NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkuak 2

Rangga dan Kiran saling menatap satu sama lain. Pandangan mereka terpaku, menyelami perasaan yang mereka punya untuk satu sama lain. Sekaligus menelaah satu informasi besar yang baru saja diucapkan oleh Kiran.

Mereka masih asyik menyelami perasaan satu sama lain sampai kemudian terkagetkan dengan suara pintu yang ditendang secara kuat dari luar. Rangga begitu kaget hingga refleks berdiri menghadap ke pintu yang saat itu sudah terbuka lebar.

Kiran sendiri, tanpa pikir panjang langsung mengambil kain yang tadinya untuk mengikat tangannya di tiang ranjang kemudian dengan gerakan cepat membelitkan kain itu ke leher Rangga yang membelakanginya.

Mendapat serangan tiba-tiba dari Kiran membuat pria itu tak siap. Ia hanya mampu menahan kain itu agar tidak terlalu mencekik lehernya. Alhasil, posisi mereka kini, Kiran berada di belakang sedang mencekik pria bertelanjang dada yang ada di hadapannya.

Dua orang pria menyerbu masuk. Diikuti oleh Radit dan Ari. Kemudian membeku seketika melihat apa yang ada di hadapan mereka. Salah satu dari dua pria tadi bertanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Sebenarnya kita mau menyelematkan seorang wanita atau seorang pria, Bos?" tanyanya penuh keheranan menatap pemandangan di depan mereka. Karena menurut pengamatannya, Rangga lah yang berada dalam kondisi membutuhkan bantuan.

Radit menghela nafas kasar kemudian beranjak pergi keluar. Pria itu memberi isyarat pada dua pengawal yang mendobrak pintu tadi agar mengikutinya.

"Jadi selanjutnya bagaimana, Bos?" tanya mereka setelah berada di luar rumah.

"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri."

Radit menatap orang suruhan Rangga yang tak berdaya, terikat menjadi satu kemudian mendekati mereka.

"Aku sudah lihat wajah kalian. Kedepannya jika kalian berani cari gara-gara padaku atau yang berkaitan denganku, akan kupastikan itulah hari terakhir kalian menghirup udara secara bebas. Dan bukan hanya kalian, tapi juga keluarga yang ada dihidup kalian. Akan kubuat mereka bernasib sama seperti apa yang kalian rasakan!" sepuluh pria itu menunduk takut.

"Foto semua wajah mereka dan kirim padaku. Jika kedepannya mereka mengulangi hal yang sama, maka aku bisa pastikan apa yang aku ucapkan tadi akan menjadi kenyataan!" perintah Radit pada bawahannya, menatap tajam orang suruhan Rangga.

Seorang pria pengawal Ari memotret wajah pria yang diikat itu satu persatu. Kemudian mengangguk pada Radit.

"Biarkan saja mereka tetap seperti ini. Kalian...." menunjuk delapan orang pria dengan telunjuknya.

"Kalian boleh kembali. Sisanya pulang bersama Ari!"

Delapan orang tadi mengangguk lalu beranjak pergi ke mobil mereka. Tidak lama kemudian mereka sudah meluncur ke jalananan. Sisanya empat orang lagi, menunggu Ari di luar rumah bersama para suruhan Rangga yang terikat.

Radit mendekati mobilnya. Membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia menghela nafas kasar saat bergerak duduk. Bara menatapnya dengan sorot mata keheranan.

"Sekretaris itu bagaimana, Dit?"

"Jangan tanyakan padaku!"

"Hei, jadi aku harus bertanya pada siapa? Ada apa rupanya, apa yang terjadi?"

"Wanita murahan itu sudah membuat semua pria di dekatnya menjadi bodoh. Bahkan kebodohan itu kini berimbas padaku karena kebodohan Ari yang menyukainya."

"Aku jadi penasaran, apa yang sudah terjadi di dalam..."

"Aku tidak mau membahasnya. Yang jelas aku menyesal sudah menahan kantukku demi menunggu kabar di mana lokasi wanita mata duitan itu berada!"

"Yaelah, emosinya yang gak bisa tidur...," ledek Bara.

"Kau bisa bilang begitu, karena aku sudah berbaik hati padamu. Kalau bukan karena kau yang akan menyetir, tak kan kubiarkan kau tidur dengan tenang!" menatap Bara tajam.

Bara menghentikan senyum ledekannya. Wajahnya berubah menjadi serius kembali. Ucapan Radit memang benar, sebab tadi sebelum berangkat menuju lokasi penyekapan Kiran, Radit menyuruhnya untuk tidur, sementara mungkin bos sekaligus teman karibnya itu tetap terjaga.

"Ayo, kita pulang sekarang. Kita cari dulu masjid terdekat. Kita harus segera sholat shubuh. Setelah itu kita langsung ke kantor."

Bara mengangguk cepat kemudian melajukan mobilnya seperti yang Radit perintahkan.

Sementara itu di dalam kamar....

Ari yang tadinya berada di belakang Radit, mematung dan menatap keheranan.

"Kiran...?"

Kiran tersentak, melepaskan tangannya. Rangga bernafas lega. Ia mengelus lehernya yang tadi tercekik.

"Maafkan aku, Rangga.... Aku kira tadi...,"

Kiran menggantung ucapannya. Semula ia mengira, yang mendobrak tadi adalah pria yang menculiknya. Maka ia berinisiatif untuk menjadikan Rangga sebagai sandera. Ternyata dugaannya salah.

Ari mendekati Kiran. "Kau tidak apa-apa, Kiran?" tanyanya mencermati setiap tubuh gadis itu, memastikan tidak ada yang terluka.

Kiran menggeleng lemah. "Aku baik-baik saja, Ari."

