Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dinda mencium aroma rokok yang sangat pekat. Dinda membuka mata, kepulan asap rokok menari-nari di udara. Dinda terbatuk memegangi dadanya yang mulai sesak.
Dinda mengamati sekitar, Dinda berada di sebuah kamar dengan dinding kayu dan beralaskan kasur kapuk. Tidak ada lampu hanya mengandalkan cahaya dari ruangan di depannya. Dinda memberanikan diri keluar dari kamar.
Dinda secara hati-hati melangkah. Dinda menjulurkan kepalanya keluar pintu. Di sana Dinda melihat, Wira sedang duduk di kursi rotan sambil menyilangkan kaki, tangan kanannya memegang puntung rokok, matanya tajam ke arah Dinda.
"Kak Wira!" Dinda terpaku di depan pintu kamar.
"Duduk!" Wira memberi isyarat lewat tangannya.
Dengan langkah ragu dan takut, Dinda duduk di seberang Wira. Dinda penuh keberanian menatap Wira.
"Apa Kak Wira ada masalah sama aku? Apa aku ada salah? Kok Kak Wira begini?"
"Gue mau tanya, apa saja yang lu lihat sewaktu di kafe kota Agate?"
Dinda menggelengkan kepala, pandangannya tertunduk.
"Jangan bohong!" Wira memukul meja dengan keras.
"Aku melihat, ada cewek yang over dosis. Aku juga mendengar, Kak Wira, hem ...."
"APAAAAA!" Bentak Wira.
"Kak Wira pengedar narkoba!" Jawab cepat Dinda.
Wira melototkan matanya. Wira membuang puntung rokok ke lantai dan menginjak dengan kakinya. Wira memandangi Dinda yang gemetar.
Wira kemudian bertanya, apakah Dinda selama tinggal di kota Jade bertemu dengan Arlo. Dinda menggelengkan kepala.
Dinda yang penasaran juga bertanya alasan Wira mengacungkan pistol ke arah Kenzo. Jawabannya hanya karena ingin memenangkan lomba. Di arena Kenzo, tidak ada aturan, boleh menggunakan kekerasan untuk menang.
"Rani, Dinda, apapun nama lu! Gue hanya minta bantu lu. Ikut gue!"
Dinda berdiri dan pasrah saat Wira menarik tangannya. Dinda masuk mobil Wira. Wira secara perlahan menjalankan mobilnya.
Wira untuk pertama kalinya meminta maaf kepada Dinda. Wira memang sangat membenci Dinda. Wira juga mengaku, dia yang menabrak Dinda. Wira ingin sekali membunuh Dinda karena Dinda sudah mengetahui rahasianya.
Wira juga menjadikan Dinda taruhan demi mendapatkan motor sport yang selama ini dia dambakan.
"Rahasia apa Ka?" Dinda memandangi Wira.
"Bukannya lu tahu gue bunuh orang? Lu saksi matanya!"
"Kak Wira bunuh orang!"
"Dinda, jangan berlagak bodoh!"
"Sumpah, aku gak tau kak!"
Wira menepikan mobilnya. Wira terus saja menyerang Dinda dengan pertanyaan. Dinda berkali-kali menyatakan, Dinda tidak tahu menahu tentang pembunuhan. Dinda hanya mendengar Wira pengedar narkoba.
Sedangkan Arlo, pada malam itu, dia sudah memasukan sesuatu ke dalam makanan dan minumannya. Arlo juga berusaha melecehkan Dinda. Selain itu, Dinda juga melihat seorang cewek yang over dosis.
Wira memukul keras setirnya. Wira memperingatkan Dinda agar berhati-hati jika bertemu dengan Arlo. Arlo bilang, Dinda adalah saksi pembunuhan Wira pada malam itu di kafe.
Orang yang Wira bunuh pada saat itu adalah cewek yang Dinda lihat over dosis. Wira selama ini kecanduan obat terlarang. Dan cewek itu tidak mau lagi memberikan obat terlarang kepada Wira. Wira marah dan memasukkan narkoba dalam minumannya dengan dosis tinggi.
Menurut cerita Arlo, Dinda pada malam itu berencana melaporkan Wira dan Arlo ke kantor polisi. Karena itulah Arlo dan Wira mengejar Dinda.
Wira tidak mau kedua orang tuanya mengetahui perbuatannya. Wira berniat menghabisi nyawa Dinda.
