IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Afirmasi Positif
*
*
"cepat, aku harus cepat. Nggak enak sama Anin kalau terlambat terus. Naik ojol apa angkutan umum ya biar cepat sampe. Ah... Ojol ajalah."
Sambil terus melangkah, Qistina memesan ojol di ponselnya. "Selesai, tinggal tunggu."
Tak lama ponsel itu berderit, Zifa sahabat kampusnya menelpon.
"Halo Zif, ada apa?"
"Ada apa? Woi kamu kemana? Bolos lagi?" pekik Zifa di seberang telepon. Terasa memekakkan hingga perlu sekali ia jauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Sabar Zifa, nyemprot mulu."
"Kamu nggak pikirin skor TOEFL mu sama Bu Rahma?"
Zifa benar, tadi adalah waktunya dosen itu minta syarat TOELF internal sebagai syarat kelulusan matkul. Tapi apalah daya situasinya tidak memungkinkan. Qistina pasrah.
"Tau nih, aku sibuk banget Zif. Apa aku cuti aja dulu ya?"
Ia teringat akan tabungannya yang sudah habis, juga dengan motor yang belum bisa ia tebus. Untuk mencari pekerjaan tambahan lagi rasanya sudah tidak ada waktu. Keputusan singkat itu terlahir begitu saja karna kelelahan yang mendera nya.
"Heh, kalau kamu cuti mau umur berapa kamu lulusnya?"
"Ya... Setidaknya aku butuh jeda."
"Nggak ada, besok aku nggak mau denger kamu ajukan cuti. Kita kan sudah janji buat lulus bareng."
"Iya deh iya... Aku lagi mau ke kafe nih. Udah dulu ya."
Sambungan telepon itu terputus. Tanpa Qistina sadari sosok Naufal sudah mengikutinya dari belakang. Ia dengar percakapannya tadi. Tapi memilih diam saja, merasa tidak etis untuk ikutan bicara.
"Qis, mau kemana?"
"Eh ... Kamu. Aku harus cepet-cepet nih. Udah harus masuk kerja."
"Emangnya kamu kerja di mana sih, kok kayanya sibuk banget? Nggak capek apa? Tadi kan abis jagain balita itu."
"Kafe, nggak capek kok. Namanya juga kerja sama orang. Mana boleh seenaknya, yang ada aku kena pecat. Eh itu ojol aku udah di depan. Aku pamit dulu ya, buru-buru nih." Qistina mempercepat langkahnya.
"Kafe mana Qis?"
"KYN!" serunya sambil berlari kecil, menuju ojol yang menunggu di area parkir.
Naufal memandangi tubuh ramping itu sampai ia benar-benar pergi. Sudut hatinya entah kenapa ingin sekali mencari tahu lebih banyak informasi tentang kehidupannya. Apa karna dia mulai tertarik pada Qistina? Entahlah, tidak ada yang bisa memprediksi hati seorang Naufal.
***
"Kafe KYN ya Bang!"
Perintah Qistina pada pengemudi ojol itu. Yang di balas dengan anggukan dan menyerahkan helm padanya.
"Bang kira-kira bisa cepet nggak ya? Aku buru-buru nih." seru Qistina dan langsung memasang helm di kepalanya.
"Kalau mau ke kafe KYN kayanya lewat rute biasa malah kena macet Mbak. Gimana kalau lewat yang sebelah sana aja?" Ojol itu seraya menunjuk jalan kecil di sebelah kanan jalan raya.
Qistina mengangguk, "Terserah deh Bang, yang penting cepet sampe. Aku udah hampir telat."
"Oke Mbak, agak ngebut nih ya."
"Gas aja Bang!"
Sepanjang perjalanan Qistina hanya melihat jalan. Tidak sempat berfikir apa-apa. Kosong. Dia hanya ingin segera sampai itu saja. Syukurlah perjalanan mereka tidak ada hambatan, mulus sampai tujuan.
"Terimakasih ya Bang. Berkat Abang aku nggak jadi telat." Kata Qistina sambil menyerahkan helm.
"Sama-sama Mbak, kalau butuh saya lagi buat antar jemput bisa kok Mbak. Tanpa harus pakai aplikasi.dan biaya."
Qistina menautkan alisnya, "Maksudnya gimana Bang?"
"Yah... Semacam ojek pribadi gitu. Calling pribadi aja."
Abang ojol itu sambil menyeringai.
Seketika Qistina meremang, "Hiy..."
Qistina tidak menjawab apa-apa langsung melangkah masuk saja. Dia sangat tidak bernafsu meladeni kemodusan ojol itu, membayangkannya saja dia sudah bergidik.
***
Menuju ruang loker, cepat Qistina mengganti seragam kerja dan appron. Anin sudah stay calm di meja konter.
Tidak pernah sekalipun ia protes dengan kedatangan Qistina yang sering kali terlambat. Ia punya seribu alasan untuk tetap memaklumi teman kerjanya itu.
"Seperti biasa, aku terlambat lagi Nin."
Qistina benar-benar merasa tak enak pada sahabatnya itu.