Pandangan Ari kini beralih pada Rangga, memperhatikan tubuh atasnya yang sudah terbuka.

"Apa yang sudah kau lakukan padanya? Jangan bilang kalau kau ingin memperkosanya!"

Rangga tertawa sinis. "Seperti dirimu, begitu?"

Ari tersenyum kecut. "Apa maksudmu?"

"Kau pura-pura lupa?" tanya Rangga sinis.

"Aku bukan dirimu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan." lanjutnya lagi.

"Jaga bicaramu!" hardik Ari.

"Kaulah yang jaga sikapmu! Bersikaplah lebih gentle! Jika kau ingin bersaing denganku maka lakukan dengan baik. Jangan gunakan cara belakang seperti itu." balas Rangga tak mau kalah.

"Seperti dirimu dengan Sesil yang berhubungan di belakang Kiran maksudnya?!" ledek Ari sinis.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Rangga.

"Kenapa, kau takut Kiran tau?!" tersenyum smirk.

"Apa maksud ucapanmu, Ari?" Kiran menatapnya penuh tanda tanya. Pria itu melirik calon istrinya itu dengan tatapan teduh.

"Kau tidak pernah bertanya padanya, kenapa dia bisa berada dalam satu kamar yang sama dengan Sesil dalam keadaan basah?" menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya. Tubuh Rangga menegang. Ia tidak siap berita ini diketahui Kiran.

"Rangga sudah menceritakannya. Itu tidak masalah buatku." menepis tangan Ari.

"Aku kira, kau belum tahu cerita yang sesungguhnya!" ucapnya sinis.

"Apa maksudmu?" tanya Kiran.

"Kau tidak pernah bertanya di mana pria ini bekerja?" untuk menyebut namanya saja bahkan Ari sudah merasa muak.

"Jangan alihkan pembicaraan. Kau belum menjawab pertanyaanku!" ucap Kiran kesal mendengar Ari berbicara memutar-mutar.

"Kau harus tau semuanya. Karena semuanya berawal dari situ."

Kiran tercekat. Selama ini memang dia tidak pernah bertanya sekalipun nama perusahaan tempat Rangga bekerja.

"Dia bekerja di Regan Company. Perusahaan milik Papa Marissa. Kau mungkin sudah tidak asing dengan ini. Berita besarnya, Marissa itu punya sepupu yang namanya Sesil, putri pemilik separuh saham Regan. Mungkin kau sudah tau siapa dia? Wanita yang mencintai pria ini dengan begitu menggila hingga mengorbankan apa saja untuk itu." Kiran terkesiap. Regan? Rangga bekerja di Regan?

"Kau memata-mataiku?! Sialan kau!"

Rangga tersulut emosi. Ari merasa menang melihat kemarahan Rangga. Sebuah tinju melayang hampir mengenai wajahnya, pria itu menangkapnya.

"Hei, kenapa kau begitu emosi jika tidak ada yang terjadi antara dirimu dan gadis itu?" menghempaskan tangan Rangga.

"Lanjutkan, Ari!" ucap Kiran tiba-tiba menghentikan perdebatan antara Ari dan Rangga.

Wajah Kiran berubah kelam. Perubahan itu justru menghadirkan pancaran kesenangan diraut wajah Ari. Ia memang sudah menduga jika gadis itu tidak tahu apa-apa.

"Meski sudah tau bahwa pria ini sudah punya pacar, si wanita bodoh itu tetap mengharapkan priamu ini jadi pacarnya dengan imbalan kenaikan jabatan. Dan hebatnya, pria mu ini menerimanya." Ari terkekeh.

Kiran terperanjat. Rangga mendekatinya. Mencoba meraih kedua tangan gadis itu yang langsung menepisnya.

"Jangan pernah lagi menyentuhnya! Kau sudah tak pantas untuknya!" hardik Ari sembari menatap tajam Rangga. Syukur Kiran langsung menepis tangan pria itu. Jika tidak mungkin Ari sudah melintir tangan itu ke belakang atau mematahkannya sekalian.

"Aku melakukannya untuk kita. Dengan kenaikan jabatan maka gajiku akan naik. Akan semakin mudah mengumpulkan uang untuk pernikahan kita. Aku ingin menyuntingmu dengan segera." Rangga seakan tak peduli pada tatapan tajam Ari.

Kiran melirik Rangga. Menilik kedua manik mata pria itu yang menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan. Kiran menghela nafas pelan.

"Lanjutkan!" ucapnya menatap Ari.

Ari menghela nafas pelan kemudian melanjutkan, "Mengapa pada malam itu, kau temukan mereka dalam kondisi basah?Jawabannya karena saat itu, pria ini memutuskan hubungan mereka. Lebih cepat dari waktu yang sudah mereka sepakati. Padahal wanita itu sudah menyusulnya ke kota itu agar bisa bersama dengan priamu ini. Wanita itu tidak terima hingga menceburkan dirinya dari jembatan. Dia mencoba bunuh diri dengan lompat ke dalam sungai. Kemudian priamu ini menolongnya."

Kiran terperanjat. Melirik Rangga dan menatapnya tajam. "Kau membohongiku?!"

"Kita sama-sama sudah berbuat kesalahan sekarang." Rangga tersenyum sinis.

"Ya, kau benar. Maka sudah tidak pantas bagi kita untuk bersama!" Kiran melangkah keluar, diikuti Ari yang tersenyum senang. Rangga membeku.

"Menikahlah denganku!!" serunya. Langkah Kiran terhenti, begitu pun Ari. Rahang pria itu mengeras.

"Mari kita lupakan semuanya. Aku akan menerimamu apa adanya." ucapnya sembari menatap Kiran yang membelakanginya dengan penuh pengharapan.

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!