Dinda memberitahu Wira, Damin dan Mira pindah ke kita Jade. Mereka membuka rumah makan. Ada yang menagih utang dan mengobrak-abrik rumah makan mereka.
"Sumpah, gue gak punya utang! Gue hanya cari uang dengan cara tidak halal! Lu tunggu di sini!"
Wira keluar dari mobil. Wira sepertinya sedang menunggu seseorang. Terlihat ojek online berhenti di samping Wira. Wira mengambil kardus mie instan yang diberikan ojol.
Wira kembali ke mobil. Wira menaruh kardus mie instan di kursi tengah mobil. Wira membuka pintu depan dan menarik Dinda keluar dari mobil.
"Bang tolong antarkan gadis ini ke alamat ini," Wira memberikan sejumlah uang dan secarik kertas.
Wira pergi tanpa menghiraukan Dinda yang kebingungan. Dinda bersyukur hari ini Wira tidak berusaha membunuhnya.
Dinda bertanya kepada abang ojol, dia mau dibawa ke mana. Abang ojol bilang, Dinda akan diantar ke pelabuhan.
"Pelabuhan? Bang tolong antarkan saya pulang. Orang tadi bukan orang baik. Dia mau nyulik saya," kata Dinda.
"Beneran Neng? Maaf saya gak tau. Untung saja saya offline."
Abang ojol langsung menuju alamat yang diberikan Dinda. Abang ojol cerita, tadi dia disuruh ambil kardus mie instan di samping bak sampah yang ada dekat pasar.
Abang ojol merasa aneh, baru pertama kali dapat orderan ambil kardus dekat bak sampah. Kardus itu harus diserahkan ke alamat yang ada di aplikasi.
Karena bayarannya lumayan banyak, abang ojol langsung membawa kardus itu ke tempat terakhir dia bertemu dengan Dinda.
Abang ojol memberikan Dinda kertas yang tadi dikasih Wira. Dinda mengambil dan menyimpannya di dalam tas.
Tibalah mereka di rumah pak Latif. Setelah Dinda membayar ongkos ojek, Dinda langsung masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah,. Pak Latif, Bu Sekar, Rama, Dita, Damin, Mira dan Bima sudah menunggu.
Nampak dengan jelas kepanikan di wajah mereka. Mira memeluk Dinda dan bertanya bagaimana keadaannya.
Dinda ceritakan semua kepada keluarganya. Wira kali ini tidak menyakitinya. Dinda juga memberitahu keluarganya alasan Wira ingin membunuhnya. Dinda dianggap sebagai saksi dalam pembunuhan yang dilakukan Wira.
"Apa! Wira membunuh!" Wajah Damin pucat pasi.
"Kak Wira ternyata kecanduan obat terlarang. Dan orang yang dibunuhnya, saat itu sudah tidak mau memberikan obat lagi," sahut Dinda.
"Ada pesan masuk. Orang itu ingin uang 100 juta. Dia juga sudah mengirim lokasinya. Dia juga bilang, jika terlambat, Dinda akan kehilangan nyawa," Bima membacakan pesan yang masuk di ponselnya.
"Kok dia bisa menghubungi kamu?" tanya Damin.
"Dia menggunakan ponsel Dinda," jawab Bima.
"Oh iya, ponselku hilang. Aku sangat yakin, dia bukan Kak Wira. Dia tidak tahu, sekarang aku sudah ada di rumah."
"Tunggu sebentar, Yah, saya sudah memasang alat pelacak di ponselnya Dinda. Apakah kita bisa menangkap pelakunya?" Rama membagikan lokasi ponsel Dinda ke kontak pak Latif.
Pak Latif kemudian mengirimkan lokasi itu kepada orang-orang kepercayaannya. Pak Latif meminta, orang-orangnya segera menemukan pelaku pemerasan.
Dalam hitungan menit, orang-orang kepercayaan pak Latif telah menemukan lokasi ponsel Dinda. Pak Latif, Rama dan Bima menuju lokasi.
Menurut informasi yang disampaikan orang kepercayaan pak Latif lewat telepon, pelakunya sudah mereka amankan.
Pak Latif, Rama dan Bima tiba di lokasi. Mereka langsung menemui pelaku yang sudah diamankan. Dan salah satu dari mereka adalah orang yang Rama dan Bima kenal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...