Tapi Anin menanggapinya hanya dengan senyuman, ia tidak marah sama sekali "Udah sih, aku nggak masalah kok. Asal jangan sampe kamu kena SP aja dari manager." Anin setengah berbisik "Tadi dia udah nanya-nanya kamu tuh."
"Serius?" Qistina terkejut, sekaligus khawatir "Nanya apa dia?"
"Ya nannya kemana kamu, kenapa belum dateng." Anin menjawab dengan santai, "Aku bilang kamu ketoilet bentar. Tapi kamu belum juga muncul-muncul, akhirnya ketahuan deh kalo aku bohong." ujarnya sambil terkekeh.
"Duh" Qistina menutup mulutnya dengan telapak tangan "gara-gara aku nih, kamu jadi ketahuan gitu."
Anin menggeleng, "Not bad..." lantas menaikkan kedua alisnya, "di waktu tertentu bohong itu bisa jadi penyelamat. Nggak selamanya buruk kok."
Mendengar itu Qistina tertawa kecil, "Bisa aja nih, juara ngeles."
Namun tawanya mereda, setelah melihat Anin menghela nafas berat "Tapi bentar, kok ada yang aneh sama kamu hari ini Nin?" tanyanya.
Anin menautkan alisnya, "Aneh apanya?"
"Kamu kelihatan nggak mood gitu, kenapa? Ada masalah?" Qistina serius bertanya.
"Gitu deh" Anin menaik turunkan bahunya, "punya adek laki-laki yang kelakuannya makin hari makin bikin darah tinggi."
"Kenzo?"
"Iya, siapa lagi." Anin menjawabnya dengan malas, "Di suruh sekolah baik-baik malah bolos mulu. Capek aku ngadep guru BP. Nggak ada berubah-rubahnya."
Qistina mendengarnya dengan seksama.
"Kadang ngerasa nih" lanjut Anin, "kenapa masalah terus yang dateng, sekali-kali kek cowok ganteng." suara Anin terdengar putus asa.
"Yah... Aku juga maunya gitu Nin" Qistina menimpali, "Kalau bisa milih, aku maunya jangan di datengin masalah. Hidup damai banyak uang gitu. Tapi gimana namanya juga hidup ada yang ngatur."
Anin mengangguk samar, "Kayanya enak ya, kalau banyak uang. Ada masalah juga bakal anteng."ujarnya.
"Iya, seenggaknya kalau lagi galau bisa beli makanan yang kita mau tanpa mikir harganya."sahut Qistina.
Anin tertawa getir, menertawakan jalan kehidupannya "Menyedihkan banget sih, hidup kita ini."
Qistina menghela nafas pelan, "Bersyukur aja deh, masih bisa ketawa." ia teringat dengan apa yang di lihatnya saat di rumah sakit tadi "Ada kok orang-orang yang buat senyum aja susah. Senyumnya hilang karna nahan sakit."
Anin terkesiap mendengarnya, "Eh... Apa nih? Kenapa jadi bijak banget. Abis ikut kelas afirmasi positif?" tebaknya.
"Nggak" Qistina menjawab cepat, "kebetulan tadi pagi abis dari sini bantuin orang kecelakaan. Kasian, keluarga muda gitu. Suaminya kritis, Istrinya nyusul. Pas itu aku jadi mikir, ternyata di kasih sehat walaupun nggak punya uang itu juga nikmat." terangnya.
Anin mengangguk samamar, "Tragis banget penemuan kamu hari ini." lantas ia menaruh tangannya di dagu, dan mengetuk-ngetuk kecil jemarinya di sana. "Tapi bener juga ya, ketimbang mengeluh sama kekurangan lebih baik kita bersyukur sama yang jelas-jelas sudah di kasih. Seenggaknya kita jalanin hidup ini jadi sedikit lapang ya."
"Betul!" ujar Qistina, lantas menoleh lebih dalam, menatap sahabatnya "Sejak kapan kafe ini jadi sesi konseling?"
Lantas keduanya meledak dalam tawa.
Begitulah dua orang itu, mereka saling menguatkan padahal mereka sendiri seringnya terseok-seok saat berjalan. Bagi mereka, jika laba-laba memiliki jaringan untuk berpegangan, burung memiliki sangkar untuk mengambil jeda, maka manusia memiliki sahabat untuk terus bergerak seimbang.
Di kehidupan yang serba strugle ini, setidaknya kita tidak merasakan sendiri. Jadilah penguat untuk orang lain, dengan sendirinya kamu juga akan kuat– Qistina.
Qistina membersihkan meja-meja dari sisa pengunjung. Gerakannya cekatan, tidak pernah sekalipun ia setengah-setengah mengerjakan tugas-tugas. Baginya pekerjaan itu bagian dari nadi kehidupannya, sudah sangat pantas jika ia hadir keseluruhan dalam setiap aktivitasnya. Mengeluh hanya akan memperburuk keadaan, ia memilih untuk menjalaninya saja.
Alunan musik akustik di sudut ruang kafe mulai terdengar. Hiruk pikuk pelanggan membuat suasana tak lagi lengang. Baik Qistina maupun Anin tidak ada pilihan lain, selain menikmati pekerjaan itu. Dengan senyum SOP tentunya.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍
dan qistina dibawa kabur daddy aja deh🤭 gemes abisnya