlalu sejak Yan Bingchen mendaftarkan diri di turnamen kota Linyi.
Hutan yang dulunya terasa asing dan mengancam, kini telah menjadi saksi bisu transformasi dua pemuda dan seekor serigala arwah yang malang.
Sinar matahari pagi menembus celah pepohonan, menyinari Yan Bingchen yang berdiri tegak dengan aura yang jauh lebih tenang namun padat.
Di depannya, Mo Ran sedang bersusah payah melakukan posisi kuda-kuda bawah dengan kaki yang gemetar hebat.
"Tahan, Mo Ran. Jika fondasi kakimu selemah kerupuk, kau akan jatuh bahkan sebelum lawanmu menarik napas," ucap Yan Bingchen dingin sambil mengoreksi posisi punggung temannya dengan ujung pedang tumpulnya.
"Kak ... kaki ... ku ... mau ... copot!" Mo Ran meringis, keringat bercucuran deras dari dagunya. "Kenapa aku harus belajar ini? Aku kan punya si Hitam untuk bertarung!"
Di sudut lapangan, si serigala hitam—yang kini lebih mirip anjing penjaga raksasa—sedang menjatuhkan tumpukan kelinci hasil buruannya. Ia melirik Mo Ran dengan tatapan yang seolah-olah mengejek kelemahan manusia itu.
"Si Hitam tidak akan selalu ada di sampingmu," balas Yan Bingchen. "Aku tidak memintamu menjadi pendekar agung, tapi setidaknya kau harus bisa merasakan aliran Qi dasar agar tidak mati konyol saat aku sedang sibuk di arena nanti."
Yan Bingchen meletakkan tangannya di pundak Mo Ran, mengalirkan sedikit energi hangat untuk membantu sirkulasi darah pemuda itu.
Meski Mo Ran tidak memiliki bakat alami dalam kultivasi, Yan Bingchen menyadari bahwa pemuda ini memiliki daya tahan mental yang luar biasa—warisan dari kerasnya hidup sebagai yatim piatu di jalanan.
Rutinitas mereka setiap siang biasanya terhenti ketika seorang pria tua bungkuk muncul dari balik semak-semak.
Pria itu selalu membawa keranjang rotan besar untuk mencari kayu bakar. Namanya adalah Kakek Tua, setidaknya begitu Mo Ran memanggilnya karena pria itu jarang bicara.
"Kakek! Sini, biar si Hitam yang bawa kayunya!" teriak Mo Ran riang, seolah baru saja mendapat alasan untuk berhenti latihan.
Si serigala hitam mendengus kesal, namun satu tatapan tajam dari Yan Bingchen membuatnya segera bangkit dan mendekati sang kakek.
Dengan gerakan yang sudah terbiasa, Mo Ran membantu memindahkan bongkahan kayu berat ke atas punggung serigala tersebut.
Yan Bingchen berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah botol air kulit kepada pria tua itu. "Istirahatlah sebentar, Kek. Matahari sedang terik."
Kakek tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan kerutan dalam di wajahnya yang penuh pengalaman hidup. "Terima kasih, Anak Muda. Kalian berdua ... kombinasi yang aneh. Pendekar es-api, penipu kecil, dan serigala babu. Hutan ini jadi terasa lebih hidup."
"Hehe, kami ini tim impian, Kek!" sahut Mo Ran sambil mengelap keringatnya. "Dua bulan lagi, Kak Bingchen akan jadi juara dan kita tidak perlu lagi mencuri kayu ... Maksudku, kakek tidak perlu capek-capek lagi karena kami akan membelikanmu gerobak emas!"
Yan Bingchen hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Mo Ran. Namun, ia merasa nyaman dengan kehadiran kakek ini.
Selama sebulan ini, sang kakek sering memberi mereka saran tentang arah angin dan jenis tanaman obat yang bisa memulihkan tenaga. Sesuatu yang sederhana, namun terasa sangat tulus—sesuatu yang tidak pernah didapatkan Yan Bingchen di tempat asalnya yang penuh dengan kemunafikan.
Malam harinya, setelah membantu mengantar kakek tua ke pinggiran hutan dan menikmati makan malam hasil buruan si Hitam, suasana kembali menjadi sunyi.
Mo Ran sudah mendengkur di bawah perlindungan bulu tebal si serigala hitam yang kini jadi bantal pribadinya.
Yan Bingchen duduk bersila di atas sebuah batu besar. Sisa dua bulan lagi. Ia bisa merasakan energi di dalam tubuhnya semakin jenuh, semakin dekat dengan titik cair yang ia idamkan.
Satu bulan pelatihan intensif ini telah membuahkan hasil. Ia mulai bisa menggunakan teknik dasar api dan es secara bergantian tanpa jeda yang merusak Dantian-nya.
Namun, ia tahu itu belum cukup. Para peserta di turnamen nanti pasti memiliki teknik-teknik unik dari Benua Tiandi yang belum pernah ia hadapi.
"Sesuatu di tengah-tengah ..." gumam Yan Bingchen sambil menatap rembulan.
Ia mulai mencoba memutar Qi-nya dengan cara yang lebih lambat, lebih halus. Jika biasanya ia memaksakan kekuatan, sekarang ia mencoba mengalir bersama alam—seperti saran kakek tua tadi siang tentang bagaimana kayu yang fleksibel lebih tahan lama daripada kayu yang keras.
Tanpa ia sadari, lapisan tipis kabut ungu mulai terbentuk di sekeliling tubuhnya.
Itu bukan api, bukan pula es. Itu adalah hasil dari gesekan dua energi yang mulai menemukan titik keseimbangan.
Yan Bingchen menarik napas panjang. Waktu terus berjalan, dan dendam serta harapan yang ia bawa dari seberang lautan kini mulai bertransformasi menjadi kekuatan yang lebih murni.
Ia tidak lagi berlatih hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk membuktikan bahwa keberadaannya bukanlah sebuah kesalahan.
"Dua bulan lagi," bisik Yan Bingchen pada kesunyian malam. "Aku pasti akan menang."